Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 38 Aku akan Datang


__ADS_3

Mendapatkan pengawalan dari orang-orang Pangeran Abhiseka, dan anak dari kedua kakaknya menjadikan perjalanan Wisanggeni dan Larasati terasa cepat. Tidak sampai satu hari penuh, mereka sudah sampai di gerbang Klan Gumilang. Beberapa orang dari dalam Klan berlari keluar, karena melihat iring-iringan beberapa orang.


"Selamat sore.., mohon maaf, jika saya boleh tahu Ki Sanak dan rombongan ini akan ketemu dengan siapa?" terlihat satu dari empat orang itu menanyakan kepentingan mereka.


"Apakah kamu sudah lupa padaku Wardoyo?" pengawal yang dikirimkan dari Klan tersebut untuk ditugaskan di kerajaan, keluar dan menemui mereka berempat.


"Bukankah kamu Lukito.., maaf aku tadi tidak jelas melihatmu! Siapakah orang-orang yang kamu bawa kesini Lukito, kalau yang dua orang di belakang itu aku bisa melihat dari lencana di pundak mereka. Mereka pasti prajurit kerajaan. Tetapi dua orang muda, satu laki-laki dan perempuan itu siapa?" dengan tatapan menyelesaikan, Wardoyo menatap Wisanggeni dan Larasati.


Lukito tersenyum, kemudian menepuk bahu Wardoyo.


"Pemuda itu namanya Wisanggeni, dipanggil Den Wisang. Dia adik dari Tuan Widjanarko dan Tuan Lindhuaji. Untuk perempuan disampingnya itu Nimas Larasati, teman dari Den Wisang. Mereka mau mengunjungi kedua kakaknya." Lukito mengenalkan dua orang yang diantarkan untuk masuk ke Jln Gumilang.


"Baiklah.., tetapi sesuai dengan standar keamanan di Klan kami, meskipun kalian berdua adalah kerabat dekat dengan Tuan-tuan kami, kami harus melakukan pemeriksaan terhadap kalian. Apakah kalian keberatan?" terdengar suara tegas Wardoyo.


Wisang tersenyum mendengar ucapan itu, kemudian dengan menggandeng Larasati, dia segera maju ke depan. Mereka berhenti di depan Wardoyo dan ketiga temannya.


"Periksalah kami! Kami akan tunduk pada standar keamanan yang sudah ditetapkan pada Klan ini." Wisanggeni memberi tahu mereka untuk melakukan pemeriksaan terhadapnya.


Wardoyo melambaikan tangannya, dengan segera ketiga temannya dan dia sendiri memeriksa bawaan yang dibawa Wisanggeni dan Larasati.


"Bersih.., silakan kalian segera masuk. Saya akan segera memberikan informasi pada Tuan Widjanarko dan Tuan Lindhuaji, jika saudaranya datang berkunjung." ucap Wardoyo sambil menyilakan mereka untuk segera masuk.


Wisanggeni dan rombongan kemudian mengikuti Wardoyo dan teman-temannya memasuki wilayah Klan Gumilang.


Pendopo besar untuk ruang pertemuan tampak Gagah berada di halaman depan. Sebuah pendopo yang terbuat dari kayu jati, yang dipenuhi dengan ukiran-ukiran. Mereka masih terus berjalan ke belakang, dan di sebuah pendopo kecil, Wardoyo berhenti.


"Den Wisang dan Nimas Laras..., kami belum bisa menyiapkan kamar untuk kalian berdua. Sebelum ada instruksi dari Ketua Klan, kami tidak berani untuk bertindak sembarangan. Jadi mohon maklumi kami!" Wardoyo tiba-tiba meminta maaf pada mereka.

__ADS_1


"Tidak apa-apa paman.., kita harus mematuhi semuanya hal yang sudah menjadi peraturan disini. Kami akan menumpang untuk istirahat dan duduk-duduk dulu di kursi itu. Bolehkah?" dengan sopan, Wisanggeni ijin untuk duduk di kursi.


"Silakan Den, Nimas. Kami akan segera menyampaikan tentang kedatangan kalian ke Klan Gumilang." Wardoyo dan dua temannya segera menyebar untuk menyambut tamu. Satu orang tetap berada untuk mendampingi Wisanggeni dan rombongan.


"Kamu capai Laras?" tanya Wisang pada Larasati sambil tersenyum.


"Tidak kakang, aku senang kita bisa berada disini. Aku jadi merindukan suasana keluarga." jawab Larasati sambil pandangannya mengitari sekeliling ruangan.


Wisanggeni tersenyum, dia juga kembali teringat dengan suasana yang ada di klan Bhirawa.


"Ayah.., tunggu putra-putramu akan membebaskanmu ayah." gumam Wisanggeni plan nyaris tak terdengar.


********


Seorang gadis cantik dengan tinggi semampai sedang berdiri di atas puncak bukit. Tampak tatapan kosong dibalik wajahnya yang terlihat keras. Bau harum dari aroma olive terpapar dari tubuhnya.


"Ijin menghadap Nimas Rengganis, apakah kedatangan saya mengganggumu?" seorang laki-laki paruh baya ijin untuk menghadap.


Laki-laki tua itu kemudian menghampiri perempuan itu. Dia berdiri di belakang Rengganis. Tidak berapa lama, gadis itu membalikkan badannya kemudian mereka berdiri berhadapan.


"Ada apa Ki Narendra?"


"Asoka sudah memberikan laporan. Saat ini Wisanggeni sudah sampai di tempat kediaman Widjanarko dan Lindhuaji, mereka sudah berada di Klan Gumilang." ucap Ki Narendra.


"Mereka?? Berarti Kang Wisang membawa orang?" tanya Rengganis sambil mengerutkan dahinya.


"Ampun Nimas.., sudah sejak beberapa hari, Wisanggeni ditemani seorang perempuan dalam perjalanannya. Seorang perempuan muda yang uhuk... maaf, terlihat cantik dengan tubuh yang sesuai." Ki Narendra menyampaikan apa yang dia dengar dari Asoka.

__ADS_1


Tangan Rengganis tiba-tiba menggenggam erat. Dia merasa ingin meninju seseorang saat ini. Tetapi dengan cepat, dia mengambil nafas dalam, dan emosinya kembali menjadi stabil.


"Siapakah dia Ki?"


"Mohon dimaafkan Nimas, saya tidak dapat informasi tentang siapa gadis itu. Gadis itu hanya bertemu dengan Wisanggeni di dekat wisma yang saat ini digunakan sebagai padhepokan orang-orang dari Klan Bhirawa yang tercerai berai." dengan ragu-ragu Ki Narendra menceritakan tentang gadis yang sedang bersama dengan Wisanggeni.


"Jika begitu, aku harus segera menyusul kang Wisang Ki. Aku tidak mau bertaruh dengan kesetiaan Akang padaku."


"Hmm." Ki Narendra tersenyum.


"Kenapa Ki Narendra tersenyum seperti itu. Apakah aku salah Ki?" tanya Rengganis mendengar jawaban Ki Narendra.


"Bukan salah Nimas. Hanya saya berpesan, alangkah baiknya jika Nimas sudah berjumpa dengan Wisanggeni, minta kepastian darinya."


"Maksud Ki Narendra?" Rengganis terlihat bingung.


"Hmmm.., begini Nimas. Katanya laki-laki muda itu belum membuat komitmen dengan Nimas.., maksud saya komitmen berjanji untuk selalu menunggu. Tidak saling mengkhianati." Ki Narendra mengingatkan bahwa antara Rengganis dan Wisanggeni belum terikat dengan satu komitmen bersama.


Pipi Rengganis langsung memerah mendengar perkataan Ki Narendra.


"Memang perlu ya Ki.., tapi Rengganis merasa yakin jika Kang Wisang juga memiliki rasa denganku. Bagaimana Kang Wisang selama ini selalu menjaga, selalu memperhatikan Rengganis. Aku merasakannya Ki." jawab Rengganis sambil tertunduk malu.


"Iya Nimas.., saya percaya. Tetapi saya yang mendapatkan amanah untuk selalu menjaga dan mendampingi Nimas, akan merasa tenang jika komitmen antara Nimas dan Kang Wisang sudah diucapkan berdua."


"Baik Ki.., terima kasih untuk peringatannya. Nanti Rengganis akan bertanya langsung pada Kang Wisang. Mari kita segera bersiap Ki, kalau bisa nanti malam kita sudah berangkat. Aku ingin segera melihat Kang Wisang sekarang."


Ki Narendra tersenyum melihat gadis yang sudah dia dampingi sejak berusia dua tahun, saat ini sudah mengerti tentang manisnya berpasangan. Meskipun laki-laki paruh baya ini juga menyadari, akan banyak tentangan yang akan mereka hadapi saat Klan mereka tahu tentang hubungan mereka.

__ADS_1


"Kamu harus sabar dan berusaha untuk dapat meyakinkan para tetua di klan jika ingin memiliki Wisanggeni Nimas." Ki Narendra berbicara dengan dirinya sendiri.


********


__ADS_2