Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 147 Perjalanan Menuju Wilayah Tengah


__ADS_3

Ki Cokro Negoro ikut menemui Pangeran Abhiseka, dan saat ini mereka berbincang di pendhopo tengah. Wisanggeni sengaja tidak mengijinkan Rengganis dan Maharani membersamainya. Laki-laki muda itu berpikir untuk lebih serius berbincang dengan gurunya, tanpa menggunakan perasaan yang didahulukan.


"Wisang..., sudah saatnya Guru untuk turun dari dunia persilatan. Tanggung jawab untuk membesarkan perguruan ini ada di tanganmu. Karena kamu sendiri tahu, hanya kamu satu-satunya murid Guru yang menerima semua ilmuku." Cokro Negoro tiba-tiba mengajak Wisanggeni berbicara. Mendengar perkataan Gurunya, Wisanggeni memberanikan diri untuk menatap gurunya, dan terlihat wajah Cokro Negoro tampak serius. Pangeran Abhiseka ikut melihat ke arah Guru dari Wisanggeni itu.


"Guru sendiri mau kemana?? Wisang berpikir sepertinya belum saatnya untuk memimpin perguruan ini. Wisanggeni bermaksud akan menuju Klan Bhirawa, makanya pangeran Abhiseka bersama dengan kami menuju kesini. Kami bermaksud akan menuju kota Laksa bersama-sama." Wisanggeni merasa sedikit keberatan, laki-laki muda itu merasa belum siap terbebani mengelola sebuah perguruan.


"Guru akan mengasingkan diri Wisang.., sambil menunggu Hyang Widhi mengambil roh Guru. Kamu harus segera mengambil alih tanggung jawab perguruan ini, dan tidak ada alasan bagimu untuk menolak mengabdikan diri untuk masyarakat." Cokro Negara memepet Wisanggeni, dan laki-laki muda itu hanya terdiam tidak menjawab.


"Sepertinya yang Ki Cokro Negoro sampaikan itu ada benarnya Wisang.. Jika kamu mengijinkan, aku akan banyak belajar dari perguruan ini. Siapa tahu ada yang bisa aku petik dan aku terapkan di kerajaan, siapa tahu ke depan kita akan selalu bisa bekerja sama." Pangeran Abhiseka ikut memperkuat pernyataan Cokro Negoro. Beberapa orang yang berada disitu, turut menganggukkan kepala. Setelah beberapa saat terdiam..,


"Baiklah jika Guru bersikeras agar Wisang melakukan hal itu. Murid ini tidak akan bisa untuk menolaknya." akhirnya Wisanggeni tidak memiliki kemampuan untuk menolak niat baik yang disampaikan Ki Cokro Negoro. Laki-laki tua itu merasa berbahagia mendengarkan jawaban dari murid satu-satunya itu. Cokro Negoro bermaksud untuk membawa roh dari Badar Tumbak Seto.. untuk dilarung di lautan.


"Oh ya.., terkait kedatangan Pangeran Abhiseka kesini, apakah ada hal yang wigati yang harus kami penuhi Pangeran?" Cokro Negoro bertanya pada pangeran. Mendengar pertanyaan itu, Pangeran Abhiseka tersenyum kecut.

__ADS_1


"Ki Cokro Negoro jangan membuat anak muda ini jadi tidak bisa berbicara. Saat ini, tolong jangan anggap kedatanganku kesini sebagai seorang pangeran. Kedatanganku kesini sebagai seorang teman dari Wisanggeni, bukan sebagai pangeran dari kerajaan." dengan tutur kata halus, Pangeran Abhiseka meminta Cokro negoro tidak melihatnya sebagai pangeran. Laki-laki tua itu tersenyum mendengarnya.


"Banyak yang bisa saya pelajari dari perguruan ini Ki Cokro.., bagaimana kepatuhan dan ketaatan para murid dengan gurunya. Bagaimana mereka bekerja sama tanpa ada syak wasangka terhadap teman yang lain. Cara untuk membuat perlindungan diri dan semua anggota dari bahaya yang bisa muncul tiba-tiba." Abhiseka melanjutkan perkataan dengan menyebutkan apa yang bisa dia pelajari.


Wisanggeni dan Ki Cokro negoro bertatapan, mereka berdua tersenyum mendengar ucapan yang disampaikan oleh Pangeran Abhiseka.


"Guru.., dalam beberapa hari lagi, murid ini akan mohon pamit untuk undur diri lagi. Ada kewajiban yang harus Wisang tunaikan, yaitu mengantar Nimas Gayatri dan Nimas Niluh ke Klan Bhirawa Guru.... Selain itu, kewajiban untuk menghaturkan sembah sungkem pada ayahnda.., juga harus Wisanggeni lakukan." tiba-tiba Wisanggeni menyampaikan keinginannya untuk pergi ke kota Laksa.


"Tunaikan segera kewajibanmu Wisang.. Setelah urusanmu selesai.., segeralah kembali!! Banyak urusan yang harus segera kamu selesaikan disini." setelah menghela nafas, Ki Cokro Negoro mengijinkan muridnya untuk kembali ke kota Laksa sebentar.


************


"Guru.., kami mohon pamit. Kita sudah siap untuk berangkat meninggalkan padhepokan ini sementara." dengan suara pelan, Wisanggeni berpamitan dengan Gurunya. Laki-laki tua itu tersenyum, kemudian mengusap kepala Wisanggeni, kemudian mengusap juga pipi dan kepala Chakra Ashanka.

__ADS_1


"Pergilah Wisang.., jangan lupakan janjimu untuk kembali ke padhepokan ini. Tanggung jawab besar selalu menunggumu disini." ucap Ki Cokro Negoro sambil tersenyum. Setelah mendapatkan ijin dari gurunya, Wisanggeni segera meminta rombongan untuk meninggalkan padhepokan di perbukitan Gunung jambu itu.


Laki-laki muda itu berjalan di depan memimpin rombongan. Tanpa menoleh lagi ke belakang, beberapa orang segera mengikuti di belakangnya. Setelah mereka keluar dari perbatasan perbukitan Gunung Jambu, dengan cepat semua orang mengeluarkan kekuatan tenaga dalamnya untuk melompat dan berlari meninggalkan tempat itu.


Setelah seharian penuh mereka berlari dan melompat, Wisanggeni teringat dengan kondisi putranya Chakra Ashanka. Laki-laki muda itu mengajak Pangeran Abhiseka untuk beristirahat, dan tibalah mereka di desa yang sangat miskin. Tidak ada satupun penginapan di tempat itu, bahkan banyak warga masyarakat yang mengenakan pakaian compang-camping. Wisanggeni bertatapan dengan Pangeran Abhiseka, mereka merasa terenyuh, hingga...


"Jangan takut Ki Sanak.., apakah kami boleh bertanya beberapa informasi padamu?" Wisanggeni mencegat laki-laki muda yang sedang berhenti, dan melihat rombongan Wisanggeni dengan tatapan heran dan terpukau. Laki-laki muda itu melihat ke sekeliling, dan terlihat ada pendar ketakutan di matanya.


"Kami hanya ingin bertanya Ki Sanak, tidak akan ada apa-apa. Kami berjanji akan melindungimu." kembali Wisanggeni bertanya. Laki-laki muda itu terdiam sebentar, kemudian menganggukkan kepala. Wisanggeni memberi isyarat pada semua anggota rombongan untuk berhenti dan beristirahat sementara. Pangeran Abhiseka segera duduk di samping Wisanggeni, mereka berdua berhadapan dengan laki-laki muda itu.


"Apa yang terjadi dengan desa ini Ki Sanak.., mengapa setiap kami berpapasan dengan warga, hampir semua berpakaian compang-camping. Selain aktivitas ekonomi seperti tidak tampak di desa ini, bisakah Ki Sanak bercerita pada kami!" dengan suara pelan, Wisanggeni menanyakan keadaan yang mereka jumpai di desa ini.


"Iya Kang..., keadaan berbalik ke desa kami beberapa purnama terakhir. Semenjak ada pemimpin desa baru, yang berasal dari wilayah lain. Desa ini merupakan wilayah terluar dari bagian tengah, dan pemimpin kerajaan jarang memperhatikan kami. Atau malah menurut perkiraan orang-orang tua yang ada di desa, pemimpin kerajaan mungkin tidak ingat jika desa ini adalah wilayah kekuasaan mereka." dengan nada ketakutan, laki-laki muda itu akhirnya bercerita. Muka Pangeran Abhiseka mendadak merah padam, dia merasa tersindir dengan ucapan laki-laki muda itu. Tetapi saat melihat apa yang saksikan sendiri apa yang terjadi di desa ini, akhirnya pangeran kerajaan wilayah tengah itu menenangkan suasana hatinya.

__ADS_1


**************


__ADS_2