
Rengganis tersenyum sinis sambil melangkah keluar menuju bagian depan penginapan. Perempuan itu terpaksa bertindak, karena tidak melihat putranya Chakra Ashanka untuk beberapa saat. Melihat bagaimana perilaku orang-orang yang sudah mengganggu kenyamanan istirahat para pengunjung penginapan, perempuan itu tidak bisa hanya tinggal diam. Akhirnya dengan tatapan sinis, melihat sebuah pedang yang akan menancap pada pengunjung yang sedang berlari menyelamatkan diri, perempuan itu segera bertindak.
"Berani juga kamu perempuan.., untung saja kamu cantik sehingga dapat menjernihkan mata kami. Jika tidak, kami tidak akan segan-segan untuk menghajar atas sikap kurang ajarmu.." dengan mata mesum, orang-orang berjalan mendatangi Rengganis. Sedangkan laki-laki berpakaian mewah, melihat penampilan Rengganis dengan mata yang penuh minat.
"Aku kurang ajar..., begitukah kalimatmu untukku. Aku adalah tamu di penginapan ini, sama dengan orang-orang yang berlari ketakutan karena kelakuan bejatmu. Melihat kalian semua sudah berani melakukan penindasan pada kami, apakah kami bertindak itu merupakan kategori kurang ajar." dengan mata berkilat, dan senyuman sinis, Rengganis memberi tanggapan atas perkataan orang-orang itu,
Orang-orang itu langsung terdiam, karena tiba-tiba mereka melihat aura energi yang ada di tubuh Rengganis melonjak dan mengalir deras keluar. Mereka tiba-tiba merasa pusing, dan tidak mampu untuk mengarahkan pandangan pada perempuan itu. Laki-laki berpakaian mewah yang mereka sebut dengan sebutan juragan, berjalan ke depan. Tangannya menyingkirkan para pengawalnya, laki-laki itu berjalan maju mendekat pada Rengganis. Sebuah senyuman dilakukan oleh laki-laki itu ketika matanya beradu pandang dengan ibunda dari Chakra Ashanka itu.
"Hmmm..., tidak aku sangka. Ternyata pengunjung di penginapan ini saat ini sudah jauh meningkat, dari terakhir kali aku datang kesini. Ada seorang bidadari, yang tanpa sengaja telah tersinggung dengan sikap yang ditunjukkan oleh para pengawalku. Maafkan mereka Nimas.., jika boleh tahu siapakan asmamu. Kenalkan namaku adalah Narodho, seorang bangsawan yang memiliki banyak kekayaan di tlatah ini." dengan senyum memuakkan, laki-laki itu berusaha merayu Rengganis.
Melihat senyum memuakkan dari laki-laki yang berdiri di depannya, Rengganis merasa muak. Dengan tatapan sadis, Rengganis menatap mata laki-laki itu. Sedikitpun perempuan itu tidak menunjukkan tatapan dan peringai bersahabat. Para pengawal Narodho tidak berani berada di dekat-dekat perempuan itu, karena selain merasa tertindas dengan aura yang dimilikinya, juga mereka tidak berani untuk melanggar perintah dari juragan mereka.
"Bagaimana perangai seorang pengawal, akan ditentukan oleh bagaimana juragan mereka memberikan pelajaran pada mereka. Tidak perlu membuat pengalihan kesalahanmu sendiri yang tidak bisa mengajar mereka, tetapi telanlah apa yang sudah kamu lakukan. Namaku tidak penting untuk diketahui oleh siapapun, dan jika Ki Sanak memiliki niat baik. Tinggalkan penginapan ini, biarkan para pengunjung untuk menikmati kenyamanannya dalam mereka beristirahat." tidak mau memberi harapan pada laki-laki itu, Rengganis berkata dengan suara tegas.
Narodho tersenyum, tetapi rupanya laki-laki itu memang memiliki otak mata keranjang. Melihat perlakuan sadis yang ditunjukkan Rengganis, laki-laki itu malah tertantang untuk menundukkan perempuan itu.
__ADS_1
"Hmm.. itu perkara yang sangat mudah Nimas.. Asalkan kamu dapat memberi tahu siapa namamu, dan dari tlatah mana dirimu berasal, maka aku akan meninggalkan penginapan ini dengan segera. Hanya baru sekali saja melihatmu, aku sudah merasakan ada panah yang menembus jantungku. Dengan mengenalmu lebih dekat, itu akan dapat menyembuhkan luka-lukaku." dengan tetap tersenyum, Narodho berjalan lebih mendekat pada Rengganis.
Rengganis merasa jijik melihat perilaku tidak sopan dari laki-laki itu. Perempuan itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, melihat jika barang-barang perabotan penginapan sudah banyak yang hancur, perempuan itu menghela nafas. Tanpa kata-kata apapun, Rengganis tiba-tiba melompat dan berlari keluar dari penginapan.
*********
Di Kedai Minuman
Chakra Ashanka bersama dengan Ayodya Putri dan juga ditemani Sekar Ratih, mendengar ada keributan di bagian depan penginapan. Gadis muda itu sudah bisa menduga siapa yang menimbulkan keributan, tetapi sepertinya gadis itu malah menghindar dan pura-pura tidak tahu.
"Sepertinya tidak perlu Kang.., apalagi di penginapan ini setahuku sudah memiliki banyak penjaga keamanan. Bagaimana penginapan ini akan dapat memberikan kenyamanan pada penghuninya, jika pengunjung diminta untuk menyelesaikan keributan itu," merasa tidak mau waktunya banyak terbuang untuk lebih dekat dengan anak muda di depannya, dan juga mengenali siapa yang sudah membuat keributan, Ayodya Putri mencegah anak muda itu untuk menghampiri keributan itu.
Chakra Ashanka terdiam, anak muda itu kemudian mengambil gelas minuman kemudian menyesapnya beberapa tegukan. Setelah meletakkan gelas kembali di atas meja, anak muda itu melihat pada Sekar ratih yang duduk di sebelahnya.
"Benar yang dikatakan Nimas Putri... Ratih. Kita tidak boleh sembarangan campur tangan jika ada keributan di tempat ini. Kita biarkan saja dulu, tetapi jika sudah membahayakan banyak orang, baru kita akan melihatnya ke depan." anak muda itu menanggapi perkataan Sekar Ratih. Ayodya Putri tersenyum mendengar perkataan anak muda itu,
__ADS_1
"Baiklah Kang Ashan.., Ratih hanya mengingatkanmu. Jangan sampai hanya karena sedang berbicara dengan kenalan baru yang cantik, kita jadi melupakan untuk saling membantu manusia yang lain." kata-kata yang keluar baru saja dari mulut Sekar Ratih, seperti mengandung perasaan cemburu.
Chakra Ashanka tersenyum, anak muda itu mengangkat tangan kirinya ke atas, kemudian mengusap pelan kepala gadis kecil itu di depan Ayodya putri. Melihat perlakuan intim yang diperlihatkan anak muda itu di depan matanya langsung, gadis muda itu menundukkan wajahnya dan bibirnya menjadi cemberut.
"Sepertinya adik perempuanku ini sudah mulai beranjak menjadi gadis remaja.." dengan senyuman, Chakra Ashanka menggoda Sekar ratih.
"Adik perempuan kang Ashan adalah Parvati, bukan Sekar Ratih. Kakang harus ingat itu.." Ayodya Putri terkejut mendengar kata-kata itu, karena sebelum mereka masuk ke kedai minuman, anak muda itu mengenalkan gadis kecil itu sebagai adik perempuannya. Tetapi kali ini, gadis kecil itu malah menyangkalnya jika dia adalah adik perempuan dari Chakra Ashanka.
"Terus bagaimana aku harus menganggapmu Ratih... Katakanlah padaku.." dengan senyuman terkulum, anak muda itu menggoda Sekar Ratih. Ayodya Putri semakin sebal melihat tingkah laku dua orang di depannya itu. Tapi tiba-tiba..
"Kang.., Kang Ashan... sepertinya Ratih mendengar suara BIbi Rengganis.. Mari kita segera ke depan, Ratih khawatir jika Bibi Rengganis yang akhirnya keluar memberi pertolongan di penginapan ini." kata-kata Sekar Ratih seperti menyadarkan anak muda itu.
Tanpa menjawab perkataan Sekar Ratih, anak muda itu segera berdiri dan bergegas menuju ke depan penginapan. Sekar ratih dan Ayodya Putri segera mengikuti langkah anak muda itu.
***********
__ADS_1