
Di perbatasan masuk ke perguruan Gunung Jambu, beberapa orang menghadang kereta kuda yang dikendarai Maharani. Dengan sopan, dayang menghentikan kereta kuda, kemudian turun menghampiri mereka. Maharani menyibakkan kelambu penutup kereta, dan merasa tidak mengenali penjaga yang mencegat mereka. Tetapi perempuan istri kedua Wisanggeni itu tidak mau mencampuri urusan orang-orang itu, Maharani membiarkan dayang menghadapi mereka sendiri,
"Permisi Ki Sanak.., kami terpaksa menghentikan kereta kuda yang Ki Sanak bawa. Hal ini untuk mengantisipasi agar tidak ada orang asing yang masuk dan mengobrak-abrik perguruan kami." Dengan sopan, orang-orang perguuan Gunung Jambu yang menjaga perbatasan menyapa dayang. Mereka memang selalu ditekan untuk berlaku dan bertindak sopan serta ramah kepada siapapun. Tetapi, jika memang ada orang yang bertindak kurang ajar terhadap mereka, mereka juga diajarkan untuk mempertahankan martabat mereka.
"Jalankan peran dan tugasmu Ki Sanak.., kami memahami pentingnya tugasmu untuk menjaga perbatasan ini. Kedatangan saya disini untuk mengantarkan dan menemani Gusti Ratu kami Maharani untuk masuk ke pusat perguruan. Kami bermaksud untuk menemui Den Bagus Wisanggeni." dayang menyampaikan maksud kedatangan mereka berada di tempat ini, pada penjaga perbatasan.
Mereka saling berpandangan saat mendengar apa yang dikatakan oleh dayang itu. Salah satu dari penjaga maju, dan berdiri di depan dayang tersebut.
"Ijin menyampaikan Ki Sanak.., apakah ada urusan yang penting untuk menemui Guru kami?? Tetapi yang perlu kalian ketahui, saat ini Guru Wisanggeni bersama istri dan putranya sedang dalam perjalanan. Sudah beberapa purnama, Guru meninggalkan padhepokan, dan kami tidak bisa menjawab kapan Guru akan kembali." penjaga itu menjelaskan keberadaan Wisanggeni dan keluarganya.
Mendengar perkataan penjaga perbatasan itu, dayang sedikit terkejut. Tetapi untungnya perempuan paruh baya itu segera ingat jika Gusti Ratu Maharani merupakan istri kedua dari Den Bagus Wisanggeni. Dengan segera, dayang tersebut menyesuaikan dirinya.
"Kami tahu Ki Sanak.. Kedatangan kami kesini adalah mengantarrkan Gusti Ratu Maharani, yang ingin melahirkan di perguruan Gunung Jambu. Kami akan menunggu dan berada di padhepokan, sampai Den bagus Wisanggeni pulang kembali ke perguruan ini. Apakah diperbolehkan?" sambil tersenyum, dayang meminta ijin untuk diperbolehkan masuk ke area perguruan.
Beberapa orang yang belum mengetahui jika Wisanggeni memiliki dua istri, hanya terdiam dan terkejut. Tetapi ada satu penjaga yang sudah mengetahui tentang berita tersebut. Perlahan penjaga itu maju ke depan.
Dari dalam kereta kuda, Maharani menyibakkan tirai penutup kereta bagian dalam, kemudian duduk di tempat yang biasa diduduki dayang yang menemaninya.
"Ampuni kami Nimas Maharani yang tidak bisa mengenali keberadaan Nimas. Kereta kuda ini harus ditinggal disini, apakah Nimas bisa masuk ke dalam wilayah padhepokan tanpa mengendarai kereta?" melihat keadaan Maharani dengan perut buncit, penjaga sedikit meragukan istri kedua Wisanggeni itu.
__ADS_1
Perlahan Maharani turun dari atas kereta kuda, kemudian mengusap perutnya perlahan. Perempuan itu kemudian berjalan menghampiri penjaga itu.
"Lakukan pekerjaanmu, kalian hanya melaksanakan tugas. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami. Jaga kuda-kuda ini, perlakukan binatang ini dengan baik." ucap Maharani yang melegakan perasaan para penjaga perbatasan.
"Dengan senang hati Nimas, kami akan segera mengirimkan pesan pada penjaga di dalam padhepokan untuk mempersiapkan semuanya. Untunglah Nimas datang, akan ada pihak yang dituakan kembali di padhepokan ini." dengan ramah, penjaga menanggapi Maharani.
Maharani tersenyum dan menganggukkan kepala, dan tanpa bicara menepuk pelan punggung dayang yang menemaninya. Maharani memberinya isyarat, dan kemudian melompat diikuti oleh dayang yang berada di belakangnya. Melihat kecepatan kedua orang itu, penjaga menjadi heran dan takjub.
*******
Di padhepokan
"Selamat datang Nimas Maharani...., segeralah masuk ke dalam. Pesan yang dikirim penjaga di tapal batas penjagaan sudah kami terima. Beberapa perencanaan sedang menyiapkan senthong untuk istirahat Nimas." dengan keramahan, orang-orang menyambut kedatangan istri kedua Wisanggeni.
Maharani menyambut mereka dengan senyuman, kemudian menyalami orang-orangnya yang berdiri di depannya. Setelah beberapa saat, Maharani menengok ke arah dayang, kemudian mengajaknya untuk menunggu di kursi pondhok yang berada tidak jauh dari situ.
"Bibi . ayo kita istirahat dulu di tempat itu? Bibi pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang." Maharani melangkah menuju pondok, kemudian diikuti oleh dayang.
Melihat Maharani dan dayang yang bersamanya sudah istirahat di kursi, dengan sigap orang-orang yang ada disitu menyiapkan tempat untuk beristirahat mereka. Beberapa murid perempuan muda, datang ke pondok dengan membawa nampan di tangan mereka. Sebuah kendhi dan cangkir dari gerabah, berisi minuman panas, tampak berada di atas nampan tersebut.
__ADS_1
"Silakan dinikmati dulu minuman hangatnya Nimas...!" murid tersebut mempersilakan Maharani.
Perempuan istri kedua Wisanggeni itu tersenyum untuk menjawab perkataan tersebut. Dengan segera Maharani mengambil cangkir, kemudian perlahan mulai menyesap minuman hangat dari cangkir yang ada di tangannya. Mata Maharani berbinar melihat singkong rebus dengan lelehan madu menunggu untuk dinikmatinya. Tanpa bicara, perempuan itu langsung mengambil sepotong singkong dan mencocolkan ke dalam cairan madu.
"Gusti ayu...,. bagaimana rencana kita ke depan? Apakah Gusti ayu akan tetap berada di perguruan ini." merasa tidak bertemu dengan Wisanggeni, dengan perasaan khawatir dayang bertanya pada Maharani.
"Apa maksud perkataanmu Bibi...? Apakah bibi memikirkan ketidak berada kang Wisang di perguruan ini, kemudian muncul pikiran untuk meninggalkan perguruan ini?" dengan lirih, Maharani menjawab pertanyaan dayang.
Perlahan dayang itu mengangguk kepala.
"Ampun Gusti ratu..., apakah tidak lebih baik kita kembali ke kerajaan ular. Tidak mungkin, jika Gusti Ratu melahirkan janin tanpa didampingi suami maupun kerabat sesepuh kita." ucap dayang khawatir.
"Aku ini perempuan kuat bibi. Berhentilah untuk mengkhawatirkan ku! Aku harus mulai berlatih dan menyiapkan diri untuk menjadi seorang ibu yang mandiri, ibu yang sebenarnya bagi putra putriku nantinya. Apalagi.. sudah lama aku juga menjalani hidup sendiri tanpa keberadaan kang Wisang di sisiku. Aku akan kuat Bibi..." sambil tersenyum, Maharani berusaha meyakinkan dayang.
"Baiklah jika itu keinginan dari Gusti Ratu. Bibi yakin.., bayi ini akan menjadi bayi yang hebat dan kuat di masa depan. Gusti ayu dan sesepuh betul-betul sudah mempersiapkannya dengan sangat baik." setelah menghela nafas sebentar, dayang akhirnya menyetujui pemikiran Maharani.
Kedua perempuan itu kembali melanjutkan menikmati minuman panas jahe serai dan singkong rebus yang disajikan di depan mereka. Sesekali pandangan mereka beralih untuk melihat murid-murid perguruan Gunung Jambu yang sangat banyak. Tanpa berkeluh kesah, murid-murid itu dengan sigap melakukan pekerjaan dengan penuh teratur dan rapi.
******
__ADS_1