
Wisanggeni terpaku melihat lempeng yang terserap masuk ke telapak tangannya. Sedikitpun laki-laki itu tidak merasakan perbedaan apapun pada kekuatannya dari sebelum dimasuki lempeng, dan sesudah lempeng tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Tangan kanannya mengusap lembut telapak tangan kirinya, samar-samar terlihat aura berwarna emas di atasnya. Tetapi perlahan, aura berwarna emas itu dengan cepat kembali memudar.
"Mungkin saat ini belum saatnya lempeng ini menunjukkan kekuatannya padaku. Suatu saat aku yakin, lempeng ini akan memperlihatkan kemampuannya untukku." sambil tersenyum masam, Wisanggeni berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki itu kembali duduk bersila, dia memikirkan bagaimana cara untuk membebaskan dirinya dari tempat itu. Terlihat di sebelah kirinya, Singa Ulung juga meletakkan tubuhnya di atas tanah.
"Aku akan mengembalikan kekuatanku saja dulu.., baru aku memikirkan cara untuk dapat keluar dari tempat ini." setelah berpikir sebentar, Wisanggeni kembali memejamkan matanya. Laki-laki itu kembali tenggelam dalam meditasinya.
Melihat laki-laki yang selalu bersamanya tenggelam dalam keadaan meditasi, Singa Ulung menatap laki-laki itu, kemudian binatang itu berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan tersebut. Matanya yang tajam diedarkan ke seluruh ruangan, dan binatang itu akan berjalan mendatangi tempat yang dianggapnya memiliki hal yang aneh.
Setelah beberapa saat, Singa Ulung berhenti. Matanya menangkap hal yang ganjil dalam dinding ruangan tersebut. Hidung binatang itu mengendus-endus, mengarahkan penciumannya pada dinding tersebut.
"Auuummmm..." tiba-tiba Singa Ulung mengaum keras. Mendengar auman Singa Ulung tidak seperti biasanya, perlahan Wisanggeni membuka matanya. Mata laki-laki itu diarahkan pada binatang yang sedang mengendus-endus dinding ruangan tersebut. Perlahan Wisanggeni meluruskan kakinya, kemudian laki-laki itu berjalan mendatangi binatang itu. Tangan kanan Wisanggeni mengusap lembut kepala binatang itu, dan Singa Ulung menengadahkan wajahnya melihat ke wajah Wisanggeni.
"Dukk.., dukk.., dukkk..." kaki Singa Ulung diangkat, dan digunakan untuk mengetuk dinding yang ada di depannya. Wisanggeni mengerutkan kening sebentar, kemudian laki-laki itu melipat ruas-ruas jarinya dan mengetuk dinding di depan mereka, seperti yang dilakukan binatang itu.
"Duk.., duk.., duk.." suara dinding kosong terdengar jelas di telinga Wisanggeni. Laki-laki itu melakukan hal yang sama dengan mengetukkan tangan di dinding pada sisi lain. Tetapi suara ketukan padat, terdengar berbeda dengan dinding yang baru saja dia ketuk.
"Mundurlah Ulung.., aku akan mencoba menghancurkan dinding ini dengan sedikit kekuatanku. Semoga kita berjodoh, bisa menemukan jalan untuk keluar dari ruangan ini." ucap lirih Wisanggeni pada Singa Ulung. Binatang itu kemudian memundurkan tubuhnya ke belakang, dan mengamati Wisanggeni dari belakang.
__ADS_1
Dengan cepat, tangan Wisanggeni membuat simbol, kemudian sambil menyipitkan matanya.. simbol itu digerakkan ke depan ke arah dinding tersebut.
"Kekuatan Pasupati..., blam.., blam.." dengan menggunakan kekuatan Pasupati, dinding ruang yang tadi berbunyi kosong, terbuka lebar di hadapan mereka. Meskipun dinding itu terbuka karena benturan kekuatan, tetapi sedikitpun tidak ada serpihan debu maupun batu yang hancur di sekitar itu. Dinding batu itu terbuka secara rapi, tidak menandakan jika terbuka karena serangan.
Wisanggeni memanggil Singa Ulung dengan menggunakan tangannya, kemudian laki-laki itu berjalan memasuki ruangan tersebut. Dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, Wisanggeni tidak menemukan apapun di ruangan itu. Bahkan jalan untuk keluar dari ruangan itu, juga tidak berhasil dia temukan.
*************
Bersama dengan murid-murid senior di perbukitan Gunung Jambu, Rengganis merintis membuka perguruan baru di luar perbukitan tersebut. Hal itu dilakukan karena membludaknya anak-anak muda yang ingin belajar ke perguruan tersebut. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Rengganis memisahkan tempat berlatih murid perempuan dan murid laki-laki. Bahkan perempuan muda itu memanggil Asoka dan beberapa orang dari Jagadklana untuk membantunya melatih orang-orang tersebut. Selain dari Jagadklana, Rengganis juga mengirimkan pesan melalui merpati untuk meminta bantuan Klan Bhirawa, agar mereka mengirimkan orang membantu mengembangkan perguruan itu.
"Den Ayu..., silakan menuju pendhopo, orang-orang sudah berkumpul disana. Utusan dari Jagadklana, Klan Bhirawa, bahkan juga Klan Suroloyo sudah berkumpul di pendhopo." Tunggul Amerta yang sudah bergabung dengan perguruan memanggil Rengganis.
"Ashan.., bersiaplah untuk mendampingi ibunda menemui para tamu-tamu perguruan." dengan suara pelan, Rengganis meminta putranya untuk menemaninya.
"Iya Ibunda..., Ashan juga sudah selesai. Monggo Ibunda segera bersiap, Ashan akan menunggu di pintu keluar." Chakra Ashanka segera meninggalkan tempat makan setelah mencuci tangan. Perempuan itu segera menyingkirkan peralatan makan yang kotor, dan setelah membersihkan sebentar segera berjalan masuk ke kamar.
Beberapa saat Rengganis sudah berganti pakaian, kemudian keluar dari dalam kamar. Terlihat arah pintu keluar, Chakra Ashanka sudah berdiri menunggunya. Kedua orang itu segera melangkahkan kaki menuju pendhopo.
__ADS_1
******
Setelah beberapa saat
Rengganis tersenyum melihat banyak tamu sudha berkumpul di pendhopo. Pandangan perempuan muda itu langsung bertemu dengan tatapan Niken Kinanthi. Senyuman muncul di bibir gadis muda itu, kemudian Rengganis mengedarkan pandangan ke seluruh pendhopo. Beberapa orang menggunakan tanda pengenal dari Klan Bhirowo juga sudah duduk di pendhopo. Asoka dengan Jagasetra juga tidak ketinggalan sudah datang dari Jagadklana.
"Terima kasih atas perhatian saudara semuanya, karena sudah memperhatikan kiriman pesan dari kami." Rengganis menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangannya ke depan wajah untuk memberi salam pada semua yang hadir di pendhopo.
"Khususnya Nimas Niken Kinanthi.., meskipun tidak ada undangan ke Klan Suroloyo, tapi sudah berkenan untuk datang di perbukitan ini." Rengganis melanjutkan kalimatnya.
Niken Kinantho tersenyum, kemudian setelah melihat Rengganis duduk, perempuan itu kemudian berdiri.
"Minta Ijin, saya dan dua orang dari Klan Suroloyo datang ke padhepokan ini Nimas Rengganis, kebetulan saat kiriman kabar dari padhepokan ini datang ke Klan Bhirawa. Beberapa dari kami sedang beranjang ke klan tersebut, dan atas ijin dari ayahnda.., kami memutuskan untuk bergabung untuk membesarkan padhepokan ini." Niken Kinanthi menyampaikan maksud kedatangannya beser dua orang lainnya.
Setelah Niken berbicara, utusan dari Klan Bhirawa dan Jagadklana juga menyampaikan maksud kedatangan mereka. Dengan sangat bersuka cita, Rengganis menyambut baik kedatangan para saudara dari Klan lain, untuk membantunya mengembangkan padhepokan ini. Akhirnya mereka semua sekalian merembug pembagian kelompok murid-murid yang akan mereka latih. Niken Kinanthi bersama dengan Rengganis bertanggung jawab untuk murid yang ada di padhepokan perbukitan Gunung Jambu. Sedangkan utusan yang lain, mereka memiliki bagian untuk mengawasi dan melatih cabang perguruan baru di luar Gunung Jambu.
Pertemuan di malam hari ini menghasilkan kesepakatan yang luar biasa. Mereka semua berjanji untuk mengabdikan diri untuk membangun perguruan secara bersama-sama....
__ADS_1
***********