Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 354 Mengajak Pergi


__ADS_3

Chakra Ashanka membawa gulungan daun lontar itu menuju ke senthong tempat ibundanya beristirahat. Melihat jika lampu senthong sudah padam, dan jendela juga sudah terbuka, menandakan jika perempuan itu sudah terbangun dan juga sudah membersihkan diri. Tanpa ragu, Chakra Ashanka segera berjalan menghampiri pintu masuk ke arah senthong.


"Tok.., tok.., tok.., ibunda Rengganis. Ini Ashan ibunda.." tiga kali Chakra Ashanka mengetuk pintu senthong Rengganis.


"Masuklah putraku, pintu tidak ibunda kancing. Barusan bunda selesai melipat baju yang sudah dicuci bersih." terdengar jawaban mempersilakan masuk dari dalam senthong.


Anak muda itu segera bergegas mendorong pintu senthong itu ke dalam. melihat ibundanya sedang terduduk di atas dipan kayu, anak muda itu segera mendatangi ibundanya. Seperti biasanya, Chakra Ashanka memberikan ciuman di punggung tangan perempuan itu.


"Ada apa putraku.., apakah ada hal yang penting. Tidak biasanya, pagi-pagi begini kamu sudah mencari ibunda." Rengganis menghentikan kegiatannya melipat pakaian, perempuan itu menanyakan kepentingan putranya berada di senthongnya.


"Mau menyerahkan gulungan daun lontar ini ibunda.." Chakra Ashanka menyerahkan gulungan daun lontar ke tangan ibundanya.


Rengganis menatap wajah Chakra Ashanka, kemudian dengan dahi berkerut menerima gulungan lontar tersebut dari tangan putranya. Dengan penuh tanda tanya, perempuan itu segera membuka ikatan tali  dari rami di sekeliling daun lontar, kemudian melembarkan gulungan tersebut.


"Nimas Rengganis..., Akang dengan Nimas Parvati saat ini berada di kediaman ayahnda Ki Mahesa. Jika Nimas Rengganis tidak keberatan, tinggalkan perguruan Gunung Jambu sebentar, susullah akang di Trah Bhirawa." tertulis dengan rapi, tulisan tangan Wisanggeni suaminya, Tanpa sadar air mata haru menetes dari sudut mata perempuan itu, menandakan bagaimana Rengganis sudah sangat merindukan kehadiran suami di sisinya.


"Ibunda.. apa yang sudah terjadi. Kenapa ibunda menangis?" Chakra Ashanka merasa kaget, melihat air mata yang mengalir ke pipi perempuan itu. Tangan kanan anak muda itu, mengusap tetesan air mata, dan melihat ke wajah ibundanya dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Bukan apa-apa putraku, janganlah khawatir dan berpikiran buruk. Ibunda hanya merindukan keberadaan ayahndamu saja putraku.." Rengganis menyerahkan gulungan daun lontar itu pada Chakra Ashanka. Anak muda itu langsung menerimanya, kemudian membacanya karena penasaran, Beberapa saat kemudian, Chakra Ashanka meletakkan gulungan daun lontar itu ke atas lemari kayu kecil yang ada di samping dipan kayu. Untuk beberapa saat, anak muda itu terdiam.


"Bagaimana pendapatmu putraku.., apakah ibunda akan pergi menyusul ayahnda, atau tetap berada di perguruan untuk memberi pengawasan?" Rengganis tidak egois, perempuan itu meminta pendapat dari putra laki-lakinya itu. Karena untuk saat ini, dirinya hanya berdua dengan Chakra Ashanka mengawasi perguruan,


"Ibunda.. tidak perlu ibunda meminta pertimbangan pada Ashan. Ayahnda Wisanggeni adalah suami ibunda Rengganis, perasaan ibundalah yang harus diperhatikan. Jika memang ibunda merindukan ayahnda, maka ada baiknya ibunda pergi menyusul ayahnda. Ashan juga akan menemani ibunda, tidak akan membiarkan ibunda sendirian untuk menempuh perjalanan jauh." Chakra Ashanka menjawab pertanyaan ibundanya. Rengganis tersenyum mendengar jawaban putranya.


"Terima kasih putraku, kamu ternyata sangat memahami perasaan ibunda. Kita harus bersiap-siap untuk mengatur perguruan ini, dan mengatur siapa yang akan bertanggung jawab pada perguruan ketika kita meninggalkannya." Rengganis segera menanggapi perkataan yang diucapkan putranya.


"Oh iya ibunda.., jika Ashan membawa Sekar ratih untuk turut serta, apakah ibunda akan keberatan?" tiba-tiba dengan sedikit rasa malu, Chakra Ashanka bertanya pada ibundanya,


"Hmm.., ajaklah putraku. Aku tahu.., kamu bertanggung jawab pada gadis itu. Sekar ratih seorang gadis yang baik, ajaklah untuk bertemu dengan keluarga besar kita." memahami perasaan putranya, Rengganis menyetujui pertanyaan yang diajukan oleh Chakra Ashanka,


Sekar Ratih tidak mempercayai pendengarannya ketika Chakra Ashanka mengajaknya untuk berkunjung ke kota Laksa. Baru saja tadi pagi, gadis kecil itu mengutarakan keinginannya pada anak muda itu, ternyata tidak sampai hitungan hari, Chakra Ashanka sudah mengajaknya. Gadis itu segera bersiap untuk membereskan perlengkapannya, dan ketika akan menuju ke arah senthongnya, Sekar ratih bertemu dengan Bhadra Arsyanendra.


"Ratih.., tidak biasanya mukamu terlihat cerah. Ada apakah gerangan, apakah kamu baru saja mendengar sesuatu yang menyenangkan dari Chakra Ashanka..?" dengan penasaran karena melihat perubahan raut wajah gadis itu, Bhadra Arsyanendra langsung bertanya pada Sekar ratih.


"raden Bhadra.., hentikan khayalan tingkat tingginya. Nanti kalau terjatuh, raden Bhadra akan terluka parah karena terlalu tinggi jaraknya.." dengan santai, Sekar Ratih menanggapi perkataan Bhadra yang memang ditujukan untuk menggodanya.

__ADS_1


"Ha.., ha.., ha.. ternyata pintar juga kamu bersilat lidah Ratih. Ada apa.., sepertinya kamu tergesa-gesa. Aku amati, kamu seperti bergegas untuk kembali menuju kamarmu." merasa gagal niatnya untuk mengerjai gadis itu, Bhadra menanyakan urusan Sekar ratih.


"Maaf Raden.., saya tidak bisa menemani Raden Bhadra bermain. Karena saya harus segera bersiap, karena Kang Ashan dan Bibi Rengganis akan mengajak Ratih pergi." untuk dapat meninggalkan Bhadra Arsyanendra akhirnya Sekar ratih berbicara jujur.


"Mereka akan mengajakmu pergi, tetapi kenapa mereka tidak mengajakku? Aku akan protes pada Chakra Ashanka, bisa-bisanya anak muda itu pilih kasih. Hanya mengajakmu saja untuk pergi meninggalkan perguruan ini, sedangkan kepadaku, bicara untuk memberi tahu saja tidak." Bhadra Arsyanendra membalikkan badan dan pergi meninggalkan Sekar ratih.


"Raden.., Raden Bhadra..." Sekar ratih mencoba memanggil bocah laki-laki itu, tetapi anak itu tidak menghiraukan panggilan tersebut,


Gadis kecil itu sebenarnya akan melarang kepergian bocah laki-laki itu, tetapi waktunya mendesak untuk segera bersiap. Tanpa melihat lagi ke arah Bhadra Arsyanendra, Sekar ratih segera bergegas pergi untuk kembali ke dalam senthongnya.


"Memangnya apa yang akan aku siapkan. Bukannya aku tidak memiliki banyak barang disini. Hanya beberapa potong pakaian saja." di dalam senthong, Sekar ratih tersenyum kecut. Gadis itu baru menyadari jika dirinya tidak memiliki banyak barang dan perlengkapan. Beberapa potong pakaian saja, semuanya dibelikan oleh Bibi Rengganis. Dia tinggal memakainya saja.


Gadis itu tidak banyak berpikir, semua pakaiannya dimasukkan ke dalam kain kemudian dimasukkan ke dalam kepis lusuh miliknya. Melihat barang apa yang dimilikinya, membuat gadis itu menjadi berpikir, jika ternyata dia memiliki latar belakang yang berbeda dengan orang-orang lain di dalam perguruan ini.


"Aku tidak boleh mengeluh, bukannya kang Ashan juga sudah tahu bagaimana kondisi keluargaku. Karena melihat kekurangan di keluargaku, maka anak muda itu mengajakku kesini. Aku berhutang budi pada anak muda itu, juga pada keluarganya." Sekar ratih berbicara sendiri.


Gadis itu mengedarkan pandangan mengelilingi senthong atau kamar. melihat kamarnya itu, Sekar Ratih masih merasa bersyukur. Meskipun kamar ini memiliki ukuran kecil, tetapi masih lebih baik dengan keadaan di rumah keluarganya.

__ADS_1


*********


__ADS_2