Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 433 Pagar Batu Hitam


__ADS_3

Bersama dengan istri dan putrinya, Wisanggeni menjumpai sebuah pagar batu hitam setelah melewati hutan lebat. Banyak binatang buas yang memiliki kekuatan energi tinggi berada di sekeliling pagar batu tersebut. Tetapi indera penciuman binatang-binatang itu mengendus keberadaan Singa Ulung, binatang magic yang juga memiliki energi dengan tingkatan tertinggi, binatang itu tidak berani mengusik kedatangan tiga orang itu.


"Di dalam pagar batu hitam itu, sepertinya ada padhepokan kakang. Hanya saja, karena besarnya pohon-pohon yang tumbuh disini, menghambat penglihatan kita. Nimas merasakan ada akumulasi energi besar seperti terkandung di dalam pagar batu tersebut." Rengganis menghentikan langkahnya, kemudian memberi tahu pada suaminya.


"Iya Nimas.. kakang juga merasakannya. Berhati-hatilah, dan jaga Nimas Parvati. Kakang akan mencoba mencari tahu, ada kehidupan apa di dalam pagar batu itu. Apakah keberadaan padhepokan Ki Bawono ada di dalamnya, kita akan segera mengetahuinya.." Wisanggeni ikut menghentikan langkahnya. Laki-laki itu memberi arahan pada istri dan putrinya.


"Baik kakang... Nimas akan menjaga putri kita. Parvati.. kita akan beristirahat terlebih dulu di atas batu itu.. Biarkan ayahndamu mendapatkan informasi tentang keberadaan kehidupan yang ada di dalam pagar itu." Rengganis segera menyetujui usulan yang ditawarkan suaminya. Perempuan itu segera memberi tahu putrinya, untuk duduk terlebih dahulu.


"Baiklah ibunda.. Nimas juga sudah merasa lelah dan butuh untuk istirahat." dengan cepat Parvati ikut menyetujui usulan itu. Di bawah tatapan pengawasan Wisanggeni, kedua perempuan itu berjalan menuju ke batu besar yang berada tidak jauh dari tempat itu.


"Lindungi sekelilingmu dengan pagar energi Nimas.. Kakang khawatir, binatang-binatang itu akan menghabiskan energimu jika kalian hanya berdua di tempat itu." sebelum melanjutkan penyelidikan, Wisanggeni kembali berpesan pada istrinya.


Dari depannya, Rengganis menganggukkan kepala. Perempuan itu mengangkat kedua tangannya ke atas, kemudian menggerakkannya dengan mengitarkan ke tubuhnya dan Parvati. Tidak lama kemudian, sebuah selubung tipis tampak menyelimuti kedua perempuan itu. Tampak jelas terlihat oleh mata batin, bentuk perlindungan yang diberikan oleh energi bentukan Rengganis. Kedua perempuan itu segera duduk di atas batu besar.

__ADS_1


Setelah memastikan keamanan putri dan istrinya, Wisanggeni segera membalikkan badannya. Laki-laki itu berjalan maju ke depan, menuju ke arah pagar batu.


"Hmmm.. butuh kekuatan besar untuk dapat menyusun pagar batu hitam seperti ini. terlihat jika batu-batuan ini ditempa dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam, dan tidak akan bisa dilakukan oleh orang-orang kebanyakan." Wisanggeni tampak mengagumi keberadaan pagar batu itu. Tangannya mengusap perlahan batuan tersebut, dan ketika memukul pagar tersebut, tidak ada goncangan dalam strukturnya.


"Ki Bawono... sepertinya bukan laki-laki itu yang sudah menciptakannya. Bukannya aku meragukan, tetapi bisa membentuk tatanan dan struktur serta kekuatan seperti ini, butuh tenaga dalam yang sangat besar. Kekuatan Ki Bawono belum dapat mencapai tahapan tersebut." kembali perdebatan muncul di pikiran Wisanggeni. Laki-laki ini masih berpikir keras, bagaimana cara agar dirinya bisa masuk ke dalam. Namun sedikitpun celah tidak dapat dimasuki oleh laki-laki itu.


"Aku akan mencoba membuka pagar ini dengan kekuatanku.." Wisanggeni tertarik untuk mencoba kekuatannya.


Laki-laki itu kemudian mundur beberapa langkah ke belakang. Setelah memejamkan matanya sebentar, satu kaki kiri laki-laki itu ditarik ke belakang, dan tangannya membentuk sebuah formula gerakan. Dengan mengeluarkan tenaga dalamnya, laki-laki itu membuat gelombang energi di tangannya. Sebuah energi yang dapat dilihat dengan mata telanjang, terbentuk di tangan laki-laki itu. Seperti sebuah bentuk benda padat, lingkaran seperti bola muncul di antara kedua tangan Wisanggeni.


"Usshh.... bluar .. pffffttt..." sebuah ledakan besar, tetapi dengan sendirinya menghilang, terjadi ketika Wisanggeni menggerakkan dan mengarahkan energi itu menghantam pagar batu tersebut.


"Ternyata batu-batuan ini betul-betul kebal terhadap gempuran. Kekuatanku saja tidak bisa menggeser apalagi menghancurkan batu-batuan ini.." Wisanggeni tersenyum kecut melihat usahanya berakhir dengan sia-sia.

__ADS_1


Merasa penasaran, laki-laki itu kembali mengeluarkan bola energi, kemudian menghantamkannya ke pagar batu tersebut. Namun.. sampai lima kali laki-laki itu mencoba, sedikitpun pagar batu tersebut tidak mau bergerak apalagi bergeser. Laki-laki itu menghentikan gerakannya, kemudian beristirahat untuk mengambil nafas. Dengan nafas ngos-ngosan terengah-engah, Wisanggeni mengatur kembali pernafasannya.,


"Apa yang harus aku lakukan untuk dapat masuk ke dalam pagar batu ini. Sedikitpun aku tidak dapat menemukan celah untuk dapat memasukinya/" kembali Wisanggeni berpikir. Pukulan dengan kekuatan energi tinggi yang baru saja dikirimkannya, sedikitpun tidak membuat celah pada pagar batu itu.


Wisanggeni duduk, sambil matanya diedarkan ke sekeliling. Batu hitam yang ada di depannya tidak terpecahkan dengan kejadian alam yang diamatinya. Bahkan dengan kekuatan energi dan aura kekuatannya, juga tidak bisa menghancurkan batu tersebut. Beberapa saat waktu dihabiskan laki-laki itu untuk memikirkan jalan untuk memasuki tempat tertutup tersebut. Dari dalam kabut energinya, Rengganis melihat keberadaan suaminya dengan penuh khawatir. Terlihat seperti ada keputus asaan dalam pandangan Wisanggeni,


"Nimas.. kita harus keluar dan berjalan ke tempat ayahndamu.. Sepertinya ayahnda sedang dalam kesulitan untuk dapat masuk ke dalam pagar batu tersebut." Rengganis mengajak Parvati untuk menghampiri suaminya.


"Apakah tidak masalah bunda.., bukankah tadi ayahnda sudah berpesan. Agar kita tidak terkena gangguan dari binatang-binatang magic, kita diminta untuk menyelamatkan diri di dalam tabir energi. Jika kita keluar, bagaimana jika binatang magic menyerang kita.." dengan polosnya, Parvati merasa khawatir jika melanggar pesan yang diberikan ayahndanya.


"Kita tidak perlu khawatir Nimas..., binatang magic sudah pergi dengan sendirinya. Kekuatan energi yang terbentuk dari ayahnda, sudah membuat binatang itu kabur melarikan diri. Itupun belum mampu menggerakkan pagar batu itu untuk bergeser, apalagi hancur. Ayahnda akan memaklumi upaya kita, hilangkan rasa khawatirmu.." Rengganis menenangkan putrinya Parvati.


Parvati masih menatap ke wajah ibundanya, dan Rengganis tersenyum menunggu kesediaan putrinya untuk diajak menghampiri suaminya. Melihat tekad ibundanya, akhirnya Parvati menganggukkan kepalanya. Rengganis segera mengangkat tangannya, membuat gerakan untuk menghilangkan kabut energi yang menyelimuti mereka. Beberapa saat kemudian, tabir energi itu segera hancur kemudian menyebar bersama dengan hembusan angin,

__ADS_1


Setelah tabir energi hilang, kedua perempuan itu segera berjalan menuju ke arah Wisanggeni. Tanpa diketahui oleh laki-laki itu, Rengganis dan Parvati sudah berdiri di belakangnya. Laki-laki itu terkejut dan membalikkan badannya, karena kedua perempuan itu ternyata sudah berdiri sambil menatap kepadanya. Sebuah senyuman lembut muncul di bibir Rengganis, memberikan efek menenangkan pada laki-laki itu.


**********


__ADS_2