
Tampak keramaian di pesanggrahan Alap-alap, mereka mengadakan sebuah pesta meriah karena kesembuhan Tumbak Seto. Sebagai orang kedua dalam perkumpulannya, laki-laki itu memiliki posisi tinggi dalam organisasinya. Beberapa orang duduk di pendhopo sambil meminum arak, dan banyak perempuan muda berpakaian minim tampak mendampingi laki-laki yang ada disitu. Penari ledhek dan reog tampak mengiringi beberapa laki-laki yang ikut menari bersama mereka.
"Ha.., ha.., ha.., kita harus segera memulai penyerangan kita ke berbagai wilayah yang ada di negeri ini. Beberapa klan sudah mulai bergabung dengan kekuatan kita, dan mereka yang membangkang sudah kita habiskan." teriak Tumbak Seto sambil memegang kendi berisi arak dan tuak.
"Benar apa yang kamu katakan kakang. Bahkan Jagadklana juga secepatnya akan kita tundukkan. Meskipun saat ini Laksito sedang dalam masalah, tetapi kekuatan yang dimilikinya tidak bisa kita anggap remeh. Diam-diam mereka sudah bergerak untuk memprovokasi lawan." adik seperguruan Tumbak Seto yang bernama Badar ikut berbicara.
"Jika begitu, kita harus terus berusaha untuk memecah belah mereka. Aku juga mendengar kabar, Klan Bhirawa sudah kembali besar saat ini. Putra Mahesa kedua beserta pasangannya yang mengkoordinasi mereka." lanjut Tumbak Seto.
"Baik.., kita akan terus lakukan strategi untuk memecah belah lawan-lawan kita. Sekarang kita nikmati dulu malam ini, puaskanlah kalian. Banyak wanita yang kita rampas dan kita paksa untuk memuaskan kita malam ini. Ha.., ha.., ha..." terdengar suara tertawa terbahak di sekeliling ruangan itu.
"Ehm.., hmmm.., terus puaskan aku Rayi..., tubuhmu betul-betul sintal sekarang. Akan aku hujani kamu dengan kekayaan, emas, intan, maupun berlian jika kamu bisa memuaskan aku malam ini." di pojok ruangan pendhopo, seorang laki-laki tanpa mengenal malu sedang melakukan adegan mesum dengan perempuan nakal. Pakaian mereka sudah bertebaran kemana-mana, dan di tengah keramaian suasana pesta, beberapa pasangan melampiaskan naf**su bejat mereka.
Di pojok kegelapan, seorang laki-laki berewok geleng-geleng kepala sambil tersenyum memperhatikan para anak buahnya. Laki-laki tua itu perlahan kembali masuk ke dalam kamar, dan sudah ada dua orang wanita yang menunggunya untuk memberikan layanan intim padanya. Laki-laki itu adalah Sarkawi.., pemimpin tertinggi gerombolan Alap-alap.
***************
Wisanggeni mengajak Rengganis untuk menemui ayahnda dan kedua kakaknya, setelah mendapat ijin dan persetujuan dari Ki Sasmita dan Ibunda Rengganis. Dengan menggunakan Singa Ulung, kedua orang itu tidak menggunakan perahu untuk menyeberangi telaga. Terlebih dulu, Wisanggeni berniat untuk mampir terlebih dahulu ke desa yang pernah dia gunakan persinggahan sebelumnya, dia ingin secara resmi mengenalkan istrinya pada Kepala Desa dan teman-temannya yang sudah meninggalkannya saat dia masih bersemedi di pemakaman kuno.
"Berapa lama Akang.., kita akan mampir ke desa yang sudah Akang ceritakan pada Rengganis?" tanya Rengganis yang duduk di depan Wisanggeni di atas Singa Ulung.
__ADS_1
Wisanggeni menyibakkan rambut istrinya, kemudian mencium puncak kepalanya.
"Nanti kita akan lihat keadaan dulu Nimas.., percayalah pada Akang. Disana nanti Nimas akan kerasan dan enggan untuk meninggalkan desa itu." ucap Wisanggeni membuat Rengganis penasaran.
"Baik Akang.., dimanapun asalkan ada Akang yang menemani, Rengganis pasti akan baik-baik saja." ucap Rengganis sambil menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu.
"Singa Ulung.., turunkan kami langsung ke desa tempat kita dulu menginap ya!" karena sudah membawa Rengganis, dan tidak perlu lagi menutupi jati dirinya, Wisanggeni sudah tidak akan merahasiakan Singa Ulung. Karena pertandingan adu kanuragan di Jagadklana saat perayaan tahunan, sudah menyebar ke seluruh penjuru wilayah.
"Akang..., apakah akang tidak melihat kejanggalan di bawah sana?" Rengganis menunjuk situasi di bawah.
Wisanggeni mengerenyitkan keningnya, mata batinnya tidak dapat menembus suasana di bawah sana. Hanya sepi tanpa ada aktivitas yang dapat di saksikan.
"Ya Akang..., mari kita lihat situasi dibawah. Semoga hanya perasaan buruk kita saja, di bawah tidak terjadi apa-apa." Rengganis berharap dalam hati, tetapi gadis itu tidak dapat membohongi hatinya yang dilanda kecemasan.
Tidak menunggu pengulangan perintah, Singa Ulung segera menukik turun dari angkasa. Singa Ulung tetap mengepakkan sayapnya, dan binatang itu tetap terbang rendah. Mata Wisanggeni terbelalak melihat pemandangan yang ada di bawah sana. Banyak pohon-pohon bertumbangan, rumah-rumah penduduk yang hancur terbakar, dan hanya suasana sepi tanpa aktivitas penduduk tergambar disana.
Wisanggeni mengambil nafas dalam dengan geram matanya berkilat melihat pemandangan itu. Rengganis yang sudah lama berdiam di rumah, dia menggigil menahan marah.
"Tetaplah berada di punggung Singa Ulung Nimas!! Akang mau berjalan untuk melihat-lihat suasana di bawah." ucap Wisanggeni meminta Rengganis untuk menunggunya diatas.
__ADS_1
Singa Ulung mengerti apa yang dimaksud Wisanggeni, binatang itu kembali menukik turun. Secepat kilat, Wisanggeni langsung melesat turun. Singa Ulung tidak terbang menjauh, tetapi tetap mengikuti laki-laki muda itu diatasnya bersama Rengganis.
"Biadab..., ulah kejam siapa ini?" dengan suara bergetar, Wisanggeni mendatangi beberapa tubuh yang bergelimpangan penuh luka. Laki-laki muda itu berjongkok, jarinya dia gunakan untuk mengoles darah yang terlihat masih segar, kemudian mencium bau amis darah itu.
"Korban ini belum lama, manusia apa yang memiliki kekejaman ini?" Wisanggeni menggunakan kekuatan Pasopati menggali tanah, kemudian memasukkan lima tubuh yang sudah meninggal itu ke dalam lobang yang baru selesai dia buat.
Setelah semuanya selesai, dan kelima orang itu sudah dikuburkan dengan layak, Wisanggeni mengibaskan tangannya untuk membersihkan debu yang menempel.
"Kang Wisang..., di arah sudut jam tiga sepertinya masih ada mayat yang bergerak. Mungkin saja orang itu masih hidup Akang." Rengganis berteriak dari atas punggung Singa Ulung, sambil jarinya menunjuk ke arah yang dia sebutkan.
"Happ..." dengan sigap, tubuh Wisanggeni langsung meloncat menuju arah yang ditunjukkan Rengganis. Laki-laki muda itu langsung berlari mendekati tubuh seorang laki-laki yang sedang berjuang untuk bertahan hidup. Tangan laki-laki itu menggapai mencoba mencari pertolongan.
"Sabarlah Ki Sanak..., aku akan menolongmu." Wisanggeni langsung menotok darah untuk menghentikan darah yang terus mengalir.
Tangan kanannya masuk ke dalam kepis, kemudian memasukkan pil penghilang rasa sakit ke mulut laki-laki tersebut. Setelah beberapa saat, orang tersebut sudah bisa diajak untuk berkomunikasi.., Wisanggeni kemudian menyandarkan tubuh laki-laki itu pada sebatang kayu.
"Bukannya kamu adalah Wisanggeni??" tanpa diduga, ternyata laki-laki itu adalah Wiyono.., warga desa yang pernah dia gunakan untuk menginap dulu.
"Iya aku adalah Wisang kang.., ceritakan padaku apa yang sudah terjadi di kampungmu!"
__ADS_1
*****************