
Dari kejauhan, Wisanggeni dan Rengganis tersenyum melihat pola latihan Chakra Ashanka dan Chala di pinggiran padhepokan. Tampak Ki Mahesa tersenyum-senyum sendiri melihat kedua cucunya itu berlatih. Sesekali terdengar suara Ki Mahesa memberikan arahan pada kedua anak laki-laki itu. Wisanggeni menggandeng tangan Rengganis, dan mengajaknya menghampiri mereka yang sedang berlatih,
"Wisanggeni.., benarkan itu kamu putraku..?? Rupanya kamu sudah berhasil sadar dari tidur pingsanmu beberapa waktu..?" dengan nada terkejut, Ki Mahesa datang menghampiri Wisanggeni dan Rengganis yang sedang melihat putra dan keponakannya sedang berlatih.
"Iya ayahnda.. dengan bantuan Nimas Rengganis, akhirnya putranda ini bisa segera kembali sadar." Wisanggeni dan Rengganis segera mendatangi Ki Mahesa. Keduanya mencium punggung tangan laki-laki yang sangat mereka hormati itu. Setelah menerima uluran tangan dari putra dan menantunya itu, Ki Mahesa meraih keduanya kemudian memeluknya erat. Tampak air mata menggenang di kelopak mata laki-laki tua itu, rasa syukur dan keterkejutan karena sudah kembali putra bungsunya.
"Kamu memang selalu membuat kejutan untuk kami semua, sejak dari dulu.." merasa kurang memiliki waktu untuk memperhatikan putranya sejak kecil, tampak penyesalan di mata Ki Mahesa.
"Ayahnda tidak perlu berbicara seperti itu. Kasih sayang tulus dari ayah dan semua saudara yang lain, sudah sangat besar Wisang peroleh.. Bagaimana kedua anak laki-laki itu berlatih ayahnda..?" untuk mengurangi rasa penyesalan ayahndanya, Wisanggeni mengalihkan pembicaraan.
"Mereka sangat berbakat putramu, terutama Chakra Ashanka. Rupanya anak laki-laki itu mewarisi semua kecerdasanmu dan Rengganis. Dia dengan cepat mencerna apa yang aku katakan, dan segera merubahnya dalam bentuk gerakan." dengan tersenyum bangga, Ki Mahesa menceritakan kedua cucu laki-lakinya.
"Ayahnda..." melihat keadaan Wisanggeni sudah pulih, Chakra Ashanka dan Chala mengakhiri latihannya, mereka berdua berjalan menghampiri Wisanggeni dan Rengganis dengan mata berbinar.
"Kalian berdua sangat hebat.., bisa mengikuti arahan dari kakek dengan sangat cepat." Wisanggeni mengusap kepala dua anak laki-laki itu dengan menggunakan tangannya. Chakra Ashanka memeluk pinggang Wisanggeni, untuk mengobati kerinduan beberapa waktu terpisah dengannya.
__ADS_1
"Hanya saja pertahanan kaki kalian berdua masih terlihat begitu lemah, belum ada baluran kekuatan di antara keduanya. Seorang lawan tanding yang bisa membacanya, akan memanfaatkan kelemahan pada kedua kaki kalian. Untuk memperkuatnya, ketika kalian mencoba untuk fokus pada gerakan dengan kekuatan di tubuh bagian atas, alirkan aura pada kedua kaki kalian berdua. Sehingga pertahanan diri kalian lengkap." Wisanggeni memberi sorotan tentang peningkatan pertahanan.
"Baik paman.." dengan cepat Chala menjawab tanggapan yang diberikan pamannya itu.
"Berlatihlah kembali Chala.., Ashan.., aku akan mengajari kalian berdua..!" dengan cepat kedua anak laki-laki itu segera memposisikan diri mereka agak mundur ke belakang. Ki Mahesa dan Rengganis tersenyum mendengar perkataan tersebut, keduanya mundur untuk melihat latihan kedua anak laki-laki itu, dengan Wisanggeni menjadi pelatih mereka.
"Fokuskan pikiran kalian pada kedua tangan, dan perlahan ambil nafas panjang. Hembuskan nafas keluar, dan tahan beberapa saat di perut kemudian alirkan aura batin kalian dari puncak kepala, turunkan perlahan...." Wisanggeni terus memandu kedua anak itu berlatih.
"Ulangi lagi, pertahanan kalian masih terlihat lemah.. Lakukan sepuluh kali berulang-ulang.., agar bisa menjadi sebuah kebiasaan..." Wisanggeni terus menyampaikan perkataannya. Laki-laki berbadan tegap itu berjalan mengelilingi kedua anak laki-laki itu, dan..
"Clap..., kencangkan kakimu Chala..." sebuah tendangan kaki diarahkan ke kaki Chala ketika melihat pertahanannya masih kosong.
Dari pinggir tempat latihan, Renggani meremas ujung baju yang dikenakannya. Meskipun dia sendiri ketika masih kecil, juga sudah menjalani latihan yang keras, tetapi melihat putranya mendapat serangan di depannya, rupanya hatinya masih merasa belum siap.
**********
__ADS_1
Sore itu juga di padhepokan Trah Bhirawa diadakan acara syukuran, dengan kembalinya Wisanggeni dalam keadaan sadar ke tengah-tengah keluarga. Beberapa orang perempuan menyiapkan masakan, dan tenaga laki-laki membantu untuk menyiapkan dan menggelarnya ke atas tikar. Beberapa ekor kambing, ayam dipotong untuk disiapkan menjadi lauk pauk.., dan ruang pendhopo dihias. Suasana terlihat sangat meriah, seperti akan diadakan sebuah pesta.
"Ayahnda..., silakan menyampaikan kalimat untuk menyambut kedatangan saudara-saudara kita." Widjanarko yang duduk bersila disamping Ki Mahesa, meminta ayahndanya untuk menyambut kedatangan para tamu. Wisanggeni duduk dengan diapit Lindhu aji dan Widjanarko. Sedangkan Kinara, Larasati, dan Rengganis juga duduk berdampingan di belakang ketiga laki-laki putra Ki Mahesa tersebut.
"Baiklah Janar.., ayah akan memulai pembicaraan.." ucap Ki Mahesa menanggapi perkataan putra sulungnya.
Untuk memberitahukan jika acara dimulai, terdengar pukulan kentongan yang terbuat dari bonggol bambu.
"Tong.., tong.., tong.." begitu suara kentongan dibunyikan, semua orang yang berada di pendhopo seketika terdiam. Mereka segera mengarahkan fokus mereka dengan melihat ke arah pendhopo.
"Saudara-saudara Trah Bhirawa yang sudah berkumpul di pendhopo ini, saya sebagai sesepuh dari Trah ini akan menyampaikan beberapa hal terkait dengan Trah kita. Sebagaimana sudah kita ketahui, Trah kita sudah mengalami situasi dimana kita sudah pernah tercerai berai, dan atas upaya putra bungsuku, akhirnya saat ini kita masih bisa berada dan berkumpul di wilayah kota Laksa. Meskipun beberapa saudara kita sudah harus mendahului kita, dengan adanya serangan dari gerombolan Alap-alap beberapa waktu lalu." Ki Mahesa terdiam sebentar, laki-laki paruh baya itu mengambil nafas.
"Kabar baik selanjutnya adalah, putra sulungku Wijanarko sudah menyampaikan kepadaku dan kedua putraku lainnya, jika ingin menggabungkan Trah Gumilang yang dipimpinnya, dengan Trah Bhirawa. Jadi pada kesempatan ini, selain untuk mengucapkan rasa syukur atas kembalinya putra bungsuku dari keadaan pingsan untuk beberapa waktu, juga sebagai pemberitahuan atas bergabungnya Trah Gumilang dengan Trah Bhirawa." beberapa orang menjadi berbicara sendiri ketika mendengar apa yang disampaikan oleh Ki Mahesa. Kembali suara kentongan terdengar, agar semua yang ada di pendhopo kembali memperhatikan apa yang dikatakan oleh sesepuh Trah Bhirawa. Setelah semua yang datang kembali terdiam, Ki Mahesa melanjutkan perkataannya..
"Dengan bertambahnya anggota keluarga kita, kekompakan, rasa kesetia kawanan, harus menjadi sesuatu yang harus kita kedepankan. Dan mungkin dalam beberapa hari putra bungsuku Wisanggeni akan kembali ke padhepokannya. Meskipun putra bungsuku sudah memilki perguruan sendiri yang jauh lebih besar dari Trah ini, tetapi Wisanggeni juga tetap dan selalu menjadi anggota keluarga dari Trah Bhirawa." Ki Mahesa mengakhiri penyambutannya.
__ADS_1
Dari sudut luar pendhopo, terlihat seorang perempuan muda yang melihat suasana yang terjadi di dalam pendhopo dengan perasaan bahagia. PerempuanĀ itu adalah Niken Kinanthi, yang sengaja melarikan diri dari kerajaan Laksa untuk mencari kabar Wisanggeni. Senyuman mengembang di bibirnya, melihat Wisanggeni duduk bersila dengan diapit oleh kedua saudara laki-lakinya.
**********