Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 172 Pemulihan


__ADS_3

Maharani terkesiap, tanpa sadar matanya terbuka lebar ketika perempuan muda itu mendengar suara keras menggelegar yang datang dari lokasi pertempuran. Tanpa berpikir panjang, ingatan Maharani hanya pada bagaimana kondisi Wisanggeni, perempuan muda itu tidak bisa menahan dirinya. Semua pesan yang diberikan suami untuknya sudah tidak teringat lagi, perempuan muda itu langsung berlari keluar penginapan. Matanya terasa pedih, air mata dengan deras membanjiri pelupuk matanya. Dengan mulut terbuka, dan tangan berada di atasnya, Maharani melihat bubungan awan hitam di atas langit, dan warna merah menggulung keempat orang yang sedang bertarung. Dengan mata tajamnya, perempuan muda itu tidak dapat mengenali ada dimana suaminya saat ini.


Melihat hal itu, dan mengingat apa yang dipesankan Wisanggeni padanya, Singa Ulung berjalan menghampiri Maharani. Binatang itu menggesek-gesekan tubuhnya ke badan Maharani, dan perempuan  muda itu menundukkan wajahnya melihat pada Singa Ulung, Meskipun tadi Wisanggeni berpesan, jika dia harus segera melarikan diri bersama binatang itu,  jika sesuatu terjadi pada suaminya, tetapi perempuan muda itu tidak dapat melakukannya. Mata Maharani dengan tajam melihat dan mencoba menembus ke gulungan asap berwarna jingga kemerahan itu. Tangan Maharani mengusap lembut bulu-bulu halus di punggung Singa Ulung, seakan memberi pesan pada binatang itu jika dia tidak bisa meninggalkan suaminya sendiri.


**********


Di tengah pertarungan


Wisanggeni membuka matanya, dia melihat ke sekujur tubuhnya. Rasa panas terasa membakar tubuhnya, tetapi dengan cepat laki-laki itu membekukan tulang-tulang di dalam tubuhnya sehingga trasa sakit itu tidak mampu menembus ke dalam. Mata laki-laki itu melihat ke arah tiga orang yang sedang bertarung dengannya, dari sudut mulutnya melengkung ke atas melihat kondisi ketiga orang itu lebih parah dari dirinya.


"Uupppss..., ajian pemisah diri. Hufftttt...." bibir Wisanggeni tiba-tiba berbicara lirih, dan tiba-tiba tubuhnya melesat memisahkan diri dari gulungan ketiga orang dalam lingkaran api itu.


Ketiga orang itu terhuyung, mereka tidak bisa mengendalikan pusaran bara api yang terus menggerakkan tubuh mereka berputar-putar. Terlepasnya tubuh Wisanggeni dari gulungan itu, membuat pusaran semakin ringan membawa tiga orang itu. Wisanggeni tersenyum sinis, tiba-tiba muncul ide dari dalam hatinya untuk menjauhkan ketiga orang itu darinya.

__ADS_1


Wisanggeni mengambil aba-aba dengan menekuk kedua lututnya. Kedua tangannya membuat simbol baru, dan mata tertuju pada ketiga laki-laki itu. Dengan tersenyum, Wisanggeni menggerakkan kedua tangannya di depan dadanya, kemudian mendorong dengan keras.


"Lelakumu..., lakukanlah sendiri. Ajian Pemisah diri..., bergabunglah dengan Kekuatan Pasopati. Hufftt...." teriakan keras muncul dari mulut laki-laki itu. Sebuah aliran tenaga terlihat dengan jelas keluar dari kedua telapak tangan Wisanggeni, dan meluncur deras ke arah pusaran bara api itu.


"Blang..., blang.... jeglarrr..." suara dentuman keras terdengar, ketika ajian yang diluncurkan Wisanggeni, menghantam pusaran bara api itu. Tubuh ketiga orang itu langsung terpisah, dan menyebar menjauhkan diri mereka dari lokasi pertarungan.


Orang-orang yang mengintip dan memberanikan diri melihat pertarungan, dengan mulut menganga mereka mengagumi kekuatan yang ditunjukkan oleh Wisanggeni. Tanpa sadar mulut mereka terbuka, mereka tersenyum menyaksikan keberhasilan Wisanggeni mengalahkan tiga orang yang sengaja mencari permasalahan dengan dirinya. Maharani segera berlari menghampiri Wisanggeni yang masih berdiri tegak di tengah halaman yang berubah menjadi porak poranda. Pohon-pohon besar yang semula tumbuh di tempat itu, tampak bertumbangan dan jatuh ke tanah.


Di depan mata Maharani, Wisanggeni masih sempat memperlihatkan senyum dan melambaikan tangannya. Tetapi baru saja Maharani akan menyentuhnya, tubuh tegap Wisanggeni tiba-tiba ambruk ke tanah. Dengan sigap, Maharani tidak mempedulikan rasa panas, perempuan muda itu merubah dirinya menjadi bentuk naga hitam keunguan. Kulitnya yang licin bersemburat ungu, langsung membelit dan mendinginkan tubuh laki-laki yang pingsan dalam belitannya. Tidak lagi mau mempedulikan citranya di muka umum, yang ada dalam pikiran Maharani saat ini, adalah bagaimana dengan keselamatan Wisanggeni.


**********


Wisanggeni perlahan membuka matanya, rasa dingin terasa membelit tubuhnya. Laki-laki itu berusaha mengingat kapan terakhir kali dia masih mengingat ingatannya kembali. Mata laki-laki itu tiba terbuka lebar, ingatannya kembali pada pertarungan dengan tiga orang laki-laki separuh baya di halaman depan penginapan. Mengingat Maharani, menjadikan laki-laki itu tersentak, dan membuka matanya dengan lebar.

__ADS_1


"Akang sudah bangun akhirnya, syukurlah.." terlihat mata di kepala naga menatapnya dengan tatapan sinar kebahagiaan. Melihat tatapan itu, Wisanggeni tidak bisa melupakan tatapan istrinya Maharani. Perlahan laki-laki itu mendudukkan dirinya, dan perlahan juga Maharani melepaskan belitannya. Samar-samar di depan wajah suaminya, tubuh naga Maharani perlahan berubah menjadi seorang gadis kembali, yang tanpa mengenakan apapun di atas bajunya.


Melihat pemandangan segar di depan matanya, setelah berhari-hari tidak sadarkan dirim membuat sesuatu yang ada di dalam diri laki-laki itu ingin meronta keluar. Hasrat manusia purbanya tidak bisa dibendung lagi, laki-laki itu harus mencari pelampiasan. Tanpa malu, laki-laki itu ingin menyalurkan hasratnya pada tubuh manusia di depannya.


"Ugh...\, aakhh... mmm... akang.." suara le**nguhan dan de**sahan terlepas dari bibir mungil Maharani\, matanya tiba-tiba berubah menjadi lebih sayu dan ada keinginan untuk bersatu disana\,


Tanpa menunggu lagi\, tangan kanan Wisanggeni mengukir indah di setiap jengkal tubuh Maharani\, sampai perempuan muda itu menjerit kenikmatan. Matanya merem melek menikmati usapan dan belaian lembut yang diberikan suaminya\, dan ketika bibir Wisanggeni mengisap dan menyesap bulatan kecil di kedua bukit kembarnya\, suara de**sahan Maharani semakin membahana di dalam gua. Suara ceracauan dari istrinya tidak membuat laki-laki itu berhenti\, malah semakin memacu gelora semangatnya untuk menyatukan intinya dengan inti dari istrinya. Di alam yang sunyi\, sepi tanpa ada gangguan apapun\, kedua manusia itu saling bergulat\, bergumul\, dan berbelit dengan suara-suara yang bisa menggetarkan dan merang**sang naf**su bi**rahi orang-orang yang mendengarnya.


Wisanggeni dan Maharani merasakan suatu kenikmatan lain, mereka hanya berada di dalam gua yang sepi itu tanpa ada gangguan apapun. Sensasi aliran darah mereka, nafas kasar mereka, saling berpadu, bertukar saliva tanpa merasa takut ada yang mengintipnya.


"Akhh... Akang..., teruskan.. uughh..." kembali le**nguhan keluar dan terdengar seksi di telinga Wisanggeni, ketika mulutnya kembali merangsek dan mempermainkan bulatan kecil padasi kembar perempuan itu.


Tanpa menunggu lama, Wisanggeni tiba-tiba menghentak, dan jeritan kecil keluar dari bibir Maharani, ketika kedua inti itu bertemu dan berpadu. Di atas sebuah batu yang datar, Wisanggeni berdiri di depan tubuh yang terlentang di depannya. Rasa puas dan kenikmatan keduanya diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di kening Maharani, dan perempuan muda itu hanya tersenyum merasakan keperkasaan suaminya.

__ADS_1


*************


__ADS_2