
Keesokan harinya Wisanggeni baru menyadari, ternyata tempat penyekapan mereka adalah tempat pengumpulan perempuan-perempuan yang akan dijual pada laki-laki hidung belang. Dia mengendap-endap ke sekeliling mencoba mencari cara untuk membebaskan perempuan itu. Para perempuan yang bisa menerima nasib mereka dan mau menjadi perempuan penghibur, akan dimuliakan statusnya oleh mereka. Tetapi giliran yang melakukan penolakan, ternyata beberapa dari mereka mendapatkan penyiksaan.
"Nimas.., apa rencanamu terhadap mereka?" tanya Wisanggeni pada Rengganis. Perempuan itu tersenyum, kemudian berjalan mendahului Wisanggeni.
"Oh ya Niken, seingatku kamu memiliki Ajian Lapisan Pelindung Alam. Kenapa kamu tidak mencobanya disini, saat orang-orang itu tidak melihatnya, kamu dan Rengganis bisa membawa perempuan-perempuan itu untuk keluar dari tempat ini. Biar aku yang akan mengalihkan dan menghadapi mereka semua." ucap Wisanggeni pada Niken Kinanthi.
"Iya Kang.., aku akan mencoba memancing mereka untuk keluar dulu pada satu tempat. Akan lebih mudah untuk membawa mereka pergi, jika mereka berkumpul menjadi satu. Sekarang aku akan menyusul Nimas Rengganis." Niken Kinanthi langsung pergi meninggalkan Wisanggeni, dia menyusul Rengganis.
Wisanggeni tersenyum sendiri melihat dua perempuan yang terbiasa beradu mulut itu, saat ini mereka bisa kompak berdua. Tiba-tiba Wisanggeno melihat ada dua orang penjaga yang berjalan ke arah mereka. Untuk mencegah penjaga itu memergoki apa yang dilakukan Rengganis dan Niken Kinanthi, Wisanggeni langsung berjalan ke arah mereka.
"Mau kemana kamu? Diam di tempat!" teriak salah satu dari mereka menghentikan Wisanggeni.
Wisanggeni berhenti kemudian menoleh ke arah mereka berdua. Dia pura-pura menahan rasa sakit pada perutnya.
"Saya ingin ke kamar mandi paman.., dari tadi saya tidak bisa menahan diri saya. Perutku terasa penuh, aku harus mengosongkannya segera." ucap Wisanggeni dengan memegangi perutnya.
"Kamu pikir kami menampungmu itu untuk melayani kamu? Buang di semak-semak, tidak di kamar mandi!" teriak mereka.
"Mohon maaf paman.., aku tidak terbiasa melakukannya di sembarang tempat. Jika tidak di kamar mandi, saya tidak akan bisa keluar." Wisanggeni terus merayu kedua orang itu untuk menunjukkannya kamar mandi.
"Kebanyakan omong kamu. Siuuuutt..." orang itu mengirimkan pukulan ke arah Wisanggeni, tetapi reflek laki-laki muda itu dengan mudah menghindarinya.
"Bang...sat.., ternyata kamu punya kanuragan juga ya." teriak mereka.
"Clang.." suara bumerang dikirimkan ke arah Wisanggeni. Laki-laki muda itu tersenyum, menggunakan lambaian tangannya dia mengubah arah angin, dengan cepat bumerang berbalik ke arah pengirim.
"Sialan.., apa yang kamu lakukan padaku bang..sat?" teriak pengirim bumerang yang berusaha berlari untuk menghindari bumerang yang mengejarnya.
Di halaman belakang, terlihat dua orang berlari berputar-putar, mereka berusaha menghindari dari kejaran bumerang. Mendengar suara berisik yang ditimbulkannya, 3 orang berlari dari dalam pondok menghampiri mereka.
"Bang.." belum sampai mendekati kedua rekannya, 3 orang itu tubuhnya langsung melayang terkena serangan dari Wisanggeni.
__ADS_1
"Bruk." malas mengulur waktu, Wisanggeni membuat 5 orang itu jatuh terkapar di halaman belakang.
Laki-laki itu langsung bergerak maju ke depan, dia melirik ke tempat tadi dia meninggalkan Rengganis dan Niken Kinanthi. Ternyata kedua perempuan itu, sudah membawa pergi para perempuan lainnya yang tadi dikurung sama orang-orang disitu. Tidak mau memancing keributan, Wisanggeni segera berlari keluar menyusul Niken Kinanthi dan Rengganis.
"Tunggu kamu, jangan harap kamu bisa pergi dari tempat ini setelah menimbulkan kekacauan disini!" terdengar teriakan dari belakang Wisanggeni.
**************
"Lapisan Pelindung Alam..." terdengar teriakan dari mulut Niken Kinanthi. Tidak lama kemudian, sebuah tabir seperti tempurung tampak melindungi mereka.
"Cepat.., ayo semuanya ikuti kami!" teriak Rengganis. Dia mendatangi para perempuan itu, dengan tangannya dia memberi isyarat mengajak mereka melarikan diri dari tempat itu.
"Cepat.., cepat, jika kalian ingin bebas, segeralah lari keluar. Tempat ini tidak lama lagi akan rata menjadi tanah." Niken Kinanthi ikut mengajak mereka segera meninggalkan tempat itu.
Mendengar ucapan kedua orang itu, perempuan-perempuan itu langsung berlari keluar. Ada sekitar 10 orang perempuan muda yang ikut dengan mereka berdua.
"Akan kita bawa kemana mereka Niken?" teriak Rengganis sambil terus berlari meninggalkan pondok itu.
Mereka berdua berlari di belakang para perempuan itu. Setelah beberapa saat mereka berlari dari pondok itu, di pinggiran sebuah desa, Rengganis mengajak mereka beristirahat. Untungnya ada sebuah kedai makan tidak jauh dari tempat itu.
"Sambil menunggu kang Wisang, alangkah baiknya kita beristirahat di kedai itu dulu Niken. Sambil kita memikirkan, akan kita bawa kemana perempuan-perempuan ini. Tidak mungkin kan, jika kita akan membawa mereka semua." kata Rengganis.
"Baik ., ayo kita ajak mereka untuk istirahat dulu di kedai itu." Niken Kinanthi kemudian melangkahkan kaki menuju ke kedai makan.
"Ayo kita ikuti Nimas Niken!" Rengganis segera mengajak kesepuluh perempuan itu menuju kedai.
*******
Wisanggeni membalikkan badannya, dia melihat satu orang yang memiliki perut buncit, dengan kepala botak melangkah ke arahnya. Di tangan laki-laki itu, dia memegang sebuah kapak besar.
"Siapa kamu sebenarnya, kenapa mengacau di tempatku?" teriak laki-laki itu.
__ADS_1
"Huh ." Wisanggeni tersenyum sinis, dia berhenti menunggu kedatangan orang itu lebih dekat padanya.
"Aku bertanya padamu, jawab!" teriaknya lagi.
"Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabmu. Kalian sudah semena-mena menangkap kami, apakah ada kesalahan jika akhirnya kami pergi untuk melarikan diri." jawab Wisanggeni.
"Kurang ajar.., berani juga kamu ternyata. Terimalah ini! Bukk..." laki-laki itu melempar kapak yang dipegangnya ke atas, kapak itu berputar-putar dan mengeluarkan nyala api.
Wisanggeni memundurkan langkahnya, dia tersenyum dan memejamkan mata.
"Serang dia!" teriak laki-laki itu, dan kapak yang berlapis api itu mengejar ke arah Wisanggeni.
Wisanggeni membuat simbol kuat dengan ibu jarinya, kemudian menjentikkan ibu jari dengan jari tengah secara bersamaan. Sebuah api berwarna keunguan muncul dan terlihat menawan pada tangan kanannya. Dalam sekejap api ungu ditangannya dia lepaskan, dan langsung menuju pada kapak api laki-laki yang ada di depannya itu.
"Duarrr." terjadi ledakan karena benturan kedua api itu.
"Clang.." kapak terlempar dan membentur batu besar.
"Prakkk." batu besar langsung hancur berkeping-keping terkena lemparan kapak tersebut.
Laki-laki itu mukanya langsung menghitam, dia terlihat sangat marah.
"Kurang ajar, ternyata kekuatanmu boleh juga. Sekarang terimalah serangan dariku... Aji Rowo Rontek...!" laki-laki itu melemparkan serangan ke arah Wisanggeni.
Wisanggeni mencibir, dia mengangkat telapak tangannya untuk memblokir serangan itu.
"Bumm." serangan itu berbenturan dengan kekuatan Wisanggeni. Setelah itu, tanpa. menunggu, Wisanggeni langsung mengirimkan pukulan dengan dilandasi Kekuatan Pasupati.
"Aaakhh.., hoekkk." darah muncrat dari mulut laki-laki itu.
"Bang " terdengar serangan dikirimkan lagi oleh Wisanggeni, tubuh laki-laki itu terjungkal ke belakang. Tanpa melihatnya lagi, Wisanggeni segera berlari menyusul rekan-rekannya.
__ADS_1
*********