Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 489 Pulang Kembali


__ADS_3

Parvati dan Sekar Ratih tidak berkutik, kedua gadis muda itu tidak pernah berpikir jika mereka akan segera meninggalkan masa lajang. Namun karena dari pihak Dananjaya, dan Chakra Ashanka sudah sepakat dan menyetujui tentang pengikatan janji mereka, keduanya hanya mengikuti apa yang disarankan oleh kedua orang tuanya. Dengan terpaksa, kedua gadis muda itu menganggukkan kepala, ketika Wisanggeni dan Rengganis bertanya tentang kesediaan mereka.


"Baiklah nak mas Arya.., Dananjaya. Putriku Nimas Parvati juga sudah setuju akan perjodohan ini. Secepatnya kita akan kembali ke padhepokan Gunung Jambu, dan akan kita lakukan selamatan kecil-kecilan untuk mengumumkan tentang pernikahan kalian. Demikian juga dengan Chakra Ashanka dan nimas Ratih, kita akan mengadakan selamatan dan syukuran bersama sekalian." Wisanggeni akhirnya kembali menegaskan.


"Kami sangat senang dengan ketegasan dari keputusan paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis, kami ikut bagaimana baiknya paman, Bibi.." Dananjaya menanggapi perkataan calon ayahnda mertuanya.


"Dan kamu Ashan.. segera kirim merpati ke kerajaan Logandheng. Kamu harus memberi tahu Raden Bhadra Arsyanendra, untuk memberi tahunya tentang kabar ini. Selain itu, kamu pasti akan terlambat untuk menjalankan tugas-tugas Kepatihan pada kerajaan tersebut." Wisanggeni juga mengarahkan putranya Chakra Ashanka.


"Ashan akan segera melaksanakan perintah dari ayahnda. Secepatnya, Ashan akan mengirimkan pesan agar dibawa merpati, untuk memberikannya kepada raden Bhadra," dengan cepat, Chakra Ashanka menyetujui usulan dari ayahndanya.


"Karena semua sudah menyatakan kata sepakat dan setuju, kita harus segera bersiap kang Wisang.. Jika semua  sudah selesai, malam ini kita bisa berangkat menuju ke padhepokan Gunung Jambu. Kita tidak boleh terlalu membuang-buang waktu, karena putra dan putri kita memiliki banyak tanggung jawab besar yang harus segera mereka jalani dan selesaikan." Rengganis menimpali perkataan-perkataan itu.


"Benar Nimas.. benar yang Nimas katakan. Kita akan segera bersiap untuk menuju ke padhepokan Gunung Jambu malam nanti.." akhirnya Wisanggeni mengiyakan ucapan istrinya.


"Baik ayah.. bunda.. ijin untuk kembali ke kamar agar bisa menyiapkan semuanya." Chakra Ashanka segera berdiri untuk kembali ke kamar.


"Nimas Ratih.. ayo kita segera kembali ke kamar. Nimas juga harus segera bersiap, agar nanti malam kita segera berangkat." tidak lupa, Chakra Ashanka mengajak Sekar Ratih untuk kembali ke kamar.


Akhirnya pertemuan di pendhopo penginapan itu menemukan kata sepakat. Semua segera bergegas kembali ke kamar mereka masing-masing untuk mempersiapkan keberangkatan mereka.

__ADS_1


********


Seperti yang sudah mereka rencanakan, akhirnya tengah malam di saat orang-orang sedang terlelap, Wisanggeni dan semua keluarganya meninggalkan penginapan. Karena mereka bertujuh, dan tersedia ada tiga binatang magic yang akan mengantar mereka yaitu Singa Ulung, Singa Resti, dan naga terbang akhirnya mereka menggunakan binatang itu untuk menempuh perjalanan. Rengganis dengan Parvati dan Sekar Ratih menaiki punggung SInga Ulung secara bersama-sama. Sedangkan SInga Resti membawa Arya dan Dananjaya, sedangkan Wisanggeni dan Chakra Ashanka keduanya berada di punggung naga terbang.


"Apakah semua sudah siap.. jika sudah kita akan segera melanjutkan perjalanan kita. Mumpung hari masih malam, kita bisa bebas terbang di atas langit." Wisanggeni bertanya pada semua yang sudah berada di halaman penginapan. Tidak terlihat satupun orang yang berada disitu.


"Sudah ayahnda.. kami sudah bersiap." Parvati menjawab pertanyaan ayahndanya, sambil mengusap punggung Singa Ulung. Gadis muda itu duduk di depan sendiri, Sekar Ratih duduk di tengah, sedangkan ibundanya Rengganis berada di belakang sendiri.


"Kami juga sudah siap untuk berangkat paman.." Arya juga menanggapi perkataan Wisanggeni.


"Baiklah jika begitu, kita akan terbang beriringan. Nimas Rengganis.. kamu berada di depan sendiri, untuk memimpin perjalanan kembali ke padhepokan Gunung Jambu. Jika kita segera bergegas, dan tanpa istirahat, mungkin besok sore kita sudah akan memasuki gerbang utama untuk masuk ke bagian luar pedhepokan." Wisanggeni segera memerintah istrinya untuk memimpin perjalanan.


"Segera ikuti SInga Ulung Singa Resti.. jagalah kedua anak muda itu.." Chakra Ashanka berteriak memberi perintah pada binatang singa betina itu.


"Auuummmm..." seperti memahami perintah Chakra Ashanka, SInga Resti mengaum panjang. Setelah Wisanggeni dan Chakra Ashanka melambaikan tangannya, binatang itu segera terbang menyusul SInga Ulung yang sudah berada di udara.


Tanpa menunggu lama, Chakra Ashanka dan WIsanggeni segera mengikuti kedua binatang singa itu. Ketiga binatang itu dengan segera terbang menembus kegelapan malam. Tidak ada yang bicara di atas, apalagi Arya dan Dananjaya yang baru pertama kali terbang di atas udara, mata mereka berusaha menembis kegelapan untuk melihat keadaan dari atas langit, Namun hanya kegelapan yang menutup pandangan mereka.


*********

__ADS_1


Tepat seperti yang sudah dikatakan Wisanggeni, dengan menempuh perjalanan melewati udara tanpa istirahat, akhirnya sore harinya mereka sudah melihat gerbang kedatangan utama untuk memasuki padhepokan Gunung Jambu. Rengganis tanpa bertanya pada suami dan putranya, meminta Singa Ulung untuk segera terbang turun ke arah depan gerbang utama.


"Ulung.. kita akan segera turun. Arahkan terbangmu untuk turun di depan gerbang utama.. kamu tahu bukan.." Rengganis meminta SInga Ulung untuk segera terbang ke bawah.


"Auummm.." Singa Ulung menjawab permintaan Rengganis. Binatang itu segera mengarahkan terbangnya untuk turun tepat di depan gerbang masuk utama ke padhepokan. Kedua binatang yang terbang di belakangnya segera mengikuti arah terbang binatang itu.


Tidak lama kemudian, SInga Ulung sudah menginjakkan ke empat kakinya di atas tanah. Singa Resti dan naga terbang juga mengikuti binatang itu. Ke tujuh orang itu akhirnya bisa kembali mendarat kembali ke atas tanah, setelah terbang di atas udara satu hari satu malam. Beberapa murid yang berjaga di depan gerbang, segera menyambut kedatangan mereka.


"Guru.. Nimas Parvati.. kang Ashan.. kami tidak mengira jika kalian yang datang ke padhepokan." dengan suka ria, murid yang berjaga menyambut kedatangan orang-orang itu.


"Iya.. persiapkan tempat untuk kami beristirahat sejenak ya. Kami sudah satu hari satu malam di udara, belum beristirahat sedikitpun. Mungkin minuman hangat bisa membantu kita untuk menyegarkan badan.." Chakra Ashanka segera memberi perintah pada anak muda itu.


Wisanggeni dan Rengganis tersenyum mendengarnya. Arya dan Dananjaya saling berpandangan, kemudian mereka berjalan mendekati Parvati.


"Baik kang Ashan.. segera ikuti kami. Pendhopo kebetulan sedang dalam keadaan kosong, dan teman kami akan melaporkan ke bagian gandhok untuk menyiapkan minuman hangat untuk Guru dan semuanya.." murid itu dengan segera menanggapi kata-kata Chakra Ashanka.


Orang-orang itu segera mengikuti anak muda itu, dan seketika muncul kesibukan di tempat itu. Beberapa orang segera menyiapkan kursi kayu di pendhopo, dan beberapa murid perempuan segera berlari menuju gandhok untuk menyiapkan minuman hangat dan beberapa kudapan untuk menyambut guru dan keluarganya.


********

__ADS_1


__ADS_2