
Setelah mendapatkan isyarat jika tempat itu aman, Pangeran Abhiseka segera mengajak kelompok yang dibawanya untuk beristirahat. Mereka berpikir untuk menghabiskan malam di tempat itu, dan baru akan melanjutkan perjalanan jika hari sudah menjelang pagi. Para laki-laki segera masuk ke dalam air untuk menangkap beberapa ekor ikan yang tampak berenang di dalam air tersebut. Sedangkan Niken Kinanti dibantu Widayati menyiapkan minuman panas untuk mengusir hawa dingin yang mulai melingkupinya tempat tersebut.
"Nimas .., apakah apinya masih menyala? Ini ada beberapa ekor ikan yang sudah dibersihkan. Kita bisa membakarnya untuk mengisi perut kita." tiba-tiba Pangeran Abhiseka meletakkan benda ekor ikan yang sudah dibersihkan.
"Untuk nyala apinya sudah mati Pangeran, tapi kita masih bisa menggunakan bara yang masih tertinggal." Niken Kinanti kemudian menyiapkan peralatan dari batu pipih untuk alas membakar ikan-ikan itu.
"Bisa Ashan bantu Bibi..." Chakra Ashanka kemudian membantu Niken Kinanti untuk menyiapkan ikan bakar.
Tidak lama kemudian, semua berkumpul untuk menikmati makan malam bersama. Setelah merasakan perut mereka kenyang, beberapa diantara mereka mulai merasa mengantuk.
"Aku akan tidur lebih dulu.." ucap Saputra yang langsung menyandarkan punggungnya pada sebuah batang pohon.
"Aku juga akan mengikutimu Saputra." Saloka dan Sampana segera mengikuti temannya yang lain beristirahat.
Akhirnya tidak menunggu waktu lama, semua orang sudah tertidur dengan pulas. Rasa lelah menempuh perjalanan dan sebelumnya diawali dengan pertarungan, membuat mereka merasakan kelelahan yang teramat sangat. Untungnya ketiga binatang naga kecil dan naga terbang masih terjaga untuk menjaga mereka.
Saat tengah malam, tiba-tiba muncul suara bergemuruh di sekitar tempat mereka tidur. Tetapi karena faktor kelelahan, mereka tidak terbangunkan oleh suara gemuruh itu. Keempat binatang itu saling merapat dan mendekat menjadi satu. Mereka menatap pada suara gemuruh itu dengan perasaan takut.
Tiba-tiba muncul sebuah bangunan dengan beberapa anak tangga di atasnya Jika dilihat dari bawah setiap anak tangga seperti memiliki sebuah ruangan di dalamnya. Tidak lama kemudian tanpa disadari, tempat itu tiba-tiba sudah menjadi ramai. Banyak orang berdatangan dan berkumpul di tempat itu. Tetapi sedikitpun tidur ke delapan orang itu tidak terganggu sama sekali.
__ADS_1
********
Di puncak bukit kapur
Terlihat Wisanggeni sudah dalam posisi duduk bersila dengan kedua tangan ditangkupkan ke atas. Kedua mata laki-laki itu terpejam, dengan suara nafas yang teratur. Dilihat dari gerakan naik turun dadanya, laki-laki itu tidak terganggu oleh aroma belerang dan kapur yang banyak terdapat di tempat tersebut.
Beberapa saat dalam posisi yang sama, laki-laki itu merubah tempat duduknya. Tangan yang semula tertangkup di atas tiba-tiba berpindah di atas kedua lututnya. Untuk posisi duduk, masih sama dengan yang dilakukan di awal. Tiba-tiba Wisanggeni merasakan ada kekuatan besar yang terasa membenamkan tubuhnya ke bawah. Semakin lama semakin ke bawah, dan rasa sesak mulai menghambat pernapasan laki-laki itu.
Wisanggeni mencoba mengangkat kedua tangannya dengan mengarahkan telapak tangan ke atas. Hal itu dilakukannya berkali-kali, dengan menyesuaikan pernapasannya. Baru saja Wisanggeni merasa lega, dari atas kepala dirasakannya seperti ada sebuah batu besar yang diletakkan di atasnya. Laki-laki itu mencoba untuk menahannya tanpa melakukan suatu gerakan, Wisanggeni mencoba menikmati alur godaan yang mencobanya untuk menggoyahkan semedinya.
"Jeglarr..." tiba-tiba terdengar suara ledakan yang bergemuruh dan membuat tempat duduk laki-laki itu bergetar. Melalui gerakan ternyata tetap tidak membuat Wisanggeni goyah, laki-laki itu tetap teguh dalam pendiriannya. Kali ini suara yang mengerikan datang menggetarkan tempatnya duduk bersila.
"Clap... jeglarr..." suara kilat menyambar sampai masuk ke dalam tempat dimana laki-laki itu bersemedi.
Laki-laki itu tetap diam melanjutkan semedinya. Tiba-tiba di dalam pikiran Wisanggeni muncul gerakan-gerakan yang berasal dari kitab kuno Trah Bhirawa. Tangan Wisanggeni tiba-tiba bergerak sendiri meniru apa yang sudah tergambar di pikirannya. Semakin lama laki-laki itu berlatih, bau belerang semakin masuk menyengat ke ruangan tersebut.
Dari dalam perut,. Wisanggeni merasakan ada yang bergerak di aliran darahnya. Dengan cepat, laki-laki itu mencoba untuk mengendalikan sesuatu yang berada di aliran darahnya. Perlahan tangannya ikut mengolah dan membentuk simbol-simbol formasi secara bergantian. Pikiran Wisang fokus diarahkan pada sesuatu yang ada di aliran darahnya.
"Uufft..., hum..." menggunakannya hidung, Wisanggeni mengambil nafas panjang secara perlahan, kemudian menghembuskan keluar menggunakan mulut sebagai medianya. Hal itu dilakukannya secara berulang-ulang.
__ADS_1
Semakin lama, fokus kekuatan diarahkan pada gerakan yang terjadi di aliran darahnya, dan akhirnya Wisanggeni bisa mengendalikan gerakan tersebut. Aliran darah diedarkan ke seluruh bagian tubuh laki-laki itu, kemudahan setelah melewatkan jantung, perlahan dengan menggunakan perasaannya, Wisanggeni memecah aliran itu ke seluruh tubuhnya.
Rasa hangat dan nyaman terasa mengalir di seluruh aliran darah, ketika gumpalan udara yang tadi dirasakan laki-laki itu sudah pecah. Dengan suka cita, Wisanggeni kembali melanjutkan semedinya. Rupanya untuk beberapa waktu yang laki-laki itu korbankan, Wisanggeni sudah memiliki ritme sendiri untuk menghapalkan gerakan, dan juga mengetahui pencegahan jika ada kekuatan yang datang untuk mengganggunya.
********
Di Gurun pasir
Orang-orang yang tidak tahu dari mana asalnya mulai berdatangan, ke tempat dimana bangunan dengan beberapa anak tangga itu muncul. Anak-anak muda di bawah kepemimpinan Pangeran Abhiseka sampai saat ini masih belum menyadarinya. Mereka masih terlelap dan merasa letih, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk beristirahat. Orang-orang yang baru berdatangan itu melihat ke arah anak-anak muda itu tidur, dan senyuman sinis muncul di mulut mereka.
"Siapa mereka.., bagaimana bisa mereka sudah mendahului sampai di tempat ini?" seseorang menunjuk ke arah anak-anak muda itu beristirahat.
"Hmmmm..., aku juga tidak tahu. Bahkan juga tidak menyadari jika sudah ada kelompok yang sampai ke tempat ini lebih dulu. Aku pikir, kelompok kita yang datang lebih dahulu mendahului yang lainnya." temannya menanggapi pertanyaan itu dengan pandangan heran.
"Biarkan saja mereka! Kita tidak perlu menghabiskan energi dan waktu kita untuk orang-orang yang tidak jelas seperti mereka. Apalagi saat ini mereka juga tidak mengganggu kita, bahkan terlihat sudah lemas, menyerah sebelum bertandang." satu orang yang lebih tua, meminta mereka membiarkan kelompok Pangeran Abhiseka.
'Baiklah..., ayo kita segera lanjutkan perjalanan ini. Jangan lupa siapkan energi inti kalian, kita harus segera menapaki anak tangga itu." orang tersebut kemudian berjalan mendahului kelompoknya. Di belakangnya, mereka mengikuti laki-laki tersebut.
**********
__ADS_1