
Di saat semua orang tertidur, Wisanggeni masih terjaga. Mata laki-laki itu terbuka, kemudian berdiri dan beranjak keluar dari dalam goa. Betapa terkejutnya laki-laki itu, melihat putranya Chakra Ashanka duduk sendiri di luar goa menatap ke kegelapan malam. Perlahan laki-laki itu menghampiri anak muda itu, kemudian duduk di sampingnya. Merasa ada yang datang menghampirinya, Chakra Ashanka menolehkan wajahnya dan melihat ke wajah laki-laki itu.
"Ayahnda..., apa yang ayah lakukan disini, bukannya ayah harus istirahat seperti yang lainnya?" anak muda itu bertanya pada ayahndanya dengan tatapan polos. Chakra Ashanka mengira jika ayahndanya tertidur sama dengan yang lainnya, ternyata laki-laki itu malah sudah berada di dekatnya.
Wisanggeni tersenyum, kemudian duduk merapatkan tubuhnya pada putra laki-lakinya itu. Tangan Wisanggeni memegang samping kanan kepala anak muda itu, kemudian menyandarkan kepala itu di bahunya. Chakra Ashanka bingung mendapatkan perlakuan itu, tetapi anak muda itu sudah merasa lama tidak melakukannya. Perlahan anak muda itu menikmati bersandar di bahu ayahndanya.
"Kamu sendiri, untuk apa berdiri di luar sendirian, bukannya istirahat. Kita belum tahu bagaimana medan dan kondisi yang ada di tempat ini, jadi kita harus lebih hati-hati dan waspada. Hanya dengan cukup istirahat, kita akan dapat melanjutkan perjalanan ini dengan lebih awas." Wisanggeni bertanya balik pada putranya itu. Dia ingin mendengar alasan Chakra Ashanka masih terjaga di malam yang dingin ini.
"Maksud hati Ashan ingin berjaga di tempat ini ayah. Semua terlihat seperti kecapaian dan butuh istirahat. Ashan khawatir akan ada yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mencelakakan kita, jadi Ashan memutuskan untuk berjaga di tempat ini. Apalagi, besok kita harus melanjutkan perjalanan untuk menyusuri tempat ini." ucap Chakra Ashanka memberi penjelasan tentang apa yang dilakukannya saat ini.
Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepala, perlahan tangannya mengusap rambut putranya itu secara perlahan. Sebenarnya sebagai seorang ayah, jujur jika diapun merasakan kerinduan untuk bersama dengan putra-putrinya itu. Tetapi keadaan yang akhirnya membuat mereka harus sering berpisah, karena tanggung jawab yang harus mereka emban. Keinginan Chakra Ashanka untuk bersama menemaninya dalam perjalanan kali ini, membuatnya untuk menebus rasa rindunya itu.
"Putraku.., ada hal yang ingin ayahnda katakan padamu. Melihatmu beberapa minggu bersama, ayahnda semakin yakin pada kemampuanmu. Sudah saatnya, kamu melakukan perjalanan sendiri untuk meningkatkan kemampuan dan mencari kanuragan baru. Ayah akan meninggalkanmu, karena ada amanah dari kakekmu untuk nguri-uri ilmu peninggalan dari leluhur kita. Ayah akan mencari tempat untuk bersemedi, apakah kamu sanggup untuk melanjutkan perjalanan ini sendiri?" tidak diduga, Wisanggeni menyampaikan informasi itu kepada putranya.
"Maksud ayahnda.., apakah ayahnda akan meninggalkan Ashan sendiri?" anak muda itu mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Iya putraku..., masih ada Pangeran Abhiseka, Bibi Niken, dan beberapa orang dari luar nusa kita.. Ayahnda juga mengijinkan jika kamu akan berpisah dengan mereka untuk meningkatkan kemampuan dan ilmumu." ucap Wisanggeni. Mendengar hal itu, Chakra Ashanka terdiam untuk beberapa saat, terkadang anak muda itu memang masih meragukan kemampuannya sendiri.
"Sebelum ayahnda pergi, ayah menitip pesan padamu. Sampaikan pada orang-orang yang ada di dalam untuk membuat kontrak dengan binatang yang akan mereka asuh. Hal itu dimaksudkan, agar binatang itu merasa tenang dan nyaman menganggap orang yang memeliharanya sebagai majikan." ucap Wisanggeni melanjutkan perkataannya. Chakra Ashanka tetap terdiam, dan hanya berusaha mencerna apa yang dibicarakan oleh ayahndanya.
Wisanggeni membiarkan putranya berlatih untuk berpikir sendiri, Melihat putranya terdiam beberapa saat, laki-laki itu juga ikut berdiam diri. Beberapa saat kemudian, Wisanggeni melihat ke wajah putranya, ternyata Chakra Ashanka sudah tertidur pulas di bahu ayahndanya,
**********
Pagi hari ketika orang-orang di dalam goa bangun, mereka terkejut. Mereka tidak melihat adanya Wisanggeni berada di goa bersama mereka. Orang-orang itu melihat ke arah Chakra Ashanka yang masih tertidur pulas dengan menggunakan naga terbang sebagai landasan kepalanya. Tiba-tiba mata anak muda itu bergerak-gerak, dia merasa ada beberapa pasang mata sedang mengamatinya.
"Ada apa paman.., apakah Ashan kesiangan bangunnya, sehingga paman dan bibi melihatku seperti ini?" dengan suara khas bangun tidur, Chakra Ashanka bertanya pada orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Kemana paman Wisanggeni Ashan.., kami semua tidak ada yang menemukannya sejak kami bangun tidur. Apakah kamu mengetahui kemana paman Wisanggeni pergi?" tiba-tiba Widayati bertanya pada anak muda itu. Mendengar perkataan yang diucapkan oleh perempuan itu, hati anak muda terasa berdesir perih. Anak itu berpikir, ternyata ayahndanya benar-benar sudah pergi meninggalkannya sendiri disini.
"Apa yang kamu ketahui Ashan.., kemana oerginya ayahndamu?" Pangeran Abhiseka ikut mendesak anak muda itu untuk menjawab pertanyaan Widayati.
__ADS_1
"Ayahnda sudah pergi paman.., ada amanah keluarga dari Trah Bhirawa. Ayahnda akan mempelajari dan menyempurnakan ilmu kanuragan warisan leluhur dari Trah kami." ucap Chakra Ashanka pelan sambil tersenyum kecut.
Semua orang yang ada disitu terkejut mendengar jawaban anak muda itu. Terdengar di telinga mereka, tidak ada emosi dari kalimat yang diucapkan oleh anak muda itu. Orang-orang yang berasal dari luar nusa itu, melihat Chakra Ashanka dengan tatapan prihatin. Mereka belum mengetahui kemampuan sebenarnya yang dimiliki olah anak muda itu.
"Jangan khawatir Ashan.., Bibi dan paman akan menemani perjalananmu, kita akan menyelesaikan misi ini secara bersama-sama." ucap Niken Kinanthi menenangkan perasaan Chakra Ashanka. Anak muda itu hanya tersenyum masam, dan menganggukkan kepala.
"Oh ya Ashan.., paman yakin jika ayahndamu pergi pasti menitipkan pesan-pesan untuk kami." tiba-tiba Pangeran Abhiseka seperti teringat sesuatu.
"Iya paman..., ayahnda hanya berpesan agar yang memiliki bayi binatang naga harus membuat kontrak dengan binatang itu. Agar ada ikatan erat yang lebih terjalin dengan kita selaku pemiliknya." ucap anak muda itu.
"Kontrak...? Bagaimana kita akan melakukan kontrak dengan binatang itu Ashan. Apakah kamu mengetahuinya." Sampana dengan cepat merespon pesan yang disampaikan oleh Wisanggeni melalui anak muda itu.
"Menurut kebiasaan pada Trah kami paman.., paman bisa mengambil beberapa tetes darah dari tubuh paman, kemudian meneteskan pada darah binatang yang akan kita kontrak. Hal itu akan menyatukan darah kita pada darah binatang kontrak kita." ucap Chakra Ashanka menjawab pertanyaan Sampana.
Tidak menunggu lama, ketiga orang yang saat ini memegang binatang naga kecil itu segera melakukan apa yang dikatakan oleh anak muda itu. Menggunakan ujung pisau, mereka membuat luka pada bagian tubuhnya, kemudian mengambil darah mereka beberapa tetes dan memasukkannya ke mulut binatang itu.
__ADS_1
**************