
Nafas hampir semua orang yang ada di pelataran maupun di pagelaran seperti berhenti. Beberapa saat mereka menunggu, namun belum dapat diketahui bagaimana hasil dari serangan pertama yang dilakukan oleh Chakra Ashanka. Bahkan puluhan orang yang datang bersama dengan laki-laki tua itu terlihat pucat, mereka ingin segera mengetahui hasil dari serangan pertama anak muda tersebut. Terlalu lama menunggu, laki-laki tua itu belum juga menampakkan dirinya, akhirnya Chakra Ashanka tidak sabar untuk mengakhirinya.
Anak muda itu tersenyum, kemudian memutarkan kedua tangannya di depan dadanya. Tidak lama kemudian.., muncul gulungan angin kecil, dan anak muda itu mengarahkan hembusan angin tersebut ke tempat dikirimkannya serangan pertama tadi. .
"Wush... " pusaran angin kecil terjadi mengelilingi gumpalan abu tebal itu.
Tidak lama kemudian, hembusan angin itu menyibak gumpalan abu tebal, dan terlihatlah sebuah cekungan dalam di atas tanah. Setelah gumpalan abu betul-betul bersih.., beberapa prajurit dan juga beberapa orang dari pihak lawan berlari untuk melihat penampakan yang ada di dalam cekungan tersebut.
"Ups.. betapa mengerikannya kekuatan anak muda itu. Kita salah telah menyinggung dan memprovokasi anak muda itu." salah satu dari orang-orang itu berteriak sambil menutup mulut mereka.
Terlihat dengan jelas, bagaimana laki-laki tua itu meringkuk di dalam cekungan tanah dengan tubuh penuh dengan luka-luka. Tidak mau berspekulasi, beberapa orang dari pihak laki-laki tua itu segera berlari dan melompat turun. Mereka kemudian mengangkat dan membawa laki-laki tua itu keluar dari dalam cekungan tersebut.,
"Minumkan kapsul herbal ini ke mulut paman tua ini. Tidak lama lagi, paman pasti akan segera tersadarkan dirinya." Chakra Ashanka melemparkan sebuah botol porselin ke arah orang-orang yang mengerubungi laki-laki tua tersebut.
Mereka terkejut, dan melihat ke wajah anak muda itu. tidak terlihat sedikitpun rasa jengkel atau bahkan rasa dendam di wajah Chakra Ashanka. Mereka melihat senyum mengembang muncul dari bibir anak muda tersebut, dan menenangkan siapapun yang melihatnya. Setelah saling memandang dengan teman-temannya, salah seorang dari kelompok tersebut memasukkan pil herbal ke bibir laki-laki tua itu. Suasana di tempat itu menjadi sepi, tidak ada satupun yang berbicara. Mereka menatap ke lokasi pertarungan yang sudah terbentuk sebuah lobang besar dan dalam.
Beberapa saat terdiam, tiba-tiba terlihat ada gerakan di telapak tangan laki-laki tua itu. Perlahan salah seorang murid dari laki-laki tua itu, mengusap wajah laki-laki itu perlahan. Debu yang banyak menempel di wajah laki-laki tua itu menjadi menghilang sebagian, terlihat luka terkena goresan tampak melintang di pipi laki-laki tua itu. Perlahan mata laki-laki tua itu membuka, kemudian dengan jelas menatap orang-orangnya yang berkeliling mengerubunginya.
__ADS_1
"Uhuk.. uhuk.." laki-laki itu terbatuk, dan darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
"Ki.." dengan cemas, orang-orang berlari mengerubungi laki-laki tua itu. Mereka menatap pemimpin mereka dengan tatapan prihatin.
"Bantu aku untuk berdiri.. aku masih harus menyelesaikan tiga kali pertarungan dengan anak muda itu. Baru pukulan pertama, aku masih berhutang dua pukulan pada anak muda itu. Bantu aku.." laki-laki tua itu berpegangan pada salah satu orang yang ada disitu, kemudian berdiri tegak.
"Pergilah kalian.. menyingkirlah. Aku masih mampu untuk berdiri.. kalian harus menjauh dari lokasi pertarungan., Kekuatan anak muda itu bukan main-main.." laki-laki tua itu meminta anak buahnya untuk menyingkir dan menjauh dari lokasi pertarungan.
"Tidak Ki.. kita datang ke kota Logandheng ini bersama-sama. Maka apapun keadaanya, kita juga harus meninggalkan tempat ini bersama-sama pula." orang-orang itu tidak mau mendengarkan perkataan laki-laki tua itu.
"Anak muda.. lanjutkan dua kali lagi seranganmu padaku." laki-laki tua itu berbicara pada Chakra Ashanka, sambil tersenyum getir,
"Paman.. aku merelakan dua seranganku ke depan hilang. Saat ini giliran paman untuk memberikan serangan kepadaku." dengan senyum mengembang, Chakra Ashanka menjawab perkataan laki-laki tua itu.
"Jangan seperti itu anak muda.. Aku sudah tua, dan sudah memiliki banyak pengalaman berkeliling ke berbagai wilayah., dan merasakan pertarungan dengan banyak para pesohor negeri ini. Jangan meremehkan kekuatan dan kemampuanku anak muda.." laki-laki tua itu tetap meminta serangan kedua dan ketiga dari Chakra Ashanka.
"Lakukan anak muda.. simpan rasa sungkanmu pada laki-laki tua itu." terdengar suara sesepuh meminta anak muda itu untuk melanjutkan serangan kedua dan ketiga. Namun melihat kondisi laki-laki tua di depannya itu, anak muda itu tidak mau lagi untuk melanjutkan serangan.
__ADS_1
"Sesepuh.. hati nuraniku tidak mengijinkanku untuk mengirimkan serangan lanjutan pada paman ini. Lebih baik.. aku kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang Patih.. dari pada aku harus menyakiti orang yang sudah terlihat lemah." Chakra Ashanka menolak permintaan dari sesepuh kerajaan.
Semua yang berada di pagelaran dan pelataran kerajaan saling berkasak kusuk dan saling berpandangan. mereka menyayangkan jawaban yang dikeluarkan oleh anak muda itu.
"Apakah kamu menyadari perkataanmu anak muda?" sesepuh kerajaan bertanya dengan nada sedikit tinggi.
"Iya sesepuh.. aku tidak akan mengirimkan serangan pada paman ini. Aku tidak bisa sesepuh.., maafkan aku.." sambil tersenyum, Chakra Ashanka tetap bersikeras tidak mau mengirimkan serangan lanjutan pada laki-laki tua itu. Cukup lama terjadi persitegangan di pelataran kerajaan itu, dan tiba-tiba Raja Bhadra Arsyanendra sudah berdiri di pinggir pagelaran.
"Ada apa ini.. kenapa semua berhenti. Apakah laki-laki tua itu sudah mau menghargai keputusanku..?" suara raja kerajaan Logandheng yang baru terdengar membahana. Melihat kedatangan raja di tempat itu, para prajurit menghaturkan sembah sungkem pada laki-laki itu.
Sesepuh kerajaan berjalan mendekat, kemudian menceritakan apa sebenarnya yang terjadi di pelataran tersebut. Raja Bhadra Arsyanendra mengitarkan pandangannya ke tempat itu. Melihat sebuah lobang tanah yang sangat dalam, laki-laki itu sudah dapat menduga apa yang baru saja terjadi.
"Hmmm.. jika begitu, kenapa kita tidak menempuh cara lain untuk menyelesaikan pertarungan ini." tiba-tiba terdengar perkataan dari raja baru tersebut. Semua orang dengan penasaran memberanikan diri menatap wajah anak muda itu.
"Jika tadi Chakra Ashanka sudah mengirimkan satu serangan, dan menolak lagi untuk melanjutkan serangan kedua dan ketiga. Sepertinya agar pertarungan ini terlihat adil, kita persilakan laki-laki tua itu untuk memberikan serangan pada Chakra Ashanka, dan kita akan dapat melihat hasil akhirnya." kata-kata yang keluar dari mulut raja muda itu, terdengar jelas di telinga semua orang yang berada di tempat tersebut.
*********
__ADS_1