Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 235 Pertikaian


__ADS_3

Untuk menjaga kondisi Chakra Ashanka, Wisanggeni memutuskan untuk beristirahat dalam perjalanan. Rengganis menyarankan agar mereka.rnenginap sementara di penginapan, agar mereka dapat beristirahat dengan lebih baik. Tanpa banyak bicara, Wisanggeni segera meminta pada Singa Ulung untuk menghentikan mereka di sebuah penginapan. Akhirnya binatang itu memilih penginapan di sebuah kota kecil.


"Ashan..., ini merupakan dua kota terakhir sebelum kita memasuki kawasan Jagadklana. Satu kota lagi, kita akan melewati hutan lebat sebelum kita mencapai pinggiran danau untuk melakukan penyeberangan menuju Jagadklana." dengan muka gembira, Rengganis menjelaskan perjalanan mereka pada putra laki-lakinya. Saat ini Wisanggeni sedang mencari kamar untuk mereka beristirahat.


"Apakah kita juga akan menggunakan Singa Ulung bunda.., untuk dapat menuju Jagadklana?" mendengar kata danau, anak laki-laki itu ingin mencoba merasakan naik perahu agar dapat melintasi danau tersebut. Sebuah pengalaman baru yang akan dia rasakan sepanjang usianya sekarang.


Rengga tersenyum mendengar perkataan Chakra Ashanka, perempuan muda itu mengetahui apa yang diinginkan oleh putranya itu.


"Bunda tahu Ashan.., sepertinya keinginanmu besar untuk bisa menggunakan perahu agar dapat melintasi dana tersebut. Kamu ingin mencari pengalaman bukan?" Chakra Ashanka menganggukkan kepala dengan malu-malu.


"Baiklah putraku.., lagian akan menimbulkan banyak pertanyaan jika kita melintasi danau dengan menaiki Singa Ulung. Mereka akan dapat melihat kita dengan jelas. Kita akan menggunakan perahu untuk dapat melewati danau tersebut." sambil tersenyum, Rengganis menjelaskan kepada putranya.


Dari depan pelayan penginapan, Wisanggeni menunjukkan dua kunci kepada mereka. Rupanya laki-laki itu sudah mendapatkan kunci untuk mereka beristirahat. Perlahan, Wisanggeni melangkah kaki mendatangi mereka.


"Apakah sudah mendapatkan kamar untuk kita Akang..?" Rengganis langsung bertanya pada Wisanggeni, melihat senyum lebar di mulut Wisanggeni.


"Sudah Nimas..., marilah kita beristirahat sebentar. Baru kita akan berjalan-jalan di tempat ini. Kamu dapat mencarikan cindera mata untuk ibunda dan ayahnda di Jagadklana. Sekaligus mengajarkan pada Chakra Ashanka tentang kondisi kehidupan masyarakat yang sebenarnya." Wisanggeni langsung mengajak mereka untuk beristirahat. Satu kunci diberikan pada putranya, sedangkan satu kunci lainnya dia pegang untuk tempat dia beristirahat dengan istrinya Rengganis.


"Ayah..., Ashan minta ijin untuk langsung beristirahat membaringkan badan sebentar . Sore hari, Ashan akan keluar melihat -lihat suasana di kota ini. Bolehkah ayah.., bunda..?" sebelum memasuki kamar, Chakra Ashanka meminta ijin pada Wisanggeni.

__ADS_1


"Pergilah putraku.., carilah pengalaman sendiri di tempat ini. Untuk teman dalam perjalanan, ajak Singa Ulung bersamamu. Mintalah binatang itu agar merubah dirinya menjadi seekor kucing, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan bagi orang-orang yang berpapasan denganmu." sambil tersenyum, tanpa meminta ijin pada Rengganis, Wisanggeni memberi ijin pada putranya. Rengganis terlihat sedikit keberatan, tetapi Wisanggeni menatapnya dan menganggukkan kepala agar perempuan muda itu menyetujuinya. Akhirnya dengan sedikit kekhawatiran, akhirnya Rengganis memberikan ijin juga pada Chakra Ashanka.


Tanpa berkata-kata lagi, dengan senyum kegembiraan Chakra Ashanka segera bergegas memasuki kamar. Demikian pula dengan Wisanggeni, laki-laki segera meraih pergelangan tangan Rengganis kemudian membawanya untuk memasuki kamar untuk beristirahat.


******


Seperti yang sudah disampaikan pada kedua orang tuanya, sore hari Chakra Ashanka sudah keluar dari dalam kamarnya. Tanpa menunggu keduanya, anak laki-laki itu melangkah keluar sendiri dari kamarnya, dan langsung berjalan keluar penginapan.


"Ada apakah disana, sepertinya ada yang menarik?" melihat ada keramaian tidak jauh dari tempatnya berdiri, Chakra Ashanka segera mengarahkan kakinya menuju kesana.


"Ayo..., ayo..., pukul terus, hantam.." beberapa orang berteriak memberi aba-aba pada beberapa orang. Merasa penasaran, Chakra Ashanka menerobos kerumunan ingin menyaksikan apa sebenarnya yang terjadi di tengah kerumunan.


"Kangmas.., apa sebenarnya yang terjadi dengan anak laki-laki itu, kenapa dia sampai dihajar oleh tiga orang itu?" Chakra Ashanka bertanya pada laki-laki yang berdiri disampingnya.


"Tidak tahu Rayi.., kebetulan aku juga baru bergabung melihat keributan ini. Karena menarik, akhirnya aku ikut melihatnya." mendengar jawaban dari laki-laki di sampingnya itu, dahi Chakra Ashanka menjadi berkerut. Tanpa berpikir panjang...


"Terimalah ini dukk .. hekk.." saat salah satu dari tiga laki-laki itu mengarahkan tendangan pada anak laki-laki, tiba-tiba ada kekuatan yang membengkokkan tendangannya. Ketika temannya yang lain ikut mengarahkan tinjunya, hal yang sama juga terjadi padanya.


"Siapa yang bermain curang.., keluarlah hadapi kami!" salah satu dari laki-laki itu akhirnya menyadari jika ada yang mengacaukan pertarungannya. Matanya diedarkan ke kerumunan orang-orang yang mengelilingi mereka. Tidak mau terkena imbas, orang-orang itu langsung menyingkir dari lokasi pertarungan.

__ADS_1


"Pergilah Rayi.., jika kamu tidak ingin terkena imbas kemarahan mereka!" laki-laki yang diajak berbicara Chakra Ashanka mengingatkan pada putra Wisanggeni itu.


"Pergilah dulu kangmas.., aku akan menolong anak laki-laki itu. Kasihan.." Wisanggeni menolak dengan halus.


"Hati-hatilah, sepertinya ketiga orang itu bukan orang yang baik!" sambil menepuk punggung Chakra Ashanka, laki-laki itu berjalan meninggalkannya. Tidak lama kemudian, tempat itu sudah ditinggalkan orang-orang. Hanya Chakra Ashanka yang masih berada di tempat itu, dan terlihat tiga anak laki-laki itu menatapnya dengan tatapan tajam dan nanar.


"Kamukah yang sudah mengganggu pertarungan ku?" teriak satu dari anak laki-laki itu.


"Pertarungan??? Bagiku ini bukan merupakan sebuah pertarungan, tetapi ketidak Adilan. Dan aku tidak akan membiarkan ada sebuah ketidak Adilan terjadi di depan mataku." sambil tersenyum sinis, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan itu.


"Bang**sat.., terlalu banyak bicara kamu. Majulah kesini.., kami akan menghajarmu..!" dengan nada tinggi, laki-laki itu merasa tersinggung dengan perkataan Chakra Ashanka. Putra Wisanggeni itu tidak menjawab, hanya senyuman sinis menghiasi bibirnya.


"Dukkk..., blamm..." dengan sigap, tangan Chakra Ashanka menangkap tendangan kaki yang diarahkan kepadanya. Dengan sekuat tenaganya, putra Wisanggeni dan Rengganis itu membanting kaki laki-laki itu ke belakang.


"Bukkk.." kerasnya bantingan tersebut, menjadikan tubuh laki-laki itu terhempas ke belakang.


Melihat temannya terluka, dua laki-laki lain berlari menyerang Chakra Ashanka. Tetapi mereka tidak tahu, lawan mana yang saat ini sedang dia hadapi. Sejak masih dalam perut Rengganis, Chakra Ashanka sudah banyak dipersiapkan untuk menyiapkan kekuatannya. Orang-orang pilihan telah mewariskan ilmu Kanuragan padanya, sehingga hanya menggunakan sedikit tenaganya saja, dia bisa merobohkan orang-orang itu.


"Aku peringatkan kalian.., jangan mencari urusan denganku. Tetapi jika kalian bertiga tetap nekad.., maka aku tidak akan berbelas Kasihan sedikitpun pada kalian." dengan wajah datar, Chakra Ashanka memberi peringkat pada ketiga laki-laki itu.

__ADS_1


*********


__ADS_2