Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 251 Pengujian


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan yang disampaikan Chakra Ashanka, dan cerita Sayogyo dan Prastowo akhirnya para sesepuh di desa tersebut, menerima persyaratan yang diajukan oleh anak laki-laki itu. Bahkan tidak diduga, respon dari banyak pemuda desa tersebut ingin bersama-sama berlatih kanuragan di perbukitan Gunung Jambu. Tetapi.., Chakara Ashanka tidak berani untuk menerima mereka semua tanpa a danya seleksi yang dilakukan secara terbuka, sama dengan para murid yang telah bergabung sebelumnya.


"Kami akan berbicara dengan ibu dari Tarjono anak muda.. Keamanan desa yang akan mengambil alih peran Tarjono untuk menjaga keselamatan dan keamanan ibu beserta adik-adiknya. Kemudian.., bagaimana responmu atas banyaknya animo dari pemuda di sini yang ingin menimba ilmu di perbukitan Gunung Jambu..?" pemimpin desa menanyakan tentang respon dari para pemuda di desanya.


"Terima kasih atas penerimaan perguruan kami di wilayah desa sini paman.. Tetapi yang perlu untuk diingat adalah, perguruan kami tidak bisa hanya menerima calon murid secara asal. Mereka harus menjalani serangkaian pengujian, sebelum bisa diterima pada perguruan kami. Jika boleh saya menyarankan, berangkatlah bersama-sama ke perguruan kami, dan ikuti test yang dilaksanakan di gerbang masuk perguruan." tidak bisa menolak permintaan warga desa, Chakra Ashanka memberi saran yang bisa diterima oleh semua warga.


"Tetapi untuk mereka bertiga bagaimana, Tarjono, Sayogyo, dan Prastowo. Apakah mereka juga akan menjalani pengujian di awal agar bisa masuk ke dalam perguruan Gunung Jambu?" salah satu perangkat desa bertanya.


Chakra Ashanka tersenyum, anak laki-laki itu mencoba memilih kalimat yang tidak menyinggung perasaan orang-orang yang berada di situ. Anak itu sering hati-hati, dirinya merasa khawatir jika ada orang yang salah memhami kalimat yang dia katakan.


"Untuk mereka beda kasus dan keadaanya paman. Saya sudah meminta ijin pada kedua orang tua saya, dan mereka juga sudah melihat bagaimana ketiga orang ini bertarung. Orang tua saya sudah menyetujui untuk menerima ketiga teman saya ini." Chakra Ashanka merentangkan kedua tangannya, dan memegang pundak ketiga temannya yang sudah berada di sampingnya.


Tarjono terdiam, anak laki-laki itu sejak tadi mendengarkan pembicaraan yag terjadi di pendhopo. Bahkan laki-laki ini tidak percaya, tatkala Chakra Ashanka memintanya maju dan bergabung dalam pembicaraan dengan para sesepuh dan perangkat desa tempatnya tinggal. Apalagi ketika mendengar, jika semua warga masyarakat berusaha untuk bicara dengan ibundanya, agar dia bisa mengikuti Chakra Ashanka dan kedua teman lainnya.

__ADS_1


"Baiklah jika begitu.., kami menyetujui pemikiranmu anak muda. Sebelum para pemuda kami kirim dan kami antarkan ke perguruan kamu, kami akan membekali mereka dengan ketrampilan dan kemampuan dasar, bagaimana mereka harus mempertahankan diri." pemimpin desa menyetujui perkataan Chakra Ashanka dan langsung memiliki ide untuk memberi bekal pada pemuda di desanya tersebut.


"Terima kasih paman..., dan sepertinya sudah hampir setengah hari saya menghabiskan waktu di sini. Saya harus segera kembali ke penginapan, saya khawatir kedua orang tua saya bertanya-tanya dan mencari keberadaan saya." setelah merasa cukup, Chakra Ashanka kemudian berpamitan.


"Baiklah anak muda..., pergilah. Paman tidak akan menahanmu. Sampaikan salam kami dari para warga desa untuk kedua orang tuamu. Orang tuamu sangat beruntung mendapatkan putra yang sopan dan pintar sepertimu." pemimpin desa berdiri, diikuti dengan para sesepuh dan perangkat desa lainnya.


"Terima kasih paman, akan kami sampaikan pada ayahnda dan ibunda. Tarjono..., Sayogyo.., Prastowo.., bersiaplah!! Dini hari kita akan berangkat meninggalkan kota ini, aku tunggu di depan penginapan nanti malam." Chakra Ashanka mengajak ketiga temannya untuk bersiap.


***********


"Baik ayah..., bunda... Ashan menerima keputusan ini. Ayah dan bunda berhenti untuk berpikir dan mengkhawatirkan Ashan. Bersama dengan ketiga pemuda dari desa sebelah, Ashan akan kembali ke perguruan dalam keadaan selamat." Chakra Ashanka langsung menyetujui usulan yang disampaikan Wisanggeni. Meskipun dalam hatinya memiliki kekhawatiran, Rengganis mencoba tersenyum mengijinkan putranya.


"Doa ibunda selalu bersamamu Ashan.. Jangan pernah merasa sendiri, jadikan lingkungan menjadi keluargamu. Maka kamu akan bisa bertahan.." ucap Rengganis menasehati putranya. Wisanggeni yang duduk di samping perempuan itu tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Ashan.., aku tinggalkan Singa Ulung untuk bersama denganmu, Tetapi kendalikan dirimu untuk menggunakan tenaganya, jika tidak dalam keadaan terdesak, jangan sekali-kali memanfaatkan binatang itu untuk membantumu. Ayah yakin, putra ayah akan dapat menjalani ujian ini dengan hasil yang cemerlang." Wisanggeni menambahkan, kemudian menyerahkan kucing berbulu putih yang sejak tadi diam di pangkuannya pada Chakra Ashanka.


"Terima kasih ayah.., bunda.. pesan dan nasehat dari ayah dan bunda akan selalu Ashan ingat dan amalkan. Ulung..., kali ini kamu akan menemaniku bertualang untuk menempuh perjalanan kembali ke perguruan Gunung Jambu. Jadilah rekanku yang baik Ulung..." tangan Chakra Ashanka mengusap bulu-bulu lembut di punggung kucing itu. Singa Ulung mengangkat wajahnya ke atas, dan menatap mata anak muda itu. Wisanggeni dan Rengganis berpandangan mata, kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Jika Chakra Ashanka akan menempuh perjalanan kembali ke perbukitan Gunung Jambu dalam waktu dini hari, malam itu juga Wisanggeni dan Rengganis memutuskan untuk kembali dengan mengendarai SInga Resti. Tatapan keharuan dan rasa enggan berpisah dengan putranya, tampak di mata dan wajah Rengganis. Wisanggeni berkali-kali menepuk punggung perempuan muda itu, untuk mencoba menenangkan perasaan istrinya.


"Kita tidak berpamitan dulu dengan Ashan kakangmas..?" Rengganis berhenti di depan pintu penginapan.


"Tidak perlu Nimas... Aku yakin, Ashan akan mengerti dan memahami kepergian kita. Apalagi tadi selepas makan malam, kita sudah mengajak putra kita berbicara. Hilangkan rasa was-was dan rasa khawatir di hatimu. Kita harus segera meninggalkan tempat ini." Wisanggeni kembali menjawab pertanyaan Rengganis.


Di depan penginapan, dengan gagah Singa Resti sudah berubah wujud menjadi harimau besar dengan kedua sayap di kanan dan kirinya. Wisanggeni segera merangkul Rengganis, kemudian membawanya lebih dekat ke arah binatang itu. Meskipun sedikit enggan, Rengganis tetap mengikuti langkah suaminya.


"Resti.., bawa kami berdua kembali ke perbukitan Gunung Jambu!" dengan suara pelan, Wisanggeni mengajak binatang itu bicara, sambil tangannya mengusap leher binatang itu.

__ADS_1


"Tap..." dengan sigap Rengganis melompat ke atas punggung Singa Resti. Melihat istrinya sudah di atas, Wisanggeni tersenyum, kemudian ikut melompat ke atas binatang itu, dan duduk di belakang Rengganis. Setelah menepuk leher Singa Resti tiga kali, binatang itu kemudian mengepakkan sayap, dan perlahan terbang membubung tinggi.


**************


__ADS_2