
Widayati berjalan mengikuti Chakra Ashanka, mereka saat ini berada di belakang teman-temannya. Baru beberapa langkah mereka melanjutkan perjalanan, terlihat pasir di gurun terlibat berputar-putar tidak jauh dari mereka. Pangeran Abhiseka yang berada pada posisi paling depan kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Ada yang aneh dengan putaran angin di depan itu. Sepertinya itu bukan badai, ada fenomena apalagi disana?" Pangeran Abhiseka bertanya pada teman-temannya yang lain.
Chakra Ashanka memicingkan mata, tampak dalam pandangan matanya jika ada kehidupan di balik pasir-pasir yang berputar itu. Semakin lama, putaran pasir itu bergerak mendekat ke arah mereka. Semua orang bersiaga dan melindungi tubuh mereka dengan aura mereka masing-masing.
"Apakah kamu masih bisa bertahan Widayati?" melihat gadis di sampingnya merasa sesak mengendalikan nafas, Chakra Ashanka bertanya dengan tatapan khawatir.
Gadis itu tidak menjawab, tetapi hanya menganggukkan kepala. Beberapa saat anak muda itu terus melihat ke arah gadis itu, tetapi setelah melihatnya bisa mengendalikan dirinya, Chakra Ashanka fokus dengan kekuatannya sendiri.
Mereka terus berjalan ke depan dengan susah payah. Langkah kaki yang semakin berat tidak mereka pedulikan. Bayangan akan datangnya malam, memicu mereka untuk terus berusaha mendapatkan tempat yang aman untuk mereka beristirahat.
"Wushhh...., tiarap..." tiba-tiba gulungan angin kencang datang mengunjungi mereka. Pangeran Abhiseka berteriak keras memperingatkan Anggota kelompoknya. Semua orang segera menjatuhkan tubuhnya ke atas pasir di gurun tersebut, dan melapisi tubuhnya dengan aura agar tidak terkena dampak yang merugikan dari gulungan angin tersebut.
Chakra Ashanka tidak kehilangan akal, anak muda itu melempar selendang ibundanya ke atas dengan menambahkan energi di atasnya. Seperti sebuah lembaran papan yang kaku, selendang itu menutup mereka dari serangan angin yang ganas itu. Kejadian itu berlangsung untuk beberapa saat, dan ketika nafas mereka sudah hampir hilang untungnya angin sudah pergi menjauh.
"Ashan..., apakah kamu baik-baik saja?" Niken Kinanti menanyakan keadaan anak muda itu.
"Baik Bibi..., terima kasih. Kita harus segera mencari tempat untuk berlindung. Baru gulungan angin saja, nafas kita sudah hampir habis. Ashan khawatir, badai pasir akan menghampiri kita jika malam datang menjelang." Chakra Ashanka menjawab pertanyaan Niken Kinanti sekaligus menyampaikan sebuah usulan.
__ADS_1
"Benar apa yang kamu katakan Ashan, firasatku juga berkata demikian. Tapi apa yang yang harus kita lakukan? Sepanjang apa.yang ada di sekitar kita, aku hanya melihat hamparan pasir yang tidak berujung pangkal." Widayat memberikan tanggapan.
Semua terdiam dan mengatur nafas mereka. Tiba-tiba Chakra Ashanka merasa naga terbang bergerak di dalam kepis. Binatang itu sepertinya ingin keluar dari dalam sana. Tanpa berpikiran panjang, anak muda itu mengeluarkan naga terbang dari dalam kepis dan meletakkan dengan membelitkannya pada tangan kirinya.
"Ssshhh... ssshhh..." tidak disangka, binatang itu seperti memanggil temannya yang lain. Niken Kinanti, Widayati dan Sampana akhirnya juga mengeluarkan naga kecil yang juga berada di dalam kepisnya.
Keempat naga itu dengan dipimpin naga terbang melepaskan diri dari tangan majikan mereka. Dengan cepat, binatang itu merayap dengan cepat di atas gurun pasir. Orang-orang itu berpandangan tidak mampu mengetahuinya maksud dari binatang-binatang itu.
"Ayolah kita ikuti saja mereka.., siapa tahu binatang -binatang itu akan memberikan kita sebuah petunjuk." Chakra Ashanka segera berjalan cepat mengikuti arah kemana naga terbang itu pergi.
*******
"Sepertinya kita akan menemukan tempat untuk beristirahat teman.." dengan wajah sumringah, Pangeran Abhiseka menunjuk ke penampakan yang berwarna hijau itu. Niken Kinanti dan Widayat segera mendekat pada Pangeran Abhiseka. Mereka tersenyum, kemudian menoleh pada lima orang di belakang mereka.
"Kita akan segera beristirahat.., ayo kita percepat langkah kita. Agar kita tidak keduluan oleh orang lain di belakang kita." Niken Kinanti mengajak mereka untuk mempercepat langkah mereka.
Orang-orang segera menganggukkan kepala, dan tanpa bicara mereka segera melesat meninggalkan tempat itu. Mereka saling berkejaran satu dengan yang lain, mengikuti naga-naga yang lebih dulu berada di depan mereka.
Akhirnya tidak lama kemudian, mereka benar -benar melihat pemandangan hijau di depan mata mereka. Pohon -pohon yang tumbuh rimbun, dengan sebuah mata air terlihat indah di depan. Tetapi merasa ganjil dengan semua penampakan itu, Widayat meminta mereka untuk berhati-hati. Laki-laki itu mengingatkan agar tidak menjadi terlena dengan hal itu, siapa tahu hanya merupakan salah satu godaan dari perjalanan mereka.
__ADS_1
"Naga terbang..., selidiki dulu! Apakah yang ada di depan kita ini benar adanya, atau hanya tipuan ilusi?" dengan suara lirih, Chakra Ashanka berkata pada naga terbang.
Orang-orang melihat pada anak muda itu. Tanpa menunggu pengulangan perintah, dengan cepat naga dan terbang dan ketiga naga kecil segera menelusup cepat ke dalam. Beberapa saat mereka menahan nafas, tidak berani melakukan pergerakan apapun. Mereka sudah terlanjur masuk ke dalam area hijau tersebut, tanpa menyelidiki lebih dulu ada apa di dalamnya.
"Apa yang akan kita lakukan Pangeran.., kita keluar lagi dari tempat ini ataukah menunggu naga-naga itu kembali?" merasa sudah menunggu beberapa saat, Niken Kinanti terlihat sudah tidak sabar.
"Pilihan manapun yang akan kita ambil akan menghasilkan sesuatu yang sama Nimas . Bersabarlah.., dengan apa yang sudah kita lakukan pada mereka, aku yakin binatang itu tidak akan mengkhianati kita. Sedikit waktu lagi.., sambil kita mengembalikan tenaga kita." setelah mengambil nafas, Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan Niken Kinanti.
"Tenaga kita menguap lebih cepat di gurun pasir ini. Sepertinya ada lima kalinya jika kita bandingkan dengan di dunia luar. Kita harus menghemat tenaga kita, dan aku setuju dengan pendapatmu Pangeran." Widayat ikut menanggapi.
Chakra Ashanka dan keempat orang lainnya hanya diam mendengarkan, anak muda itu tidak ikut bicara. Karena meskipun keputusan yang diambil adalah meninggalkan tempat itu, dia tetap akan menunggu sampai naga terbang kembali untuk menemuinya.
"Apakah masih ada yang memiliki persediaan air minum, aku haus?" tiba-tiba Saloka menanyakan tentang air minum. Merasa masih memiliki sedikit persediaan, Chakra Ashanka mengambil tempat minum dari dalam kepis kemudian memberikannya pada laki-laki itu.
"Terima kasih." setelah meminum beberapa teguk, laki-laki itu mengembalikan kembali tempatnya pada anak muda itu.
"Ssshhh..., ssshhh.., shhhh..." tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara desis ular dari kejauhan. Tampak keempat naga itu datang kembali untuk menemui mereka. Wajah ke delapan orang itu menjadi bersinar.., melihat kedatangan binatang -binatang itu.
********
__ADS_1