Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 481 Janji Merupakan Hutang


__ADS_3

Wisanggeni mengundang Chakra Ashanka selaku putra tertuanya, untuk memberi tahu hubungan Parvati dan Dananjaya. Wisanggeni dan Rengganis tidak ingin ada salah paham dalam hubungan putrinya dengan laki-laki yang mencintainya, sehingga bisa menimbulkan fitnah. Untuk tidak menimbulkan salah sangka antara Ayodya Putri dan Sekar Ratih, anak muda itu sengaja menemui kedua orang tuanya sendiri tanpa mengajak salah satu dari gadis yang mencintainya itu.


"Ayah.., bunda..." Chakra Ashanka segera mencium punggung tangan kedua orang tuanya, kemudian mengusap kepala Parvati.


Tetapi melihat keberadaan Dananjaya dan juga Arya, di dalam lingkungan keluarga, menjadikan laki-laki Muda itu bertanya-tanya. Kedua anak muda itu tersenyum dan menganggukkan kepala melihat kedatangan kakangmas dari Parvati.


"Duduklah dulu di samping adikmu Ashan.. kita akan bicara..." Wisanggeni meminta putra laki-lakinya untuk segera duduk.


Tanpa banyak bicara anak muda itu kemudian duduk di samping Parvati. Sudut mata Chakra Ashanka tanpa henti terus melirik ke arah dua anak muda itu. Untungnya Wisanggeni memahami apa yang ada di pikiran anak laki-lakinya.


"Ashan... beberapa saat yang lalu, ayahnda dan ibunda sudah sama-sama sepakat. Begitu juga dengan adikmu Parvati.." Wisanggeni membuka perkataan.


"Maksud ayahnda.." tidak bisa mengerti apa yang diucapkan oleh ayahndanya, Chakra Ashanka meminta ayahndanya untuk menjelaskan.


"Adikmu Parvati sudah diminta oleh Dananjaya untuk diperistrinya. Bagaimana menurutmu... jika ayahnda dan ibunda, semua tergantung dengan penerimaan dari adikmu sendiri. Ternyata Nimas Parvati tidak keberatan, kamu bisa bertanya sendiri kepada adikmu." ucap Wisanggeni sambil tersenyum.


Chakra Ashanka terkejut mendengar penuturan dari ayahndanya itu, dan ketika anak muda itu menengok ke arah adik perempuannya, Parvati tampak malu dan gadis itu menundukkan kepalanya.


"Benar yang diucapkan oleh paman Wisanggeni kang Ashan.. mohon kakang merestui hubungan kami berdua. Danan berjanji.. tidak akan mengecewakan Nimas Parvati." tiba-tiba Dananjaya turut bersuara.


"Apakah benar yang diucapkan oleh laki-laki ini Nimas Parvati.." tidak memberi tanggapan atas perkataan Dananjaya, Chakra Ashanka malah kembali bertanya pada adik perempuannya. Dengan mata tajam, Chakra Ashanka menatap Parvati.


"Benar kang.. apakah Nimas melakukannya kesalahan ketika menerima kang Danan.." suara lirih Parvati menyadarkan laki-laki muda itu. Gadis itu menundukkan kepala, tiba-tiba merasa takut melihat reaksi kakaknya.

__ADS_1


Seketika Chakra Ashanka mengingat kepergian Bhadra Arsyanendra yang mendadak. Tanpa ada rencana ataupun pemberitahuan sebelumnya, anak muda itu tiba-tiba pergi dan berpamitan untuk kembali ke Kerajaan Logandeng. Tetapi jika Bhadra Arsyanendra sampai tahu, dari mana anak muda itu mengetahuinya.


"Mmmm.. apakah karena hal ini, Raden Bhadra akhirnya kembali ke Logandeng. Tapi bagaimana bisa, anak muda itu sampai tahu.." Chakra Ashanka berpikir sendiri.


Melihat diamnya putra sulungnya, Rengganis menepuk bahu Chakra Ashanka sebanyak tiga kali. Anak muda itu terkejut, kemudian menatap ibundanya sambil bertanya-tanya.


"Apakah ada sesuatu yang telah membuatmu risau putraku..." dengan suara lembut keibuan, Rengganis bertanya pada putra laki-lakinya. Parvati juga ikut menoleh dan melihat ke arah kakak laki-lakinya itu.


"Tidak ada ibunda.. hanya saja Ashan sungguh merasa terkejut. Semua terjadi begitu mendadak, belum lama Raden Bhadra juga tiba-tiba pamit untuk kembali ke kerajaan. sekarang, Parvati membawa kabar yang mengejutkan, Ashan seperti sulit untuk mempercayainya." sambil menatap mata ibundanya, Chakra Ashanka menanggapi.


Perempuan dewasa itu tersenyum kemudian mengusap kepala putranya perlahan.


"Tetapi begitulah kehidupan putraku. Restui adikmu, jika kamu tidak keberatan. Untuk Raden Bhadra.. sejak kapan anak muda itu pergi." dengan suara lirih, Rengganis bertanya pada Chakra Ashanka.


"Baru beberapa saat yang lalu Ibunda Raden Bhadra pergi. Tanpa ada alasan yang jelas, tiba-tiba saja anak itu pergi. Untukmu Parvati.. kakang pasti memberimu restu. Hanya saja jangan lukai hati seseorang.." Parvati mengangkat wajahnya melihat ke arah kakangmasnya.


******


Malam Harinya


Pemilik penginapan tergopoh-gopoh mendatangi pendhopo tempat Wisanggeni dan semua anggota keluarga yang ada di penginapan menginap disana. Melihat kedatangan laki-laki tua itu, semua yang duduk mengarahkan pandangan pada laki-laki itu.


"Ada apa paman.. sepertinya ada sesuatu yang ingin paman sampaikan kepada kami.." Wisanggeni bertanya pada Ki Badri.

__ADS_1


"Ada Ki Bawono yang saat ini sedang menunggu di ruang tamu. Laki-laki itu ingin menyambangi kabar nak mas Wisanggeni." pemilik penginapan menyampaikan apa yang akan diberitahukannya.


Wajah Wisanggeni terlihat senang, karena tujuannya ke kota kecil ini adalah untuk bertemu dengan Ki Bawono. Namun nasib membawanya sampai ke Alas Kedhaton.


"Terima kasih pemberi tahuannya paman... kami akan segera keluar untuk menemui Ki Bawono." Wisanggeni segera berdiri, kemudian mengajak semua yang ada disitu untuk menyertainya keluar.


"Nimas Ratih.., Nimas Putri.. kalian juga bisa turut keluar bersama kami." melihat keragu-raguan dua gadis yang datang bersamanya, Chakra Ashanka mengajak dua gadis muda itu.


"Baik kakang.. kami akan ikut serta.." dua gadis muda itu tanpa berpikir langsung berdiri mengikuti Chakra Ashanka.


Delapan orang itu akhirnya keluar untuk menemui Ki Bawono. Tanpa bersusah payah, akhirnya Wisanggeni dan Rengganis bisa bertemu dengan laki-laki tua itu, dan menunaikan janji mereka.


"Siapa laki-laki yang akan kita temui Nimas.. apakah masih merupakan kerabat keluarga.." sambil berjalan, Dananjaya bertanya pada Parvati.


"Teman Ayahnda kangmas, yang tidak sengaja bertemu dalam pertarungan. Ayahnda memiliki janji untuk bertemu dengan mereka, sebelum kembali ke padhepokan. Karena untuk menunaikan janji itulah.. ayahnda harus bertemu dan akhirnya membantu warga Alas Kedhaton." Parvati menjelaskan pada Dananjaya.


"Sungguh sangat menghargai hubungan kekerabatan keluargamu Nimas... kakang sangat senang mendengarnya. Tidak banyak orang yang akan mau melakukannya, tetapi paman Wisanggeni berbeda." Parvati tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan Dananjaya.


Sesampai di ruang depan penginapan, terlihat tiga orang yang berdiri menyambut kedatangan Wisanggeni dan orang-orangnya. Senyuman di bibir terbuka dari mulut laki-laki itu, dan Wisanggeni langsung mendatangi dan memberinya pelukan.


"Tidak aku kira nak mas Wisanggeni, secepat itu kamu memulihkan kekuatan dan energimu. Orang tua ini sangat tersanjung mendengarnya, hanya untuk menunaikan apa yang pernah kamu katakan harus melalui ujian seperti ini." Ki Bawono memeluk Wisanggeni dengan erat.


"Iya paman... janji merupakan sebuah hutang, itu yang selalu Wisanggeni tegaskan pada semua anggota keluarga. Untuk itu seberat apapun, kita harus melunasinya." Wisanggeni menanggapi perkataan laki-laki tua itu.

__ADS_1


Kemungkinan Wisanggeni mengajak laki-laki tua itu untuk duduk. Rengganis diikuti oleh putra-putri nya juga semua yang ada disitu, ikut menyalami Ki Bawono.


******


__ADS_2