Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 379 Kedatangan


__ADS_3

Wisanggeni menggandeng tangan istrinya Rengganis, saat ini mereka sudah sampai di pesanggrahan Trah Bhirawa. Ki Mahesa yang sedang menikmati kudapan dan minuman hangat di depan rumah, terkejut dan meletakkan kembali cangkir di atas meja kayu. Mata tua laki-laki itu seperti tidak percaya, saat ini dia bisa bertemu kembali dengan cucu-cucunya. namun melihat keberadaan dua gadis cantik yang bersama dengan Chakra Ashanka, dahi laki-laki tua itu berkerut. Tetapi untuk menghilangkan rasa penasarannya, Ki Mahesa bergegas turun dan menyambut kedatangan putri menantu dan cucunya.


"Nimas Rengganis... sungguh merupakan kanugrahan dan rahayu untuk diri ayahnda yang sudah renta ini, di sore ini aku mendapat kunjungan putri dan cucu-cucuku.." dengan senyum kebahagiaan, Ki Mahesa menyambut kedatangan Rengganis.


"Ayahnda.. begitu juga dengan kami ayahnda.. Sudah lama kami ingin datang kesini untuk berkunjung, dan bersua dengan ayahnda. Namun baru kali ini ayah.., Rengganis dan Ashan memiliki waktu dan kesempatan untuk datang berkunjung ke Trah Bhirawa." Rengganis menundukkan wajah, dan mencium punggung tangan laki-laki yang sudah tua itu. Di belakang perempuan itu, Chakra Ashanka juga mengikuti jejak ibundanya. Anak muda itu tersenyum cerah menatap wajah kakeknya itu.


Melihat keberadaan Chakra Ashanka, Ki Mahesa menggeser tubuh Rengganis ke samping, dan laki-laki itu menarik anak muda itu kemudian memberinya pelukan erat. Rengganis tersenyum, dan perempuan itu mundur ke belakang dan berdiri di samping suaminya Wisanggeni. Beberapa saat, Ki Mahesa meluapkan kerinduan pada cucu laki-lakinya, dan hampir saja mengabaikan keberadaan dua gadis itu.


"Kakek.. kali ini Ashan membawa dua teman Ashan.. Nimas Ratih, Nimas Putri kemarilah.. kenalkan diri kalian pada kakek Ashan." Chakra Ashanka memanggil AYodya Putri dan Sekar Ratih. Kedua gadis itu kemudian berjalan ke depan, dan mengucapkan salam pada Ki Mahesa.


"Ijin yang muda untuk menyapa pihak yang lebih tua kakek.. Saya Ayodya Putri.., kakek bisa memanggil dengan sebutan Putri." dengan tutur kata halus, Ayodya putri mengenalkan dirinya. Ki Mahesa tersenyum dan mengamati wajah putih bersih gadis muda di depannya itu, dan sepertinya laki-laki itu seperti mengingat wajah cantik perempuan itu di masa lalu.


"Sebuah nama yang sangat bagus.. Jika kakek boleh tahu.. dari kota mana kamu berasal Nimas Putri.., dan siapakan ayahnda dan ibundamu." dengan suara lirih, Ki Mahesa berusaha mencari tahu asal usul gadis muda itu.


Mendengar pertanyaan dari laki-laki tua di depannya itu, Ayodya Putri sedikit heran dan mengerenyitkan dahinya. Tetapi begitu mengingat jika laki-laki itu adalah kakek dari Chakra Ashanka, akhirnya Ayodya Putri mengurangi kewaspadaannya itu. Gadis muda itu mengangkat wajah, dan menatap Ki Mahesa


"Putri berasal dari kota Jenggala kakek.., dan terlahir dari rahim ibunda Cupumanis dan ayahnda Joko Lelono." dengan suara nyaring, Ayodya Putri menjawab pertanyaan Ki Mahesa.

__ADS_1


"He.., he.., he.. ternyata pepatah yang mengatakan jika dunia itu hanya selebar daun kelor, ternyata terbukti benar adanya. Sampaikan salam dari kakek untuk ayahnda dan ibundamu. Syukurlah akhirnya kedua anak muda itu bisa bersama, dan menghadirkan seorang putri yang sangat cantik, dimana kali ini bisa menjadi teman dari cucuku." dengan penuh keakraban, Ki Mahesa ternyata mengenal kedua orang tua Ayodya Putri.


"Jadi kakek mengenal ayahnda dan ibunda Putri. Sungguh sangat beruntung Putri berada di dalam keluarga ini. Saat ini Putri merasakan, seperti bertemu dengan keluarga." dengan pemuh haru, Putri mencium punggung tangan Ki Mahesa.


"Iya Nimas.. kakek mengenal kedua orangĀ  tuamu, dan pernah beberapa kali melakukan perjalanan bersama. Sekarang giliranmu Nimas.. kenalkan siapa dirimu." setelah beberapa saat menghabiskan waktu menanyai Ayodya Putri, Ki Mahesa memanggil Sekar ratih.


Sekar Ratih menengokkan wajah ke kanan dan ke kiri, gadis itu merasa rendah diri ketika diminta untuk mengenalkan dirinya pada Ki Mahesa. Untungnya Chakra Ashanka merasa jika gadis itu merasa rendah diri, dan merasa bertanggung jawab dengan Sekar Ratih, anak muda itu berjalan ke depan dan membawa gadis itu ke depan kakeknya.


"Kakek ini teman Ashan.. yang dibawa dari lereng pegunungan. Karena sesuatu hal, Ashan memutuskan untuk membawa dan membantunya untuk mendapatkan pengalaman." dengan suara tegas, Chakra Ashanka berbicara pada Ki Mahesa. Sekar Ratih menundukkan kepalanya, gadis itu merasa gemetar karena rasa khawatir jika Ki Mahesa tidak menerimanya.


"Nama saya Sekar Ratih kakek, kakang Ashan meminta ijin pada ayah dan ibu untuk mengajak Ratih pergi bersamanya." dengan nada pelan, Sekar ratih menjawab pertanyaan gadis itu.


"Sebuah nama yang bagus. Ayo semuanya.. kita segera masuk ke dalam." akhirnya Ki Mahesa mengajak semua yang datang untuk masuk ke pendhopo.


************


Achala dan Parvati belum menyadari kedatangan ibunda dan kakangmasnya. Kedua orang itu masih berada di pasar tiban untuk menghabiskan waktu sore harinya. Dengan sabar, Achala menuruti keinginan gadis cantik itu, membelikan barang-barang yang memang belum dimiliki oleh Parvati.

__ADS_1


"Kang Chala.., kenapa tiba-tiba Parvati ingin segera pulang kembali ke pesanggrahan. Wajah bunda Rengganis seperti lewat di depan wajahku. Bagaimana jika kita saat ini pulang dulu ke rumah?" tiba-tiba Parvati mengajak Achala pulang.


"Baiklah Nimas.. ayo kita pulang, kalau kamu sudah ingin kembali ke pesanggrahan. Lain waktu, kita bisa mengulangi lagi jalan-jalan di waktu luang." dengan sabarnya, Achala memenuhi keinginan gadis itu.


Setelah membereskan barang bawaan mereka, akhirnya kedua anak muda itu berjalan berdampingan meninggalkan pasar tiban tersebut. Parvati berjalan lebih cepat, dan Achala mengikuti di belakangnya. Banyak penjual yang mencoba menawarkan barang pada kedua anak muda itu, tetapi dengan sopan laki-laki muda itu menolaknya.


"Hati-hati berjalannya Parvati.. banyak jalanan berlubang. Jika kamu tidak hati-hati, kamu bisa masuk dan terjerembab ke dalam lobang itu." dari belakang, Achala mengingatkan Parvati.


Parvati menghentikan langkahnya, gadis itu menunggu laki-laki muda itu sampai di depannya. Setelah mereka bisa berdampingan, akhirnya Parvati mengurangi kecepatan jalannya. Gadis itu mencoba menetralisir perasaannya, kemudian keduanya berjalan dengan lebih santai.


Tidak lama kemudian, Achala dan Parvati akhirnya sudah sampai di depan gerbang masuk pesanggrahan. Namun mereka belum melihat tanda-tanda kedatangan keluarga besarnya. Karena suasana di halaman depan pendhopo, terlihat sepi dan tidak ada siapapun yang melintas disitu.


"Nimas mau langsung masuk ke senthong, atau mau mencari paman Wisanggeni, dan kakek Mahesa?" sebelum gadis itu masuk ke pesanggrahan, Achala bertanya pada gadis itu.


"Parvati tiba-tiba ingin menuju ke pendhopo kang Chala. Maukah kakang menemaniku..?" Achala menganggukkan kepala, dan keduanya segera masuk ke pendhopo.


************

__ADS_1


__ADS_2