
Beberapa waktu kemudian, setelah Tarjono dan Chakra Ashanka menyiapkan sarapan pagi, mereka segera mengirimkan isyarat untuk dapat ditemukan Sayogyo dan Prastowo. Tidak lama kemudian, kedua anak muda itu sudah datang di hadapan mereka. Tanpa membersihkan tubuh mereka terlebih dulu, kedua anak muda itu langsung bergabung untuk menikmati ikan bakar bersama dengan Tarjono dan Chakra Ashanka.
"Bagaimana Sayogyo, Pras.., apakah kalian sudah menemukan tempat untuk kita berisitirahat malam nanti..?" Chakra Ashanka bertanya pada kedua anak muda yang sedang membersihkan duri-duri ikan dengan menggunakan jarinya itu.
"Iya Ashan.., sebenarnya tadi kami tidak menemukan apapun dalam pencarian kita. Tetapi ketika dalam perjalanan untuk menuju kemari, di dekat sini tadi kami melihat ada sebuah goa yang sepertinya cukup untuk kita gunakan beristirahat berempat di hutan ini nanti malam. Hanya saja..., aku dan Prastowo belum berani untuk memeriksa ke dalam. Kami menunggumu untuk memeriksanya Ashan.." sambil tersenyum malu, Sayogyo menjawab pertanyaan Chakra Ashanka. Mereka berpikir tentang keselamatan ketika menemukan goa itu. Goa yang mereka temukan, terasa menyeramkan dilihat dari luar. Sehingga hal yang paling tepat adalah menunggu Chakra Ashanka memeriksanya terlebih dahulu, baru mereka memutuskan untuk menggunakan goa itu atau tidak.
"Ha.., ha.., ha..., ternyata bukan aku saja yang penakut. Ternyata Sayogyo dan Prastowo juga memiliki rasa takut.." tiba-tiba Tarjono mentertawakan kedua anak muda itu. Sayogyo dan Prastowo saling berpandangan, kemudian menganggukkan kepala dan ikut tertawa.
"Ya sudah.., segera percepat makan kalian. Tarjono.., kita akan menunggu Sayogyo dan Prastowo untuk membersihkan badannya, baru kita melanjutkan untuk mendatangi goa yang ditemukan kedua teman kita ini." akhirnya Chakra Ashanka menengahi perdebatan antar teman-temannya itu.
Kedua teman anak muda itu segera mempercepat dalam menikmati ikan bakar yang sudah siap di depannya itu. Beberapa saat kemudian, Sayogyo dan Prastowo segera melompat ke dalam air. Seperti tidak pernah menemukan aor berbulan-bulan lamanya, kedua anak muda itu menikmati kesegaran air yang mengalir di sungai itu.
********
__ADS_1
Beberapa saat kemudian
Setelah berjalan kaki beberapa kilometer, ke empat anakĀ muda itu berhenti di depan sebuah gua. Tampak aura gelap menyelimuti gua itu, saat Chakra Ashanka menggunakan mata batin untuk menerawang ke dalam. Anak muda itu mengalami kemajuan yang pesat, setelah menerima transfer beberapa aura dan energi inti dari leluhur Trah Bhirawa dari pemakaman kuno. Hanya saja, baru dalam kesempatan kali ini, anak muda itu bisa merasakan dan menggunakan kekuatannya itu.
Chakra Ashanka memejamkan matanya, anak muda itu mencoba berinteraksi dengan aura gelap yang berputar di dalam gua itu. Jika tidak dibersihkan terlebih dahulu, maka bisa dipastikan istirahat mereka di dalam gua itu akan terganggu. Mata anak muda itu terasa berpandangan dengan sebuah kekuatan yang tidak terlihat. Dengan cepat Chakra Ashanka mengambil nafas panjang, dan tangannya bergerak membentuk sebuah lingkaran di depan dadanya.
Ketiga anak muda itu berkumpul jadi satu, mereka menatap gerakan yang dilakukan anak muda itu dengan penuh pertanyaan. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengeluarkan kata-kata.
"Blamm..., blammm..." tiba-tiba terdengar seperti sebuah ledakan di depan mata mereka. Tetapi tidak ada yang dapat mereka lihat di depan mata mereka. Tangan Chakra Ashanka semakin berputar cepat, seperti sedang mengendalikan sesuatu agar tunduk dan menyerah kepadanya. Kejadian seperti itu terjadi untuk beberapa kali, hingga akhirnya.. Chakra Ashanka terlihat melakukan gerakan untuk menarik kembali aura kebatinannya. Perlahan anak muda itu mulai membuka matanya. Ketiga teman anak muda itu saling berpandangan kemudian tersenyum, dan ketiganya berjalan menghampiri Chakra Ashanka.
"Bisa.., hanya saja kita masih perlu berhati-hati. Karena gua ini disegel oleh orang yang memiliki kekuatan tinggi, hanya saja kekuatan digolongkan dalam ilmu hitam. Jangan sentuh barang apapun yang ada di dalam goa, jika kita mau selamat dan bisa keluar dari gua ini." Chakra Ashanka menceritakan penglihatan batinnya akan keadaan goa bagian dalam.
"Jika begitu.., apakah kita tidak mencoba untuk menemukan goa yang lain Ashan. Sehingga kita tidak merasa mendapat tekanan dan penindasan dari kekuatan aura gelap yang menyelimuti goa ini." dengan rasa khawatir, Tarjono mengajak untuk berpindah dan mencari tempat lain.
__ADS_1
"Tidak masalah Tarjono.., kita tidak memiliki waktu lagi untuk mencari tempat untuk menginap. Kita hanya akan menginap di goa ini satu malam saja. Setelah itu, kita akan melanjutkan perjalanan menembus hutan." Chakra Ashanka menenangkan hati Tarjono dan kedua teman lainnya.
"Baiklah.. kami akan mengikutimu Ashan." keempat anak muda itu segera memasuki gua itu. Semakin mereka berjalan masuk ke dalam, banyak barang menyeramkan yang tertinggal di dalam goa itu. Sesuai dengan arahan yang dikatakan Chakra Ashanka, ketiga orang itu tidak mau menyentuh barang-barang itu.
Sesampainya di tengah gua, sebuah tempat yang terbilang cukup luas, keempat anak muda itu berhenti. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling, kemudian duduk di atas batu besar yang ada di dalam goa itu. Melihat ke sekeliling, tampak suasana menyeramkan menghantui tempat itu.
"Sebelumnya.., pendekar mana yang menempati gua ini Ashan. Apakah kamu dapat mengenalinya..?" Sayogyo bertanya pada anak muda itu. Sesuai dengan pesan yang disampaikan Chakra Ashanka, ketiga orang itu diam tidak berani banyak bergerak.
"Aku juga tidak mengetahuinya teman. Baru kali ini.., aku mencoba untuk keluar dari perguruan sendiri. Biasanya ayahnda dan ibunda yang menghadapi situasi seperti ini, sedangkan aku belum. Tenanglah.., yang penting kita tidak merusak dan menganggu barang-barang yang ada disini, aku yakin kita akan baik-baik saja." Chakra Ashanka menenangkan teman-temannya.
"Di pojok goa ada penutup wajah yang menyeramkan.., juga terlihat ada cemeti disitu. Apakah penghuni sebelumnya merupakan pemain ronggeng atau pemain kekuatan gelap?" dengan rasa penasaran, Prastowo kembali bertanya. Mendengar perkataan teman-temannya, Chakra Ashanka tersenyum. Teman-temannya itu sangat polos, dan berbicara sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.
"Aku sudah bicara dengan kalian kan, semakin banyak kita ingin tahu, maka akan semakin banyak masalah yang menghampiri kita. Anggap saja, kita seperti keadaan semalam, saat kita tidur di atas pohon. Kita tidak pernah membayangkan jika ada ular yang melihat kita, maupun binatang lain. Semakin sedikit yang kita tahu, kita akan semakin aman." kembali Chakra Ashanka mengingatkan teman-temannya.
__ADS_1
"Baiklah teman..., ayo kita segera istirahat saja. Sepertinya tidak ada yang bisa kita kerjakan disini. Nanti menjelang senja, aku yakin akan banyak gangguan yang mendatangi kita." Chakra Ashanka melanjutkan perkataanya. Ketiga laki-laki muda itu saling berpandangan, tetapi kemudian mereka menuruti perkataan putra Wisanggeni itu.
***********