Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 44 Pengujian Awal


__ADS_3

Mata Wisanggeni membulat, dia melihat banyak orang dengan berbagai latar belakang berkumpul di tengah hutan. Mereka kebanyakan berkelompok antara lima sampai dengan 10 orang. Untung mereka tadi diajak Anggoro, sehingga jika ditambahkan, mereka menjadi berlima datang ke lokasi datangnya warisan kuno. Rengganis yang selalu bertindak waspada mengitarkan pandangan  ke lingkungan sekitar, matanya menyipit melihat Ki Narendra dan Asoka tetap mengawalnya sampai ke tempat ini. Kedua pengawal itu mengangkat kedua tangannya, dan menggenggamnya dengan meletakkan di dadanya untuk memberi hormat pada Rengganis.


"Nimas Rengganis.., di depan ada pemeriksaan awal. Dalam pemeriksaan akan dilakukan pengecekan dan uji kekuatan, sehingga hanya orang-orang yang memiliki dasar kekuatan yang bagus akan diperbolehkan untuk ikut kompetisi memperebutkan warisan kuno itu." Anggoro menyampaikan informasi pada Rengganis.


"Uji awal bisa dilakukan berkelompok dengan saling membantu, ataukan penilaian dilakukan secara sendiri-sendiri Kang Anggoro?" tanya Rengganis. Dia ingin mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.


"Bisa perorangan tapi juga bisa saling membantu Nimas. Jadi, jika salah satu dari kita ada yang kalah, teman yang lebih kuat dapat memberikan dukungan kekuatan pada temannya." Anggoro menjelaskan. Laki-laki itu sepertinya sudah memiliki banyak pengalaman untuk ikut berebut warisan kuno.


"Sapto.., coba kamu mengambil nomor undian kita! Semoga kita mendapatkan nomor undian di awal, sehingga tidak sampai malam kita antri untuk mendapatkan giliran pengujian." Anggoro memerintah Sapto untuk segera mengambil nomor undian.


Tanpa banyak kata, Sapto langsung berjalan maju ke depan dan menerobos kerumunan untuk antri nomor undian.


Saat mereka sedang menunggu kedatangan Sapto kembali, dari belakang terdengar suara orang yang mendesak mereka untuk minggir ke samping.


"Minggir.., minggir.., jika tidak mau minggir atau menghalangi jalan kami, jangan salahkan jika tangan kalian akan melayang sebelah!" Wisanggeni menyipitkan matanya, saat dia mendengar ucapan kasar dari belakang. Dia melirik pada Rengganis, dan gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Minggirlah Wisang.., Nimas.., kita tidak bisa berurusan dengan orang-orang itu!" Hastho memperingatkan Rengganis dan Wisanggeni.


"Memang dia siapa, sepertinya orang-orang tunduk padanya? Hanya mendengar omongan besar saja, mereka sudah menyingkir. Kita tidak bisa melihat ada kearoganan menindak orang-orang yang tidak berdaya. Mereka harus diberikan pelajaran." jawab Wisanggeni sambil melihat ke arah belakang.


"Hush.., jaga mulutmu Wisang! Jika mereka mendengar omonganmu, kamu akan celaka. Mereka bukan orang yang diajak untuk bercanda. Dia adalah Tumbak Seto dan anak buahnya, mereka senang membuat kericuhan dimanapun." Anggoro menambahkan.


Wisanggeni terdiam, tetapi Rengganis  sangat jengkel dengan perilaku arogan di depan matanya itu. Tanpa kata, diam-diam dia mengirimkan serangan pada anak buah Tumbak Seto untuk membuyarkan konsentrasi mereka.

__ADS_1


"Aaaauuuw..., ada yang menyerangku. Cari siapa dia!" tiba-tiba terdengar teriakan anak buah dari Tumbak Seto. Orang yang mendapatkan serangan diam-diam dari Rengganis, mengangkat kaki kanannya. Dia merasakan seperti mendapat pukulan keras, sehingga merasakan kakinya mengalami mati rasa.


"Bangsat.., siapa yang berani menyerang kita dengan diam-diam? Tunjukkan diri kalian, apakah kalian belum tahu siapa kami?" teriak Tumbak Seto. Matanya memerah, dan dengan pandangan nanar dia memandang orang-orang yang berada di sekitarnya. Aliran energi tampak melonjak mengalir ke genggaman tangannya.


Semua orang yang berada disitu terdiam, mereka tidak berani memandang ke arah Tumbak Seto dan kelompoknya. Saat melihat Wisanggeni dan Rengganis yang memandangnya dengan tatapan sinis, Tumbak Seto dengan angkuh mengarahkan tangannya pada Wisanggeni.


Wisanggeni langsung mengangkat tangannya ke atas, dan pisau belati dengan gagang ungu muncul di tangannya. Gerakan tubuhnya seperti hantu, secepat kilat dia sudah muncul di belakang Tumbak Seto.


"Clang.." tabrakan tangan Tumbak Seto beradu dengan pisau belati Wisanggeni menimbulkan percikan api. Ternyata genggaman tinju laki-laki itu sangat keras seperti besi. Melihat lawan mainnya, memiliki kekuatan yang besar, Wisanggeni tidak menahan diri. Dia merasa saat ini memiliki lawan bertarung untuk menguji kekuatannya, sehingga muncul kesenangan dalam dirinya.


"Bang!"


Wisanggeni melakukan serangan dengan pukulan tangannya, dan Tumbak Seto merespon dengan cepat. Tetapi karena kecepatan Wisanggeni, Tumbak Seto hampir terjatuh. Dan saat dia menyeimbangkan badannya, mulutnya menyemburkan darah.


Setelah melihat pertunjukan ini, orang-orang yang ada disitu saling melirik. Mereka baru saja berkelahi, tetapi Tumbak Seto sudah terluka. Terlebih Anggoro dan Hastho, mereka sangat terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Wisanggeni. Mereka menyangka jika kekuatan Rengganis dan Wisanggeni berada jauh di bawah mereka, tetapi kejadian barusan membuat mereka kagum papda Wisanggeni. Mereka merasa beruntung, bisa mengajak dua orang itu bergabung dengan kelompoknya, sehingga mereka memiliki sumberdaya untuk berebut warisan kuno itu.


 


******************


 


Pengujian tahap pertama berlangsung dengan menegangkan. Sudah lima kelompok yang akhirnya mengundurkan diri karena dinyatakan kurang memiliki energi untuk ikut dalam kompetisi. Kelompok Anggoro mendapatkan nomor undian nomor 10, dengan santai mereka melihat kelompok yang melakukan pengukuran energi.

__ADS_1


"Nomor 10, silakan segera maju ke depan!" terdengar suara pengatur giliran memanggil nomor kelompok Anggoro.


"Hap."


Kelima orang itu dengan cepat langsung melompat ke tempat pengukuran energi. Mereka berpandangan, dan saling menganggukkan kepala.


"Rengganis.., karena kamu perempuan, kamu  bisa berada paling depan. Jika kekurangan energi, maka kami akan bisa mengirimnya dari belakang." seru Anggoro. Dia tidak tahu bagaimana kekuatan perempuan itu, tetapi sikap ksatrianya patut diacungi jempol.


Rengganis tersenyum, kemudian dia berjalan dan berada paling depan untuk mendahului kelompoknya. Anggoro melihat pada Wisanggeni, laki-laki muda itu tersenyum.


"Aku akan berada pada urutan paling belakang. Jangan khawatirkan aku!" Wisanggeni meyakinkan Anggoro. Melihat tatapan Wisanggeni, akhirnya Anggoro menyetujui pengaturan itu. Di belakang Rengganis ditempati Sapto, Hastho, kemudian Anggoro. Wisanggeni berdiri paling belakang.


"Apakah kalian semua sudah siap?" tanya penyelenggara.


Mereka menganggukkan kepala, dan segera menaiki 10 tangga menuju atas. Tangga pertama sampai ketiga,  dapat mereka lewati dengan mulus tanpa hambatan apapun. Tetapi begitu mereka menginjak tangga keempat, angin kencang menghempas mereka, seakann menyedot energi yang mereka miliki. Dengan tenang dan anggun, Rengganis dengan mulus menapaki tangga tanpa merasa kesusahan sedikitpun. Tetapi Sapto merasakan berat untuk mengangkat kakinya, nafasnya mulai tersengal. Hastho ingin membantu, tetapi diapun menahan rasa sesak yang terasa menghimpit dan mematikan rasanya.


"Tetaplah melihat ke depan Sapto, Hastho.. aku akan melindungi kalian!" terdengar teriakan Wisanggeni.


"Pffttt.. slurp."


Dari belakang Wisanggeni menyalurkan energinya melalui punggung Anggoro, Anggoro menempelkan telapak tangannya pada Hastho, dan secara berantai Hastho menyalurkan energi tambahan ke punggung Sapto. Melihat Rengganis yang tetap tegak berdiri dalam kondisi segar, Sapto mengurungkan niatnya untuk menyalurkan energi ke tubuh perempuan itu.


Tidak lama kemudian, terdengar tepuk tangan mengiringi kelompok Anggoro lolos dalam tahapan pengujian awal.

__ADS_1


 


*****************


__ADS_2