
Cukup lama Chakra Ashanka mengalami pingsan dengan kepala dan kedua tangan berada di ruangan lantai ke tujuh, tetapi kedua kakinya terjuntai ke bawah di atas anak tangga. Teriakan rasa khawatir dari orang-orang yang berada di bawah, sedikitpun tidak ada yang bisa anak muda itu dengar. Pengeran Abhiseka dan Niken Kinanthi berniat untuk memberikan pertolongan pada anak muda itu, tetapi baru pada anak tangga yang paling bawah untuk menuju ke lantai ke lima, tubuh mereka sudah terjungkal kembali ke belakang. Berulang-ulang kali mereka mencoba, tetapi sampai tubuh mereka penuh dengan luka-luka karena serangan dari sosok yang tidak terlihat, mereka tetap tidak berhasil naik ke atas.
"Hentikan tindakan kalian Pangeran, Nimas Niken.., sepertinya sudah menjadi takdir anak muda itu. Chakra Asahanka bukan anak muda yang lemah, dia anak muda yang kuat dan memiliki semangat berjuang yang tinggi. Anak muda itu hanya sedang mengistirahatkan tubuhnya beberapa saat, aku yakin tidak akan membutuhkan waktu lama, anak muda itu akan dengan cepat menguasai dirinya kembali." terdengar suara Widayat memberi peringatan pada kedua orang yang dituakan itu. Pangeran Abhiseka dan Niken Kinanthi saling berpandangan, akhirnya mereka menghela mafas.
"Memang benar apa yang dikatakan Widayat Nimas.., kita tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk membantu Chakra Ashanka. Kita hanya bisa melakukan doa, memohonkan perlindungan pada Hyang Widhi untuk anak muda itu." akhirnya Pangeran Abhiseka mengikuti anjuran Widayat, dan mengajak pada Niken Kinanthi untuk menghentikan upaya mereka untuk naik ke atas.
Niken Kinanthi terdiam mencoba mencerna perkataan itu. Setelah beberapa saat, akhirnya perempuan itu bisa menerima. Dengan tatapan pasrah, Niken Kinanthi melihat ke atas, ke arah Chakra Ashanka yang terlihat masih belum sadarkan diri.
Aditya dan Aditama tidak bicara, kedua anak muda itu hanya menatap teman perjalanannya itu dengan prihatin. Tetapi mereka yakin, jika tidak akan lama lagi, anak muda itu akan membuat suatu kejutan. Orang-orang itu tetap berdiri dan melihat ke atas sampai seharian penuh, dan ketika malam menjelang..
"Sepertinya kita tidak bisa terus seperti ini. Lihatlah di sebelah tenggara, sepertinya jalan untuk menuruni bangunan candi sudah terbuka untuk kita." tiba-tiba Widayat menunjuk ke sisi tenggara, dan terlihat oleh mereka sebuah sinar terang, dan sebuah pintu yang dapat mereka lewati.
"Akankah kita akan meninggalkan Chakra Ashanka Pangeran, dan bagaimana pertanggung jawaban kita pada Kang Wisanggeni dan Nimas Rengganis..?" dengan suara tercekat, Niken Kinanthi bertanya pada laki-laki itu.
__ADS_1
"Huh..., kita tidak akan bisa hanya berdiam seperti ini tersu disini Nimas. Pintu itu lama kelamaan akan tertutup dengan sendirinya, saat ini kesempatan bagi kita untuk dapat melewatinya dan keluar dari dalam ruangan ini. Lihatlhah..., para pesohor sudah banyak yang memanfaatkan kesempatan ini. Kita harus mengikuti mereka, atau kita sendiri yang akan tersiksa disini." setelah mengambil nafas, Pangeran Abhiseka menjawab pertanyaan Niken Kinanthi dengan perasaan tidak menentu.
Widayat, bahkan kedua anak muda itu menganggukkan kepala. Mereka juga menyetujui untuk cepat meninggalkan tempat itu, selagi jalan sudah terbuka.
"Nimas..., sepertinya kamu harus menghilangkan perasaan khawatirmu itu. Kita masih bisa menunggu beberapa saat kedatangan Chakra Ashanka di luar bangunan candi ini. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan disini, kamu harus dapat menerimanya. Untuk pertanggung jawaban pada kedua orang tua anak muda itu, kalian bisa berpikir sambil berjalan keluar dari ruangan ini." Widayat menambahkan jawaban yang diberikan oleh Pangeran Abhiseka.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Niken Kinanthi bisa menerima penjelasan rekan-rekannya itu. Perempuan itu menatap sekali lagi Chakra Ashanka dari tempatnya berdiri, kemudian perlahan melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut. Rombongan lainnya segera mengikuti perempuan itu menuju ke luar ruangan.
**********
"Apakah kamu sudah sadar anak muda..?" perlahan terdengar suara lirih menenangkan dari atas tempat Chakra Ashanka menyandarkan kepalanya. Tetapi meskipun suara itu lirih, ternyata bisa menjadi penyemangat bagi anak muda itu untuk mengangkat wajahnya ke atas.
"Si.., siapakah sesepuh..?" Chakra Ashanka bertanya pada sesepuh itu. Senyum yang berkembang di bibir laki-laki tua itu, terlihat memberikan kesejukan bagi anak muda itu. Senyuman itu seperti menjadi air dingin yang menyiram sekujur tubuhnya ke atas.
__ADS_1
"Bangkitlah anak muda.., naiklah ikuti aku..!" laki-laki tua itu mengulurkan tangannya ke arah Chakra Ashanka, dan anak muda itu tidak menyia-nyiakan bantuan itu. Dengan sigap, anak muda itu meraih tangan laki-laki tua itu, dan dengan sekali tarikan tubuh Chakra Ashanka sudah berada semuanya di atas ruangan yang ada di lantai tujuh. Begitu anak muda itu sudah berada di ruangan tersebut, dalam sekejap ruangan yang terdapat pada lantai-lantai di bawahnya tiba-tiba raib dan menghilang,
Chakra Ashanka terhenyak dan dengan pandangan bingung, anak muda itu mengalihkan pandangan menjadi menatap laki-laki tua itu. Banyak pertanyaan yang terkandung dalam tatapan anak muda itu, tetapi hanya senyuman yang menenangkan yang keluar dari bibir laki-laki tua itu.
"Apa yang kamu cari di tempat ini anak muda..?" tiba-tiba laki-laki tua itu bertanya pada Chakra Ashanka.
"Saya sendiri juga tidak tahu sesepuh. Hanya saja, setiap ruangan pada lantai yang berbeda yang saya datangi, banyak melimpah kekuatan energi dan aura yang dapat saya manfaatkan untuk meningkatkan ilmu kanuragan saya. Tetapi sebenarnya apa yang saya cari, saya tidak dapat menjawabnya. Kami sebenarnya hanya menemukan bangunan candi ini tidak sengaja.." sambil tersenyum masam, Chakra Ashanka menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Huh..., jika begitu apakah kamu merasakan hal yang sia-sia dengan bermain-main di bangunan candi ini?" tetap dengan senyuman, laki-laki tua itu terus bertanya pada anak muda itu.
"Saya tidak pernah merasakan hal yang sia-sia di setiap perjalanan yang saya lakukan. Kejadian baik, buruk.., merupaka suatu pembelajaran yang bisa membuat saya belajar untuk tumbuh menjadi seorang laki-laki yang dewasa. Jadi meskipun saya tidak tahu ada hal apa yang akan saya dapat dalam perjalanan kali ini, saya tidak memiliki sedikitpun penyesalan telah melakukannya," kembali dengan tegas, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan itu.
"Hmmm..., kamu memang anak muda sesuai dengan yang aku harapkan, Kemarilah anak muda.., aku akan memberi sesuatu untukmu. Tetapi amalkan semua untuk kebaikan, menegakkan kebenaran di seluru penjuru dimana kamu berada." laki-laki tua itu meminta Chakra Ashanka untuk lebih mendekat padanya.
__ADS_1
Chakra Ashanka terbengong, tetapi kemudian anak muda itu tersadar kembali. Anak muda itu segera melangkah mendekat pada laki-laki tua itu.
************