Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 115 Bertahan


__ADS_3

Tiga hari tiga malam.., Wisanggeni dan Rengganis bertahan di bawah guyuran air terjun. Titik-titik akupuntur dan peredaran darah di sekujur tubuh keduanya membuka, aliran darah mengalir dengan lancar. Tepat pada malam hari, Wisanggeni dan Rengganis membuka matanya dengan perlahan. Aliran air warna ungu yang kemarin mereka lihat ikut turun bersama dengan derasnya, air sudah tidak ada lagi. Kedua orang itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Byur.." tiba-tiba air terjun seperti menendang mereka. Akhirnya mereka tercebur ke dalam mata air, dan mereka merasakan suatu keanehan. Di tengah malam, mereka sedikitpun tidak merasakan kedinginan. Kedua orang itu kemudian berenang ke arah pinggir mata air.


"Kita harus segera menepi dan kembali ke daratan Nimas. Kemana ya Singa Ulung.., kenapa Akang tidak melihat binatang itu?" Wisanggeni mengedarkan pandangan ke sekeliling, tetapi dia tidak menemukan keberadaaan dari SInga Ulung.


"Mungkin binatang itu mengunjungi kerabatnya Akang. Benar.., ayo kita segera menepi dan berganti pakaian." Rengganis berjalan lebih dulu ke tepian mata air. Wisanggeni agak belakangan, laki-laki itu menangkap 2 ekor ikan, kemudian mengikuti di belakang Rengganis.


Beberapa saat setelah mereka berganti pakaian, Wisanggeni membuat api dengan menggunakan ranting-ranting kering yang banyak berserakan disitu. Laki-laki itu membakar ikan dengan membubuhi dengan garam di atasnya.


"Nimas.., makanlah dulu ikan bakar ini! Tapi hati-hati.., daging ikannya masih agak panas. Durinya besar, jadi bisa dilihat jelas dengan mata. Tidak perlu khawatir kita akan tersedak duri." Wisanggeni menyerahkan satu tusuk ikan bakar pada Rengganis. Tangan satunya masih membolak-balik ikan, dan memastikan jika ikan yang dia bakar sudah matang.


"Enak ikan bakarnya Akang.. dagingnya banyak." Rengganis memuji ikan bakar buatan suaminya.


"Ya pasti enak Nimas.., karena selama tiga hari tiga malam, kita puasa. Tidak ada sedikitpun makanan yang masuk ke perut kita. Minum air putih juga terasa manis." Wisanggeni menggoda Rengganis.


"Bisa juga Akang bicara. Tapi memang benar juga.." Rengganis tertawa kecil. Pasangan suami istri kemudian mulai menghabiskan ikan bakar mereka, baru mereka akan mencari keberadaan Singa Ulung,


"Auuuuummmm...." Wisanggeni dan Rengganis berpandangan, mereka mendengar suara auman Singa Ulung. Mata mereka terarah ke sumber suara, dan terlihat Singa Ulung berjalan mendatangi mereka dengan membawa teman di belakangnya.


"Ulung.., dari mana saja kamu? Kami mencarimu." Rengganis menyapa Singa Ulung.


"Aku mengunjungi kerabatku. Sekarang aku membawa teman masa kecilku.., dia bernama Singa Resti." Singa Ulung mengenalkan seekor binatang yang sama seperti dirinya.

__ADS_1


"Aku akan memanggilmu dengan sebutan Resti. Apakah kamu keberatan?" tanya Rengganis. Perlahan gadis itu bangun, kemudian berjalan menghampiri binatang di belakang Singa Ulung. Dengan lembut, gadis muda itu mengusap punggung Singa Resti dengan kasih sayang. Mendapat panggilan itu, terlihat mata Singa Resti berbinar.


"Resti mengatakan padaku, dia sangat berterima kasih dengan panggilannya. Singa Resti belum bisa berbicara dengan manusia, karena dia belum melewati masa pemujaan." Singa Ulung menyampaikan perasaan binatang yang dia bawa.


Rengganis dan Wisanggeni tersenyum, kemudian laki-laki muda itu ikut berdiri.


"Ulung.., kami baru saja menyelesaikan makan malam kami. Kami mungkin membutuhkan istirahat beberapa saat, besok pagi kita baru akan mencari untuk menemukan jejak Guru dan kerabat kami." Wisanggeni berbicara dengan Singa Ulung.


"Naiklah ke punggung kami, Nimas Rengganis bisa ke punggung Resti." Singa Ulung meminta pasangan itu segera menaiki punggungnya.


Tanpa menunggu lama, Rengganis dan Wisanggeni langsung melompat ke punggung binatang itu.


**********


Setelah beberapa saat, mata dari satu manusia itu terbuka. Lindhuaji terkejut, matanya sedikit silau melihat keadaan sekelilingnya. Dengan susah payah, laki-laki itu berusaha melepaskan diri dari duri-duri yang menancap di kulitnya.


"Bukankah itu Niken dan Atmojo?" Wisanggeni bertanya pada dirinya sendiri. Perlahan laki-laki putra kedua Ki Mahesa itu mengangkat kedua tubuh rekannya itu, kemudian membaringkan di dekatnya.


"Nimas Niken..., Atmojo..., sadarlah!" dengan suara pelan, Lindhuaji mencoba membangunkan kedua orang itu. Kedua pasang mata itu mengerjap, dan perlahan membuka.


"Ada dimana kita kang  Aji?" tanya Niken lemah. Perempuan muda itu kemudian membangunkan tubuhnya, tapi..


"Aduh.." pekik Niken perlahan, sambil memegangi lengan kirinya.

__ADS_1


"Sebentar Nimas.., aku lihat dulu lenganmu." dengan penuh rasa khawatir, Lindhuaji memeriksa lengan kiri Niken Kinanthi, dan Atmojo juga tampak meringis sambil melihat betis kanannya yang terluka.


"Sepertinya lengan kirimu terkilir Nimas. Tunggulah.., aku akan mencarikan daun-daun untuk aku borehkan pada lukamu. Bisa mengurangi rasa nyeri." Lindhuaji segera meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa dengan kakimu kang Atmo? Apakah kamu terluka?"  Niken Kinanthi bertanya pada Atmojo.


"Tidak apa-apa Nimas..., aku tinggal menaburkan bubuk penghilang rasa nyeri. Aku akan membersihkannya dulu setelah kita istirahat," Atmojo menjawab pertanyaan Niken Kinanthi.


Tidak berapa lama, terlihat Lindhuaji membawa satu ekor kelinci dan beberapa dedaunan di kedua tangannya. Lkai-laki itu meletakkan kelinci di atas tanah, kemudian mendatangi Niken.


"Apa yang kamu bawa Aji?" Atmojo bertanya pada laki-laki itu. Dia segera mendekat dan mengambil kelinci yang diletakkan Lindhuaji di atas tanah.


"Kebetulan tadi di tempat aku menemukan daun untuk obat Nimas Niken, di sampingnya ada sarang kelinci. Tidak salah kan, jika aku menangkap satu ekor untuk mengganjal perut kita." sahut Lindhuaji, dengan tangannya menumbuk daun-daun menggunakan batu. Sering bertugas di hutan karena jasa mengantarkan orang yang dia jalankan, melatih kepekaan laki-laki itu bagaimana harus bertahan hidup di tengah hutan rimba.


"Aku akan membantumu untuk menyiapkan kelinci bakar Aji." melihat Lindhuaji sedang menyiapkan ramuan obat herbal untuk Niken Kinanthi, Atmojo segera membersihkan kelinci.


Bau harum kelinci bakar tidak lama kemudian mulai menguar ke sekitar mereka. Warna coklat mengkilat, menambah daya tarik daging itu untuk segera dinikmati.


"Mari kita segera mengisi perut kita Aji, Niken! Setelah itu kita harus menemukan tempat untuk beristirahat, baru setelah kita memulihkan tenaga, kita akan segera melanjutkan perjalanan." Atmojo mengajak kedua orang itu untuk bersaing menikmati daging bakar. Ketiga orang itu segera membagi daging secara merata.


"Ternyata dagingnya terasa empuk.., semoga satu ekor kelinci ini bisa membuat kita bertiga kenyang." ucap Atmodjo kembali. Dengan lincah, tangannya menguliti daging dan meletakkan tulang-tulangnya ke dalam bara api


"Kita bisa mencari buah-buahan Atmodjo, jika perutmu masih merasa lapar." Niken menanggapi perkataan Atmojo. Lindhuaji tersenyum melihat Atmodjo. Perlahan dia mulai memasukkan potongan daging ke mulutnya.

__ADS_1


*********


__ADS_2