
Mata Laksito menatap dengan pandangan penuh kemarahan pada Wisanggeni. Laki-laki itu merasa, sudah berkali-kali Wisanggeni menggagalkan rencananya. Sedangkan Wisanggeni hanya berdiri dengan tersenyum sinis menatapnya.
"Hoekkk..." Laksito tiba-tiba menundukkan wajah dan memuntahkan darah dari mulutnya. Tangan laki-laki itu tiba-tiba bergetar, dan tanpa diduga...
"Petir Pati..., keluarlah..!" tiba-tiba sebuah kilatan petir sudah berada di tangan Laksito, dan dengan secepat kilat petir tersebut diarahkan untuk menyerang Wisanggeni. Gelombang berisi getaran panas menyambar kain yang dikenakan Wisanggeni, untungnya dengan cepat laki-laki itu menghindar, saat melihat Laksito mengirim serangan padanya.
"Masih punya nyali juga kamu Laksito... Aku beri pilihan padamu, menyerahlah dan serahkan Ketua Trah pada Ki Sasmita, atau kita bertarung sampai nyawamu keluar dari jasadmu." dengan pandangan mengejek, Wisanggeni berbicara pada Laksito.
"Ha.., ha..., ha..., dalam mimpimu anak muda. Lebih baik aku mati daripada harus menyerahkan posisi kepemimpinan di Jagadklana. Terimalah ini....., Petir Pati...!" Laksito langsung berteriak dan kembali mengirimkan serangan pada Wisanggeni. Mempelajari kiriman serangan yang pertama, Wisanggeni tersenyum dan dengan cepat tangan kanan laki-laki itu diarahkan ke Laksito. Satu tangan membentuk segel, dan tangan kirinya diangkat dengan bentuk segel yang lain.
"Inti Naga..., Kekuatan Pasupati..., berpadulah. Bluarrrrr...., bang.., bang..." sebuah kekuatan dahsyat muncul dari kedua tangan Wisanggeni, dan kekuatan itu membentuk aliran energi panas yang sangat besar. Laksito sampai begidik saat melihat kekuatan yang terbentuk dari energi itu, tetapi laki-laki itu sudah tidak memiliki kekuatan untuk menghindar.
"Kreeekkkkk...., akkkhh........, aaaawww..." teriakan melengking kesakitan diteriakkan oleh Laksito, ketika energi mengerikan itu menghantam tubuhnya. Tidak menunggu lama, tiba-tiba tubuh Laksito meledak dan hancur menjadi abu. Wisanggeni terdiam, matanya menatap tajam pada ledakan tersebut, dan setelah memastikan jika Laksito sudah hancur menjadi abu, laki-laki itu memundurkan langkahnya.
Beberapa saat, kesunyian melingkupi tempat pertarungan Laksito dan Wisanggeni. Orang-orang Jagasetra dan Ki Sasmita sudah mengevakuasi orang-orang, dan diajaknya untuk menyingkir dari lokasi pertarungan. Tempat wisma kaputren yang biasanya sunyi dengan tatanan apik, saat ini berubah menjadi porak poranda. Beberapa pohon bertumbangan, dan bahkan beberapa pondok juga hancur terkena benturan kekuatan Laksito dan Wisanggeni. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke atas, tampak matahari sudah muncul dan sinar cahayanya sudah menerangi tempat tersebut.
Perlahan dengan tersenyum miris, Wisanggeni melangkah keluar dari kekacauan tersebut. Tubuhnya terlihat lelah, dan matanya masih terlihat merah. Sambil mengambil nafas dalam untuk mengendalikan pernapasannya, Wisanggeni terus berjalan menuju pendhopo. Terlihat Sentono dan Gayatri sedang duduk beristirahat dengan orang-orangnya. Bahkan beberapa orang tampak membaringkan tubuhnya tanpa alas diatas pendhopo.
__ADS_1
"Selamat Wisang.., kamu sudah berhasil menghabisi Laksito.." Sentono langsung berdiri menyambut kedatangan Wisanggeni. Keduanya kemudian saling berpelukan.
"Duduklah Wisang..,kita istirahat dulu!! Sebentar lagi, kita akan melanjutkan membersihkan tempat ini." ucap Gayatri. Wisanggeni mengedarkan pandangannya, laki-laki itu mencari Rengganis dan Maharani. Tetapi dia tidak melihat keberadaan istri-istrinya itu.
"Jangan khawatirkan istri-istrimu Wisang.. Tadi mereka bersama Niluh menyuruh perempuan yang diselamatkan Ki Sasmita dan Jagasetra untuk menyiapkan makanan untuk orang-orang kita. Lihatlah.., kita berangkat kesini saat masih dini hari, belum ada sebutir nasipun yang sempat kita gunakan untuk mengganjal perut kita." seakan bisa membaca pikiran Wisanggeni, Gayatri menjelaskan keberadaan Rengganis dan Maharani. Wisanggeni tersenyum malu, kemudian mendudukkan tubuhnya di pinggiran pendhopo.
************
Persis seperti yang disampaikan Gayatri, terlihat beberapa perempuan berjalan di belakang Rengganis dan Maharani sambil membawa beberapa nampan. Wisanggeni langsung berdiri menghampiri Rengganis, dan saat Maharani akan menyingkir untuk memberi kesempatan pada Rengganis untuk mendekati Wisanggeni, tiba-tiba tangan Rengganis menahannya. Mata Maharani menatap Rengganis dengan penuh tanda tanya, tetapi Rengganis tersenyum.
"Kamu juga istri dari Kang Wisang.. Maharani. Kamupun juga memiliki hak atas kang Wisang untuk memeluknya." terdengar ucapan lirih keluar dari bibir Rengganis, yang berusaha meyakinkan Maharani.
"Ayo segera kita nikmati minuman dan makanan ini. Setelah itu kita akan melakukan istirahat sebentar, kemudian kita melanjutkan untuk membersihkan tempat ini." terdengar suara Sentono membangunkan orang-orang yang masih tiduran. Beberapa orang kemudian bangkit dan mengambil minuman jahe serai yang sudah disiapkan oleh para perempuan.
Maharani mengambil dua gelas cangkir berisi minuman tersebut, kemudian memberikannya pada Rengganis dan Wisanggeni. Rengganis menatap perempuan itu, kemudian tersenyum dan menerima uluran cangkir tersebut. Setelah kedua cangkir di tangannya kosong, Maharani kembali mengambil cangkir minuman untuk dirinya sendiri.
"Apa rencana kita selanjutnya Akang..??" Rengganis bertanya pada Wisanggeni. Laki-laki itu menatapnya sebentar, kemudian..
__ADS_1
"Kita akan membantu ayahnda untuk membangun kembali Pesanggrahan ini, baru kita akan kembali ke Gunung Jambu." ucap Wisanggeni lirih.
"Maharani..., kita harus mengikuti kang Wisang kemanapun. Jangan kembali ke istanamu..., karena kita adalah istri-istri kang Wisang." Rengganis menoleh dan menggenggam tangan Maharani. Mendengar ketulusan penerimaan Rengganis, Wisanggeni hanya tersenyum.
Setelah beristirahat beberapa saat, Wisanggeni mengajak Rengganis dan Maharani untuk menemui Ki Sasmita. Ketiga orang itu berpamitan dengan Sentono dan orang-orang yang berada disitu. Di bangunan besar seperti tempat pertemuan, mereka memasuki ruangan. Terlihat Ki Sasmita sedang duduk sambil menyalurkan tenaga dalam untuk mengobati beberapa orang di depannya.
"Ufft... " setelah meniup punggung orang yang diobati, Ki Sasmita mengakhiri pengobatannya. Laki-laki paruh baya itu, tersenyum kemudian berdiri dan mendatangi ketiga orang itu.
"Ayahnda.., bagaimana keadaan disini?" dengan manja, Rengganis memeluk Ki Sasmita.
"Duduklah dulu kalian, bantulah ayahnda untuk mengembalikan kekuatan mereka. Orang-orang ini kelelahan, dan tenaganya habis terserap." ucap Ki Sasmita. Mendengar hal itu, Wisanggeni bersama Rengganis dan Maharani segera mendatangi orang-orang yang tampak kelelahan itu. Ketiganya menyalurkan tenaga dalam untuk membantu memulihkan tenaga mereka.
Aura warna ungu menyejukkan muncul di tangan Wisanggeni, kemudian warna ungu yang membentuk sebuah lingkaran di depannya itu diarahkan ke orang-orang tersebut.
"Tenangkan diri kalian, hiruplah udara yang mengalir dengan santai." Wisanggeni perlahan memandu orang-orang. Beberapa saat kemudian, orang-orang yang merasa kelelahan, tiba-tiba merasa segar kembali.
"Sekarang bergabunglah di pendopo untuk menikmati minuman hangat." kembali terdengar suara Wisanggeni.
__ADS_1
"Terima kasih nak Wisang, kami sudah merasa jauh lebih baik." mereka segera bangkit dan keluar dari ruangan itu.
*********