
Setelah sampai di tempat persembunyian, yaitu sebuah rumah berbentuk limasan panjang, Ki Sasmita dan Jagasetra segera meminta Singa Ulung untuk menurunkannya di halaman dalam. Beberapa orang dengan siap siaga menyerbu ke halaman, saat mengetahui ada binatang magic yang berhenti di situ. Tetapi saat melihat siapa yang datang bersama binatang itu, beberapa orang langsung mengambil sikap hormat.
"Ketua.., maaf kami yang tidak mampu mengenali kedatangan Ketua.." beberapa orang menyambut Ki Sasmita dengan perasaan suka cita. Kemunculan Ki Sasmita dan Jagasetra kembali ke wilayah Jagadklana, seakan memberi mereka harapan akan perbaikan nasib warga yang berada di kawasan itu.
"Tidak mengapa.., aku akan duduk dulu." Ki Sasmita mengangkat tangannya, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Orang-orang yang menunggu rumah itu mengikuti di belakangnya.
"Angkat tangan, luruskan.., lepaskan!" dahi Ki Sasmita dan Jagasetra berkerut, mereka mendengar beberapa orang seperti sedang berlatih di halaman belakang. Mereka memandang dengan penuh tanya pada orang-orang yang bekerja disitu.
"Ampun Ketua.., kami yang membawa mereka kemari. Laksito mengganti posisi orang-orang yang tidak mau bekerja sama dengannya, kemudian mengintimidasinya. Bukan hanya mereka yang mendapatkan penindasan, bahkan keluarga mereka juga mendapatkan penyiksaan. Setelah kami mengetahuinya, kami secara diam-diam membawa mereka kemari Ketua." Bawono sebagai penanggung jawab pesanggrahan ini meminta ampun pada Ki Sasmita. Pemimpin Trah Jagadklana itu tersenyum, laki-laki paruh baya itu pantas bersyukur, karena mereka masih memiliki tempat untuk berlindung.
Selain tempat ini, masih ada tempat yang tidak bisa ditembus oleh orang-orang Laksito. Yaitu bangunan griya yang sering digunakan Ki Sasmita untuk menjamu tamu-tamu yang berasal dari kerabat dekat atau teman-teman seperguruannya. Tempat yang pernah digunakan untuk menginapkan Wisanggeni saat berkunjung ke Jagadklana.
"Tidak apa Bawono.., untungnya kita masih memiliki tempat ini. Apakah kamu mengetahui dimana Nyai Ageng saat ini berada Bawono..?" tiba-tiba Ki Sasmita menanyakan keberadaan istrinya. Bawono menatap ke mata Ki Sasmita.
__ADS_1
"Maafkan kami Ki Sasmita.., Nyai Ageng sebenarnya sudah kami arahkan untuk datang ke tempat ini. Tetapi Nyai menolak Ketua. Nyai Ageng saat ini berada di tempat, yang menurut Nyai Ageng, hanya Ketua yang mengetahuinya." Ki Sasmita tersenyum mendengar perkataan Bawono. Dari arah dalam, terlihat ada dua orang yang mengantarkan minuman dan kudapan untuk Ki Sasmita dan Jagasetra.
"Mari segera dicicip Ketua.., hanya ini yang bisa kami sajikan untuk menjamu Ketua. Kami memiliki keterbatasan untuk dapat berbelanja di kota, khawatir jika orang-orang Laksito mengetahui keberadaan kami." Bawono segera mempersilakan Ketua dan Jagasetra untuk menikmati minuman dan kudapan yang baru saja disajikan. Kedua orang itu segera memegang cangkir, kemudian menyesap minuman panas tersebut. Bau harum rempah-rempah menyeruak masuk ke hidung Ki Sasmita, melegakan saluran pernapasannya. Sambil tersenyum, laki-laki paruh baya itu mengendus bau yang menguar dari minuman tersebut.
"Rempah-rempah Jagadklana memang tidak ada duanya di wilayah manapun." ucap Ki Sasmita sambil meletakkan kembali cangkir di atas meja. Di wajahnya yang sudah terlihat keriput tampak kepuasan yang dirasakannya. Setelah menikmati minuman dan kudapan, Ki Sasmita berdiri dan berjalan menuju halaman belakang. Jagasetra dan beberapa orang mengikut di belakangnya.
Setelah sampai di tritisan, Ki Sasmita menunduk kemudian mengambil batu kecil, dan dilemparkan ke arah orang-orang yang sedang berlatih.
"Pang.., bang.." dengan trampil seorang laki-laki muda melompat, dan menahan serangan batu tersebut. Beberapa orang berlari ke tritisan untuk melihat siapa yang telah mengirimkan serangan ke mereka. Tetapi saat mengetahui siapa yang datang..,
***********
Selepas senja, Bawono mengumpulkan orang-orang di ruang tengah. Ki Sasmita akan mengajak mereka untuk membicarakan rencana yang akan mereka ambil. Melihat semua orang sudah duduk dan diam, Bawono meminta Ki Sasmita untuk segera menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
"Terima kasih orang-orang Jagadklana, yang masih setia dengan keluargaku. Karena salah perkiraan, niat kami ingin menyelamatkan orang-orang dari penindasan Gerombolan Alap-alap, ternyata malah menyengsarakan orang-orang disini. Tetapi.., kita tidak akan membiarkan semua menjadi berlarut-larut. Sudah saatnya kita akan bertindak.." terdengar suara Ki Sasmita memecah kesunyian.
Beberapa orang disitu menjadi kasak-kusuk, mereka mengiyakan dan menyetujui apa yang disampaikan oleh Ketua mereka.
"Tetapi apakah kita tidak kalah dari sisi jumlah Ketua..? Karena Laksito berhasil mempengaruhi orang-orang untuk mengikuti ajakannya, dan bahkan memberi mereka hadiah yang banyak sebagai iming-iming, agar orang-orang mau mengikutinya." seorang laki-laki muda menanggapi pernyataan Ki Sasmita. Jagasetra melihat ke orang yang berbicara tersebut.
"Jangan khawatir Taruno.., orang-orang yang bersama kami ikut menumpas Gerombolan Alap-alap, aku yakin sudah berhasil menyeberang danau. Wisanggeni dan Nimas Rengganis juga sudah menuju kemari. Kita akan menyusun strategi baru untuk mendapatkan tambahan orang." Jagasetra menanggapi perkataan laki-laki yang dipanggil dengan nama Taruno itu.
"Benar apa yang dikatakan Jagasetra.., sebenarnya banyak orang yang masih setia dengan kepemimpinan Ki Sasmita. Setelah melihat kembalinya Ketua.., aku yakin orang-orang akan mengikuti Ketua kembali." Bawono ikut menguatkan perkataan Jagasetra.
"Kita akan membagi tugas di antara kita. Jagasetra akan mengarahkan orang-orang kita yang sedang masuk kembali ke Jagadklana. Jangan sampai mereka ditemukan oleh orang-orang Laksito. Bawono dan Taruno.., akan menyusup masuk ke pusat keberadaan Laksito, untuk mencari tahu kabar terbaru. Yang lainnya bisa menyebar ke warga untuk mengetahui bagaimana keadaan dan respon mereka." Ki Sasmita membagi tugas untuk persiapan awal melakukan penjajagan kekuatan mereka, dan juga lawan.
"Baik Ketua.., kita akan segera menyiapkan diri kita." Bawono menanggapi, dan diikuti dengan orang-orang yang berada di ruangan itu. Mereka berembuk di ruang tengah itu sampai tengah malam, kemudian satu persatu meninggalkan ruangan dan kembali ke tempat peristirahatan mereka masing-masing.
__ADS_1
Ki Sasmita juga berjalan meninggalkan ruangan, kemudian masuk ke dalam senthong. Laki-laki paruh baya itu kemudian duduk bersila di atas dipan, memusatkan pikiran dan menenangkannya. Perlahan pikiran Ki Sasmita memasuki alam bawah sadar, sukmanya berkelana dengan raga yang tertinggal di atas dipan kayu. Bukit.., persawahan dilalui oleh sukma Ki Sasmita, dan di sebuah rumah kayu yang dikelilingi perkebunan bambu, sukma Ki Sasmita berhenti. Tampak rumah kayu itu, sama dengan terakhir kali Ki Sasmita berkunjung di tempat itu. Beberapa orang tampak berjaga di sekelilingnya, perlahan sukma itu memasuki pintu yang sedang terbuka. Terlihat seraut wajah perempuan setengah baya yang sedang menyulam di atas kursi.
************