Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 434 Keajaiban Alam


__ADS_3

Wisanggeni mengajak Rengganis dan Parvati duduk, ketiganya kembali mengamati pagar batu hitam di depannya. Terlihat ada keraguan di benak perempuan itu, seperti kurang yakin jika di dalam pagar batu hitam itu merujuk padhepokan Ki Bawono berada.


"Kakang sudah mencobanya mengerahkan kekuatan besar Nimas, tapi pagar batu ini tidak menunjukkan ada petunjuk apapun." Wisanggeni mengatakan upayanya pada Rengganis.


"Iya kakang.. aku juga sudah melihatnya sendiri. Apakah mungkin pagar batu hitam ini, menganut sebuah pemikiran. Jika sesuatu yang keras, tidak akan menang jika kita hadapan dengan kekerasan pula. Kekuatan keduanya akan berpadu, dan saling bertahan dengan meningkatnya kekuatannya masing-masing." Rengganis memberikan tanggapan.


Wisanggeni tersenyum, dalam hatinya laki-laki ini mengakui dan menyetujui perkataan yang diucapkan oleh istrinya.


"Apakah Nimas Rengganis memiliki cara, untuk kita mencobanya? Perempuan biasa terhubungkan dengan sikap kelembutan dan kasih sayang. Tidakkah Nimas ingin mencobanya.." Wisanggeni seakan menodong istrinya untuk membantunya.


"Nimas sedang berpikir kakang... Hal apa yang bisa Nimas lakukan untuk dapat membuatnya pagar batu hitam ini tergeser dan terbuka." ucap Rengganis.


"Bolehkah Nimas Parvati mencobanya ayah..., bunda..?" kedua orang dewasa itu dikejutkan dengan pertanyaan tiba-tiba dari Parvati. Mereka saling berpandangan dan menatap ke wajah putrinya dengan penuh tanda tanya.


"Bagaimana Nimas Rengganis.. apakah kita akan membiarkan Putri kita untuk mencobanya?" Wisanggeni bertanya pelan pada istrinya.


Rengganis terdiam beberapa saat, kemudian mengambil nafas panjang. Perempuan itu kemudian menghembuskan nafas panjang keluar.


"Baiklah... apakah kamu yakin Nimas Parvati." seperti meragukan kemampuannya putrinya, Rengganis bertanya dengan nada sedikit khawatir.


"Nimas Parvati Belum bisa menjawabnya bunda, ayahnda. Namun.. sejak tadi seperti ada kekuatan di dalam tubuh Parvati yang seakan ingin meronta keluar. Ada keinginan Parvati untuk mendekati pagar batuk hitam itu. Tetapi karena larangan ayahnda... Parvati mencoba untuk menekannya bunda..' ucap gadis muda itu dengan yakin.


Wisanggeni kaget, laki-laki itu seperti disadarkan. Laki-laki itu seperti dilupakan jika putrinya adalah keturunan dari manusia ular, dan ada kekuatan tersembunyi dalam tubuh gadis itu, yang belum digali dan diasahnya dengan lebih lanjut.

__ADS_1


"Lakukanlah putriku... ayah dan bunda akan melindungi mu dari belakang." ucap Wisanggeni perlahan.


Parvati tersenyum, kemudian mendekat pada Wisanggeni dan Rengganis. Seakan memohon restu dari ke efua orang dewasa itu, Parvati mencium tangan kedua orang dewasa itu. Perlahan Wisanggeni kemudian diikuti Rengganis, mengusap kepala Parvati dengan lembut dan mencium ubun-ubun gadis itu dengan lembut.


Sesudahnya dengan langkah mantap, Parvati berjalan mendekati pagar batu hitam itu. Senyuman muncul di bibir Parvati, perlahan tangan kanannya dan diikuti dengan tangan kirinya mengusap lembut batuan hitam yang ada di tangannya itu. Rasa dingin terasa di kulit gadis muda itu, dan perlahan terasa terserap melalui pori-pori kulitnya.


"Siapapun yang sudah mengeluarkan energi besar untuk membangun pagar batu hitam ini, berilah aku dan keluargaku ijin untuk memasukinya. Percayalah.. kami bukan orang jahat.


" sambil memejamkan mata, Parvati berbicara pelan sambil terus mengusap batu hitam itu.


"Sssshhh..." angin dingin tiba-tiba terasa berhembus dari arah pagar batu hitam tersebut, namun perlahan mulai hilang menyebar ke segala arah.


Melihat hal.itu, Wisanggeni dan Rengganis segera bersiap untuk memberikan perlindungan pada putri mereka. Namun terlihat jika Parvati tetap bertahan, gadis muda itu sedikitpun tidak merasa terusik.


Gadis muda itu, tiba-tiba kembali memejamkan matanya. Kedua ibu jari dan jari telunjuknya bertemu seperti membentuk sebuah formula. Perlahan tiba-tiba muncul sinar dan cahaya terang berwarna keunguan muncul dari formasi tangan tersebut. Dengan sikap tenang, Parvati mengolah sinar tersebut dengan sepenuh hati.


Tidak berapa lama kemudian, sinar dan cahaya ungu yang terus mengalir keluar dari kedua tangan gadis itu.. diusapkan ke pagar batu hitam tersebut. Beberapa kali kegiatan itu dilakukannya oleh Parvati, namun belum juga ada tanda-tanda pergerakan dari pagar batu hitam tersebut.


"Hmmm.. rupanya kalian ingin mengujiku ya.." ucap Parvati dalam hati. Gadis muda itu tersenyum... kemudian perlahan Parvati memundurkan satu kakinya ke belakang. Gerakan tangan perempuan itu semakin cepat, cahaya berwarna ungu. yang tadi hanya berada di sekitar tangan gadis itu, kali ini membentuk sebuah energi yang padat.


"Brrrttt...." Parvati mengangkat kedua tangannya ke atas, kemudian mengusapkan energi padat itu di batuan hitam yang ada di depannya.


Tidak diduga, keterkejutan muncul di wajah Wisanggeni dan Rengganis. Energi padat berwarna itu menyebar ke seluruh bagian batuan hitam itu. Tiba-tiba muncul suara gemeretak yang mengejutkan pasangan suami istri itu. Mata mereka terbelalak melihat muncul garis celah terbuka dari sisi batu hitam yang ada di depan putrinya Parvati.

__ADS_1


"Terima kasih teman... akhirnya kalian mau untuk bekerja sama denganku.." ucap Parvati lirih.


Semakin lama, hembusan energi dari tangan Parvati terus mengalir keluar dan menyelimuti Serta memasuki celah pagar batu yang mulai membuka sedikit demi sedikit.


"Kret..." tidak lama kemudian, terdengar suara seperti pintu terbuka. Tiba-tiba di depan gadis muda itu pagar batu hitam terbuka lebar, dan mereka bisa melihat suasana indah di depan pandangan mata mereka.


"Ayahnda.. ibunda.., pagar batu hitam ini sudah terbuka. Apakah kita akan langsing masuk ke dalamnya." Parvati menoleh ke belakang, dan bertanya pada kedua orang tuanya.


"Iya putriku.. Tunggu ibundamu.., kalian berdua bisa berjalan di belakangku. Ayahnda akan berjalan di depan kalian berdua.." Wisata segera berjalan menghampiri Parvati.


Rengganis menggandeng tangan putrinya Parvati, dan ketiga orang itu segera berjalan masuk ke dalam pagar batu hitam tersebut.


"Jeglarr..." ketiga orang itu menghentikan langkah mereka, dan menoleh ke belakang. Terlihat pagar batu hitam itu menuturkan kembali, dan terlihat seperti tidak ada bekas jika baru saja pagar hitam itu terbuka.


"Ayahnda... apakah yang terjadi. Apakah Nimas Parvati perlu untuk membukanya kembali... " Parvati bertanya dengan polos pada ayahndanya.


"Tidak perlu putriku... dengan menutupnya kembali pagar batu hitam ini, seakan memberikan pertanda untuk kita. Tempat ini menerima kedatangan kita, dan menutupnya pintu itu kembali, karena tidak membiarkan ada orang lain yang akan masuk dalam kawasan Pesanggrahan ini." Wisanggeni berbicara pada putri dan istrinya.


Kedua perempuan itu saling mengangguk, kemudian meneruskan langkah mereka memasuki Pesanggrahan tersebut. Ketiga orang itu segera melanjutkannya perjalanan mereka, dan mata mereka terhibur dengan pemandangan yang ada di depan mata mereka. Bunyi air gemericik dari sebuah pancuran kecil yang tampak terawat memanjakan mata mereka.


"Lihatlah di sekitar pojok sana Parvati... banyak kawanan burung dan binatang hutan lainnya hidup dengan liar, dan tanpa saling mengganggu." Rengganis menunjukkan arah sudut pada putrinya.


Mata gadis muda itu mengerjap indah, melihat pemandangan indah yang tersaji di depan mata mereka.

__ADS_1


*********


__ADS_2