Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 355 Alasan Tepat


__ADS_3

Bhadra Arsyanendra mendatangi Chakra Ashanka yang sedang mengusap dan membersihkan punggung Singa Resti. Anak muda itu memang berniat untuk menggunakan binatang itu, agar bersama dengan ibundanya Rengganis segera sampai ke kota Laksa. Untuk itu, anak muda itu memastikan jika Singa Resti dalam keadaan sehat untuk dapat mengantarkannya,


"Kang Ashan.., kang Ashan.. tunggu sebentar. AKu ingin berbicara denganmu.." terdengar suara Bhadra Arsyanendra memanggil Chakra Ashanka.


Anak muda itu menghentikan kegiatannya sebentar, kemudian mengalihkan pandangan melihat ke mata Bhadra Arsyanendra. Terlihat bocah laki-laki itu berjalan mendekatinya, dan akhirnya berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.


"Ada apa Raden.., apakah kedua tanganmu sedang merasa capai. Sampai harus berkacak pinggang di depanku." dengan senyuman, Chakra Ashanka menggoda bocah itu.


"Tidak perlu berbasa-basi kang Ashan.. Apakah kang Ashan memang tidak pernah menganggapku sebagai bagian dari keluarga perguruan Gunung Jambu? Teganya kang Ashan berbohong padaku, bahkan tidak berniat untuk memberitahuku." tanpa tedeng aling-aling, bocah itu nyerocos berbicara pada Chakra Ashanka,


Anak muda putra Wisanggeni dan Rengganis itu mengerutkan dahinya, anak muda itu tidak tahu kemana arah pembicaraan pangeran dari kerajaan Logandheng itu. Chakra Ashanka mendekati tubuh Bhadra Arsyanendra, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas pundak bocah laki-laki itu.


"Ceritakan dengan jelas Raden. Aku tidak bisa menebak jalan pikiranmu, dan apa yang kamu maksudkan. Kamu kan tahu, aku ini bukan cenayang yang bisa mengetahui kejadian yang belum terjadi." karena memang merasa tidak tahu, Chakra Ashanka bertanya pada bocah laki-laki itu.


"Kenapa kang Ashan akan meninggalkanku sendiri di perguruan ini? Sekar Ratih diajak, tetapi aku diberi tahu saja tidak, berarti Kang Ashan sudah berlaku pilih kasih padaku." Bhadra Arsyanendra mengungkapkan perasaanya.


Chakra Ashanka tersenyum mendengar protes yang ditujukan untuk dirinya. Melihat usia bocah itu yang memang masih kecil, meskipun terkadang bocah itu bisa berbicara layaknya orang tua, namun ada saatnya sifak kekanak-kanakan tetap muncul dalam pembawaannya.


"Raden Bhadra.., apakah Raden juga sudah tahu dan mendengar alasan apa yang menjadikan saya dan ibunda Rengganis harus meninggalkan perguruan ini. Kami akan berkunjung ke tempat eyang kami Raden di kota Laksa, dan disana ayahnda Wisanggeni dan Nimas Parvati sudah ada. Tinggal saya dan ibunda Rengganis yang belum datang. Alasanku mengajak Sekar ratih, karena memang gadis kecil itu adalah tanggung jawabku. Orang tuanya memasrahkan gadis kecil padaku, sehingga kemanapun aku harus mengajaknya, tidak boleh meninggalkannya." Chakra Ashanka menjelaskan pada Bhadra Arsyanendra.

__ADS_1


"Tetapi tidak bisakah kang Ashan juga membawaku. Aku juga seperti Sekar Ratih, tidak memiliki sanak saudara di perguruan ini. Kenapa kang Ashan tega meninggalkanku sendiri." Bhadra Arsyanendra tetap belum bisa menerima alasan penjelasan Chakra Ashanka.


"Jangan berprasangka padaku Raden.. Kondisi Raden dan Ratih jelas jauh berbeda. Tengoklah, ada berapa jumlah pengawal yang ikut mengawasi Raden Bhadra di tempat ini. Sedangkan Ratih.." Chakra Ashanka tetap menolak keikut sertaan bocah laki-laki itu.


"Apalagi Raden.., dengan perginya kami. Di perguruan ini kami butuh orang-orang yang menganggap perguruan ini sebagai rumahnya sendiri. Sehingga mereka akan bertanggung jawab jika terjadi kejadian di perguruan ini. AKu melihat jika Raden Bhadra memenuhi kriteria itu, jadi aku titipkan perguruan ini padamu Raden. Selama kami pergi, jagalah perguruan ini." Chakra Ashanka terus berusaha merayu Bhadra Arsyanendra.


Bocah laki-laki itu terdiam, kemudian setelah beberapa saat.


"Baik Kang Ashan.., aku menerima apa yang dijelaskan oleh kakang." akhirnya bocah laki-laki itu  dapat menerima penjelasan Chakra Ashanka.


**********


"Apakah semuanya sudah siap putraku..?" Rengganis bertanya dengan suara pelan.


"Sudah ibunda.., Ashan persilakan agar ibunda naik di punggung SInga Resti terlebih dahulu. Menyusul Sekar Ratih di depan bunda, dan Ashan di punggung Singa Resti yang paling belakang." Chakra Ashanka membuat pengaturan.


Rengganis tersenyum, kemudian sebelum melompat ke punggung binatang itu, Rengganis menoleh ke para murid yang ikut menghantarkkannya.


"Para muridku semuanya, dan tidak lupa para penanggung jawab perguruan Gunung Jambu. Aku titipkan sementara keamanan perguruan ini di tangan kalian. Juga ada Raden Bhadra Arsyanendra juga akan membantu untuk mengawasi keamanan perguruan ini." melihat bocah laki-laki itu mengintip di balik pohon, Rengganis menyebut bocah laki-laki itu.

__ADS_1


Dengan senyum malu, akhirnya Bhadra Arsyanendra keluar dari persembunyiannya. Bocah laki-laki itu berjalan mendekat ke arah mereka berada.


"Baik Den Ayu Rengganis.., Den Bagus Chakra Ashanka, dan Nimas Sekar ratih. Hati-hatilah di jalan, dan harapan kami kalian bertiga dapat tiba di kota Laksa dalam keadaan selamat, tidak kurang satu apapun." penanggung jawab perguruan turut berbicara.


"Baiklah.., kami akan segera berangkat. Selamat tinggal.." Rengganis secara resmi berpamitan, kemudian membalikkan badannya dan menuju ke arah Singa Resti.


Setelah menepuk pelan tubuh binatang itu, Rengganis dengan sekali lompat akhirnya dapat berada di punggung binatang tersebut. Tidak lama kemudian, dengan dibantu Chakra  Ashanka, Sekar ratih juga berhasil melompat ke punggung Singa Resti, dan paling belakang diikuti Chakra Ashanka. Setelah ketiganya berada di atas punggung binatang yang akan mengantarkannya pergi, mereka menoleh sekali lagi ke arah para murid.


"Kami berangkat saudaraku semuanya.." setelah mengucap kata perpisahan, perlahan Singa Resti mulai mengepakkan sayapnya. Tidak lama kemudian, binatang itu sudah mulai terbang ke atas, dan akhirnya membubung tinggi dan tidak terlihat lagi oleh orang-orang di perguruan Gunung Jambu,


Dengan wajah cerah, duduk di depan sendiri terlihat Sekar Ratih tampak menikmati perjalanan. Gadis itu terlihat sangat bersyukur sekali dapat dipertemukan dengan Chakra Ashanka, sehingga dia dapat menikmati kesenangan seperti itu. Melihat kesenangan yang terlihat dalam reaksi yang ditunjukkan Sekar ratih, Rengganis turut merasakannya dari belakang. Perempuan itu tersenyum dan memeluk pinggang gadis kecil itu dengan erat dari belakang.


"Kira-kira kita nanti akan beristirahat dimana ibunda..?" dalam perjalanan, Chakra Ashanka bertanya pada Rengganis.


"Dua kota lagi terlewati, kita akan beristirahat disana putraku. Di pinggiran kota ada sebuah penginapan, dan juga dekat dengan pasar yang menjual berbagai cindera mata. Kita bisa membelinya beberapa untuk oleh-oleh eyang dan kedua paman besarmu." Rengganis menanggapi pertanyaan putranya,. Seringnya melakukan perjalanan di masa lalu, menjadikan Rengganis hafal dan mengingat tempat-tempat yang berkesan baginya,


"Baik Ibunda.., Ashan ikut keinginan ibunda." anak muda itu menyetujui usulan dari ibundanya.,


*************

__ADS_1


__ADS_2