Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 90 Berlatih


__ADS_3

Dengan dibantu penduduk yang bisa diselamatkan, Wisanggeni mengumpulkan para warga lainnya di sebuah rumah yang tidak begitu terdampak. Saat ini mereka baru menikmati makanan kering yang dibawa oleh Wisanggeni dan Rengganis. Tatapan penduduk kosong seperti kehilangan semangat. Setelah beberapa saat,


"Ceritakan padaku apa yang terjadi dengan desa kalian!" dengan suara pelan, Wisanggeni meminta penduduk menceritakan apa yang terjadi dengan desanya.


"Kemarin malam ada penyerangan tiba-tiba ke desa kami Wisang.., Konon penyerangan itu sebagai imbas karena padhepokan yang berada tidak jauh dauh dari desa kami menolak untuk diajak bergabung dengan gerombolan Alap-alap. Akhirnya mereka mengamuk, merampas para perempuan serta menghabisi banyak pemuda yang melawan padanya." Sasongko menceritakan kronologis penyerangan, yang ternyata dipicu oleh gerombolan Ala-alap.


Wisanggeni terhenyak, dia tidak menyangka jika gerombolan Alap-alap masih menebar kekacauan dimana-mana.


"Para pesilat yang tidak mau bergabung dengan gerombolan alap-alap, mereka diserang dan dihabisi. Di desa kami, sebenarnya tidak ada yang bergabung dengan perguruan ataupun padhepokan, tetapi gerombolan itu mengira kami menyembunyikannya. Akhirnya.., tanpa ada pemberi tahuan terlebih dahulu, desa kita dibumi hanguskan." lanjut Sasongko.


"Sepertinya kejadian ini tidak hanya melanda desa-desa kita, kemarin ada pedagang yang menceritakan, jika di beberapa wilayah juga terjadi kekacauan seperti ini. Beberapa padhepokan dan perguruan banyak yang bergabung dengan kekuatan mereka, karena tidak mau dibuat berantakan." warga desa yang lain ikut menambahkan.


Sejenak Wisanggeni terdiam, kemudian dia menoleh pada Rengganis yang juga sibuk membantu mengalirkan tenaga dalam pada orang-orang yang terluka.


"Ada apa Kang Wisang.., apakah Akang ingin menanyakan bagaimana jika perjalanan kita untuk sementara akan terganggu, atau kita akan meninggalkan mereka di tempat ini dalam keadaan seperti ini?" Rengganis seperti memahami apa yang ingin ditanyakan suaminya.


Wisanggeni mengangguk, dan Rengganis menghentikan aktivitasnya kemudian mendekat pada suaminya.


"Kita akan membantu terlebih dulu pada mereka Akang.. Setelah mereka mendapatkan perlindungan yang layak, kita akan mengabarkan berita kekacauan ini ke wilayah Barat, agar mereka lebih meningkatkan tingkat perlindungannya. Bagaimana menurutmu?" sambil tersenyum, Rengganis mengusulkan pemikiran.


"Terima kasih istriku.., kamu selalu mengetahui apa yang aku pikirkan." Wisanggeni tersenyum sambil mencium kening Rengganis. Gadis itu mendorong dada Wisanggeni, karena suaminya tidak tahu tempat. Laki-laki itu melakukannya di depan warga penduduk yang berhasil mereka selamatkan.


"Ha..., ha.., ha..., santai saja Nimas. Tidak perlu pedulikan kami, anggap saja jika kami ini hanya sebatang pohon.." Sasongko menggoda mereka.

__ADS_1


"Iya.., ayo Wisang tunjukkan rasa sayang pada sang istri." sahut lainnya lagi.


Wisanggeni ikut tertawa, dan mereka kemudian beristirahat sambil menyusun strategi selanjutnya.


**************


Dibantu warga penduduk yang sudah mulai membaik kesehatannya, Wisanggeni memimpin mereka untuk mendatangi desa-desa yang lain. Mereka ingin mengumpulkan penduduk, dan membentuk kumpulan warga baru dan berlatih kanuragan. Para perempuan dan anak-anak yang dibawa oleh gerombolan Alap-alap menunggu untuk dibebaskan. Rengganis saat ini sedang mengajari anak-anak dan para perempuan untuk sekedar dapat menjaga diri mereka dari pertolongan pertama orang-orang jahat.


"Jleb.., jleb.., jleb.." anak panah meluncur deras dari busurnya menancap ke sasaran. Panah merupakan persenjataan yang paling mudah untuk mereka adakan dengan memanfaatkan kayu yang banyak tersedia disitu.


"Gunakan dua mata kalian untuk membidik sasaran, agar lebih pas dalam pembidikannya. Jangan pejamkan satu mata kalian!" Rengganis berteriak mengarahkan para perempuan dan anak-anak.


"Anak-anak yang sedang tidak bermain, bantu untuk mencabut kembali anak panah yang masih tertancap di sasaran bidik." lanjut Rengganis kembali.


Muncul keceriaan dan kesenangan di mata perempuan itu, karena adanya harapan untuk menyelamatkan anggota keluarga mereka yang ditangkap dan dibawa secara paksa oleh gerombolan Alap-alap. Setelah memastikan tidak ada kekeliruan para perempuan dalam berlatih memanah, Rengganis melihat ke arah suaminya. Tampak Wisanggeni sedang mengajarkan cara mengambil kuda-kuda dan bertahan diri dari serangan lawan. Perempuan itu perlahan berjalan menghampiri suaminya, dia duduk diatas dhingklik sambil melihat ke arah arena berlatih.


"Klang.., klang.." suara parang saling bertemu saat para laki-laki berlatih.


"Bang.., bang.., bang..." berbagai kelompok orang berlatih dengan menyesuaikan diri dengan kekuatan mereka masing-masing. Sasongko, Wiyono dan para pemuda yang sudah memiliki dasar kanuragan yang kuat, mereka masih berputar ke sekeliling desa, untuk menemukan teman-teman mereka yang mungkin masih menyembunyikan diri.


Melihat Rengganis yang duduk di dekatnya, sambil matanya mengawasi arena berlatih, Wisanggeni kemudian datang menghampiri istrinya itu.


"Apakah kamu capai Nimas..?" tanya Wisanggeni dengan lembut pada istrinya. Sudah berhari-hari, Wisanggeni merasa sudah mengabaikan keberadaan istrinya. Para penduduk masih banyak membutuhkan dukungan baik dukungan psikologis maupun arahan agar mereka bangkit.

__ADS_1


"Tidak Akang..., tetapi para perempuan dan anak-anak sudah semakin lihat memainkan busur dan anak panah. Nimas tinggal mengawasi mereka saja, dan itu bisa Nimas lakukan dari jauh," ucap Rengganis, kemudian tangannya menyambut uluran tangan Wisanggeni, yang mengajaknya untuk kembali berdiri.


"Nimas..., tidakkah Nimas merasa rindu pada Akang?" tanya Wisanggeni dengan membisikkan ke telinga istrinya.


Muka Rengganis langsung memerah melihat ekspresi yang ditunjukkan suaminya. Perempuan itu paham apa yang dimaksud rindu oleh Wisanggeni.


"Ya sudah.., jika Nimas tidak merindukan Akang. Sekarang Akang yang rindu pada Nimas." ucap Wisanggeni dengan memberikan isyarat melalui matanya.


"Disini banyak para penduduk yang membutuhkan bantuan kita Akang. Masak kita akan berdua di dalam rumah.." bisik Rengganis sambil mencubit pinggang suaminya.


"He.., he.., he.., benar juga Nimas. Tapi Akang melihat di sebelah desa ini ada sebuah gua. Kita mungkin bisa mencobanya disana, yah.., sekali.., sekali kita bisa berdua di tengah alam liar." dengan tidak tahu malu, Wisanggeni menggoda Rengganis.


"Ah Akang.., kenapa sih dari tadi pikirannya lari kesitu." ucap Rengganis sambil melengos malu.


Tiba-tiba dari arah samping, Rengganis melihat seorang anak perempuan berlari ke arah mereka.


"Hai.., ada apa Citra..? kenapa kamu lari-lari?" Rengganis memegang tubuh perempuan kecil itu untuk menghentikannya.


"Bulik diminta sama ibunda untuk beristirahat disana. Sudah dibuatkan minuman hangat.." ternyata perempuan kecil yang bernama Citra, meminta Rengganis untuk segera istirahat.


"Baik cantik.., pergilah dulu! Sebentar lagi, bulik akan menyusulmu kesana.." ucap Rengganis sambil melepaskan tangannya. Perempuan kecil itu tersenyum, kemudian melambaikan tangannya dan kembali ke tempatnya.


"Ayo Kang.., kita istirahat dulu." ajak Rengganis pada Wisanggeni.

__ADS_1


"Kemana.., apakah kita akan ke gua yang tadi Akang ceritakan?" bisik Wisanggeni.


**************


__ADS_2