Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 271 Menolak Ajakan Bergabung


__ADS_3

Merasa naik pitam dengan laki-laki dewasa yang terang-terangan menyinggung orang tuanya, Chakra Ashanka sedikitpun tidak menahan kekuatan energinya. Energi laki-laki muda itu mengalir deras keluar, dan beberapa orang yang berada di tempat itu memilih sedikit menjauh, dan tidak mau menimbulkan masalah. Laki-laki dewasa itu merasa tertekan dengan energi yang mengalir dari tubuh anak muda itu. Keringat dingin membanjir keluar di tubuh laki-laki dewasa itu. Melihat sekelilingnya menjadi tidak seimbang, Wisanggeni memegang bahu putranya.


"Tahan dan tekan energimu, tidak baik mencari masalah di tempat asing." bisik lirih Wisanggeni untuk memperingatkan Chakra Ashanka.


Mendengar perkataan ayahndanya, Chakra Ashanka kembali menekan energinya. Ketika anak muda itu melihat kepada laki-laki dewasa yang berbicara kasar padanya, laki-laki itu sudah menunduk. Tidak tampak lagi, kesombongan dalam sikap dan tatapan matanya. Wisanggeni merangkul bahu Chakra Ashanka, kemudian membawanya menuju ke sungai yang ada di depan mereka.


"Kenapa ayahnda menahan Ashan..?" meskipun anak muda itu menuruti perkataan Wisanggeni, tetapi dalam perjalanan ke sungai, Chakra Ashanka bertanya pada Wisanggeni. Laki-laki itu tersenyum, kemudian..


"Berlatihlah untuk pengendalian diri putraku. Ada kalanya kita menyelesaikan sesuatu dengan menggunakan kekerasan dan adu laga, tetapi ada kalanya kita menggunakan logika berpikir kita. Apakah kamu tidak melihat banyaknya orang di sekitar sungai tadi? Dengan kamu tunjukkan kekuatan energimu yang sebenarnya, kamu tanpa sadar sudah menekan mereka. Ke depan, mereka tidak akan berani untuk bermain-main denganmu." dengan suara pelan, Wisanggeni menasehati putranya. Chakra Ashanka menganggukkan kepala, sebagai tanda jika dia memahami apa yang disampaikan oleh ayahndanya,


"Mandilah dulu..., ayahnda akan mencari beberapa ekor ikan untuk kita bakar," Wisanggeni memerintahkan putranya untuk membersihkan badan terlebih dahulu. Dengan banyaknya orang dan para ahli disitu, Wisanggeni juga cukup berhati-hati. Meskipun tidak banyak, mereka memiliki barang bawaan yang sangat tinggi nilainya. Laki-laki itu tidak menginginkan jika barang-barang mereka akan menjadi rebutan dan rampasan dari pihak lainnya,


"Byurr..." tanpa bicara banyak, Chakra Ashanka segera melompat ke dalam air. Kepalanya masuk ke dalam sampai tidak terlihat. Beberapa saat kemudian, anak muda itu melemparkan beberapa ekor ikan kepada Wisanggeni.

__ADS_1


"Ayah.., tangkap ikan-ikan ini!" dengan cekatan Wisanggeni menangkap empat ekor ikan ukuran sedang. Dengan menggunakan pisau belati yang tidak pernah meninggalkannya, laki-laki itu segera membersihkan ikan dari sisik dan kotorannya.


Tanpa menunggu Chakra Ashanka yang masih bermain air, Wisanggeni segera membuat api, kemudian memanggang ikan dengan bumbu kering yang selalu dia bawa kemana-mana. Tidak berapa lama, ikan bakar sudah tersaji lengkap dengan minuman hangat sudah siap untuk dinikmati. Tatapan iri dari orang-orang yang melihatnya dari tempat di atas, sama sekali tidak menghalangi Wisanggeni untuk menikmati makanan.


Bau aroma harum ikan bakar dan minuman jahe menggelitik indera penciuman Chakra Ashanka. Anak muda itu segera mengakhiri bermain airnya, kemudian bergabung mendatangi ayahndanya. Senyuman mengembang di bibir anak muda itu, melihat dua cangkir kayu berisi minuman panas, dan empat ekor ikan bakar sudah siap.


"Tidak disangka, ternyata ayahnda sangat piawai untuk mengolah ikan bakar. Ayahnda akan membersihkan badan dulu, atau bersama-sama kita nikmati ikan bakar ini." tidak sabar ingin mencicipi, Chakra Ashanka bertanya pada Wisanggeni.


*************


"Kemana tujuan kalian anak muda..., jika kalian memiliki tujuan yang sama dengan kami, bolehlah kita bergabung menjadi satu kelompok. Tidak akan ada orang yang akan berani bersikap kurang ajar, apalagi berniat untuk menindas kita." seorang laki-laki dengan bekas luka sayatan di pipi mengajak ayah dan anak itu untuk bergabung dengan kelompoknya.


"Kami tidak memiliki tujuan apapun. Kami hanya singgah sebentar untuk melanjutkan perjalanan kami. Mohon maaf, kami tidak tertarik dengan ajakan kalian. Apalagi kami juga tidak tahu kemana dan apa yang menjadi tujuan kamu dan kelompokmu." sambil tersenyum, Wisanggeni menanggapi ajakan orang-orang itu. Laki-laki ini memang tidak memilki niat untuk bergabung dengan kelompok manapun, apalagi saat ini dia sedang berjalan dengan putranya.

__ADS_1


Wajah laki-laki itu menjadi merah padam, mereka sama sekali tidak mengira jika Wisanggeni menolak ajakan mereka untuk bergabung. Bahkan sebelum mereka berdua datang, banyak orang dari kelompok lain menawarkan diri dan meminta mereka untuk bergabung dalam satu kelompok. Tetapi karena meragukan kemampuan mereka, dengan tegas orang-orang itu menolak mereka.


"Naif sekali gaya bicaramu anak muda. Semua orang yang berkumpul disini memiliki tujuan ingin menangkap fenomena alam. Akan terlahir kembali sebuah keajaiban dari jaman kuno, dan siapapun yang berhasil menangkapnya akan mendapatkan karomah dan kanuragan yang tidak tertandingi." dengan ekspresi marah, orang itu menjelaskan tujuan mereka. Tetapi perkataan mereka, sedikitpun tidak menggoyahkan perasaan Wisanggeni,


"Kami permisi dulu, dan mohon maaf kami tidak tertarik untuk bergabung dengan kelompok kalian." dengan sikap sopan, Wisanggeni mengajak Chakra Ashanka untuk berjalan meninggalkan mereka.


Mendapat penolakan dari kedua laki-laki itu, pemimpin kelompok terlihat sangat marah. Orang itu langsung mengeluarkan pedang dan akan menyabetkan senjata itu kepada dua orang itu, tetapi rekannya menahannya untuk tidak melakukan tindakan ceroboh.


"Kurang ajar.., berani sekali mereka. Apa perlu kita cincang dua laki-laki itu, begitu sombongnya menolak permintaanku!" dengan muka merah, laki-laki itu memaki Wisanggeni dan Chakra Ashanka. Melihatnya marah, orang yang lebih tua menenangkannya,


"Akan lebih malu lagi, jika kamu berani mengganggu anak muda itu. Kalian bertarung dan akhirnya kamu tidak bisa menahan serangan mereka. Jangan gegabah, tadi kita sudah melihat sendiri bagaimana energi dan aura yang dimiliki oleh anak kecil itu. Aku yakin, laki-laki yang lebih tua darinya, dalam penampilan diamnya, tidak akan kalah kanuragan yang dimilikinya. Untuk saat ini, lebih baik kita tidak mencari masalah dengan orang-orang seperti itu." mendengar peringatan itu, akhirnya laki-laki itu mengurungkan niatnya,.


Dengan pandangan tidak suka, akhirnya orang-orang di gerombolan itu hanya melihat Wisanggeni dan Chakra Ashanka berjalan meninggalkannya. Orang-orang dari kelompok lain juga memiliki pandangan iri, ingin menjadikan kedua laki-laki itu menjadi anggota kelompok mereka, Tetapi sedikitpun mereka tidak memiliki keberanian untuk mendekat pada Wisanggeni.

__ADS_1


**********


__ADS_2