
Wijanarko termenung memandang ke kegelapan malam, sambil duduk di teras dengan ditemani minuman panas. Pikirannya menerawang ke beberapa tahun lalu, saat dimana dia melakukan perjalanan dan bertemu dengan Kinara. Seorang perempuan cantik dan tertutup putri dari seorang yang memiliki nama besar di dunia obat-obatan.
"Nimas.., bisa oleskan obat ini pada luka-luka memar di anggota badan yang terkena pukulan tadi." Wijanarko menolong seorang perempuan yang sedang berkelahi, dan terlihat kesakitan di pinggir sebuah desa.
"Terima kasih Akang.., kita tidak saling mengenal. Tapi Akang bersedia menolongku. Namaku Kinara.., siapakah nama Akang dan dari wilayah mana asalnya?" suara lembut perempuan yang bernama Kinara keluar dari mulutnya yang mungil.
"Wijanarko tersenyum, kemudian dia menatap perempuan cantik yang ada di depannya itu.
"Namaku Wijanarko Nimas..., panggil saja dengan panggilan Janar.. Aku berasal dari Klan Bhirawa."
Setelah mereka berkenalan, Wijanarko dan Kinara menempuh perjalanan bersama. Suka dan duka mereka lalui bersama, sampai akhirnya di sebuah kota saat mereka singgah. Terdapat beberapa orang yang memaksa Kinara untuk ikut bersama mereka. Akhirnya untuk menghindari keributan, Kinara dengan rela pergi bergabung bersama mereka dan meninggalkan Wijanarko sendiri. Wijanarko akhirnya berusaha keras untuk melupakan Kinara. Tetapi nasib tidak berpihak padanya.
Saat beberapa kali laki-laki putra sulung dari Ki Mahesa itu, ikut pelelangan di aula obat, Wijanarko berjumpa kembali dengan perempuan itu yang saat ini berubah menjadi seorang perempuan yang sama sekali berbeda dengan Kinara yang sudah dikenalnya. Seorang perempuan cantik dan tertutup yang dikenalnya, saat ini sudah berubah menjadi seorang perempuan dengan mata binal dan liar menatap setiap tamu yang datang ke aula obat. Wijanarko yang tidak mau mengenal dan terluka lagi karena ditinggalkan, perlahan mulai menghindar dan menjauh dari perempuan itu.
"Janar.., apa yang kamu lakukan dalam kegelapan ini?" tiba-tiba di belakangnya sudah berdiri Ki Mahesa dengan membawa lampu senthir di tangannya. Wijanarko tersentak dari lamunannya, perlahan Wijanarko menoleh ke belakang, dia tersenyum kemudian berdiri menyambut ayahndanya.
"Hanya melihat kegelapan malam saja ayah. Sepertinya banyak harapan yang belum tersingkap dan terbuka dengan adanya kegelapan itu. Wijanarko seperti ingin menembus di dalamnya." ucap putra sulung Ki Mahesa itu sambil tersenyum kecut.
Ki Mahesa meletakkan senthir di meja depan putra sulungnya, kemudian perlahan laki-laki tua itu duduk. Wijanarko mengikuti duduk di samping Ki Mahesa. Tampak helaan nafas keluar dari mulut dan hidung laki-laki tua itu.
"Ada apa ayah..? Apakah ayah merindukan Dimas Wisanggeni?" tanya Wijanarko memecah kesunyian. Putra sulung itu melihat pada ayahnya.
"Iya Janar..., bagaimanapun adikmu Wisanggeni menghilang setelah menyelamatkan Ayahnda. Anak itu mengorbankan dirinya, tetapi sampai sekarang anak itu belum muncul kabar beritanya." dengan suara lirih, Ki Mahesa menyampaikan ganjalan dalam hatinya.
"Tapi..., kira-kira apakah Dimas Wisang menjadi korban dalam pertempurannya dengan Tumbak Seto ayah?" dengan perasaan khawatir, WIjanarko menanyakan situasi pertempuran.
__ADS_1
"Tidak Janar.., pusaka Klan kita menandakan suatu sinar terang. Beberapa waktu lalu, sinar itu memang sudah redup. Tetapi beberapa purnama ini, ayahnda melihat sinar terang sebagai tanda yang menunjukkan jika adikmu baik-baik saja." Ki Mahesa menyampaikan isyarat dalam pusaka Klan.
"Syukurlah jika begitu ayah, Janar ikut bahagia."
"Iya.., kita hanya berharap, semoga kabar dimana keberadaan Wisanggeni segera datang mengunjungi kita."
***********
Mata Lindhuaji menatap mata Larasati dengan mengulum sebuah senyuman. Larasati menolehkan wajahnya karena merasa malu. Mereka tidak tahu, sebelum mereka membuat ikatan janji suci, dengan mudah mereka sering terpeleset untuk melakukan hubungan intim berdua, tetapi saat mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri, malah perasaan malu lebih mendominasi mereka.
"Nimas..." bisik Lindhu aji di telinga Larasati.
Perempuan itu kembali menatap mata laki-laki putra kedua dari Ki Mahesa itu. Tanpa sadar, Larasati mengalungkan kedua tangannya di leher Lindhu aji, dan laki-laki itu menundukkan wajahnya.
"Bolehkah..?" tanya Lindhu aji seakan menahan hasrat terpendam.
Mendengar pertanyaan itu, pipi Larasati menjadi merah. Perempuan itu menganggukkan kepala, dan tanpa menunggu, Lindhuaji langsung menempelkan bibirnya di bibir perempuan itu. Waktu malam yang sepi di luar, tetapi berbeda dengan suasana hangat di dalam kamar. Udara dingin segera pergi menguap, digantikan dengan suasana panas dua manusia di atas ranjang. Kedua tubuh itu sudah tidak lagi memiliki penutup di atasnya, pakaian keduanya sudah terlempar di bawah ranjang.
De*sahan dan suara lenguhan berpadu dengan nafas terengah-engah kedua manusia itu melibas kesunyian malam. Mereka saling meraba, meremas, membelit, ****** dan saling mereguk manis aroma masing-masing.
"Tahanlah Nimas...," bisik Lindhuaji. Larasati mengangguk, dan tanpa menunggu Lindhuaji menyatukan inti mereka.
"Aaww.." terdengar jeritan kecil Larasati, tetapi mulut itu sudah dibungkam dengan mulut laki-laki muda itu. Untuk sesaat Lindhuaji menghentikan gerakannya, dan setelah perempuan di bawahnya merasa beradaptasi, kembali laki-laki itu dengan aktif bergerak lagi.
Perlahan bukan lagi jeritan yang keluar dari bibir Larasati, tapi sudah berubah menjadi suara serak yang bisa menggetarkan siapapun yang mendengarnya. Akhirnya malam yang panjang itu berakhir dengan penyatuan antara kedua orang yang sudah disatukan oleh norma masyarakat.
__ADS_1
"Bagaimana.., apakah kamu masih merasakan letih Nimas..?" dengan suara lirih Lindhuaji bertanya pada Larasati, sesaat setelah mereka mengembalikan kembali nafasnya.
"Tidak Kangmas..., ternyata terluka dalam pertempuran bisa aku tahan. Tetapi kenapa rasa sakit tadi serasa merajamku." ucap Larasati malu.
Lindhuaji tidak menjawab, dia malah kembali memeluk dan mencium bibir perempuan yang sudah resmi menjadi pasangannya itu.
"Kita habiskan malam ini hanya berdua istriku."
*************
Dengan langkah perlahan, Wisanggeni berjalan di depan. Di tengah Rengganis mengikuti, dan Singa Ulung berjaga-jaga di belakang. Setelah ketemu pertigaan kecil, Wisanggeni menoleh pada Rengganis.
"Menurut Nimas.., kita akan mengambil kanan atau ke kiri?" tanya Wisanggeni pelan.
"Jika aku tidak salah, kita lebih ke kanan Akang. Karena seingatku waktu kecil pernah diajak ayahnda kesini, jika kita ke kiri, nanti akan ketemu kuburan leluhur dari Trah Jagadklana." Rengganis menjawab pertanyaan Wisanggeni.
Wisanggeni menuruti perkataan Rengganis, tangannya menggandeng Rengganis dan mengajaknya berjalan berdampingan. Mereka kembali menyusuri.., tiba..tiba..
"Bang.., bang..., bang..." serangan tenaga dalam menghantam mereka. Untungnya Singa Ulung langsung mengangkat sayap dan menggunakannya untuk menghalau serangan.
Kedua orang itu langsung mengambil sikap siaga...
"Siapa kalian.., berani-beraninya kalian tanpa ijinku memasuki pemakaman ini?" terlihat di hadapan mereka sesuatu yang melayang, dan kemudian berdiri tegak menghalangi perjalanan mereka.
*****************
__ADS_1