Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 375 Pembelajaran Kehidupan


__ADS_3

Laki-laki yang merampas bungkusan keping koin dari tangan Ayodya Putri sangat terkejut dengan kekuatan gadis yang berdiri di depannya itu. Kekuatan jari yang selalu menjadi andalannya, ternyata hanya menjadi mainan anak kecil di depan gadis itu. Laki-laki itu memutar otak untuk melarikan diri dari tempat itu, dengan tetap membawa keping koin yang ada di tangannya. Namun.. mata gadis muda itu selalu lekat tidak melepaskannya pergi dari situ.


"Aku akan mencoba sekali lagi Ajian Jari Membengkak, dan akan aku tembakkan langsung ke punggung gadis ini. Aku yakin dia tidak akan menyangka, jika aku mengirimkan serangan dari belakang." laki-laki itu kembali memutar otak, mencoba berpikir untuk mencari kelengahan Ayodya Putri.


Tetapi yang sebenarnya terjadi, dengan senyum sinis.. gadis muda itu sepertinya tidak akan memberikan jalan keluar sedikitpun pada penjambret itu. Dengan sorot mata tajam dan tatapan yang menghunus, Ayodya Putri mengikuti gerak-gerik laki-laki itu dengan menggunakan matanya.


"Ajian Jari Membengkak.. seranglah gadis itu kembali.... Duarr...." tiba-tiba teriakan kembali keluar dari mulut laki-laki itu, sebuah kekuatan yang dhasyat kembali keluar dari tangan raksasa laki-laki itu, mengincar punggung Ayodya Putri. Mendapatkan ancaman dari sisi belakangnya, Ayodya Putri tiba-tiba menundukkan badannya ke depan, dan tidak diduga kaki kanan gadis itu melayang ke atas.


"Duaak... bluarr..." sebuah tendangan yang dilapisi kekuatan tenaga dalam, dengan tepat menghantam dada laki-laki itu. Cairan darah melompat keluar dari mulut laki-laki jahat itu.


"Kamu.., kamu berani menindasku perempuan ******..." laki-laki itu menunjukkan jarinya ke wajah Ayodya Putri, dan satu tangannya terlihat memegangi perutnya yang terlihat kesakitan. Ayodya Putri berjalan maju ke depan, dan tangan kanan gadis itu tiba-tiba menangkap satu tangan laki-laki itu, kemudian dengan tenaganya yang tidak terlihat, dapat mengangkat tubuh laki-laki itu ke atas.

__ADS_1


"Gedubrak.. bukkk..." tidak disangka, tubuh laki-laki itu terbanting ke tanah dengan kerasnya. Mata laki-laki itu melotot, hampir terlempar keluar. Sama sekali laki-laki itu tidak menyangka, jika dengan mudahnya gadis di depannya itu mengangkat tubuh besarnya dan membantingnya ke atas tanah,


"Bangunlah.. keluarkanlah kembali kekuatanmu jika kamu masih penasaran denganku. Ayo bangunlah.. apa perlu aku berikan bantuan untuk membangunkanmu.." dengan sinis, Ayodya Putri kembali mendekati laki-laki itu. Wajah laki-laki tinggi besar itu, saat ini sudah tidak enak untuk dilihat. Darah hampir membasahi sekujur tubuh dan juga wajahnya. Mukanya mengalami bengkak dan seketika warna biru kehitaman mendominasi wajah laki-laki itu.


Laki-laki itu mencoba untuk mengangkat tubuhnya untuk berdiri, tetapi baru saja satu kakinya bisa dia tekuk, tubuhnya kembali terjerembab ke atas tanah. Dengan sadis, tangan Ayodya Putri menarik bungkusan yang ada di tangan laki-laki itu, kemudian membuka dan melihatnya sebentar. Setelah memastikan tidak ada keping koin yang hilang, gadis itu kemudian membalikkan badan, kemudian berjalan meninggalkan laki-laki itu.


Dengan wajah penuh ketakutan, mengetahui jika gadis itu sudah berjalan pergi untuk meninggalkannya, laki-laki itu berusaha untuk bangun berdiri. Tidak ada seorangpun yang ada disitu memiliki niat untuk memberinya pertolongan. Sambil menyeret kakinya, laki-laki itu segera meninggalkan tempat itu. Tepuk tangan dari orang-orang bersorak sorai memberi sorak pada laki-laki itu.


********


"Kenapa kakang tidak memberi pertolongan pada Putri, malah hanya bertindak sebagai penonton saja. Kan Putri jadi malu..?" gadis muda itu berbicara pada Chakra Ashanka sambil memprotes tindakan anak muda itu.

__ADS_1


Tidak diduga, Chakra Ashanka bukannya menjawab dengan kata-kata. Anak muda itu mengangkat tangannya ke atas, kemudian mengacak-acak rambut Ayodya Putri, kemudian berjalan meninggalkan gadis muda itu. Rengganis hanya tersenyum, kemudian berjalan mengikuti Chakra Ashanka, demikian juga dengan Sekar Ratih. Dengan muka dan pandangan bingung, Ayodya Putri segera berjalan kaki mengikuti langkah ketiga orang yang ada di depannya.


Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu berhenti di depan para pengemis yang duduk di pinggir jalan, Setelah menghitung jumlah keping koin di dalamnya, mereka membagi rata jumlah kepingan koin tersebut, dan memberikannya pada para pengemis itu. Ayodya Putri tidak bersuara, dengan takjub gadis muda itu hanya memandangi sikap dan perlakuan ketiga orang di depannya itu. Selama ini, dia sebagai seorang putri keturunan bangsawan, belum pernah berinteraksi langsung dan membagi sebagian rejeki kepada orang-orang yang membutuhkan. Kali ini gadis ini melihatnya secara langsung, muncul terselip kebahagiaan di sudut hatinya melihat bagaimana orang-orang itu merasa bahagia mendapatkan pembagian kepingan koin tersebut.


"Apa yang membuatmu terharu Nimas Putri.., kenapa kelopak matamu tergenang air mata?" Ayodya Putri kaget, karena tanpa disadarinya, Bibi Rengganis sudah berada di sampingnya. Dengan suara pelan, perempuan itu bertanya kepadanya. Dengan cepat, Ayodya Putri menggunakan ujung baju atasannya untuk mengusap air mata yang menggenangi kelopak matanya.


"Tidak Bibi.. Putri hanya merasa tidak tega pada orang-orang itu. Selama ini, kemana saja Putri, sampai tidak bisa merasakan penderitaan orang-orang yang berada di dalam garis kemiskinan. Dunia selama ini telah menyilaukan kehidupan Putri ... Bibi, kali ini Putri benar-benar mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang berharga." dengan suara tercekat, Ayodya Putri memberi jawaban pada pertanyaan yang diucapkan Rengganis.


"Kamu sebenarnya gadis yang baik Nimas Putri.., hanya saja selama ini tidak ada yang mengarahkanku, memberi tahumu, mana yang boleh dilakukan, dan mana yang tidak boleh. Hal itu akan membentuk watak manusia menjadi sombong, memiliki hati yang keras. Bersyukurlah.. kamu masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya." dengan tutur kata keibuan, Rengganis memberikan wejangan kepada gadis muda itu.


Tidak diduga, Ayodya Putri membalikkan badan. Gadis itu memberi pelukan pada perempuan itu. Rengganis tersenyum, dan membalas pelukan itu. Perlahan usapan lembut di punggung gadis itu diberikan oleh Rengganis. Dari depan, Chakra Ashanka dan Sekar Ratih tersenyum melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya itu.

__ADS_1


"Baiklah.. ayo kita segera lanjutkan perjalanan kita. Jika kita berjalan dengan santai, pasti menjelang sore kita sudah akan sampai di markas Trah Bhirawa. Kita akan berikan kejutan pada Eyang, paman, ayahnda dan juga pada Nimas Parvati." setelah melihat Ayodya Putri sudah bisa menguasai dirinya kembali, Rengganis segera mengajak mereka untuk kembali bersiap.


***********


__ADS_2