
Rengganis mengajak para murid untuk memasang jebakan agar dapat mengecoh pada pasukan kerajaan. Perempuan itu masih yakin, jika orang-orang dari kerajaan akan masih berusaha untuk menyerang perguruan Gunung Jambu, karena kesalah pahaman yang terjadi. Sambil mengarahkan para murid, tiba-tiba pandangan Rengganis tertuju pada anak laki-laki yang berusia sekitar sebelas warsa. Melihat kulit halus dari anak laki-laki itu, meskipun mengenakan pakaian sama dengan para murid, tapi mata perempuan itu tidak bisa dibohongi..
"Jatmiko kesinilah...!" merasa penasaran, muncul keingin tahuan dalam diri perempuan itu untuk menyelidiki asal-usul anak itu. Tidak lama kemudian, murid perguruan yang bernama Jatmiko datang mendekati perempuan itu.
"Ada apa Den Ayu.., apakah ada yang perlu saya lakukan untuk membantu Den Ayu..?" tanpa mengetahui maksud Guru perempuan memanggilnya, laki-laki itu bertanya pada Rengganis.
"Lihatlah di dekat pagar kayu itu. Siapakah dia.., apakah perguruan menerima murid baru? Sepertinya aku merasa asing dengan laki-laki itu. Melihat postur tubuh, dan kulit bersihnya, sepertinya bocah itu masih memiliki keturunan dari para bangsawan. Apakah kamu mengetahuinya..?" dengan tatapan curiga, Rengganis bertanya tentang bocah laki-laki itu.
Jatmiko mengalihkan pandangan dari Rengganis, anak laki-laki itu menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh istri dari Guru Wisanggeni. Melihat kejanggalan dengan melihat bocah laki-laki dengan lebih dekat, Jatmiko juga muncul pertanyaan dalam hatinya.
"Bocah itu bukan murid dari perguruan ini Den Ayu.. Setahu saya dan juga beberapa murid lainnya, bocah laki-laki itu datang bersamaan dengan warga masyarakat, ketika datang pasukan kerajaan dua malam yang lalu. Jadi sudah tiga hari tiga malam bocah laki-laki itu berada di wilayah perguruan Gunung Jambu. Apakah ada yang aneh dengan bocah itu Den Ayu,,?" melihat ketertarikan Rengganis dengan bocah laki-laki itu, Jatmiko memberanikan diri bertanya pada perempuan itu.
Rengganis terdiam, kembali perempuan itu menatap kepada bocah laki-laki itu. Tanpa sengaja, bocah laki-laki itu rupanya juga tengah menatap Rengganis. Dengan sopan, laki-laki itu menganggukkan wajah dan memberi senyuman pada perempuan itu. Terlihat jika bocah itu dididik dalam etika tata krama, untuk menghormat pihak yang lebih tua. Sambil tersenyum, Rengganis membalas senyuman itu dengan menganggukkan kepala.
"Jatmiko.., cari tahu siapa yang membawa bicah laki-laki itu kemari. Aku ingin bertemu dengannya, pertemukan denganku di pendhopo kecil dekat pesanggrahan." untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, Rengganis meminta Jatmiko untuk membawa orang yang mengajak bocah laki-laki itu kemari.
__ADS_1
"Sendiko dhawuh Den Ayu.., segera saya akan datang ke pendhopo yang digunakan untuk menampung masyarakat dari desa sebelah. Setelah bertemu dengan orang tersebut, segera saya akan mengajaknya untuk bertemu dengan Den Ayu.." Jatmiko menyanggupi permintaan yang diberikan Rengganis. Untungnya malam saat kejadian, laki-laki itu mengetahui pasangan suami istri yang membawa bocah laki-laki itu memasuki tapal batas. Sehingga tidak akan sulit baginya untuk menemukan siapa yang membawa bocah itu kemari.
"Sekarang pergilah.., lanjutkan aktivitasmu...!" setelah memandang cukup, Rengganis meminta laki-laki itu pergi dari sisinya.
Setelah menganggukkan kepala, Jatmiko segera meninggalkan Rengganis sendiri. Perempuan itu kemudian melanjutkan untuk melakukan pengecekan kegiatan yang lain. Terlihat di depannya, para murid yang terluka, sudah bisa kembali berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Sepertinya mereka tidak mau ketinggalan dengan aktivitas menyibukkan di tapal batas.
*************
Siang hari
"Kira-kira ada apa pakne.., apakah kamu bisa menebak untuk apa kita diminta bertemu dengan Den Ayu Rengganis?" merasa tidak sabar, perempuan paruh baya itu bertanya pada suaminya.
"Sama mbokne.., aku juga tidak tahu, dan tidak bisa menebak untuk apa kita dipanggil kemari. Tenanglah.., kita akan mendengarkan dulu apa yang akan ditanyakan oleh Den Ayu. Jika kita tahu, maka kita juga harus menjawab tahu. tetapi jika memang kita tidak tahu, ya kita katakan apa adanya." terlihat laki-laki paruh baya itu lebih tenang.
Beberapa saat mereka menunggu kedatangan Rengganis. Menurut para murid putri yang bertugas, Den Ayu Rengganis sedang berada di padhepokan utama, sedang menemani beberapa murid penanggung jawab melakukan makan siang, sekaligus membuat persiapan.
__ADS_1
"Paman.., bibi..., mohon sabar untuk menunggu sebentar ya.. Kita harus memahami kerepotan yang dialami Den Ayu Rengganis, karena saat ini beliau sendiri yang menjaga perguruan. Den Ayu Maharani sedang ada keperluan yang lebih penting, sehingga melimpahkan tugasnya kepada Den Ayu Rengganis." melihat kegelisahan pasangan itu, Jatmiko mengajak pasangan itu bicara.
"Tidak mengapa nak..., hanya saja paman dan bibi merasa gusar. Mencoba mengira kesalahan apa yang sudah kami berdua lakukan, sehingga Den Ayu Rengganis memanggil kami untuk menghadap. Jika memang ada salah pada diri kami, seperti kami ini kacang yang lupa akan kulitnya. Di perguruan ini, kami mendapatkan perlindungan, dan jaminan kehidupan selama disini.." salah satu pasangan yang laki-laki menanggapi perkataan Jatmiko. Pihak perempuan hanya tersenyum malu, kemudian menundukkan kepala.
Tidak lama kemudian.., terlihat Rengganis sudah berjalan menuju ke arah mereka. Terlihat dari kejauhan, perempuan itu berjalan cepat, seperti ingin segera bertemu dengan pasangan itu. Sesampainya di depan tiga orang itu, perempuan itu tersenyum dan menganggukkan kepala kemudian duduk di lincak yang ada di tempat itu.
"Sudah lama menunggu kedatangan saya paman.., bibi.." dengan senyum khasnya, Rengganis bertanya pada pasangan itu dengan ramah. Sedikitpun tidak terlihat jika perempuan itu merasa kecewa dengan pasangan itu.
"Hmmm..., belum Den Ayu... kami berdua siap untuk menerima perintah.." dengan tercekat, laki-laki dan perempuan itu menjawab pertanyaan Rengganis.
Rengganis tersenyum melihat kegugupan pasangan itu. Tampak terlihat dari mata Rengganis, jika kedua orang seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Hanya saja, agar tidak menakuti keduanya, Rengganis akan bertanya dengan pelan dan tidak mengejutkan pasangan tersebut.
"Baiklah paman.., bibi.. saya tidak akan berputar-putar, sehingga membuat kalian berdua mengalami kebingungan. Hanya ada satu pertanyaan yang harus kalian jawab dengan jujur. Identitas apa yang kalian berdua sembunyikan di perguruan Gung Jambu ini..?" dengan tegas dan tidak bertele-tele, Rengganis langsung bertanya pada pasangan itu.
Mendengar pertanyaan tersebut, kedua orang itu terlihat gugup.Kegelisahan tampak melanda mereka, bahkan dari posisi duduk mereka juga menampakkan kegelisahan tersebut. Keduanya kembali saling berpandangan..
__ADS_1
*************