
Parvati terkejut ketika bangun tidur di pagi hari, karena di pendhopo terdengar suara riuh orang-orang yang sedang berbicara. Gadis itu segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pendhopo, dan mata gadis muda itu terbelalak. Eyang Mahesa, paman Widjanarko, bibi Kinara, paman Lindhu Aji, Bibi Larasati, serta kedua saudara sepupunya tampak berbincang dengan ibundanya. Di sudut pendhopo yang lain, juga tampak teman ayahndanya Wisanggeni yang menjadi raja kerajaan Laksa yaitu Abhiseka beserta istrinya Niken Kinanthi juga tampak berada di tempat itu. Sedikitpun Parvati tidak menyangka, jika untuk mengikatkan janji dalam perkawinan dengan Dananjaya, ternyata ayahndanya mendatangkan semua keluarga dan teman dekatnya.
"Calon pengantin sudah bangun ternyata, kemarilah cucuku Nimas Parvati.." melihat kemunculan Parvati, Ki Mahesa memanggil gadis itu untuk datang mendekat.
"Eyang kakung.., paman Janar, paman Aji, Bibi Laras, dan Bibi Kinar.. Nimas Parvati menghaturkan salam, selamat datang di padhepokan ini. Juga kalian berdua kakang.." Parvati dengan ramah menyapa dan menyalami semua anggota keluarganya yang berada di pendhopo.
Ki Mahesa memeluk erat tubuh Parvati, laki-laki itu terlihat sangat bahagia sampai air mata menitik dari kelopak matanya. Dalam usianya yang sudah tidak tergolong muda lagi, cucunya sudah akan melangsungkan perkawinan, bukan hanya satu, tapi kedua cucunya yaitu Parvati dan Chakra Ashanka.
"Bagaimana kabarmu cucuku.. kamu harus menjaga kondisi kesehatanmu.. besok sore acara pengikatan janji dengan nak mas Dananjaya akan dilakukan, bersamaan dengan kakangmasmu Chakra Ashanka dan Nimas Sekar Ratih. Kita masih harus menunggu keluarga dari Trah Jagadklana.. kata ayahndamu diperkirakan nanti malam, mereka sudah akan sampai di tlatah padhepokan." dengan berbicara pelan sambil tersenyum, Ki Mahesa memberi nasehat pada Parvati.
"Baik Eyang.. jujur Nimas merasa deg-degan eyang.. rasanya belum siap. Dalam usia semuda ini, sudah harus menjalin ikatan suami dan istri.." Parvati menundukkan kepalanya.
"Hilangkan rasa was-wasmu Nimas.. malah merupakan hal yang bagus. Nimas bisa berkelana mencari pengalaman dan kanuragan, dengan bersama-sama dengan suami Nimas. Hal itu akan membantu melindungi kita, dari gangguan mata laki-laki lain.." dari kursi samping, Larasati turut memberi nasehat pada keponakannya itu.
"Iya Bibi Laras.. mohon doa dan dukungannya Bibi.. agar Nimas dapat menjalani semuanya dengan hati yang ikhlas, dan semua bisa berjalan lancar." dengan senyum pias, Parvati memohon doa dan dukungan dari semua anggota keluarganya.
__ADS_1
Larasati dan Kinara memeluk Parvati secara bergantian, mereka teringat ketika mereka berusia muda seperti Parvati saat ini. Mereka belum terpikir untuk menjalin ikatan resmi, bahkan Larasati harus menunggu kepastian dari ayahnda Parvati dan berharap akan dipinang oleh laki-laki itu. Ternyata jodohnya malah kakangmas dari laki-laki yang dicintainya. Begitu juga Kinara.. perempuan itu menunggu Widjanarko untuk waktu yang lama.
"Nimas... dimana kakangmasmu Chakra Ashanka.. kenapa jam segini belum keluar dari dalam senthong..?" tiba-tiba ibunda Parvati yaitu Rengganis bertanya pada gadis itu.
"Kurang tahu bunda.. tapi sepertinya kang Ashan pergi ke padhepokan luar. Sepertinya bertemu dengan kang Arya dan kang Dananjaya, karena kemarin Nimas lihat ketiganya sedang membicarakan sesuatu. Tapi Nimas tidak ikut mendengarnya bunda.." Parvati menjawab pertanyaan yang diberikan ibundanya.
"Jika memang sedang ke padhepokan luar biarkan saja, karena sejak kemarin Bunda melihat kakangmasmu seperti dalam keadaan bingung. Mungkin masih ada kegamangan dalam hatinya, karena tidak lama lagi sudah akan mengakhiri masa lajangnya. Dengan berkumpul dengan nak mas Dananjaya dan Arya, mereka akan bisa saling berbagi dan saling menguatkan.." Rengganis menanggapi perkataan Parvati.
********
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Dua pasang pengantin yang sudah diikrarkan janji mereka dengan disaksikan oleh para sesepuh, saat ini duduk di pelaminan. Tampak rasa malu bercampur kebahagiaan terlihat di wajah Parvati dan Sekar Ratih. Kedua anak laki-laki yang duduk di samping pengantin perempuan, tanpa henti terus menggenggam tangan pasangan hidupnya.
Di sudut pendhopo terlihat wajah Bhadra Arsyanendra yang tampak termenung, hati anak muda itu seperti tidak rela melihat Parvati bersanding dengan Dananjaya. Tetapi laki-laki muda itu harus kuat, karena kehadirannya di padhepokan Gunung Jambu juga untuk memberikan dukungan spiritual pada Chakra Ashanka. Untuk itu meskipun, ada rasa perih melihat kebahagiaan gadis yang dicintainya itu di pelaminan, laki-laki itu tetap menguatkan hatinya.
"Bagaimana keadaan kanjeng Sinuhun.. apakah masih akan tetap bertahan disini, atau mundur ke belakang." seakan ikut merasakan kesedihan dan duka di hati rajanya, penasehat kerajaan Logandheng bertanya pada Bhadra Arsyanendra.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa paman.. sampai acara ini berakhirpun, aku masih akan kuat. Jika hanya karena hal seperti ini aku menjadi orang yang lemah, mana pantas aku untuk memimpin sebuah kerajaan. Untuk itu paman.., biarkan aku sendiri, aku akan menikmati rasa sakit ini untuk membuat diriku semakin kuat." sambil tersenyum kecut, Bhadra Arsyanendra menjawab pertanyaan sesepuh kerajaan.
"Baiklah jika begitu mau kanjeng SInuhun. Saya akan mengambil minuman dan makanan di sudut sana. Apakah kanjeng SInuhun juga mau, nanti sekalian saya ambilkan.." Bhadra Arsyanendra mengangkat tangannya ke atas, menolak tawaran dari penasehat itu.
Penasehat kerajaan mengambil nafas dalam, kemudian berjalan meninggalkan Bhadra Arsyanendra sendiri. Tampak raja Abhiseka sedang berbincang serius dengan Wisanggeni yang sudah turun dari pelaminan. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang mereka bicarakan. Bahkan kedua istri mereka, ditinggalkan begitu saja, tidak dilibatkan dalam perbincangan itu.
"Apa rencanamu Wisang.. apakah dirimu dan Rengganis akan tetap bertahan di padhepokan ini.. Kedua putramu, aku yakin akan mengikuti keluarganya, apalagi nak mas Chakra Ashanka sudah menjadi patih di kerajaan Logandheng. Sedangkan Nimas Parvati.. seusai acara perkawinan ini, aku yakin akan dibawa pergi oleh Dananjaya ke bumi Sriwijaya." dengan suara pelan, Abhiseka bertanya pada Wisanggeni.
Wisanggeni tersenyum, dan melamun beberapa saat. Apa yang dikatakan oleh sahabat baiknya ada benarnya juga, karena tidak mungkin untuk selamanya kita akan bergantung pada anak. Apalagi jika anak yang kita punya, sudah menetapkan pilihan dan sudah melangsungkan perkawinan.
"Kembalilah ke kota Laksa.. Wisang.. Kami membutuhkanmu di kerajaan. Aku dan Nimas Niken Kinanthi tidak akan menganggapmu dan Nimas Rengganis sebagai bawahan, namun akan kami posisikan sebagai penasehat kerajaan. Bagaimana penawaranku.. kamu mau menerimanya bukan..?" Abhiseka bertanya dengan mimik serius.
"Sepertinya kami harus mengecewakanmu Abhiseka. Aku dan Nimas Rengganis sudah memiliki rencana untuk pergi dari padhepokan ini. Kami berdua akan ngenger di belahan lain bumi ini, apalagi sudah tidak ada beban berat yang kami tanggung. Dua putra kami sudah menetapkan jalan mereka masing-masing. Jika masih ada umur panjang, aku yakin kita akan dapat berjumpa lagi Abhiseka." sambil tersenyum kecut, Wisanggeni menyampaikan rencananya di masa depan dengan istrinya.
Memang selama mereka memiliki putra, waktu berdua melakukan perjalanan memang sudah sangat jarang. Mereka memiliki tanggungan untuk menjaga putra dan putri mereka, sehingga salah satu harus tinggal di padhepokan menemani kedua putra mereka.
__ADS_1
**********