
Wisanggeni dan Rengganis akhirnya memutuskan untuk beberapa saat berada di kerajaan Laksa. Selain untuk melatih agar putranya Chakra Ashanka lebih mengenal makna hidup, untuk menuju kedewasaan, mereka juga berniat untuk bersama dengan ayahndanya Ki Mahesa yang sering mereka tinggalkan. Ki Mahesa merasa senang. karena di usia senjanya putra-putranya serta cucu bisa datang dan berkumpul jadi satu.
"Nimas Rengganis.. apakah kamu menikmati berada di Kota Laksa..?" Wisanggeni bertanya pada istrinya, semenjak berada di kota ini, penampilan Rengganis menjadi lebih dari biasanya.
"Perempuan manapun kakang.., pasti akan merasa lebih senang jika menemukan kemudahan untuk mendukung kegiatannya sehari-hari. Namun jika kakang memintaku untuk memilih, berada di kota Laksa ataukah di perguruan Gunung Jambu, maafkan kakang.. Nimas tidak akan bisa menjawabnya. Kedua tempat ini memiliki situasi dan dukungan keberadaan fasilitas yang berbeda." Rengganis memberi tanggapan dari perkataan yang dilontarkan suaminya.
"Maksud Nimas..., apakah bisa diperjelas?" Wisanggeni meminta istrinya lebih menjelaskan kata-katanya.
"Di kota Laksa ini, sebagai seorang perempuan, Nimas sangat senang kakang. Karena Nimas yakin, pada dasarnya setiap orang akan menyukai keindahan. Begitu juga dengan Nimas... di kota ini Nimas dengan mudah mendapatkan apapun yang Nimas mau dan inginkan. Sehingga Nimas yakin.. kakang sebernarnya juga mengerti hal apa yang Nimas maksudkan.." Rengganis menjawab pelan.
"Namun demikian.., tidak berarti Nimas mengecilkan keberadaan perguruan Gunung Jambu kakang.. Tempat ini menawarkan satu suasana, yang akan pantas untuk selalu di rindukan. Untuk mendapatkan kebutuhan yang menunjang penampilan Nimas.. kakang tahu sendiri bukan, bagaimana Nimas untuk mendapatkannya. Tetapi di tempat itu, ada kedamaian dan merasa bahagia melihat daya juang orang-orang yang selalu mengelilingi kita." Rengganis mengakhiri penjelasannya,
Wisanggeni tersenyum, dan mendekat pada perempuan itu. Apa yang ada di pikiran Rengganis, perempuan yang sudah diajaknya menjalin sebuah ikatan, dan mereka memiliki seorang putra yaitu Chakra Ashanka, sama dengan apa yang ada di pikirannya.
"Baiklah Nimas.. kakang juga merasakan hal yang sama. Untuk sore ini, kakang ingin berjalan-jalan di tengah kota kerajaaan,. Berada di kota ini, kakang merasa tidak lengkap, jika kita belum berkunjung ke tempat teman sekaligus saudara kita, Pangeran Abhiseka yang sudah bersedia dikukuhkan menjadi raja di tlatah ini. Maukah Nimas menemani kakang..?" Wisanggeni menatap mata jernih Rengganis.
"Iya kakang.., kemanapun kakang pergi, Nimas akan selalu menemani kakangmas.." Wisanggeni menyandarkan kepalanya di pundak sebelah kanan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
__ADS_1
Melihat tindakan Rengganis, Wisanggeni tersenyum. Laki-laki itu membiarkan keadaan seperti itu untuk beberapa saat, seakan menyayangkan jika kebersamaannnya dengan Rengganis istrinya, terlewatkan begitu saja.
*******
Di tengah dangau
Merasa sudah cukup mengistirahatkan diri mereka, ketiga anak muda itu memutuskan untuk kembali ke pedesaan. Orang-orang suruhan yang mengganggu banyak pengunjung kedai makan rakyat biasa, sudah kembali beberapa lama ke desa, untuk menyampaikan tindakan Chakra Ashanka kepada mereka. Dan anak muda itu merasa yakin, jika petinggi di desa tersebut, pasti sudah memberi tahu orang-orang mereka.
"Nimas Ratih.., Nimas Putri... bersiaplah jika kalian ingin segera bertarung. Sebentar lagi, aku yakin akan datang segerombolan orang yang akan mencegat perjalanan kita. AKu akan melihat, kedua bidadari di sekelilingku ini bagaimana mereka akan bertarung untuk menghalau serangan." sambil tersenyum, Chakra Ashanka mengajak kedua gadis itu berbicara.
"Benarkah kakang..., Nimas Putri akan merasa sangat senang sekali. Untuk kali ini, Nimas harap kang Ashan tidak melakukan apapun, biarkan Nimas Putri dan nimas Ratih yang akan mencoba untuk bertarung dengannya. Kakang melihat-lihat saja, dan segera memberikan bantuan jika kami sudah terdesak." Ayodya Putri menyambut baik usulan yang disampaikan oleh anak muda itu.
"Iya.. iya.. jangan khawatir. Aku akan mengistirahatkan tubuhku kembali, aku ingin mencoba bagaimana dijaga dan dilindungi oleh para bidadari cantik." ucap Chakra Ashanka sambil mengerlingkan satu matanya.
Sekar Ratih dan Ayodya Putri saling berpandangan, sebelum mereka mencibirkan bibir dan tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Halah.. sudahlah Nimas Putri. Ayo kita segera bergegas, jika ada yang berani menghadang kita di tengah jalan, kita langsung habisi saja mereka. Namun.. jika nanti terjadi urusan lebih lanjut, barulah kita bersembunyi di belakang punggung kang Ashan." Sekar Ratih mengajak berbicara Ayodya Putri.
__ADS_1
"Baik Nimas Ratih.., sangat menarik ide yang kamu usulkan. Tunggu aku.., kita jalan bersama-sama." Ayodya Putri kemudian menjejeri langkah Sekar Ratih. Kedua gadis itu akhirnya berjalan berdampingan. Chakra Ashanka melihat keduanya dari belakang, anak muda itu hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala menyaksikan kekompakan keduanya.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, tiba-tiba tatapan kedua gadis itu melihat ada beberapa orang tampak menutup jalan mereka. Tatapan orang-orang itu tampak tidak bersahabat, dan sedikitpun tidak terlihat keramahan dalam pandangan itu.
"Hati-hatilah Nimas Ratih, apa yang tadi dikatakan kakang Ashan.. saat ini sudah ada di depan mata kita. Tidak ada sedikitpun muncul keramahan dalam tatapan mereka." Ayodya Putri berbisik pada Sekar Ratih. Gadis di samping itu hanya menganggukkan kepala.
Dari belakang, Chakra Ashanka terdiam tidak menunjukkan respon apapun. Sepertinya laki-laki itu memang ingin menguji kedua anak gadis di depannya. Tetapi aura Chakra Ashanka membanjir keluar, seperti ingin mengukur kedalaman energi yang dimiliki oleh orang-orang itu.
"Berhenti kalian... jangan coba-coba untuk mencari perkara di desa ini!" tiba-tiba terdengar teriakan dari orang-orang itu.
Ayodya Putri dan Sekar Ratih tersenyum menatap orang-orang itu. Tidak ada ketakutan pada diri kedua gadis itu mendengar ancaman yang dialamatkan pada mereka.
"Kami sudah berhenti Ki sanak . apakah ada hal yang ingin dibicarakan dengan kami." dengan ramah, Ayodya Putri memberikan tanggapan pada sambutan mereka.
"Terlalu banyak bicara kamu. Untungnya kamu memiliki wajah yang cantik, dan bentuk tubuh yang bagus. Kalian berdua bisa menjadi penghangat tempat tidurku. Ha.. ha.. ha." salah satu dari orang-orang itu menjawab sapaan Ayodya Putri.
"Ha.. ha.. ha... benar katamu kakangmas. Kita bisa bergantian sepanjang malam. Jangan khawatir Nimas... kami akan melebihi segalanya dari laki-laki lemah yang ada di belakangmu." temannya yang lain menyahuti perkataan temannya.
__ADS_1
"Blang .. jeglarr.." tidak diduga, mendengar kata-kata melecehkan dari orang-orang itu, Ayodya Putri tidak bisa menahan diri. Gadis itu mengirim serangan pada orang-orang itu. Beberapa orang melompat ke atas, kemudian tubuhnya terpental ke belakang. Dengan sorot mata mendelik, beberapa orang di antara mereka segera melompat ke depan, dan mengambil kuda-kuda.
*********