
Ki Mahesa bergegas menuju kamar yang digunakan untuk mengistirahatkan Wisanggeni putra bungsunya. Dari pintu, laki-laki tua itu menghela nafas, kemudian berjalan menghampiri kedua putranya yang tampak tertunduk memegangi Wisanggeni. Telapak tangan tua dari Ki Mahesa, diletakkan di punggung kedua putranya, masing-masing satu tangan. Lindhu Aji dan Widjanarko sontak saling berpandangan, kemudian secara bersamaan keduanya menoleh ke belakang, dan melihat Ki Mahesa berdiri di belakang mereka.
"Bagaimana keadaan Wisanggeni.., apakah terlalu mengkhawatirkan?" dengan suara lirih, Ki Mahesa bertanya pada kedua putranya. Mendengar perkataan ayahndanya, kedua laki-laki itu memundurkan badannya, memberi kesempatan pada Ki Mahesa untuk melihat keadaan Wisanggeni. Setelah mengambil nafas panjang, Ki Mahesa melihat wajah putra bungsunya, dan perlahan meraih tangan dan merasakan denyut nadinya.
"Kalian tidak perlu khawatir.., biarkan adikmu istirahat. Sejak kecil, Wisanggeni memiliki kemampuan untuk mengolah ramuan herbal sendiri, dan sudah banyak ramuan herbal yang sudah dia konsumsi. Ramuan itu membentuk kekebalan tubuhnya, setelah cukup beristirahat, lambat laun adikmu akan pulih kembali. Kekuatan yang dimiliki Wisanggeni tidak kalah dengan ilmu dan kekuatan dari Ki Panjalu." setelah melakukan pengecekan kondisi putra bungsunya, Ki Mahesa menyampaikan berita yang terdengar menggembirakan di telinga kedua putra laki-lakinya.
"Benarkah ayahnda..?" mendengar pertanyaan Lindhu Aji yang terdengar meragukannya, dengan tegas Ki Mahesa menganggukkan kepala. Meskipun kedua putra Ki Mahesa masih memiliki keraguan melihat kondisi Wisanggeni, tetapi melihat keyakinan Ki Mahesa yang meyakini jika Wisanggeni akan segera bangun, keduanya akhirnya mengambil nafas lega.
"Tapi Janar.., Aji.., rahasiakan dulu keberadaan rayimu disini. Biarkan anak ini istirahat untuk sementara waktu, sekaligus untuk melakukan meditasi agar penyempurnaan ilmunya bisa meresap. Kirim kabar pada Nimas Rengganis, dan cucuku Chakra Ashanka. Semoga dengan kedatangan menantuku, Wisanggeni bisa cepat siuman." dengan suara lelah, Ki Mahesa menyampaikan sesuatu pada kedua putranya.
"Baik ayahnda.., kami akan menjalankan titah dari ayahnda. Secepatnya, kami akan mengirim kabar pada Nimas Rengganis dan keponakanku Chakra Ashanka." Widjanarko mewakili Lindhu Aji menjawab perkataan Ki Mahesa.
__ADS_1
************
Di Kerajaan Laksa
Setelah mengalahkan Pangeran Laksa dan juga pemimpin dari perguruan Tapak Geni, akhirnya Pangeran Abhiseka berhasil merebut kembali takhta raja Achala. Beberapa prajurit Pangeran Prakosa yang masih berada di wilayah kerajaan, ditangkap dan rencana akan diadili untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Tanpa menunggiu waktu, beberapa prajurit dibantu oleh warga masyarakat yang masih berada di kota Laksa, membersihkan bekas-bekas reruntuhan.
"Apa rencanamu ke depan Pangeran?" Niken Kinanthi yang membantu Pangeran Abhiseka mengawasi prajurit Laksa membersihkan kekacauan, bertanya pada laki-laki itu. Mendengar perkataan tersebut, Pangeran Abhiseka menghentikan kegiatannya, kemudian menatap ke wajah Niken Kinanthi dengan penuh rasa haru.
"Belum tahu Nimas..., saat ini yang paling mendesak adalah, kita harus mencari keberadaan Wisanggeni. Terakhir kita semua mengetahui jika anak laki-laki itu sedang bertarung melawan Ki Panjalu, pemimpin perguruan Tapak Geni. Dan ternyata, tanpa kita ketahui, laki-laki itu merupakan kakang dari Tumbak Seto pemimpin dari perguruan Alap-alap. Karena Wisanggeni, perguruan Alap-alap berhasil kita tangkap dan kita bubarkan. Mungkin dengan bercampur dengan dendam pribadi, Ki Panjalu mengerahkan semua kesaktian dan kanuragannya untuk menghadapi Wisanggeni." Pangeran Abhiseka menjawab pertanyaan Niken Kinanthi. Tampak kegelisahan di matanya, dia memiliki kebingungan bagaimana akan menyampaikan kabar hilangnya Wisanggeni pada Nimas Rengganis, dan juga Nimas Maharani,
"Hmm.., benar apa yang kamu katakan Nimas... Ke depan, bagaimana dengan rencanamu sendiri Nimas Niken Kinanthi..? Apakah kamu akan segera meninggalkanku untuk segera kembali ke padhepokan di perbukitan Gunung Jambu. Atau kamu bersedia menemaniku sementara untuk mengembalikan kerajaan Laksa, seperti semula?" tidak diduga, Pangeran Abhiseka bertanya pada gadis muda itu. Mengingat kembali, perkataan yang sudah dikatakan Niken Kinanthi pada Pangeran Prakosa sebelum tewas, gadis itu menundukkan muka, semburat warna merah sekilas menghias pipinya.
__ADS_1
"Aku belum memikirkannya Pangeran.., untuk sementara aku mungkin akan mampir beberapa waktu di padhepokan Trah Bhirawa. Bagaimanapun, di masa lalu, trah itu dengan trah Suroloyo memiliki kedekatan. Semoga aku bisa kembali menyambung kedekatan itu, dan bisa mengurangi kesalahan yang sudah aku lakukan pada trah tersebut." Niken Kinanthi menjawab perkataan Pangeran Abhiseka.
"Nimas..., jika kamu bersedia, tinggallah sementara di kerajaan ini! Aku membutuhkan teman untuk membicarakan pembangunan kembali kerajaan, dan sementara mendampingi romo prabu untuk mengembalikan kembali takhtanya. Dampingilah aku Nimas..., dan jika kamu bersedia, aku akan segera melamarmu pada keluargamu di Trah Suroloyo." tanpa menunggu waktu dan hari baik, Pangeran Abhiseka berkata dengan lugas di hadapan Niken Kinanthi.
Niken Kinanthi seperti tidak mempercayai pendengarannya, dan dengan muka merah gadis muda itu mengangkat wajahnya menatap Pangeran Abhiseka. Perlahan, keduanya diam sebentar..
"Apakah sudah saatnya aku membuka hatiku untuk orang lain, dan tidak lagi berharap untuk mendapatkan kang Wisang.." Niken Kinanthi bertanya pada dirinya sendiri. Jujur.., dari dasar lubuk hatinya, gadis muda itu masih mengharapkan Wisanggeni akan melirik dan memintanya kembali. Namun, rupanya kejadian di waktu dulu ketika dia dengan gegabah memutuskan tali pertunangan itu, sangat menekan dan menyakiti hati laki-laki tersebut. Tanggapan sinis dari trah Bhirawa, dan bahkan dari Wisanggeni dan Nimas Rengganis tidak pernah lagi dirasakannya.
"Hmm.., mungkin memang sudah saatnya. Jika aku sudah menjadi pendamping dari Pangeran Abhiseka, mungkin kedekatan antara Trah Suroloyo dan Trah Bhirawa akan bisa kembali lagi seperti semula. Mereka akan bisa melihatku sama seperti yang dulu." akhirnya Niken Kinanthi mengambil nafas dalam, dan sesudah memantapkan hatinya, gadis muda itu menatap wajah Pangeran ABhiseka.
"Pangeran.., ijinkan aku untuk mencoba menerima penawaran yang diberikan oleh Pangeran. Beri aku waktu sementara Pangeran, agar kita saling dapat mengenal dengan lebih dekat." akhirnya Niken Kinanthi menjawab dan menerima penawaran dari Pangeran ABhiseka...
__ADS_1
"Terima kasih Nimas.., untuk saat ini mari kita dampingi dulu pemulihan kerajaan Laksa. Jika semua sudah kembali tertata, aku akan segera membawa romo prabu dan ibunda ratu untuk kembali ke istana kerajaan. Nantinya, aku akan menceritakan tentang harapan kita pada romo dan ibunda.." dengan tidak percaya, Pangeran Abhiseka terlihat bahagia, mendengar jawaban dari Niken Kinanthi. Gadis itu menganggukkan kepala, memberi kesanggupan pada laki-laki tersebut.
***********