
Auman panjang singa putih yang berlari keluar gua membuat kepala Wisanggeni menjadi pusing, dan saat dia akan bersiap siaga singa putih itu sudah menubruknya, sampai tubuhnya terangkat keatas. Dari tubrukan itu menyebabkan Wisanggeni pingsan, dan sesaat tubuhnya terjatuh di atas badan singa putih tersebut. Singa putih tanpa mempedulikan ada tubuh Wisanggeni di atasnya, langsung berlari melesat meninggalkan gua tersebut. Joko dari dalam gua dengan tidak mempedulikan perutnya yang terluka, berlari keluar berusaha mengejar singa putih. Tetapi sesampainya di luar, dia tidak melihat keberadaan binatang itu.
"Kemana singa putihnya, apakah kamu melihatnya Kodir?" teriak Joko sambil memegang perutnya.
"Maaf Jok.., aku tidak bisa menghalanginya. Pahaku langsung tergigit oleh singa putih itu, tanpa aku bisa berbuat apa-apa. Aku juga tidak tahu bagaimana nasib Wisang. Aku hanya melihatnya dia diseruduk kepala singa putih, kemudian tubuhnya terangkat ke atas. Sekarang aku sendiri juga tidak tahu dimana tubuh anak itu." kata Kodir sambil berusaha mengangkat tubuhnya, dengan menahan rasa sakit dia mendatangi Joko di mulut gua.
"Ya.., sudahlah. Tidak apa-apa yang penting kita selamat. Aku tidak menyangka, ternyata singa putih itu sangat tangguh. Aku sudah menyerangnya dengan aji-aji terakhirku, tetapi malah hanya membangunkannya dari tidur. Dia malah menyerangku."kata Joko sambil memijit-mijit kepalanya.
"Kamu kenapa Jok? Wajahmu sangat pucat, istirahatlah dulu!" tanya Kodir karena melihat darah keluar dari dalam perut temannya itu, dan saat ini dia terlihat pucat.
"Kuku singa itu sukses merobek perutku Dir, aku jadi kehilangan pandangan tadi. Akhirnya.. yah, aku terjatuh." Joko tersenyum kecut.
"Laksito mana Jok.., bukankah tadi dia di belakangmu?" tiba-tiba Kodir mengingatkan tentang bagaimana keadaan Laksito.
"Oh iya, ayo kita cari Laksito di dalam!" Joko dan Kodir akhirnya kembali masuk ke dalam gua, dan melihat tubuh temannya itu tampak pingsan di atas batu pipih.
Mereka kemudian menghampiri tubuh Laksito, dan Joko langsung memegang pergelangan tangannya. Kodir terlihat khawatir dengan melihat kondisi temannya itu. Dadanya mengeluarkan darah, dan dia dalam keadaan memejamkan matanya.
"Syukurlah.., Laksito hanya pingsan Dir. Kita tunggu dia dulu disini, mungkin malam ini kita tidak akan bisa kembali ke pesanggrahan. Kita pulihkan dulu kondisi kita, baru kita kembali ke akademi. Aku tidak mau akan banyak orang menanyakan keadaan kita." Joko menyarankan mereka untuk menginap di gua itu.
Kodir mengeluarkan kain bersih dari kotak penyimpanan, dan setelah membubuhkan ramuan di atasnya, dia menempelkan kain itu pada luka terbuka yang ada di dada Laksito. Joko juga melakukan hal yang sama, dia mengoleskan minyak pada luka bekas taring singa putih tersebut.
"Aku akan keluar dulu Jok. Aku akan mencari Wisang, kasihan karena tadi aku melihatnya dia juga memejamkan matanya saat tubuhnya terpelanting ke atas." kata Kodir sambil melangkah keluar dari dalam gua.
__ADS_1
Sesampainya di luar, Kodir mengedarkan pandangannya berusaha menembus kegelapan malam. Karena tidak bisa melihat apapun, pria itu kemudian melakukan matak aji dengan mengangkat telapak tangannya. Sesaat muncul sinar dari telapak tangannya, yang dia gunakan untuk menerangi lokasi di depan gua itu. Tetapi dia tidak bisa menemukan apapun disitu, hanya suara binatang malam yang dia dengar.
"Besok pagi saja, saat matahari sudah muncul aku akan mencarinya kembali. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak itu." akhirnya Kodir mengakhiri pencarian, dia kembali masuk ke dalam gua dan bergabung dengan kedua temannya.
**************
Singa putih terus berlari membelah kesunyian malam tanpa berhenti sebentarpun. Keberadaan tubuh Wisanggeni di atas punggungnya, tidak mengganggunya sama sekali. Binatang itu terus berlari, dan saat hari menjelang pagi, singa itu kelelahan dan merendahkan tubuhnya di depan pintu masuk sebuah gubug. Singa putih itu mengambil posisi duduk, dan kepalanya di letakkan di atas tanah.
Pintu bambu perlahan di buka dari dalam gubug. Terlihat seorang laki-laki tua berjenggot yang mengenakan surban keluar dari dalam gubug. Dia tersenyum saat melihat singa putih tidur di depan pintu gubug yang menjadi tempat tinggalnya.
"Kamu pulang Singo Ulung?? Siapa lagi yang kamu bawa, kenapa ada anak laki-laki yang tidur di atas punggungmu?" sambil tersenyum arif, laki-laki tua itu segera mendatangi Singa Putih tersebut.
"Anak ini pingsan ternyata." tangan rentanya mengelus kepala singa putih itu, kemudian dengan sekali hentakan, tubuhnya yang terlihat renta langsung mengangkat tubuh Wisanggeni dan membaringnya diatas ranjang yang terbuat dari bambu.
"Anak ini memiliki dasar kekuatan yang cukup mumpuni, tapi energi dalam tubuhnya bergejolak saat ketemu energi yang dipancarkan oleh Singo Ulung. Jika dia bisa mengolahnya dengan baik, sebenarnya dengan mudah dia akan bisa menundukkan Singo Ulung menjadi binatang peliharaannya. Biarlah dia istirahat dulu, belum saatnya dia bangun." dengan tersenyum, laki-laki tua itu meninggalkan Wisanggeni. Dia kemudian ke dapur, memasak menggunakan kuali.
*************
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Wisanggeni membuka matanya secara perlahan. Dia kaget saat melihat langit-langit yang ada di atasnya, dan saat ini dia sedang tidur di atas dipan yang terbuat dari bambu. Perlahan dia membangunkan tubuhnya, dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya...
"Dimanakah aku?? Sepertinya terakhir aku sedang bersama dengan Joko, Laksito dan Kodir. Kami akan menangkap singa putih itu, tetapi kenapa aku jadi bisa berada di tempat ini. Rumah siapa ini?" banyak pertanyaan berseliweran di pikiran Wisanggeni.
"Kamu sudah bangun anak muda." tiba-tiba telinga Wisanggeni menangkap suara laki-laki tua. Dia mengarahkan pandangannya pada laki-laki tua tersebut, dan terlihat laki-laki itu membawa mangkok dari kayu berjalan ke arahnya.
"Aki siapa??? Dan sekarang saya sedang berada dimana?" Wisanggeni mencoba bertanya pada laki-laki tua itu.
Laki-laki tua itu tersenyum, kemudian dia duduk di kursi kayu yang ada di depan Wisanggeni.
"Makanlah dulu.., agar energimu kembali." dengan suara arif dan pelan, yang sangat enak didengar di telinganya, laki-laki tua itu menyerahkan mangkok kayu pada Wisanggeni.
Tidak mau berpikir panjang, Wisanggeni segera menerima mangkok itu, kemudian dia mulai memakan bubur yang dibuatkan oleh laki-laki tua tersebut. Setelah beberapa saat, Wisanggeni sudah menyelesaikan makannya, laki-laki tua itu memberikan gelas air putih yang diambil dari dalam kendi yang ada di sudut ruangan.
"Siapa namamu nak? Dan kenapa kamu bisa berada di punggung Singo Ulung?" dengan pelan, laki-laki itu bertanya pada Wisanggeni.
"Saya Wisanggeni Ki, Aki bisa memanggil saya Wisang. Saya juga tidak tahu bagaimana ceritanya, sampai saya berada di tempat ini. Yang saya tahu, tadi malam saya diajak oleh teman-teman untuk menangkap singa putih. Tetapi bukannya menangkap, saya hanya merasakan diseruduk singa tersebut, dan selanjutnya saya berada disini Ki." Wisanggeni menceritakan asal-usulnya.
"Baiklah, tidak perlu dibahas lagi. Singo Ulung sudah menemukan Tuannya. Namaku Cokro Negoro nak Wisang, kamu bisa memanggilku dengan sebutan Ki Cokro."
__ADS_1
******************