Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 206 Penyambutan


__ADS_3

Mata Rengganis berbinar, perempuan muda itu menghirup aroma harum dari pil esensi naga perak. Selama ini, Rengganis hanya mendengarkan cerita dari ayahnda tentang khasiat naga perak. Bahkan dengan esensi itu, garis keturunan dati Jagadklana akan bisa dibangkitkan. Dengan kebahagiaan uang dia rasakan saat ini, perempuan muda itu seperti melupakan kedatangan suaminya. Rengganis fokus menghirup harum pil tersebut.


"Hmmm..., apakah pil itu masih lebih harum jika dibandingkan aroma suamimu Nimas..?" tiba-tiba dengan nada sarkasme, Wisanggeni mengajak berbicara Rengganis. Mendengar perkataan suaminya, Rengganis sontak terkejut. Semburat merah merasa malu terlihat di pipi perempuan muda itu.


"Maaf kang Wisang..., melihat esensi naga perak ini, seperti sebuah keniscayaan bagi Nimas. Nimas sampai melupakan kehadiran Akang yang sudah lama kurindukan. Ternyata semua ini bukan merupakan mimpi, saat ini aku bisa memegang bahkan memilikinya. Terima kasih Akang..." Rengganis langsung memasukkan kembali pil tersebut ke dalam porselin. Perempuan muda itu bergeser, dan memberikan ciuman ke bibir suaminya.


Merasakan sentuhan perempuan yang sudah sangat dirindukan, dan sekian lama tidak merasakannya, tubuh Wisanggeni langsung bergetar. Sesaat laki-laki itu melupakan keadaan, dengan cepat bibir Wisanggeni meraup manis bibir Rengganis. Untuk beberapa lama kedua orang itu saling mereguk manis, bertukar saliva untuk sebuah rasa yang sudah lama terkesampingkan. Wisanggeni memagut istrinya sambil mereka berpelukan erat.


"Nimas Rengganis.., akang sangat merindukanmu.." bisik lirih dengan suara serak Wisanggeni di telinga Rengganis. Tangan laki-laki itu sudah berada di dalam baju atas yang dikenakan perempuan muda itu. Melihat sikap dan perilaku suaminya, tiba-tiba Rengganis tersentak. Kedua tangan Rengganis mendorong dada Wisanggeni, meminta laki-laki itu untuk menjauh darinya. Perempuan muda itu teringat jika mereka saat ini berada di kamar dengan putra mereka. Tetapi sedikitpun tubuh Wisanggeni tidak bergeming, laki-laki itu malah lebih mengeratkan pelukannya.


"Akang .., hentikan tangannya!! Kita tidak boleh melakukannya malam ini, ingatlah Akang.. Chakra Ashanka saat ini berada di samping kita, anak kita tidur bersama kita Akang.." dengan suara lirih, Rengganis berbisik pada Wisanggeni. Mendengar perkataan Rengganis, sontak Wisanggeni melepaskan tangannya dan menarik keluar dari baju yang dikenakan istrinya. Laki-laki itu langsung melipat wajahnya, dan membalikkan badannya kemudian memeluk Chakra Ashanka..


Melihat sikap kekanak-kanakan yang ditunjukkan Wisanggeni, Rengganis tersenyum dengan menutup mulutnya. Tiba-tiba timbul gagasan di pikiran perempuan muda itu, untuk bertukar kamar sementara dengan kamar putranya. Perlahan Rengganis menepuk punggung suaminya.


"Akang..., bangunlah! Jika Akang mau malam ini juga.., kita bisa meminjam sementara kamar putra kita, Biarkan Ashan sementara tidur disini.." bisik malu-malu Rengganis pada laki-laki itu. Mendengar perkataan Rengganis, Wisanggeni tidak menjawabnya. Laki-laki itu langsung berdiri, kemudian mengangkat Rengganis dan membawanya ke kamar yang digunakan untuk istirahat Chakra Ashanka sehari-hari.

__ADS_1


**********


Keesokan Paginya


Rengganis mengerutkan dahinya, di kejauhan perempuan muda itu melihat Pangeran Abhiseka sedang menikmati keindahan tebing yang ada di depan mereka. Laki-laki muda itu hanya ditemani oleh dua orang di belakangnya yang tidak dikenal oleh Rengganis.


"Sepertinya yang sedang berdiri disana itu Pangeran Abhiseka.., kapan laki-laki muda itu datang kesini?? Apakah kedatangannya bersamaan dengan kedatangan kang Wisang?" Rengganis bertanya pada dirinya sendiri. Untuk memenuhi rasa penasarannya, perempuan muda itu segera turun ke halaman. Rengganis ingin mendatangi dan meyakinkan dirinya sendiri, jika laki-laki itu adalah Pangeran Abhiseka.


"Mau kemana Nimas..?" tiba-tiba dari belakangnya, terdengar suara Wisanggeni bertanya padanya. Rengganis membalikkan badan dan melihat ke wajah suaminya. Segera Wisanggeni menghampiri perempuan muda itu....


"Akang lupa memberitahumu Nimas.., kemarin Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya bertemu dengan Akang. Ketiganya juga membantu menjaga Akang, saat melakukan pengolahan esensi naga perak menjadi sebuah pil. Ayo kita temui mereka, dan mengucapkan salam kepadanya." Wisanggeni segera mengajak Rengganis untuk menemui Pangeran Abhiseka..


Keduanya berjalan sambil melihat pada anak-anak perempuan berlatih. Tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan, Wisanggeni menghentikan langkah. Tatapan laki-laki itu terpaku dengan penampakan punggung perempuan muda yang berdiri membelakanginya. Dari jauh, sepertinya Wisanggeni mengenali punggung perempuan muda  itu.


"Itu Nimas Niken Kinanthi Akang... Perempuan muda itu memutuskan untuk mengabdikan hidupnya di padhepokan ini. Sudah dua purnama, Niken Kinanthi datang ke padhepokan ini bersama dengan orang-orang dari Trah Bhirawa. Nimas terpaksa melakukannya Akang.., karena minat masyarakat untuk berlatih di perguruan ini sangat besar. Dari pada menolak mereka, akhirnya timbul ide untuk meminta bantuan pada saudara-saudara kita untuk melatih murid bersama-sama." melihat tatapan kebingungan Wisanggeni, Rengganis menjelaskan alasannya.

__ADS_1


"Iya Nimas..., Akang percaya dan yakin dengan pemikiranmu. Semoga keputusan yang kamu ambil, merupakan salah satu upaya untuk membesarkan perguruan ini. Kita temui Pangeran Abhiseka terlebih dahulu, baru nanti temani Akang untuk menyapa dan memberi salam pada Nimas Niken Kinanthi." dengan lembut, Wisanggeni berbicara sambil membetulkan anak rambut Rengganis yang tertiup angin.


**********


Pangeran Abhiseka tersenyum melihat kedatangan Wisanggeni yang merangkul bahu Rengganis. Dari kejauhan, tampak jelas terlihat bagaimana Wisanggeni memperlakukan dan memuliakan istrinya. Laki-laki muda itu berjalan mendekat ke arah Wisanggeni dan Rengganis.


"Kamu seperti memberi racun padaku Wisang.. di depan laki-laki yang masih sendiri, kamu berani mempertontonkan perlakuanmu terhadap Nimas Rengganis." Pangeran Abhiseka berbicara sambil mengolok-olok Wisanggeni. Bukannya Wisanggeni merasa malu, di depan ketiga laki-laki, Wisanggeni memberikan sebuah ciuman di kening perempuan muda itu.


"Saya mengucapkan selamat datang kembali di padhepokan ini Pangeran. Maaf karena ketidak tahuan, saya tidak menyambut kedatangan Pangeran Abhiseka dan kedua pengawal ini dengan selayaknya." sebagai orang yang dituakan di padhepokan ini, Rengganis mengucapkan salam menyambut kedatangan Pangeran.


"Iya Nimas Rengganis.., terima kasih. Tidak perlu terlalu sungkan terhadap saya, kedatanganku ke padhepokan ini untuk melepas kangen terhadap tempat ini." Pangeran Abhiseka menanggapi salam yang disampaikan Rengganis.


"Aku doakan Pangeran, karena istriku sudah menerima murid perempuan disini, semoga Pangeran bisa mendapatkan jodoh di tempat ini." Wisanggeni tiba-tiba ikut menimpali pembicaraan. Tiba-tiba Wisanggeni teringat dengan keberadaan Niken Kinanthi di tempat ini, untuk membebaskan istrinya Rengganis mengalami rasa cemburu pada perempuan itu, Wisanggeni memiliki pikiran lain.


"Pangeran.., silakan menuju pendhopo. Tidak nyaman jika kita berbicara di tempat ini, kita bisa berbicara di tempat itu, sekalian kita melakukan sarapan pagi. Bisa dianggap, ini merupakan penyambutan sederhana dari padhepokan untuk menghormati kedatangan Pangeran." Rengganis kemudian mengundang Pangeran Abhiseka untuk melakukan pembicaraan di tempat yang menurutnya lebih layak.

__ADS_1


***********


__ADS_2