Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 294 Sama-sama Berjuang


__ADS_3

Setelah memastikan keadaan yang dialami oleh Chakra Ashanka dari lantai di bawahnya, Pangeran Abhiseka mengajak Widayat dan Niken Kinanti untuk berlatih memanfaatkan energi dan aura di tempat itu. Berlatih di bangunan candi ini, memiliki efek lima kali lipat jika dibandingkan dengan berlatih di luar ruangan tersebut. Energi dan aura yang pekat menguatkan otot-otot dalam tubuh mereka dan menguatkannya.


Baru saja mereka akan berjalan meninggalkan tempat itu, tatapan Niken Kinanti terarah pada Aditya. Perempuan muda itu melihat keberadaan Aditya saat mengantarkan Chakra Ashanka naik ke anak tangga.


"Rayi.., apakah kamu teman dari keponakan kami?" dengan tatapan bersahabat, Niken Kinanti bertanya pada Aditya.


Anak muda itu menatap balik ke wajah perempuan muda itu, kemudian dengan sopan membungkukkan badan memberikan penghormatan pada yang lebih tua.


"Benar Bibi..., namaku Aditya. Kami bertemu dalam perjalanan naik ke ruangan ini. Anak muda itu sangat baik dan suka menolong. Ketika aku dan adikku hampir terpeleset karena energi kami tidak cukup, Chakra Ashanka yang telah menolong kami. Sayang, kami belum bisa memberikan balasan atas bantuan anak muda itu." merasa malu, Aditya menundukkan wajahnya.


"Jangan pernah berpikir untuk membalas kebaikan seseorang secara instan anak muda. Berlatihlah dengan baik, aku yakin suatu saat kalian bisa berjodoh untuk dapat dipertemukan lagi oleh Hyang Widhi. Kami sebagai orang-orang terdekat Chakra Ashanka di tempat ini, menjadi saksi akan pertemanan kalian berdua." Niken Kinanti membesarkan hati anak muda itu.


Aditya mengangkat wajahnya ke atas, kemudian tersenyum dan mengangguk kepala.


"Terima kasih atas pencerahannya Bibi... Paman..., saya mohon pamit ingin kembali ke ruangan tempat saya dan adik saya berlatih." dengan sikap sopan, Aditya mengucapkan kata pamit pada Niken Kinanti dan dua orang lainnya. Ketiga orang itu tersenyum dan melihat sampai punggung anak muda itu sudah tidak terlihat lagi.


"Mari kita kembali ke urusan kita sendiri. Sebelum kita mencoba untuk mengikuti Chakra Ashanka di lantai atas, kita harus bisa menundukkan untuk menyerap semua energi dan aura di lantai ini." Pangeran Abhiseka segera mengajak kedua orang itu untuk mencari tempat berlatih


*********

__ADS_1


Di puncak bukit kapur


Wisanggeni terus menahan serangan dari makhluk tak terlihat di bukit kapur itu. Dengan mata terpejam, laki-laki itu terus menggerakkan tangannya untuk menangkis serangan yang bertubi-tubi ke arahnya. Bibir laki-laki itu tersungging senyuman, ketika melihat ada tulisan Sansekerta muncul saat serangan itu berhasil di helanya.


Dengan sigap, Wisanggeni menggerakkan tangannya kembali untuk membuat gerakan seperti yang tertulis dalam tulisan Sansekerta tersebut. Laki-laki itu terlihat mengagumi gerakan-gerakan yang dengan indahnya diciptakan oleh para pendahulunya. Bahkan laki-laki itu juga yakin, jika ayahndanya Ki Mahesapun belum bisa menguasai gerakan-gerakan itu.


"Betapa menakjubkan Kanuragan yang diwariskan oleh leluhur Trah Bhirawa.. Setelah aku menguasainya, aku akan mewariskan ilmu ini pada putraku Chakra Ashanka dan juga Parvati. Hyang Widhi sudah menganugerahi aku keturunan-keturunan dengan garis leluhur yang luar biasa." laki-laki itu berpikir sendiri.


Tiba-tiba baru saja Wisanggeni berpikir, dari arah depan pintu goa terlihat bara api yang sangat besar menuju ke arah laki-laki duduk. Tanpa sempat menghindar, bara api itu menghantam dada Wisanggeni. Luka bakar yang terlihat gosong merebak di sekujur tubuh laki-laki itu di bagian depan. Seketika rasa nyeri bercampur dengan rasa pusing di kepala menjadi satu.


Untungnya sebagai pengolah ramuan herbal, tubuh laki-laki itu sering mengkonsumsi ramuan-ramuan tersebut. Karena terlalu seringnya dikonsumsi, ramuan herbal itu membentuk sebuah endapan di peredaran darahnya. Ketika saat ini tubuhnya terbakar, dengan cepat ramuan herbal itu seperti diekstrak kembali. Rasa nyeri semakin bertambah dengan mendidihnya aliran darah di sekujur tubuh laki-laki itu.


Detik demi detik, pembakaran yang terjadi di tubuh Wisanggeni terus terjadi. Tetapi latihan yang kuat dan perjuangan yang telah dilakukan selama ini, telah membentuk kekuatan darahnya. Pernah mati suri untuk berbulan-bulan lamanya juga pernah dialaminya. Wisanggeni menggunakan penderitaan yang dialaminya saat ini, untuk meredam kebosanan dalam menahan rasa sakit di saat ini.


********


Rengganis sedang menemani Parvati yang sudah bisa berjalan dengan bermain congklak di serambi pendhopo. Perempuan itu tidak bisa berbuat apa-apa, sudah sekian lama ditinggalkan suami dan juga putranya untuk meningkatkan ilmu Kanuragan mereka. Untungnya ada Parvati putri Maharani dengan Wisanggeni, yang bisa menjadi penghibur katanya.


"Bunda Rengganis..., kata Bunda Maharani, Parvati memiliki seorang kakak laki-laki. Tetapi kenapa sampai sejauh ini, Parvati belum pernah bertemu dengan kakak itu?" tiba-tiba Parvati dengan suara cedal bertanya tentang Chakra Ashanka. Hati Rengganis seperti terkena pukulan, karena pertanyaan itu mengingatkan pada putranya yang sedang pergi jauh.

__ADS_1


"Kenapa Bunda Rengganis diam, apakah Bunda tidak mendengar pertanyaan Parvati?" beberapa saat tidak mendapatkan jawaban, anak kecil itu kembali bertanya pada Rengganis.


Rengganis tersentak, kemudian dengan tersenyum pias, perempuan itu kembali melihat pada gadis kecil itu.


"Maafkan bunda sayang..., bunda jadi teringat kakangmu Chakra Ashanka. Ibunda yakin sayang.., tidak lama lagi kakangmu dan juga ayahnda akan segera kembali. Karena mereka merasa rindu dengan Parvati yang cantik." ucap Rengganis menjawab pertanyaan gadis kecil itu.


"Ayo kita lanjutkan lagi main congkaknya. Giliran Parvati untuk mengguncang angkanya!" untuk mengalirkan perhatian gadis kecil itu, Rengganis mengajaknya untuk melanjutkan permainan.


"Baiklah bunda..." dengan senyum ceria, Parvati segera memainkan congklak setelah mengguncang angkanya.


Dari kejauhan, Maharani yang baru selesai mengawasi latihan murid-murid perguruan, tersenyum melihat kedekatan putri yang dilahirkannya dengan Rengganis. Perlahan perempuan itu mengarahkannya langkahnya menuju ke tempat mereka bermain.


"Sugeng sonten Guru putri..." terdengar sapaan dari beberapa murid yang berpapasan dengan perempuan itu.


Maharani tersenyum dan tidak menjawab hanya mengangkat tangannya ke atas. Fokus perhatian perempuan itu pada putrinya dan istri pertama dari suaminya itu. Ketika Maharani akan berbelok ke tempat putrinya, sudut mata perempuan itu menangkap kejanggalan di tempat yang lumayan jauh dari tempat itu. Sebagai Ratu Ular, Maharani memang memiliki pandangan yang lebih tajam dibandingkan dengan manusia biasa.


"Ada apa itu, sepertinya ada kekacauan di luar tapal batas perguruan?" Maharani berpikir sendiri. Perempuan itu kemudian melirik ke arah putranya yang sedang bermain dengan Rengganis.


"Sepertinya untuk saat ini, Parvati sudah aman bersama dengan Rengganis. Kehadiran Parvati bisa mengurangi kerinduan perempuan itu dengan putranya Chakra Ashanka. Aku akan d diam-diam meninggalkan mereka untuk melihat apa yang terjadi di tapal batas." Maharani kembali berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah melihat ke arah putrinya sekali lagi, Maharani langsung melesat meninggalkan padhepokan.


********


__ADS_2