Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 65 Kangmas Mencintaimu


__ADS_3

Lindhuaji membawa Larasati yang masih menangis di dadanya ke dalam rumah. Perlahan tangan kanan kakak kedua Wisanggeni itu membuka pintu kamar Larasati, kemudian dia membawa gadis itu duduk di pinggiran tempat tidur. Setelah gadis itu duduk, Lindhuaji membetulkan anak rambut yang menutupi wajah Larasati.


"Nimas Laras.., aku akan keluar dari kamarmu. Kamu akan tidur dulu, atau masih ingin aku temani disini?" Lindhuaji berbicara pada Larasati dengan suara pelan.


Larasati memandang Lindhuaji dengan mata redup, jelas masih tampak kesedihan menghiasi matanya. Sebenarnya laki-laki itu juga merasakan hal yang sama, tetapi karena dia sebagai laki-laki, dia masih bisa terlihat tegar di hadapan Larasati.


"Kang Aji.., apakah Akang Wisanggeni masih bisa selamat?" tanya Larasati lirih.


"Tenanglah Nimas Laras..., anak itu sudah sering mengalami hal-hal di luar nalar sejak dia masih kecil. Perasaanku mengatakan, jika adikku saat ini masih hidup. Aku berharap semoga perasaanku ini benar." dengan hati porak poranda, Lindhuaji menenangkan Larasati.


"Akupun berharap seperti itu Akang. Laki-laki muda itu sangat besar jasanya terhadapku, aku belum bisa membalasnya sampai sekarang." kata Larasati kembali


"Kita hanya bisa berharap dan mendoakan keselamatan adikku Nimas.. Hanya Hyang Widhi yang bisa menyelamatkan Wisanggeni." sahut Lindhuaji lirih.


Tanpa diduga oleh Lindhuaji, Larasati kembali menyandarkan kepalanya di atas dadanya. Tiba-tiba jantung Lindhuaji berdegup kencang, secara perlahan tangannya mengusap lembut dan kembali merapikan rambut-rambut kecil di wajah gadis itu. Muncul keinginan lebih untuk memperlakukan gadis yang wajahnya menyentuh dadanya itu, tetapi dia ragu dan takut jika gadis itu menjadi salah paham terhadapnya.


Tidak lama berlalu, Lindhuaji merasakan nafas gadis yang berada di dadanya itu mulai teratur. Dengan tersenyum kecut, Lindhuaji melihat jika Larasati sudah tertidur. Dia ingin menidurkan gadis itu di atas bantal, tetapi dia merasa sayang jika sentuhan Larasati tidak akan dia rasakan lagi. Akhirnya, perlahan-lahan laki-laki muda itu membaringkan tubuhnya sendiri di atas tempat tidur Larasati, dengan wajah gadis itu tetap berada di atas dadanya.


***********


Beberapa saat berlalu, Larasati perlahan membuka matanya. Dia merasa ada kehangatan mengalir di seluruh tubuhnya, sambil berkerenyit dia memegang tangan Lindhuaji yang dengan erat melingkar di atas pinggang rampingnya. Tiba-tiba pipinya bersemburat merah, dia merasa malu karena ternyata dia tidur dengan posisi di atas tubuh Lindhuaji.

__ADS_1


"Ternyata Kang Aji wajahnya mirip dengan Kang Wisang. Dia ternyata juga tampan dan ganteng.." Larasati memandangi wajah Lindhuaji yang masih terpejam matanya.


Tiba-tiba muncul keinginan di hati Larasati, telapak tangannya yang kecil mengusap lembut wajah tampan milik Lindhuaji. Jari-jarinya dia torehkan ke hidung, mata, dan bibir laki-laki putra kedua dari Ki Mahesa.


"Kamu sudah bangun Nimas Laras..?" suara serak Lindhuaji mengagetkan Larasati. Secara spontan, Larasati menarik telapak tangannya, tetapi ternyata Lindhuaji lebih cepat. Tangan Lindhuaji langsung memegang telapak tangan Larasati kemudian memberi kecupan dengan bibirnya.


Saat bibir Lindhuaji memberi kecupan pada telapak tangannya, Larasati merasa seperti ada magnet yang menariknya untuk lebih mendekat ke wajah Lindhuaji. Hati dan jantungnya menjadi bergemuruh, dia merasa ada getaran-getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan tidak tahu siapa yang memulai kedua bibir laki-laki dan perempuan itu sudah menyatu, dengan Larasati berada di atas tubuh Lindhuaji.


"Kangmas mencintaimu Nimas.., menikahlah denganku!" bisik pelan suara Lindhuaji di telinga Larasati.


Gelenyar-gelenyar aneh seperti mengalir di tubuh Larasati saat mendengar bisikan itu. Tetapi perempuan itu belum bisa yakin pada dirinya sendiri. Dia masih merasa jika dia mencintai Wisanggeni bukan kakaknya Lindhuaji. Tetapi saat ini, dia tahu jika laki-laki yang ada di bawah tubuhnya itu adalah Lindhuaji, dan dia merasakan ada kenyamanan dalam hatinya.


"Aku akan menunggumu Nimas.., sampai kamu merasa yakin dan siap untuk menerimaku." kembali suara bisikan Lindhuaji terdengar. Larasati perlahan menganggukkan kepalanya.


*************


Seorang laki-laki tua mengetuk pintu kamar Rengganis dengan pelan. Gadis itu yang memang sedang melakukan meditasi dan tidak tidur, segera mengakhiri meditasinya.


"Masuklah Ki Narendra.." ucap Rengganis lirih.


Pintu kamar Rengganis didorong dari arah luar kamar, dan masuklah Ki Narendra abdi dalem Rengganis ke dalam kamar.

__ADS_1


"Ada apa Paman Narendra?" tanya Rengganis lesu. Matanya masih terlihat sembab, karena sejak mendengar kabar dari Sudiro dan Atmojo, dia hanya bisa menangis.


"Maafkan paman Nimas.., paman terlambat datang kesini! Jika paman lebih awal sampai kesini, mungkin musibah ini tidak akan terjadi." Ki Narendra mengangkat kedua telapak tangan, dan mengacungkan ke depan dadanya.


"Lupakan paman.., tidak yang salah dan tidak ada yang benar dalam hal ini. Yang penting keinginan Kang Wisang untuk menyelamatkan Paman Mahesa sudah terkabulkan. Paman Mahesa sudah ditemukan, dan kondisi badannya sudah berangsur-angsur pulih. Hal ini pantas untuk Kang Wisang mengorbankan dirinya." ucap Rengganis sambil tersenyum lesu.


"Iya Nimas.., tetapi perasaan Paman mengisyaratkan jika nak Wisanggeni masih hidup. Dia belum meninggal, apalagi saat paman tadi mencoba melihat Ki Mahesa, dia seperti memiliki harapan jika putra ketiganya itu masih bertahan hidup sampai sekarang. Mungkin masalah waktu yang akan menjawabnya." perkataan Ki Narendra memberi harapan baru pada Rengganis. Perlahan mendung yang menggayut di wajahnya, mulai sedikit tersibak.


Kedua orang itu terdiam sejenak, terlihat jika sebenarnya Ki Narendra hendak menyampaikan sesuatu pada Rengganis. Tetapi melihat suasana hati gadis itu, laki-laki tua itu tidak tega untuk menyampaikannya.


"Paman.., katakan paman! Anis tahu, jika kedatangan paman ke tempat ini, bukan hanya semata-mata untuk memberikan pengawalan pada Rengganis. Apakah yang akan paman sampaikan padaku, katakan paman?" Rengganis seperti bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki tua itu. Dia meminta Ki Narendra untuk menyampaikan maksud kedatangannya kesitu.


Ki Narendra kembali menatap mata Rengganis.


"Maafkan paman Nimas.., karena paman hanya menjalankan amanah dari ayahnda Nimas. Ayahnda menyampaikan pada paman, jika sekarang juga harus membawa Nimas kembali ke padhepokan kita." kata Ki Narendra dengan suara pelan.


Rengganis tersenyum kecut, pandangannya dia arahkan ke depan menembus kegelapan malam. Setelah diam beberapa saat..,


"Baiklah paman.., saat ini Nimas siap untuk kembali sementara ke perguruan. Jika ilmuku sudah bertambah, Nimas akan kembali mencari jejak keberadaan Kang Wisang." dengan suara tegas, Rengganis meyakinkan Ki Narendra. Laki-laki tua itu melihat dengan pandangan tidak percaya pada Rengganis.


Setelah memantapkan hatinya, Rengganis meminta Ki Narendra untuk menunggunya di luar sebentar. Rengganis menulis dua surat, yang satu dia tujukan pada Ki Mahesa dan satunya untuk dia kirimkan pada Widjanarko. Dia ingin kakak pertama Wisanggeni segera membawa Ki Mahesa bersamanya, sehingga tidak menjadi beban dari keluarga Niken.

__ADS_1


**************


__ADS_2