Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 237 Menikmati Sore


__ADS_3

Chakra Ashanka duduk di bagian depan warung kedai makanan. Karena merasa lapar, anak laki-laki itu memesan minuman dan beberapa kudapan untuk mengisi perutnya. Setelah pesanan diantar, tanpa menunggu pesanan keempat anak laki-laki yang lain itu datang, Chakara Ashanka langsung menikmatinya.


"Ki Sanak.., bolehkan kami mengetahui siapa nama, dan dari tlatah mana kamu berasal?" anak laki-laki yang ditolong Chakra Ashanka tadi bertanya. Ketiga anak laki-laki yang menyerang mereka tadi ikut menganggukkan kepala.


Mendengar pertanyaan tersebut, Chakra Ashanka menghentikan makan, dan meletakkan cangkir minuman di meja yang ada di depannya. Sepertinya pertanyaan yang diajukan oleh mereka masih masuk akal, sehingga Chakra Ashanka tidak keberatan untuk menjawabnya.


"Namaku Chakra Ashanka.., panggil namaku Ashan.. Rumit untuk menceritakan asal usulku, karena saat ini aku sedang dalam perjalanan untuk berkunjung ke tempat kakek dan nenekku di Jagadklana. Asal dari ayahndaku dari trah Bhirawa, sedangkan aku dibesarkan oleh kedua orang tuaku di padhepokan yang ada di perbukitan Gunung Jambu. Bagaimana dengan kalian semua..?" setelah bercerita sedikit tentang asal-usulnya, Chakra Ashanka bertanya pada keempat anak laki-laki lainnya tersebut.


"Namaku Setiaji.., dari Trah Ayodya yang berada tidak jauh dari tlatah sini. Aku sedang bersama dengan pamanku, yang baru menghadiri acara sarasehan rerembugan dengan sesama orang-orang di tlatah sini." anak laki-laki yang ditolong oleh Chakra Ashanka mulai mengenalkan dirinya. Kemudian tiga anak lain yaitu Sayogyo, Sadewo, dan Baskoro juga mulai mengenalkan diirnya.


Tidak diduga, kelima anak laki-laki yang semula mereka bertarung tadi, saat ini sudah menjadi sekumpulan anak laki-laki yang rukun. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang antusias, dan saling berbagi pengalaman mereka dalam melakukan perjalanan. Chakra Ashanka yang baru pertama kali keluar dari lingkungan padhepokan ketika berusia saat ini, lebih banyak mendengarkan daripada menceritakan pengalamannya,


"Aku pernah diajak pamanku menyeberang ke Trah Jagadklana.. Ashan. Sebenarnya, aku ingin  bersamamu menuju ke Trah tersebut, tapi... aku khawatir pamanku tidak akan mengijinkanku.." Setiaji menatap Chakra Ashanka dengan tatapan penuh keinginan.


'Setiaji..., kali ini kembaliku ke tempat Trahku bukan untuk bermain. Aku bersama dengan kedua orang tuaku, yang saat ini sedang berisitirahat di penginapan. Jadi.., tanpa ijin dari kedua orang tuaku aku juga tidak bisa mengajakmu ikut denganku. Atau kalau kalian mau.., kita tetap bisa berteman. Kebetulan kedua orang tuaku mengelola sebuah perguruan di perbukitan Gunung Jambu.., kita bisa berlatih bersama jika kalian mau bergabung denganku." dengan arif, Chakra Ashanka membuat sebuah usulan pad akeempat teman barunya.

__ADS_1


"Begitu ya..., aku mau Ashan.., tetapi aku akan meminta ijin pada keluargaku terlebih dulu." keempat anak laki-laki tersebut menyetujui usulan Chakra Ashanka. Akhirnya mereka membuat sebuah kesepakatan, dalam perjalanan kembali dari Trah Jagadklana..., Chakra Ashanka akan kembali menemui mereka. Tetapi itupun jika keluarga mereka semua menyetujui dan memberi mereka ijin. Setelah beberapa saat kemudian, karena khawatir jika kedua orang tuanya mencari keberadaannya, Chakra Ashanka berpamitan kepada teman-teman barunya itu.


**********


Melihat kedatangan putra laki-lakinya memasuki emperan penginapan, senyuman Rengganis mengembang. Sejak tadi, Rengganis tidak mau meninggalkan tempat tersebut karena masih memiliki kekhawatiran terhadap keadaan putra satu-satunya. Wisanggeni menggelengkan kepala, melihat hal tersebut,


"Bunda..., ayah...?" dengan penuh hormat, Chakra Ashanka menghampiri kedua orang tuanya kemudian mencium punggung tangan keduanya.


"Dari mana saja putraku..., apakah mendapatkan pengalaman baru hari ini? Kenapa tubuhmu kotor.., padahal ayah dan bunda akan mengajakmu jalan-jalan ke tempat penjualan cindera mata, Bunda yakin, kamu akan tertarik dengan beberapa barang yang ingin kamu dapatkan sendiri. Selama ini, keperluanmu dicukupkan oleh bunda.., sudah saatnya kamu berlatih untuk mencukupkan sendiri kebutuhanmu putraku.." Rengganis menyampaikan sesuatu, dan Chakra Ashanka tersenyum kecut.


"Baik ibunda.., tunggu sebentar dulu. Ashan akan membersihkan badan dulu..," mendengar perkataan yang disampaikan ibundanya, dengan segera Chakra meminta ijin. Tanpa menunggu jawaban dari ibundanya, anak laki-laki itu segera berlari menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


"Sama persis seperti pembawaan Akang.. Akang terbiasa menyimpan sendiri semua masalah, dan menghadapinya sendiri, sejak dulu. Bahkan ketika Akang diejek, dihajar sama saudara-saudara Akang di Trah saja, Akang tidak pernah mengadukan pada ayahnda Mahesa. Sepertinya putra kita lebih menuruni sifat-sifat dan pembawaan Akang." Rengganis memberikan komentar. Wisanggeni hanya tersenyum menanggapi kalimat tersebut, tangan laki-laki itu meraih tangan Rengganis kemudian memberi kecupan di punggung tangannya.


Rengganis tersipu meskipun suaminya terlalu sering memperlakukannya seperti itu tanpa melihat tempat. Seperti apa yang dilakukan Wisanggeni kali ini, beberapa orang yang berada di tempat itu berbisik-bisik berbicara tentang mereka. Tetapi, Wisanggeni mengacuhkannya, karena baginya memperlakukan istrinya seperti itu merupakan hak pribadinya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, dari arah dalam penginapan, terlihat Chakra Ashanka sudah terlihat bersih dan rapi. Pakaiannya juga sudah berganti menjadi pakaian yang bersih. Senyuman kedua orang tuanya menyambut kedatangan anak laki-laki itu.


"Ayah.., bunda..., Ashan sudah siap. Mari kita berangkat!" setelah sampai di depan kedua orang tuanya, anak laki-laki itu segera mengajak Wisanggeni dan Rengganis.


Tanpa menjawab, kedua orang tua Chakra Ashanka segera berdiri dari tempat duduk, kemudian ketiganya berjalan keluar dari dalam penginapan. Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di tempat keramaian. Banyak barang yang dibelanjakan di tempat itu.


Melihat pernik-pernik perhiasan dari batu.., Rengganis langsung berjalan ke tempat tersebut. Matanya bersinar melihat untaian batu yang ditata sedemikian apik, yang membentuk sebuah perhiasan. Melihat bagaimana respon dari istrinya yang tertarik dengan perhiasan-perhiasan tersebut, tanpa sepetahuan Rengganis, Wisanggeni mengambil sebuah gelang dengan deratan batu berwarna merah muda.


"Apakah Ki Sanak tertarik dengan gelang batu ini..?" penjual mendatangi Wisanggeni, dan tanpa menjawab Wisanggeni memberi isyarat pada penjual tersebut untuk membungkus barang yang sudah dipilihnya tersebut.


Beberapa saat mereka berada di tukang pembuat perhiasan, tetapi Rengganis belum memilih apapun. Matanya masih diedarkan ke deretan perhiasan yang terpajang di depannya.


"Bagaimana Nimas.., apakah dari perhiasan ini ada yang membuat Nimas tertarik..?" dengan nada sopan, penjual bertanya pada Rengganis.


"Belum menemukan Ki Sanak.., beri kami waktu sebentar lagi ya." dengan ramah, Rengganis menanggapi pertanyaan penjual tersebut.  Tiba-tiba..., terlihat Chakra Ashanka bergegas mendatangi ibundanya. Di tangan anak laki-laki itu membawa satu buah cincin, yang ternyata senada dengan batu yang sudah dibeli oleh Wisanggeni.

__ADS_1


"Bunda.., coba kenakan cincin ini! Sepertinya batu di cincin ini, sama dengan pembawaan dan karakter Ibunda." Chakra Ashanka mengulurkan satu buah kotak berisi cincin dengan batu berwarna merah muda. Tidak mau mengecewakan putranya, Rengganis langsung menerima dan mata perempuan itu langsung bersinar melihat sebuah cincin dengan batu warna merah muda. Setelah memasukkan ke jari kelingkingnya, cincin itu ternyata pas dan langsung bersinar.


**********


__ADS_2