Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 338 Akhir Pertarungan


__ADS_3

Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu jelas melihat jika kekuatan laki-laki paruh baya itu mulai melemah, dan parahnya lagi, laki-laki itu tidak menyadarinya. Patih Wirosobo terus dengan menambah kekuatanya berusaha maju ke depan mendekati WIsanggeni. Begitu jarak tubuh kedua laki-laki itu mulai dekat, Wisanggeni menggerakkan tangannya, dengan pelan telapak tangan Wisanggeni diarahkan ke depan dan tepat bersarang di dada Patih Wirosobo.


"Brukk..., blarr..." tangan Wisanggeni bergerak memutar, dan Patih Wirosobo kaget dengan serangan itu.


"Ki Sanak.., aku tidak akan membunuhmu. Aku pikir kita bisa bekerja sama.., dimana penawar racun yang ada di trisulamu. Bisakah kita bekerja sama dan saling membantu?" dengan suara pelan dan mata menatap mata laki-laki paruh baya itu, Wisanggeni mengajak laki-laki itu berbicara.


"Heh..., jangan harap kamu bisa mendapatkannya. Racun itu didapatkan dari puncak Gunung Kawi, dan diracik sendiri oleh Guruku yang bekerja sama dengan penunggu Gunung tersebut. Untuk dapat membawanya turun, Guruku mengorbankan hidupnya untuk racun itu. Siapapun yang terkena oleh racun itu, maka umurnya tidak akan dapat bertahan. Ha.., ha.., ha..." Patih Wirosobo tertawa terbahak-bahak.


Sambil tertawa, Patih Wirosobo sama sekali tidak menyadari jika telapak tangan Wisanggeni masih bersarang di dadanya. Dengan gerakan memutar merasa jengkel dengan kecongkakan laki-laki paruh baya itu, tanpa sadar tangan Wisanggeni sudah menembus permukaan kulit di dada laki-laki itu. Tangan Wisanggeni sudah berlumuran darah, memegang jantung Patih Wirosobo yang terlihat berdegup kencang,


"Kurang ajar... apa yang kamu lakukan anak muda..." Patih Wirosobo merasa kesakitan, dan laki-laki itu mengangkat satu tangannya ke atas. Tapi...


"Klang.., klang..." rupanya karena rasa sakit di dadanya, laki-laki paruh baya itu tidak mampu lagi mengendalikan kedua trisula kembar yang ada di tangannya. Senjata itu terjatuh ke bawah, dan Wisanggeni melompat menghindari senjata itu.


"Apakah kamu mengira jika diriku selemah itu anak muda..." tiba-tiba Patih Wirosobo berteriak. Tiba-tiba sambil menahan rasa sakit, laki-laki paruh baya itu memejamkan matanya dan kedua tangannya membentuk sebuah simbol.

__ADS_1


Melihat hal itu, Wisanggeni memutar tubuh bagian dalam Patih Wirosobo kemudian berlari mundur beberapa langkah ke belakang, Tepat ketika selubung kabut menyelimuti laki-laki muda itu, tubuh Patih Wirosobo mengembung besar, kemudian meledak dengan suara keras memenuhi tempat tersebut,


"Duarrr.... blamm..." tangan Wisanggeni mengeluarkan sebuah gerakan, dan segumpal kabut berwarna putih menyelubungi tempat ledakan tersebut. Hal itu terjadi untuk beberapa saat, suasana di sekitar tempat terjadinya pertarungan menjadi semakin sepi. Tidak terlihat satu orangpun berani untuk melintas, dan bahkan binatang sudah berlarian menghindarkan diri dari tempat tersebut.


Wisanggeni terduduk di dalam lingkaran kabut, laki-laki itu juga belum berani untuk melangkah keluar. Melihat hancurnya tubuh Patih Wirosobo, menandakan betapa kuatnya pengaruh racun dalam kekuatan tersebut. Sedikitpun sebelum mampu mengenalinya, laki-laki itu mencoba untuk menahan diri. Para prajurit juga menatap tewasnya pemimpin mereka, dan tidak lama kemudian mereka bersorak sorai melihat pemandangan itu. Tetapi juga tidak ada satupun dari mereka, yang berani melangkah keluar dari tirai kabut yang dikirimkan Wisanggeni untuk melindungi mereka.


Setelah beberapa saat..., tiba-tiba terdengar suara robekan kabut di belakang Wisanggeni. Laki-laki itu menoleh ke belakang, dan melihat keberadaan Larasati dengan Lindhu Aji di belakangnya berjalan menghampiri Wisanggeni. Sebelum mendekat pada adik iparnya, perempuan itu terlihat seperti sedang merapal sebuah mantra, kemudian sambil memejamkan matanya, kedua tangannya diangkat dan terlihat ada angin yang mengalir seakan membersihkan tempat itu dari aura racun yang memenuhi tempat tersebut.


***********


Lindhu Aji mengulurkan satu gelas kayu berisi air hangat pada Wisanggeni. Tampak laki-laki muda itu cukup kerepotan menghadapi racun, dan menghabiskan hampir sebagian besar tenaga dalamnya. Setelah beberapa waktu, Wisanggeni meletakkan cangkir kayu ke atas tanah, Laki-laki itu tiba-tiba saja teringat pada Maharani.


"Mbakyu Larasati.., bagaimana keadaan istriku..?" tanpa melihat bagaimana keadaanya, Wisanggeni langsung menanyakan keadaan maharani. Larasati mengambil nafas kemudian berpandangan dengan Lindhu Aji.


"Dari awal aku sudah bicara padamu Dhimas.. jika hanya pilihan mengembalikannya pada wujud asli keluarga manusia ular, maka Maharani akan bisa diselamatkan. Itupun juga atas persetujuan dari dhenok Parvati selaku putri kandung dari istrimu. Semuanya sudah kulakukan, dan syukurlah semua berjalan baik dan wajar." ucap Larasati menjawab pertanyaan Wisanggeni.

__ADS_1


Mendengar penjelasan dan jawaban dari perempuan itu, dalam hati Wisanggeni terkejut. Rasa penyesalan perlahan menyergap ke dalam hatinya, karena di saat-saat terakhir wujud Maharani sebagai manusia, dia tidak dapat melihatnya. Dan saat ini sudah kembali ke wujud aslinya.


"Kuatkan hatimu Dhimas Wisanggeni. Semua yang terbaik untuk keluargamu.., Maharani tidak mati, hanya saja perempuan itu akan kembali mengabdi pada keluarganya, keluarga manusia ular., Itu sudah tertulis pada kesepakatan adat pada keluarga mereka, dan meskipun kamupun juga sudah diakui sebagai raja dari keluarga mereka, kamupun tidak akan dapat menentangnya. Atau malapetaka yang akan menggantikannya." perlahan, Lindhu Aji ikut memberi penjelasan pada adik bungsunya itu.


"Ada dimana sekarang badan istriku mbakyu.., kangmas.. aku ingin menemuinya." Wisanggeni menanyakan keberadaan penjelmaan dari istrinya.


"Masih ada di dalam senthongnya DHimas. Hanya saja, binatang itu sudah tidak mengenalimu dan Parvati. Untuk saat ini dan ke depan, sifat-sifat binatang lebih menguasai dirinya, dan akan jauh berbeda dengan terakhir kali perempuan itu menjadi Maharani. Ketika memutuskan untuk bersatu denganmu, Nimas maharani sudah banyak berkorban, dengan menekan nafsu-nafsu kebinatangannya untuk membantumu menjaga namamu Dhimas.." Larasati menambahkan,


"Iya mbakyu.., aku menyadarinya. Dan selama ini, aku belum bisa berlaku adil kepada perempuan yang sudah banyak berkorban untukku. Saat ini, malah lebih dulu Nimas Maharani pergi meninggalkanku." ucap Wisanggeni tampak letih. Kesedihan jelas tidak bisa disembunyikan dari wajahnya..


"Baiklah..., sekarangnya kamu untuk kembali ke padhepokan bagian dalam Dhimas. Untuk membersihkan kekacauan di tempat ini, biarkan aku dan Nimas Larasati yang akan melakukannya. Istriku lebih memahami racun. dan akan memastikan tempat ini untuk kembali bersih dari racun." perlahan lindhu Aji menepuk punggung Wisanggeni.


"Terima kasih mbakyu Laras..., kakang Aji.. aku akan kembali masuk ke perguruan bagian dalam. Aku titip sementara waktu perguruan ini padamu. AKu butuh waktu untuk kembali menenangkan hatiku.." ucap Wisanggeni dengan pilu. Lindhu Aji tersenyum dan menganggukkan kepala.


Perlahan Wisanggeni berdiri, dan dengan langkah gontai laki-laki itu berjalan meninggalkan Larasati dan Lindhu Aji. Tampak Singa Ulung dan Singa Resti berdiri gagah menghadang laki-laki itu. Kedua binatang itu berjalan mengapit Wisanggeni, seakan memberikan pengawalan pada laki-laki itu.

__ADS_1


************


__ADS_2