
Beberapa saat suasana di pendhopo Kraton Kilen hening. Chakra Ashanka yang juga masih belum bisa memahami perkataan ayahnda dan ibundanya memutuskan untuk menyingkir sebentar dari tempat itu. Jika hanya karena dirinya, sudah menjadi pejabat kerajaan, maka dia harus membangun sebuah sekat pemisah, maka lebih baik keputusannya itu dia batalkan. Tiba-tiba Chakra Ashanka terlupakan tentang keberadaan Sekar Ratih dan Ayodya putri. Sejak tadi, ketika dia melakukan adu kekuatan dengan ki Bawono, sudah meninggalkan kedua gadis muda itu di depan Sitihinggil.
"Ayahnda.. ibunda.. dan Kanjeng Sinuhun.. Ijin saya untuk keluar dan kembali ke Sitihinggil. Rupanya saya terlupakan, jika sudah meninggalkan nimas Sekar ratih dan Nimas Ayodya Putri di tempat itu." dengan alasan kedua gadis itu, Chakra Ashanka meminta ijin pada semuanya.
"Baiklah.. jemput mereka dan bawa mereka kesini putraku.." suara tegas Wisanggeni mengijinkan putranya.
Tanpa banyak berpikir dan bicara, Chakra Ashanka kemudian berjalan mundur, kemudian membalikkan badan dan berjalan keluar dari areal Kraton Kilen. Bhadra Arsyanendra tersenyum melihat anak muda itu, sebagai sesama anak muda, dirinya memahami apa yang sejak tadi digundahkan oleh Chakra Ashanka,
"Paman.., Bibi.. Nimas Parvati.. mungkin kita bisa membuat sebuah kesepakatan yang akan menjadi pegangan kita bersama." tiba-tiba Bhadra Arsyanendra membuka pembicaraan kembali.
"Maksud Kanjeng Sinuhun.., apakah bisa diperjelas, sehingga kami bertiga lebih mudah untuk memahaminya." Wisanggeni memberi tanggapan. Kedua perempuan di sampingnya, juga melihat dengan penuh minat apa yang ingin disepakati oleh anak muda itu.
Bhadra Arsyanendra tersenyum, kemudian melihat ke depan.
"Pada saat tidak ada orang lain di sekeliling kita, kecuali para pengawal inti, paman, Bibi, Nimas Parvati tetap memanggil Bhadra dengan panggilan seperti biasa. Tetapi pada saat kita berada di keramaian, dan terutama ketika kita berada di kerajaan Logandheng, kalian bertiga bisa menyebut Bhadra dengan panggilan layak diberikan untuk seorang raja. Bhadra harap, tidak ada penolakan akan kesepakatan, ini Bhadra lebih memilih membatalkan kedudukan ini." dengan suara tegas, kata-kata yang terucap dari mulut anak muda itu mengejutkan semua yang ada di sekitar tempat itu. Bahkan para pengawal yang mendengar, saling bertatapan.
__ADS_1
Wisanggeni, Rengganis, dan Parvati terdiam. Permintaan itu memang sangat berat, karena posisi anak muda itu saat ini memang sudah berbeda. Hal itu juga akan berlaku pula untuk putra mereka Chakra Ashanka, merekapun juga harus melakukan hal yang sama.
"Bagaimana paman, Bibi.. Nimas.. bukankah usulan Bhadra merupakan salah satu pilihan yang tepat. Kita tetap akan selalu menghargai pada posisi dan waktu yang tepat.. Bhadra harap tidak ada penolakan tentang permintaanku ini." ucap anak muda itu lirih.
Setelah beberapa saat mereka terdiam, terlihat Wisanggeni mengambil nafas panjang kemudian laki-laki itu menganggukkan kepala secara perlahan. Wajah Bhadra Arsyanendra tampak berbinar-binar cerah//
"Baik Kanjeng SInuhun... kami akan menyetujuinya." ucap Wisanggeni lirih, tanpa bermaksud untuk berlaku kurang ajar dengan anak muda di depannya itu.
Para pengawal yang mendengar dan melihatnya, mereka hanya bisa berbisik-bisik. Mereka tidak akan bisa menolak keinginan dari raja mereka, atau akan disebut sebagai pembangkang.
"Tunggu Kanjeng SInuhun... jika diperkenankan, kami ingin meminta sebuah kesepakatan. Beri ijin saya dan keluarga untuk menemui Ki Bawono terlebih dahulu. Melihat bagaimana hubungan kami di masa lalu. dan pada masa sekarang laki-laki itu dan anak buahnya menolak pengukuhan putra kami, saya ingin menemui dan meminta persetujuan dari laki-laki tua itu. Mohon beri ijin kepada kami.." Wisanggeni meminta ijin untuk bertemu dengan Ki Bawono.
Memahami kekerasan hati Wisanggeni dan keluarganya, Bhadra Arsyanendra tidak memiliki sebuah pilihan, selain untuk mengabulkan permintaan itu. Dengan tegas, raja kerajaan Logandheng itu menganggukkan kepalanya ke bawah.
*********
__ADS_1
Sekar Ratih dan Ayodya Putri berjalan menemui Wisanggeni dan Rengganis, Kedua perempuan itu memberi hormat kepada kedua orang tua Chakra Ashanka, dan terlihat Parvati melihat keduanya sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian, ayahnda Chakra Ashanka berdiri..
"Paman dan Bibi akan ke tempat perawatan Ki Bawono.. Apakah kalian akan tetap berada di kraton Kilen ini, ataukah mengikuti kami..?" Wisanggeni mengucapkan pemberi tahuan tentang tujuannya.
"Ayahnda.. kami juga akan ikut menemui Ki Bawono ayah. Ijinkan kami ikut serta.. Karena Ashan juga tidak mau, dalam masa Ashan menduduki jabatan Patih kerajaan, ada warga masyarakat kerajaan Logandheng yang tidak menyetujui jabatan ini. Karena akan bisa menjadi sesuatu yang menghambat kesuksesan pelaksanaan tugas sebagai patih ke depannya nanti." Chakra Ashanka mengajak kedua gadis muda yang datang bersamanya itu, untuk mengikuti kedua orang tuanya.
Akhirnya enam orang itu keluar secara bersama-sama dari Kraton kilen, untuk menuju tempat perawatan Ki Bawono. Dua pengawal yang ditugaskan untuk memberikan mereka pengawalan, berjalan di depan untuk menunjukkan arah mereka dan juga memberikan pengawalan mereka agar sampai di tujuan dengan selamat. Sebenarnya perlakuan seperti ini yang tidak diinginkan oleh orang-orang itu, namun karena mereka tidak berada di tempat mereka sendiri, tidak ada pilihan lain selain mengikuti tata cara dan adat istiadat kerajaan.
"Den bagus.. di pendhopo yang banyak orang sedang duduk-duduk itu, Ki Bawono dibaringkan di dalam. Meskipun Kanjeng SInuhun Bhadra Arsyanendra sudah memerintahkan untuk kembali ke tempat asal mereka, namun rupanya mereka tetap ingin bersama menunggui Ki Bawono. Betul-betul laki-laki tua itu merupakan laki-laki yang sangat beruntung. Banyak anak muda yang setia kepadanya.." salah satu pengawal memberikan petunjuk arah pada Wisanggeni.
"Iya Ki Sanak.. menurutku apa yang saat ini diterima Ki Bawono.. merupakan bentuk karma baik yang sudah dilakukan laki-laki itu di masa silam. Kali ini.. paman tua itu sedang menerima balasan baik, dengan mendapatkan anugrah para murid yang taat dan setia. Sangat beruntung laki-laki itu.." sambil tersenyum, Wisanggeni memuji Ki Bawono di hadapan dua pengawal kerajaan itu.
"Betul Den Bagus.. hal itu bisa memberikan motivasi kepada kami yang lebih muda. Untuk tidak sembarangan dalam bertingkah laku, karena semua pasti akan ada balasannya." pengawal itu kembali menanggapi.
Melihat kedatangan Wisanggeni, laki-laki yang sudah memberikan pertolongan pada Ki Bawono, orang-orang yang bersama dengan paman tua itu berdiri. mereka memberikan penghormatan pada Wisanggeni dan orang-orang yang datang bersamanya, Wisanggeni dan rombongan mengangkat tangan mereka, dan menggenggamnya di depan dada mereka, kemudian naik ke atas pendhopo.
__ADS_1
********