
Wisanggeni ternganga tidak bisa bicara, gadis yang selalu mengisi lamunannya tiba-tiba saat ini sudah berada di depannya. Terlihat berdiri di samping Rengganis, Larasati yang bibirnya langsung mengerucut dan tangannya langsung memegang bahu Rengganis. Dia berusaha untuk menjauhkan Rengganis dari Wisanggeni.
"Menyingkir kamu dari sini, jangan asal sok kenal!" ucap Larasati merasa tidak senang dengan kemunculan Rengganis disitu. Tetapi belum sampai tangannya memegang bahu Rengganis, hembusan angin kencang terasa mengibaskan tangannya. Dia langsung memasang kuda-kuda untuk bersiap melakukan penyerangan.
"Laras.., hentikan kuda-kudamu! Gadis ini adalah teman dekatku, kamu harus menunjukkan sikap bersahabat dengannya." terdengar suara pelan Wisanggeni, terlihat laki-laki muda itu menggaruk-garuk kepalanya.
"Siapa dia Akang?? Apakah dia kekasih Akang?" terdengar suara Rengganis penuh dengan rasa kecemburuan.
"He..he..he.., kamu kenapa bisa bertanya seperti itu padaku Anis? Apakah kamu tahu aku pernah memiliki seorang kekasih." tanya Wisanggeni dengan lembut, tatapan matanya tajam menembus perasaan Rengganis.
"Habis.., kenapa sikap dan tatapannya seakan menguliti Rengganis. Aku merasa tidak nyaman Akang." kata Rengganis dengan manja, sambil meletakkan kepalanya di pundak Wisanggeni.
"Kenalkan ini temanku Larasati. Kami bertemu di hutan, saat kakak pergi melarikan diri dari rumah. Karena yah.., kami sama-sama sendiri, akhirnya kami memutuskan untuk pergi bertualang berdua." Wisanggeni menjelaskan posisi keberadaan Larasati.
Mendengar perkataan Wisanggeni yang hanya mengakuinya sebagai teman, Larasati membalikkan badan, kemudian pergi dari sisi Wisanggeni. Laki-laki muda itu hanya tersenyum kecut, melihat Larasati yang langsung melompat pergi meninggalkannya. Tetapi dia juga sedikitpun tidak menghentikan perempuan itu, selain untuk menjaga perasaan Rengganis, dia juga tidak ingin memberi harapan lebih pada perempuan itu.
"Ayo kita kembali ke padhepokan. Akang yakin kang Widjanarko dan Lindhuaji akan senang melihat kedatanganmu Anis." Wisanggeni mengajak Rengganis kembali ke padhepokan.
"Mari Kang.., sangat lama sekali Anis belum ketemu dengan mereka." dengan mesra Rengganis menyetujui ajakan Wisanggeni. Mereka berdua bergandengan tangan kembali menuju ke padhepokan.
Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, berbisik-bisik membicarakan mereka berdua.
"Itu adiknya Ketua Klan, dengan siapa lagi dia bergandengan tangan dengan mesra?"
"Iya.., padahal gadis yang bersamanya kemarin juga tidak kalah cantik dari dia."
"Tapi masih cantik gadis ini, wajahnya lembut dan menghanyutkan. Betapa bahagianya dia, masih muda sudah dikelilingi gadis-gadis cantik. Ketua Klan kita malah belum menambatkan hati pada perempuan manapun."
__ADS_1
Sebenarnya mereka berdua mendengarkan apa yang dibicarakan orang-orang tentang mereka, tetapi mereka hanya berpandangan dan saling tersenyum. Mereka tidak mau menghiraukan bagaimana orang berpikiran tentang mereka.
"Wisang.., dari mana kamu?" terdengar suara Lindhuaji memanggil Wisanggeni.
Wisanggeni dan Rengganis menghentikan langkah kaki mereka, mereka menunggu Lindhuaji. Melihat saudara laki-lakinya sedang menggandeng tangan seorang gadis yang sangat cantik, dahi Lindhuaji berkerenyit. Tadi dia berpikir jika adiknya baru menggandeng tangan Larasati, tetapi ternyata gadis yang bersama dengan WIsanggeni melebihi segala-galanya dari Larasati.
"Kang Aji.., apakah Akang sudah lupa dengan Anis?" terdengar suara lembut memabukkan dari gadis itu. Tetapi mendengar sebutan Anis, Lindhuaji langsung takjub dan membuka mulutnya.
"Anis.., kamu Rengganis putri dari Ki Sasmita Ketua dari Klan Jagadklana?" seru Lindhuaji berusaha mengingat asal-usul gadis yang dipanggil Anis itu.
"Iya Kang Aji..., terima kasih. Kang Aji masih mengingat Rengganis." jawab Rengganis sambil menganggukkan kepalanya.
"Ha..ha..ha.., Anis, Anis.. mana ada laki-laki yang akan melupakan gadis secantik kamu. Ayo kita ke pondok utama, Kang Widjanarko pasti akan sangat senang bisa berjumpa denganmu Rengganis." Lindhuaji segera mengajak Rengganis untuk pergi ke pondok utama, yang sebagai tempat tinggal Ketua Klan.
************
"Brukkk."
Seperti orang kesetanan, Larasati mengirimkan serangan pada media untuk berlatih di ruang pelatihan yang ada di Klan Gumilang. Berkali-kali dia memukul media itu, tetapi dia merasa media itu malah tertawa mengejeknya. Beberapa orang yang semula ikut berlatih bersamanya merasa ketakutan melihat ekspresi yang ditunjukkan perempuan itu. Dengan segera mereka mengakhiri latihannya, dan meninggalkan ruang pelatihan itu.
"Prok.., prok.., prok..," terdengar tepukan tangan dari arah pintu masuk. larasati menghentikan gerakannya, dengan tatapan sengit, dia melihat ke arah pintu masuk. Dia melihat kakak kedua dari Wisanggeni sedang tersenyum menatapnya.
"Kenapa kamu mengganggu kesenanganku?" tanya Larasati dengan nada judes.
"He..he..he.., aku bukannya akan mengganggumu Laras. Aku tahu, kali ini kamu baru merasa jengkel dan marah, makanya aku datang kesini untuk menemanimu." jawab Lindhuaji sambil tertawa kecil. Dia datang menghampiri perempuan itu.
"Mau bertanding denganku?" tanya Lindhuaji sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mari.., tapi jangan marah kalau aku mematahkan tulang-tulangmu." jawab Larasati dengan nada yang amsih judes.
"Ha..ha..ha.., baiklah Laras, aku akan siap menerimanya. Asalkan saat aku sakit, kamu yang akan merawatku."
jawab Lindhuaji sambil menggoda perempuan itu. Dia segera bersiap-siap dan mengambil kuda-kuda.
"Terlalu banyak bicara kamu. Siuuuut....." hempasan angin kencang terasa lewat di samping telinga Lindhuaji. Laki-laki itu hanya tersenyum sambil menekuk kepalanya ke kiri.
"Buuukkkk.." pukulan keras kembali dihantamkan oleh Larasati, dengan tangan kanannnya Lindhuaji menahan pukulan itu sambil tersenyum manis.
"Ciatttt." sebuah tendangan hampir mengenai pinggang laki-laki itu, untung dia segera memundurkan badannya.
Laki-laki itu hanya menahan setiap serangan yang dikirimkan oleh perempuan itu, dia sama sekali tidak tertarik untuk memberikan satupun serangan padanya. Dia sangat tahu, jika perempuan ini kecewa dengan kedatangan Rengganis di padhepokan ini. Dia juga tidak tahu kenapa langkah kakinya malah mengantarkannya untuk menerima semua kekesalan perempuan itu yang dialamatkan untuk adiknya.
"Aaaaawwwww." tiba-tiba terdengar jeritan Larasati, sambil mengirimkan pukulan kencang ke media latihan.
"Prak.." terkena pukulan itu, media latihan hancur berderai.
Lindhuaji mengambil langkah siaga, dia langsung mendekat ke arah Larasati kemudian memeluknya. Larasati meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pelukan Lindhuaji, tetapi pelukan laki-laki itu susah untuk dia lepaskan. Akhirnya tidak lama kemudian, Larasati menangis di bahu saudara laki-laki dari Lindhuaji itu. Laki-laki itu memeluknya erat, kemudian mendudukan Larasati di pinggir ruang pelatihan.
"Kamu kenapa Laras, apakah kamu kecewa dengan tindakan adikku?? Apakah karena kedatangan Rengganis kamu jadi seperti ini?" tanya Lindhuaji dengan nada lembut, dia memegang kedua pipi Larasati dengan kedua tangannya. Perempuan itu terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan Lindhuaji.
"Laras.., kamu tidak akan bisa memisahkan adikku Wisanggeni dengan Rengganis. Hubungan mereka sudah terbangun sejak mereka masih kecil, mereka sudah disatukan oleh keadaan yang ada di Klan kami. Apakah Wisanggeni sudah pernah berjanji untuk berkomitmen padamu?" Lindhuaji melanjutkan perkataannya untuk menenangkan Larasati.
Larasati menggelengkan kepalanya, dia menatap pada Lindhuaji.
"Aku yakin Laras, dengan wanita manapun, Wisanggeni tidak akan mau memberikan komitmen. Karena sejak kecil hatinya sudah dipenjara oleh Rengganis. Jika kamu mengijinkan aku, aku ingin memberikan hatiku untukmu." ucap Lindhuaji tiba-tiba, dan langsung mengejutkan Larasati.
__ADS_1
*************************