
Belum hari perjalanan akhirnya rombongannya Wisanggeni sampai di kerajaan Logandeng. Tidak mau membuat kerepotan putra laki-lakinya, Wisanggeni sengaja menghentikan kereta kuda mereka di depan sebuah penginapan. Setelah berobat beberapa saat, Wisanggeni baru berencana untuk datang ke istana Kanoman. Dari kabar terakhir, Chakra Ashanka pernah menyampaikan jika dirinya ditempatkan di istana tersebut.
"Sudiro.. ajak putramu Giandra untuk merebahkan tubuhnya di atas dipan. Kasihan beberapa hari anak itu dan kita semua hanya beristirahat di atas kereta. Agar tulang Giandra kembali bisa lurus." merasa khawatir keadaan putra sahabatnya, Wisanggeni meminta Sudiro untuk mengajak putranya beristirahat di dalam kamar.
"Baik Wisang.. kamu sendiri bagaimana? Apakan kalian juga akan istirahat saudaraku?" Sudiro juga bertanya pada Wisanggeni.
Wisanggeni tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu merangkul pundak Parvati dan Rengganis istrinya.
"Putriku juga terlihat sangat kelelahan Sudiro, kamipun juga akan istirahat terlebih dahulu. Sama dengan dirimu dan Giandra." Wisanggeni memberi tanggapan atas perkataan Sudiro.
Akhirnya dua keluarga itu segera masuk dalam kamar. Karena merasa tidak akan lama berada di penginapan itu, Wisanggeni hanya menyewa satu kamar saja untuk dia beristirahat. Apalagi kamar yang mereka tempati memiliki dua dipan kayu di dalamnya.
"Kakang.. tidurlah lebih dulu. Nimas akan membersihkan tubuh terlebih dahulu." sesampainya di dalam kamar, Rengganis meminta suaminya untuk beristirahat.
"Baik Nimas Rengganis.. kakang akan beristirahat sebentar. Mandilah dulu, nanti kita bergantian istirahatnya." dengan cepat Wisanggeni menanggapi perkataan istrinya. Laki-laki itu segera merebahkan tubuhnya di atas dipan.
Rengganis tersenyum melihat suaminya, kemudian perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah Parvati, dan melihat gadis itu masih duduk di kursi.
"Dirimu juga Nimas Parvati.. kita tidak boleh banyak membuang-buang waktu di penginapan ini. Ibunda ingin segera bertemu dengan kakangmu Chakra Ashanka." Rengganis juga memberi tahu putrinya Parvati.
"Baik Bunda.." dengan singkat, Parvati menjawab perkataan ibundanya. Gadis itu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Wisang tersenyum, tanpa bicara laki-laki itu mengikuti keinginan Rengganis. Tidak menunggu lama, Wisanggeni dan Parvati akhirnya sudah terlelap tidur. Melihat keduanya, muncul kehangatan di hati Rengganis. Tidak mau membuang waktu lagi, perempuan itu segera masuk ke dalam kamar mandi.
******
Di istana Kanoman
Chakra Ashanka menerima tamu, utusan dari pihak kerajaan. Laki-laki muda itu segera bergegas menemui utusan tersebut dan menyilakan dua orang itu untuk duduk. Sekar Ratih hanya melihat sekilas tamu yang datang, gadis muda itu segera melanjutkan aktivitasnya yang lain.
"Ada kepentingan apa Ki Sanak, sampai kalian berdua tampak tergesa ingin segera bertemu dengan saya?" Chakra Ashanka segera menanyakan tujuan mereka.
"Ampun Den Bagus.. kami berdua hanya menjalankan perintah dari Raja kerajaan Logandeng dan juga Pangeran Bhadra Arsyanendra. Kedua Paduka menghendaki agar Den Bagus dan pendamping untuk datang ke istana kerajaan. Pengukuhan Den Bagus sebagai Patih pada kerajaan ini akan segera dilaksanakan." salah satu utusan mengawali pembicaraan.
Chakra Ashanka terkejut, anak muda itu menatap kedua tamu yang ada di depannya. Putra Wisanggeni dan Rengganis itu merasa, pengukuhannya dilakukan secara cepat. Dan anak muda itu merasa belum memiliki kecukupan persiapan untuk menerimanya.
"Mohon ampuni kami Den Bagus. Kami sudah mendapatkan pesan dari Pangeran Bhadra Arsyanendra, untuk tidak menerima alasan apapun terkait pengukuhan dari Den Bagus. Mohon Den Bagus untuk memikirkannya." dengan penuh rasa takut, satu utusan yang lain dengan tegas menolak keinginan Chaka Ashanka.
Anak muda itu terhenyak dan meluruskan punggung ke Sandara kursi di belakangnya. Tatapan matanya kosong berusaha menembus dinding kayu jati yang menutup tempat dimana mereka berbincang. Setelah beberapa saat kemudian..
"Baiklah.. aku paham dengan posisi kalian berdua. Terima kasih sudah menyampaikan pesan itu. Aku akan berusaha untuk datang ke istana tepat pada waktunya." akhirnya Chakra Ashanka menyanggupi untuk hadir memenuhi undangan itu.
"Jika begitu.. sepertinya sudah tidak ada lagi urusan penting yang akan kami utarakan. Kami harus segera kembali ke tempat dimana kami bertugas."Setelah memastikan anak muda itu menyanggupi untuk datang pada acara pengukuhan, akhirnya kedua utusan itu saling berpandangan dan tersenyum.
__ADS_1
Keduanya kemudian berdiri dan mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Mereka menggenggam kan kedua tangannya secara bersama-sama, kemudian menundukkan kepala.
"Pergilah.. sampaikan salamku pada Raden Bhadra Arsyanendra." anak muda itu tersenyum dan mengangguk kepala.
Kedua utusan segera pergi meninggalkan tempat itu. Sepeninggalan kedua orang itu, Chakra Ashanka masih terduduk di kursi, dengan pandangan kosong dan bingung anak muda itu belum membuat tindakan apapun.
Dari arah dalam, Sekar Ratih dengan ditemani Ayodya Putri berjalan ke tempat Chakra Ashanka. Kedua gadis muda itu mengamati gerak-gerik anak muda itu, kemudian memutuskan untuk mendatanginya. Tanpa bicara, kedua gadis itu duduk di samping Chakra Ashanka, mereka mengapit anak muda itu di samping Kanan dan kirinya.
"Kakang.. apakah ada yang merisaukan? " melihat anak muda itu termenung,. Sekar Ratih memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya kakang.. kami mengamati perubahan raut wajah kakang dari kamar belakang. Bisakah kakang mempercayai kami untuk berbagi beban yang saat ini dirasakan oleh kakang?" Ayodya Putri menambahkan.
Chakra Ashanka tetap terdiam dan mengambil nafas panjang. Kemudian anak muda itu mengangkat wajahnya, dan melihat ke arah Sekar Ratih dan Ayodya Putri secara bergantian. Kedua gadis itu tersenyum dan mengangguk kepala.
"Kakang diminta untuk segera datang ke istana Nimas.. dan jujur kakang masih ragu dan bingung." dengan suara lirih, anak muda itu menjawab pertanyaan kedua gadis itu.
"Raja dan Raden Bhadra Arsyanendra menghendaki agar upacara pengukuhan dilakukan secepatnya. Padahal kakang sendiri belum sepenuhnya merasa siap untuk menjalankan tanggung jawab sebesar itu." Chakra Ashanka melanjutkan kata-katanya.
"Kakang.. janganlah terlalu banyak untuk berpikir. Semua itu amanah kakang, dan pasti sudah tergariskan oleh takdir. Kami berdua yakin, jika kakang akan sanggup untuk melalui dan menjalankan. Bangunan kakang.., segeralah bersiap. Kami berdua akan menemanimu dan mendampingimu ke istana." Sekar Ratih dan Ayodya Putri kembali menyemangati laki-laki itu.
Mereka bertiga terus melakukan perdebatan. Kedua gadis itu terus berusaha meyakinkan agar anak muda itu optimis dan yakin akan kepercayaan untuk duduk pada posisi jabatan Patih di kerajaan Logandeng. Namun.. lagi-lagi anak muda itu masih memikirkan keragu-raguan. Namun akhirnya..
__ADS_1
"Baiklah Nimas.. aku akan menuruti keinginan kalian. Tapi.. jangan tinggalkan aku, temanilah aku ke istana saat ini juga. Aku akan segera bersiap." Chakra Ashanka segera berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan meninggalkan kedua gadis muda itu.
******