Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 285 Fokus pada Hasil


__ADS_3

Tidak lama kemudian, kelompok yang saat ini dipimpin oleh Pangeran Abhiseka berhasil mengalahkan lawannya, dalam pertempuran dengan orang-orang yang menginginkan binatang-binatang naga kecil itu. Niken Kinanti tersenyum kemudian mengajak semua orang dalam kelompok itu untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Mari kita segera pergi dari sini, sebelum lebih banyak orang yang akan datang ke tempat ini. Pangeran.., pimpin kami.., kemana arah yang akan kita tuju selanjutnya, kami akan mengikutimu." semua orang ikut menatap Pangeran Abhiseka.


"Harusnya bukan aku yang menjadi pemimpin kelompok ini. Anggota kita lebih sedikit dari orang-orang yang dibawa Widayat, apakah tidak sebaiknya Widayat saja yang akan memimpin kita?" dengan halus, Pangeran Abhiseka menolak permintaan itu...


"Pangeran..., bukan masalah banyak kecilnya dari jumlah orang yang kita bawa. Tetapi sifat dan karakter seorang pemimpin sudah nampak jelas ada padamu. Aku dan teman-temanku akan mengikuti kemana kamu akan membawa kami pergi. Percayalah padaku..." sambil tersenyum, Widayat tetap menginginkan Pangeran Abhiseka yang memimpin mereka.


"Iya paman..., kita jangan terlalu lama di tempat ini. Masih banyak tempat yang belum kita jamah dan singgahi." Chakra Ashanka turut menyampaikan pendapat.


Pangeran Abhiseka terdiam, kembali laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke semua orang dalam kelompoknya. Semua orang tersenyum dan menganggukkan kepala. Setelah mengambil nafas panjang, akhirnya...


"Baiklah aku akan menjadi yang nomor satu yang akan memimpin kalian semua. Ikuti langkahku, dan jika ada sesuatu yang menjadi pertanyaan atau ada yang menarik perhatian kalian, sampaikan kepadaku." Pangeran Abhiseka menyampaikan kalimat ajakan.


"Dengan senang hati Pangeran..." Widayat menyahuti apa.yang diucapkan oleh laki-laki itu.


Rombongan kecil itu akhirnya mencapai kata sepakat. Bersama-sama delapan orang itu segera berjalan meninggalkannya tempat itu. Banyak pasang mata yang mengiringi kepergian mereka, tetapi melihat orang-yang lebih dulu berurusan dengan mereka telah berakhir mengenaskan, akhirnya mereka memutuskan untuk hanya bersikap diam dan melihat kepergian mereka dengan pandangan kecewa.


Saat pergi dari area sekitar goa, Pangeran Abhiseka meminta mereka berjalan dengan wajar, agar tidak menimbulkan rasa penasaran dari orang-orang yang melihat kepergian mereka. Tetapi setelah beberapa saat kemudian, dan merasa jika tatapan mereka sudah teralihkan, Pangeran Abhiseka memberi isyarat pada kelompoknya untuk menggunakan kekuatan dalam meninggalkan tempat itu.


"Landasi dengan tenaga dalam, kita harus dengan segera meninggalkan tempat ini." dengan cepat, perkataan Pangeran Abhiseka terdengar di telinga semua orang-orang dalam kelompok ini.

__ADS_1


"Baik Pangeran..." tidak lama kemudian semua orang sudah mengeluarkan energi dan aura mereka. Beberapa orang yang berada di tempat itu merasakan adanya tekanan yang tidak terlihat pada kekuatan mereka.


"Tap..., tap..." delapan orang segera melompat meninggalkan tempat itu dengan berkejaran satu sama lain.


******,


Sekian lama kelompok di bawah pimpinan Pangeran Abhiseka terus berlari. Tiba-tiba mata mereka menatap sebuah Padang pasir di depan mereka. Rasa heran muncul di benak mereka, dari mana Padang pasir bisa muncul di wilayah mereka berada. Pangeran Abhiseka menghentikan berlarinya, dan semua orang di belakang mengikutinya.


"Paman..., apakah yang terlihat di depan mata kita ini merupakan sesuatu yang nyata?" Chakra Ashanka merasa penasaran, anak muda itu bertanya pada Pangeran Abhiseka.


"Akupun juga berpikir demikian Ashan.. Tetapi sepertinya semua terlihat nyata, bukan hanya sebuah fatamorgana yang membuai penampakan di mata kita." laki-laki itu merendahkan tubuhnya ke bawah. Tangan kanannya mengambil pasir dengan menggunakan telapak tangannya dengan dihadapkan ke atas.


"Pasir ini juga nyata, berarti apa yang ada di hadapan kita semua benar-benar nyata. Tinggal kita bertanya pada diri kita, akankah kita berani untuk menempuh perjalanan melewati gurun pasir ini" Widayat bertanya pada orang-orang di kelompoknya tersebut.


Sesaat mereka terdiam, kemudian...


"Aku ikut..., kita akan melewati gurun pasir ini. Siapa tahu ada keajaiban yang akan kita temukan di tengah gurun pasir ini. Menurutku.., yang tidak memiliki keberanian jangan mencoba untuk memaksakan diri. Tidak masalah untuk menyerah dan kembali..." Niken Kinanti menyampaikan pendapatnya.


"Ashan ikut pendapat Bibi Niken. Sudah sejauh ini kita berada disini, pantang bagiku untuk kembali." Chakra Ashanka mempertegas perkataan yang diucapkan Niken Kinanti.


"Akupun demikian, aku sanggup untuk melanjutkan perjalanan melewati gurun pasir ini." Widayati juga menyetujui usulan itu.

__ADS_1


Akhirnya semua orang setuju untuk melintasi gurun pasir dalam melanjutkan perjalanan mereka. Pangeran Abhiseka dan Widayat saling berpandangan, kemudian mereka berdua tersenyum.


"Baiklah..., ayolah kita berjalan kaki saja dulu. Kita belum mengetahui sepenuhnya bagaimana Medan yang akan kita lalu. Lebih baik untuk menghemat energi dan aura batin Kita." Pangeran Abhiseka segera mengajak semua orang untuk melanjutkan perjalanan.


Dengan beriringan, delapan orang itu mulai menapak di pasir yang terbentang luas di hadapan mereka. Di awal mereka menapaki pasir itu, belum ada yang menghalangi perjalanan mereka. Tetapi lama-kelamaan mereka merasa kedua kaki mereka terasa berat untuk melangkah ke depan. Berjalan di atas pasir, lebih dari sepuluh kali lipat mereka berjalan di atas tanah biasa. Tenaga mereka terasa lebih cepat terkuras.


"Pangeran.., apakah tidak lebih baik kita untuk beristirahat terlebih dahulu?" melihat kelelahan yang dialami oleh mereka, Niken Kinanti mengusulkan pada Pangeran untuk beristirahat.


"Hmmm.., baiklah. Tetapi sepertinya jika kita terlalu lama beristirahat di tempat ini, aku khawatir jika badai gurun akan datang ke tempat ini." ucap Pangeran Abhiseka. Tetapi melihat orang-orang yang ada di belakangnya, terlihat sangat lelah, akhirnya laki-laki itu menyetujui usulan itu.


Beberapa orang mengeluarkan persediaan makanan kering dan minuman untuk menghilangkan faktor dahaga dan mengembalikan kekuatan mereka. Setelah mengisi kembali perut mereka dan beristirahat sejenak,. sudah terlihat muka mereka kembali sedikit Merah.


"Sepertinya tenaga kalian sudah kembali. Bagaimana jika kita segera melanjutkan perjalanan kita? Kita harus segera menemukannya tempat untuk beristirahat sebelum malam tiba." baru saja mereka merasa nyaman, Pangeran Abhiseka sudah kembali mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan.


Dengan rasa malas, akhirnya mereka segera mengikuti Pangeran Abhiseka dan Widayat yang sudah berjalan lebih dulu. Melihat Widayati yang masih tampak kelelahan, Chakra Ashanka mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu. Tanpa berpikir panjang,. gadis itu menyambut uluran tangan tersebut.


"Ashan...., apakah kamu tidak merasa lelah? Sepertinya tenagamu cepat pulih kembali dibandingkan dengan yang lainnya?" Widayati bertanya pada anak muda itu.


"Sama saja Widayati.., hanya saja aku fokuskan pikiranku pada apa. yang aku dapatkan, bukan pada halangan ini." ucap Chakra Ashanka menanggapi perkataan Widayati.


********

__ADS_1


__ADS_2