Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 48 Klan Suroloyo


__ADS_3

Setelah beristirahat satu malam, Wisanggeni segera meninggalkan desa. Bersama dengan Rengganis dan Singa Ulung mereka berjalan melewati perkotaan. Tiba-tiba di depan mereka, terlihat kerumunan orang-orang yang sedang mendengarkan sebuah pengumuman.


"Ada pengumuman apakah di depan, kenapa banyak orang yang melihatnya?" tanya Rengganis penasaran.


"Nimas tertarik untuk mengikutinya, siapa tahu ada sayembara." sahut Wisanggeni, dia tidak tertarik dengan keramaian itu, karena merasa hanya akan menghalangi perjalanannya saja.


Rengganis menoleh padanya sambil tersenyum, tanpa pamit, perempuan itu sudah melompat ke tengah keramaian. Laki-laki muda itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.


Tidak berapa lama, Rengganis sudah kembali di sampingnya dengan membawa sebuah selebaran.


"Kang.., tahu tidak berita apa yang Anis bawa?" Rengganis tersenyum dan bertanya pada Wisanggeni.


Laki-laki muda itu menggelengkan kepala sambil tersenyum, dan menarik tangan perempuan itu.


"Hmm.., Anis kasih tahu tidak ya?" perempuan itu bertingkah seperti anak kecil, dia menggoda Wisanggeni dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Jangan ulangi perbuatanmu itu, jika itu terjadi.., aku tidak akan bisa menjamin. Bisa-bisa aku lu..mat bibirmu di tempat ini." ucap Wisanggeni sambil berbisik.


"Iiihh Akang kok pikirannya kotor sih." Rengganis langsung berjalan meninggalkan laki-laki muda itu sendiri.


"Ha..ha..ha.., masak seperti itu saja ngambek Nimas. Jika kamu usil seperti tadi, wajahmu terlihat imut dan menggemaskan. Hasrat lelakiku langsung naik ke atas." sambil mendekati Rengganis, Wisanggeni berbicara padanya.


Rengganis memberikan selebaran yang dia dapatkan pada laki-laki muda itu. Wisanggeni langsung menerima dan membukanya secara langsung. Terbelalak mata Wisanggeni membaca isi berita yang tertulis pada selebaran itu.


"Kenapa Kang...? Akankah Akang kesana untuk melihat keadaannya?" tanya Rengganis pelan. Dia sebenarnya dari tadi ingin melihat reaksi dari kekasihnya itu.


Wisanggeni terdiam, dia mengingat kembali isi berita tersebut. Ki Brahmono dari Klan Suroloyo sudah terbaring sakit sejak lama. Selaku pemimpin dari Klan tersebut, sudah lama dia tidak dapat menjalankan tugasnya untuk memimpin Klan besar tersebut. Di hati kecilnya, jujur Wisanggeni ingin melihat kondisi dari laki-laki tua itu. Tetapi dia juga tidak mau membuat harapan yang tidak menyenangkan bagi Rengganis.

__ADS_1


Karena bagaimanapun, meskipun dia sendiri belum pernah dekat dengan putri dari Ketua Klan yang sempat ditunangkan dengannya, tapi pemutusan hubungan tersebut sangat melukai hati dan perasaan ayahndanya.


"Akang .., kenapa kang Wisang melamun?" tanya Rengganis sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa Nimas, ayok kita segera teruskan perjalanan kita. Tidak perlu kita ikut memikirkan berita itu, hanya kebetulan saja jika kita ikut mengetahuinya. Lagian juga bukan kewajiban kita untuk turut campur di dalamnya." kata Wisanggeni dengan nada tegas.


Dia langsung menggandeng tangan perempuan itu, kemudian membawanya melompat ke depan. Rengganis diam, meskipun dia tahu jika arah yang diambil Wisanggeni tidak sesuai dengan yang tertera dalam peta. Laki-laki itu berusaha menahan kegusaran hatinya, dan hal itu tidak bisa disembunyikan dari Rengganis. Tetapi untuk menghargai perasaannya, Rengganis membiarkan kekeliruan itu terjadi.


Tidak berapa lama karena mereka sudah terlalu jauh menyimpang dari rute perjalanan, Rengganis pura-pura mengajak Wisanggeni istirahat.


"Kang Wisang.., Anis ingin istirahat dulu. Kita sudah terlalu lama berlari tanpa istirahat sedikitpun." ucap Rengganis dengan nada pelan.


"Baiklah..., kita akan istirahat dulu di desa terdekat ya." Wisanggeni mengabulkan permohonan perempuan itu. Tidak lama kemudian mereka sudah duduk di kedai pinggir jalan sambil minum wedang camcau.


********


"Nimas ..., ini perasaan Akang saja atau memang kita keliru mengambil jalan ya? Desa ini seperti desa awal kita berangkat pergi." Wisanggeni sepertinya baru tersadar jika dia kembali ke awal perjalanan mereka.


"Berarti selama ini Nimas tahu jika aku keliru mengambil arah jalan? Kenapa tidak memberi tahu aku Nimas?" tanya Wisanggeni malu.


"Denganmu Kang, jalan mana yang akan kita lewati, bagiku tidak ada kata salah." ucap Rengganis.


"Kang Wisang.., jangan ditahan apa yang menjadi keinginanmu. Yakinlah, jika memang Akang meyakini itu benar. Rengganis tidak akan marah, jika Akang ingin mencoba memberikan bantuan pengobatan pada Ketua Klan Suroloyo. Anis akan tetap menemanimu." lanjut Rengganis, dia menatap mata Wisanggeni dengan tatapan cerah.


Melihat tatapan itu, Wisanggeni muncul perasaan bersalah telah berusaha membohongi perempuan itu.


"Maafkan aku Nimas, jujur aku memang ingin mencoba peruntungan itu. Mengingat bagaimana ibundaku, memiliki kedekatan secara emosional dengan Ketua Klan." akhirnya Wisanggeni mengakui perasaannya.

__ADS_1


"Anis mengerti Kang, ayo setelah kita istirahat, kita akan melanjutkan perjalanan kita." Rengganis meyakinkan laki-laki muda itu.


Setelah mereka merasa cukup beristirahat, Wisanggeni berbicara pada Singa Ulung.


"Antarkan kami ke Klan Suroloyo Singa Ulung, ada hal yang harus kita cari tahu disana! Semoga ada manfaat yang dapat kita ambil dari perjalanan kita." Wisanggeni mengelus kepala kucing putih itu.


Setelah menepuk kakinya tiga kali, Singa Ulung berubah wujud menjadi seekor singa yang sangat besar. Orang-orang di sekitar, berlarian pergi untuk menyelamatkan diri. Mereka berpikir singa putih itu merupakan binatang yang ganas dan liar.


"Ayo Nimas..., kita harus menghemat waktu dan energi! Biarlah kali ini, Singa Ulung yang akan mengantarkan kita." segera Wisanggeni mengajak Rengganis untuk segera naik ke punggung Singa Ulung.


Tanpa menunggu pengulangan perintah, perempuan itu langsung melompat ke atas punggung Singa tersebut. Wisanggeni langsung mengikuti perempuan itu, dia melompat dan menempatkan dirinya di belakang Rengganis. Setelah menepuk samping perut Singa Ulung, binatang itu segera terbang ke angkasa.


"Kang.., lihatlah air terjun di bawah itu! Sepertinya airnya jernih sekali." Rengganis menunjuk arah di bawah. Singa Ulung menurunkan terbangnya lebih ke bawah.


Tampak pemandangan yang sangat indah terbentang di depan mereka. Sebuah air terjun yang indah mengalir deras dari atas tebing. Batu-batuan di sekeliling mata air menambah keindahan tempat itu.


"Apakah Nimas ingin menikmati keindahan pemandangan ini?" tanya Wisanggeni pelan.


"Ehmmm...," perempuan itu tidak menjawab.


" Singa Ulung..., turunkan kami sebentar disana. Udara lumayan panas, mungkin aku akan merasa segar kembali jika bisa mandi sebentar di bawah air terjun itu." seperti mengerti apa yang ada di pikiran Rengganis, Wisanggeni memerintahkan Singa Ulung untuk turun ke bawah.


Binatang itu segera turun mengikuti perintah Wisanggeni, di pinggir mata air dia berhenti.


"Pergilah dulu untuk mencari makananmu!" Wisanggeni berbisik di telinga singa Ulung.


"Auuummm." setelah mengaum, binatang itu langsung berlari meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Tidak bisa menahan diri, Rengganis langsung masuk ke air yang bening itu. Wisanggeni tersenyum, diapun mengikuti perempuan itu. Mereka bermain seperti anak kecil, meskipun hutan sudah menjadi tempat hidupnya berhari-hari, tetapi mereka jarang menikmatinya secara khusus.


***********


__ADS_2