Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 116 Hamil


__ADS_3

Setelah beristirahat satu malam di gua yang ditemukan Singa Ulung, Wisanggeni dan Rengganis segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi baru saja mereka berdiri, tiba-tiba Rengganis merasakan pusing di kepalanya. Gadis itu langsung berpegangan pada bahu suaminya.


"Kenapa Nimas..., apa yang kamu rasakan?" dengan penuh rasa khawatir, Wisanggeni bertanya pada Rengganis. Laki-laki muda itu menggunakan punggung tangannya untuk ditempelkan di kening Rengganis, tetapi dia tidak menemukan ada tanda-tanda demam pada istrinya.


"Pusing Akang.., tiba-tiba tadi saat mandi, Rengganis juga merasa mual. Rasanya ingin muntah, tetapi tidak ada yang keluar. Hanya air saja.." Rengganis menceritakan keluhannya.


"Lha bagaimana.., apakah kita akan beristirahat dulu di tempat ini. Ataukah kita akan melanjutkan perjalanan, Akang sangat mengkhawatirkan keadaanmu Nimas." Wisanggeni mengusulkan untuk beristirahat dulu sebentar di gua ini. Tetapi Rengganis menggelengkan kepala.


"Kita langsung lanjutkan perjalanan kita saja Akang. Lagian ada Singa Ulung dan Singa Resti yang akan membawa kita berjalan. Jadi perjalanan ini tidak akan menghabiskan tenaga Rengganis."


"Baiklah.., ayo sekarang kita keluar. Binatang itu sudah menunggu kita diluar." akhirnya dengan hati-hati, Wisanggeni memegangi tangan Rengganis, keduanya berjalan keluar gua, dan menghampiri kedua binatang yang sudah menunggu mereka.


Tangan Wisanggeni mengelus punggung Singa Ulung dan Singa Resti secara bergantian.


"Ulung.., kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi hati-hati membawa Nimas Rengganis, pagi ini istriku merasa sedikit kurang sehat." Wisanggeni berbicara dengan SInga Ulung.


Singa Ulung melihat dan mengamati Rengganis untuk beberapa saat. Kemudian ...


"Sepertinya aku melihat akan munculnya Wisanggeni kecil di perut Nimas Rengganis. Resti akan lebih hati-hati membawa istrimu." perkataan yang terucap dari mulut Singa Ulung mengagetkan Wisanggeni dan Rengganis. Kedua manusia itu saling bertatapan, dan air mata kebahagiaan tiba-tiba menggenang di kelopak mata Rengganis. Dengan cepat.., Wisanggeni mengusap air mata menggunakan jari-jarinya.


"Terima kasih Nimas.., kita akan menjaga bayi kita." sebuah kecupan dihadiahkan Wisanggeni di kening Rengganis. Kedua anak manusia itu kemudian saling berpelukan.

__ADS_1


Singa Resti berjalan mendekati Singa Ulung, kedua binatang itu saling menempelkan kepala mereka. Setelah beberapa saat..


"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita Ulung.. Semoga kita hari ini segera dapat menemukan kerabat dan guruku." Wisanggeni menepuk punggung SInga Ulung. Perlahan laki-laki itu membantu Rengganis, untuk duduk di punggung Singa Resti. Setelah memastikan istrinya aman dan duduk dengan nyaman, sekali lompat laki-laki itu sudah berada di atas punggung Wisanggeni.


Dengan penuh kegagahan, kedua binatang Singa itu segera terbang di angkasa. Mata Singa Ulung dengan tajam memindai setiap jengkal tanah yang ada di bawah sana untuk mencari kehidupan manusia. Dari atas, mata Wisanggeni melihat ada sebuah bangunan menyerupai sebuah candi yang tinggi menjulang.


"Ulung.., bangunan apa itu di bawah sana? Sepertinya ada kehidupan disana.., ayolah kita turun ke bawah." Wisanggeni berbicara pada Singa Ulung.


"Itu dulu merupakan tempat peribadatan yang dibangun kaum manusia. Tetapi semakin hari, manusia tidak dapat bertahan hidup, karena mereka terus diburu oleh hewan-hewan magis. Akhirnya tempat peribadatan itu ditinggalkan, dan tidak digunakan lagi untuk peribadatan." Singa Ulung menjelaskan asal mula bangunan itu.


"Kita harus memeriksanya Ulung, Turunkan kami disana.., semoga ada sesuatu yang bisa kita temui pada bangunan itu." begitu Wisanggeni selesai menyampaikan keinginannya, dengan cepat Singa Ulung menukik ke bawah. Di belakangnya, Singa Resti mengikuti sambil membawa Rengganis.


**************


"Sebentar lagi, aku akan dapat mewujudkan mimpiku. Dunia akan secepatnya dalam genggamanku." Jalak Geni berbicara pada dirinya sendiri. Matanya menyipit saat melihat ke bawah. Di bawah pimpinan Cokro Negoro, para sesepuh mencoba untuk mengejarnya.


"Kamu tidak akan dapat menghalangiku Cokro.. Terimalah ini... bang.., bang..., bang...!" dari atas tangga, Jalak Geni mengirimkan serangan pada para sesepuh yang berusaha mengejarnya.


"Krosakk..., bukkk..." terlihat satu batu terjatuh ke bawah. Dengan cepat laki-laki berjubah itu menghindarkan dirinya dari jatuhan batu tersebut.


"Sepertinya..., candi ini tidak tahan akan suara kencang. Aku akan menggunakannya untuk melemahkan kekuatan mereka, setelah aku mencapai puncak tangga." sambil tersenyum jahat, Jalak Geni kembali berpikir.

__ADS_1


"Bagaimana Mahesa.., apakah kita akan ikut mengejar gurunya Wisanggeni ke atas?? Aku khawatir jika candi ini tidak kuat untuk menahan tubuh kita semua." Sasmita berbicara pada Mahesa.


"Mungkin lebih baik kita menunggu di bawah. Kita akan berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk, biarlah salah satu dari kita diwakili oleh Ki Cokro Negoro. Aku mempercayai orang itu." Mahesa menjawab pertanyaan Ki Sasmita, beberapa sesepuh yang bersama mereka menganggukkan kepala.


Beberapa waktu mereka melihat ke atas puncak, Jalak Geni masih terseok-seok menaiki tangga demi tangga. Dibutuhkan kekuatanĀ  dan tingkat kedalam ilmu untuk bisa meniti tangga satu demi satu. Laki-laki berjubah itu masih tertahan di tangga-tangga terakhir, Jalak Geni masih mengistirahatkan langkahnya.


"Gluduk.., gluduk..., clappp.." tiba-tiba guntur dan kilat menyambar dengan ganasnya. Kejadian itu tidak hanya berlangsung sekali.., Cokro Negoro tetap melanjutkan langkahnya ke atas. Sesekali senyuman muncul di wajah guru Wisanggeni. Beberapa sesepuh mulai khawatir.., karena langit yang semula cerah tiba-tiba menghitam.


"Kita harus mencari tempat untuk berlindung dulu Baskoro.., Sasmita." ucap Mahesa yang langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tetapi hanya pepohonan dan tanah lapang yang ada di wilayah itu, tidak ada satupun bangunan yang dapat mereka gunakan untuk berteduh.


"Auuuuummmm." tiba-tiba terdengar auman binatang buas.


Cokro Negoro tersenyum, laki-laki tua itu sangat hafal dengan binatang yang pernah menjadi peliharaannya itu. Jika binatang itu datang kesini, pasti dia akan membawa Wisanggeni bersamanya. Tidak berapa lama, apa yang ada di pikiran guru Wisanggeni itu menjadi nyata. Tampak dua ekor singa terbang di atas candi.


"Sialan kenapa binatang itu bisa berada disini.." Jalak Geni mengumpat, dia terlihat khawatir dan muncul rasa takut melihat kemunculan binatang itu.


"Sretttt....." tiba-tiba Singa Ulung menyambar satu kaki Jalak Geni. Laki-laki berjubah itu hampir kehilangan keseimbangan, dan satu kakinya melorot ke tangga yang ada di bawahnya. Dengan kecepatan dan penuh kewaspadaan Jalak Geni kembali mencoba untuk menaiki tangga.


"Jangan kamu pikir semudah itu.., kamu bisa melewati kami manusia serakah.." teriak Wisanggeni sambil melemparkan pisau belati ke arah laki-laki berjubah itu.


"Clang.." Jalak Geni mengibaskan tangannya, dan pisau belati itu jatuh membentur batu candi.

__ADS_1


"Sett.." dengan sekali tarikan, Wisanggeni berhasil menarik kembali pisau belati untuk kembali di tangannya."


***************


__ADS_2