Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 207 Pendekatan


__ADS_3

Tanpa berkedip mata Pangeran Abhiseka menatap wajah Niken Kinanthi yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. Saat ini mereka sedang berada di pendhopo, sambil menikmati singkong dan kacang rebus. Rengganis menyentuh bahu Wisanggeni dengan menggunakan bahunya, untuk memberi tahu sikap Pangeran Abhiseka terhadap Niken Kinanthi, dan tiba-tiba muncul gagasan untuk membuat hubungan mereka berdua menjadi lebih dekat.


"Selamat berjumpa kembali Nimas Niken.." untuk mencairkan suasana, Wisanggeni menyapa Niken Kinanthi.


"Iya Kang Wisang..., tadi saya mendapat informasi dari beberapa murid, tentang kepulangan kang Wisang ke padhepokan ini lagi. Akhirnya Niken meluangkan waktu sejenak untuk menyapa dan menemui kang Wisanggeni." dengan muka cerah. Niken kinanthi menanggapi perkataan Wisanggeni. Tidak bisa dipungkiri, masih sering muncul rasa penyesalan di hati gadis itu, ketika teringat bagaimana dulu dengan pongahnya dia memutuskan pertunangan dengan laki-laki itu, Tetapi bagaimanapun semua sudah terjadi, dan tidak mungkin bagi mereka untuk bersatu kembali.


"Duduklah disini Nimas Niken..., masih tersedia tempat kosong untukmu. Kemarilah..." Rengganis turut menimpali perkataan suaminya, perempuan itu meminta Niken Kinanthi untuk bergabung dengan mereka.


"Baik Nimas Rengganis..." tanpa banyak kata, Niken Kinanthi mengikuti ajakan Rengganis. Perempuan muda itu segera duduk di samping Rengganis. Dari arah depan, tatapan Pangeran Abhiseka tanpa berkedip ditujukan untuk Niken Kinanthi.


"Oh ya  Nimas Niken..., masih ingatkan kamu dengan laki-laki gagah ini?' tiba-tiba Wisanggeni mengingatkan perempuan muda itu dengan Pangeran Abhiseka.


Niken Kinanthi mengalihkan tatapannya dan melihat ke arah Pangeran Abhiseka. Kemudian perempuan muda itu tersenyum dan menganggukkan kepala pada laki-laki dari kerajaan Laksa itu.


"Tidak ada yang akan mudah melupakan Pangeran Abhiseka Akang..., seorang pangeran yang lebih menyukai bertualang, dan hidup di dunia luar. dari pada harus menghitung hari dan menikmati hidupnya di kerajaan dengan banyak pelayan yang melayaninya." Niken Kinanthi menjawab pertanyaan Wisanggeni.


"Kenalkan saya Abhiseka Nimas... Meskipun beberapa kali kita sempat bertemu, tetapi secara formal kita belum pernah saling mengenal. Ijinkan mulai saat ini, saya dapat mengenal lebih dekat pada Nimas Niken Kinanthi." tidak diduga, Pangeran Abhiseka menanggapi pernyataan yang dikatakan Niken Kinanthi dengan wajah riang. Tampak binar di mata laki-laki itu.

__ADS_1


"Sesuka hati Pangeran saja.." Niken Kinanthi menanggapi perkataan Pangeran Abhiseka dengan singkat.


"Ha..., ha.., ha... baiklah. Terima kasih Nimas..., saya akan banyak berusaha untuk dapat mengenal Nimas dengan lebih dekat." sahut Pangeran Abhiseka. Rengganis dan Wisanggeni saling berpandangan, dan akhirnya tersenyum melihat upaya Pangeran Abhiseka yang seperti memiliki ketertarikan terhadap Niken Kinanthi.


"Bagaimana murid-murid yang kamu latih Nimas..?" untuk mencairkan suasana, Rengganis bertanya pada Niken Kinanthi. Perempuan itu mengerti, bagaimana perasaan Niken Kinanthi jika berada di dekat suaminya. Bagaimanapun kejadian beberapa warsa yang lalu, meninggalkan kesan yang dalam bagi keduanya.


"Syukurlah mereka sangat mudah diajak bekerja sama Nimas.., bahkan untuk pertahanan dasar mereka sudah mulai menguasainya. Hanya mungkin suatu saat kita akan melepas beberapa dari mereka, agar mereka bisa belajar bagaimana harus bertahan hidup di dunia luar tanpa pengawalan." Niken Kinanthi mengulas murid-murid yang menjadi tanggung jawabnya.


"Kita bisa mencobanya, jika mereka berniat untuk kembali menemui keluarga mereka. Kita bisa membuat aturan untuk mempertegas hal tersebut. Bagi semua murid yang akan mengunjungi keluarga, diharapkan untuk tidak dijemput oleh pihak keluarganya." Rengganis menanggapi usulan Niken Kinanthi.


*********


Merasa tidak memiliki kegiatan tetap, Pangeran Abhiseka berjalan-jalan di sekitar padhepokan. Melihat Niken Kinanthi yang sedang sendirian di serambi pondhok, laki-laki itu berjalan menghampirinya. Sebelum mendekat, Pangeran Abhiseka mengangkat tangannya, memberi isyarat pada dua pengawalnya untuk tidak mengikutinya. Laki-laki itu tidak mau mengagetkan gadis itu.


"Selamat sore Nimas Niken.., apa yang sedang dilihat di kejauhan?" tanpa berbasa-basi, Pangeran Abhiseka langsung bertanya pada gadis itu. Gadis itu merasa kaget mendengar suara laki-laki di belakangnya, dengan sigap perempuan itu membalikkan badan dan melihat keberadaan Pangeran Abhiseka.


"Menghirup udara segar saja Pangeran.., kebetulan sudah tidak ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tidak ada salahnya melakukan relaksasi dengan memanfaatkan panorama yang disuguhkan oleh alam sekitar." dengan senyuman, Niken Kinanthi menanggapi pertanyaan Pangeran Abhiseka.

__ADS_1


"Tidak keberatan bukan, jika aku berada disini untuk menemani Nimas..? Jika Nimas Niken berkenan, bisakah sore ini Nimas menemaniku jalan-jalan. Aku sudah cukup lama meninggalkan padhepokan ini, dan aku lihat sudah banyak yang berubah disini. Sepertinya saat ini, Nimas Niken lebih mengenalnya dibandingkan aku." tanpa basa-basi, Pangeran bergerak cepat untuk mengajak Niken Kinanthi..


Perempuan muda itu diam sejenak, kemudian mengambil nafas dalam. Setelah menghembuskan nafas panjang, Niken Kinanthi melihat ke wajah Pangeran Abhiseka..


"Baiklah mari pangeran.., arah tujuan kemana pangeran inginkan. Saya akan menemani perjalanan Pangeran." dengan suara lembut, Niken Kinanthi menerima ajakan dari laki-laki tersebut.


Pangeran Abhiseka tersenyum, kemudian perlahan menurunkan kakinya ke halaman. Niken Kinanthi segera mengikuti laki-laki itu, tetapi tiba-tiba Abhiseka berhenti dan melihat ke wajah gadis itu.


"Nimas.., jangan berjalan di belakangku. Kemarilah.., kita bisa berjalan berdua, berdampingan. Aku ingin melihat lembayung senja di pinggir bukit sebelah sana, maukan Nimas menemaniku." Pangeran Abhiseka mengulurkan tangannya, kemudian menarik tangan Niken Kinanthi untuk mensejajarkan langkah bersamanya. Setelah perempuan muda itu berada di sampingnya, perlahan keduanya mulai berjalan menuju ke arah pinggir bukit.


"Cantik sekali sinar matahari yang hampir tenggelam itu Pangeran.., bersemburat jingga. Warna suasana alam menjadi bersemburat jingga semua, sangat cantik dan indah.." dengan ceria, Niken Kinanthi berteriak mengagumi pemandangan alam di sekitarnya.


"Apalagi tatkala sinar itu menerpa wajahmu Nimas..., wajahmu yang cantik bertambah menjadi sangat cantik. Lebih bersinar.." tanpa diduga, Pangeran Abhiseka memuji wajah Niken Kinanthi. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya baru saja, Niken Kinanthi menatap wajah Abhiseka. Laki-laki itu tersenyum dan menganggukkan kepala dengan mantap.


Wajah Niken Kinanthi menjadi tersipu, semenjak kejadian beberapa warsa yang lalu, tatkala gadis itu memutuskan pertunangan dengan Wisanggeni, Niken Kinanthi memang tidak pernah membiarkan ada laki-laki yang mendekatinya. Gadis itu masih memiliki harapan untuk berada di samping Wisanggeni, meskipun dia juga tahu jika sudah ada dua perempuan cantik di samping laki-laki yang sangat dipujanya itu. Tetapi saat ini, ketika mendengar Pangeran Abhiseka yang sedang memujinya, tiba-tiba hatinya menjadi berdetak lebih kencang. Tidak bisa dipungkiri, ada rasa malu terselip di hatinya saat ini.


**********

__ADS_1


__ADS_2