
Beberapa saat Wisanggeni berjalan di depan memimpin rombongan mereka. Sesampainya di dalam, mata mereka terbelalak, jika dilihat dari luar bangunan, mereka hanya melihat keberadaan sebuah candi yang kecil dengan halaman yang cukup luas mengelilinginya. Tetapi begitu mereka masuk ke dalam, mereka merasa sedang berada di sebuah padang rumput yang luas, dan di depan terlihat sebuah hutan sedang menghadang perjalanan mereka. Chakra Ashanka melihat ke ayahndanya, baru pertama kali dia menyaksikan pemandangan yang terhampar di depannya.
"Itulah yang dimaksud dengan fatamorgana dari fenomena keajaiban kuno Ashan. Membutuhkan keahlian yang memakan esensi energi dan aura yang sangat tinggi, untuk membuat wujud dari warisan ini. Ayahnda juga tidak tahu, tokoh yang mana yang bersedia mengabdikan hidupnya untuk membuat warisan ini." Wisanggeni menjawab kebingungan yang dipikirkan putranya. Kedua orang yang berjalan di belakang mereka, tersenyum mendengar dan melihat interaksi bapak dan anak itu.
"Apakah tidak semua orang bisa membuatnya ayah..., kalau itu ayahnda apakah juga akan bisa membuat warisan kuno seperti ini..?" merasa mendapat kesempatan untuk mendapatkan ilmu, Chakra Ashanka mengejar ayahndanya dengan pertanyaan rumit.
"Cerdas sekali putraku.., ayahnda sampai bingung bagaimana untuk menjawabnya. Secara keinginan, ayahnda ingin bisa membuat sebuah peninggalan jika pada saatnya ayah nanti tiada. Tetapi secara kemampuan, untuk saat ini, ayahnda merasa belum memiliki bekal dan kemampuan untuk menciptakan warisan seperti ini." dengan santun, Wisanggeni memberi penjelasan pada putranya.
"Paman yakin Ashan..., tidak akan lama lagi, ayahmu Wisanggeni akan dapat menciptakan keajaiban sebagai sesuatu yang akan diwariskan untuk anak cucunya nanti." dari belakang Pangeran Abhiseka menambahkan.
"Terima kasih Paman Pangeran..." sahut Chakra Ashanka dengan sopan.
Tiba-tiba Wisanggeni terdiam, telinganya seperti menangkap sebuah suara. Benar seperti dugaannya, dari arah samping ada sekelompok orang yang juga sudah berada di tempat yang tidak jauh dari mereka. Rupanya ada kelompok pendekar lain yang memasuki wilayah candi dengan menggunakan jalan yang berbeda dengan jalan yang sudah mereka ambil.
"Siapa mereka Wisang...?" tanya Pangeran Abhiseka waspada. Niken Kinanthi juga mengajukan pertanyaan yang serupa.
"Aku belum tahu Pangeran.., tetapi aku tidak mengenali cara mereka dari cara jalannya. Melihat penampilan dan cara berdandan mereka, sepertinya mereka bukan kelompok orang sembarangan." Wisanggeni menanggapi perkataan Pangeran Abhiseka.
__ADS_1
Mereka terdiam, dan pura-pura mengabaikan kedatangan mereka. Wisanggeni dan rombongan menatap jauh ke depan, dan dengan hati-hati mulai melangkahkan kaki mereka menapaki rumput yang tumbuh di padang tersebut.
"Sepertinya sudah ada ahli lain yang sudah berada di tempat ini kanda... Apakah kita akan bersama dengan mereka, ataukah akan mencari jalan lain untuk memasuki hutan di depan?" terdengar suara perempuan bertanya pada anggota dari kelompoknya.
"Untuk apa kita bersusah payah sendiri Dinda.. Tidak ada salahnya kita berkenalan dengan rombongan yang sudah lebih dulu tiba di depan kita. Siapa tahu ke depannya, kita akan dapat saling membantu.." seorang laki-laki menjawab pertanyaan perempuan tadi.
"Baiklah Kanda..., kita semua akan mengikuti rencanamu.." orang-orang yang bersama dengannya ikut berpendapat. Rombongan itu kemudian berjalan cepat untuk mengejar Wisanggeni dan kelompoknya. Melihat kedatangan mereka tidak mencerminkan jika mereka akan menimbulkan masalah, Wisanggeni memberi isyarat pada Pangeran Abhiseka. Laki-laki itu menganggukkan kepala, menyetujui usulan Wisanggeni untuk menerima mereka, jika mereka ingin bergabung dengan kelompoknya.
***********
"Jadi begitulah maksud kami Ki Sanak. Kenalkan nama saya Widayat.., samping saya rayi kandung bernama Widayati. Ketiga laki-laki ini saudara sepupu saya Saloka, Saputra dan Sampana." laki-laki bernama Widayat mengenalkan anggota kelompoknya. Wajah Niken Kinanthi terlihat cerah bisa menemukan teman jalan perempuan bersamanya.
"Terima kasih mau bergabung dengan kelompok kami Ki Sanak. Nama saya Wisanggeni, dan ini putraku Chakra Ashanka. Mereka berdua teman saya Abhiseka dan Niken kinanthi." Wisanggeni juga mengenalkan teman-temannya.
Akhirnya setelah mereka saling mengenal, mereka segera memasuki padang rumput secara bersama-sama.
"Hati-hatilah..., padang rumput ini terlihat seperti memiliki keanehan. Sepertinya ada rahasia di dalamnya." tiba-tiba Widayat menghentikan mereka. Mata dan hidung laki-laki itu seperti sedang mengendus sesuatu, mencoba mencari bahaya yang bisa mengintai nyawa mereka.
__ADS_1
Baru saja laki-laki itu berbicara, tiba-tiba tanah di depan mereka seperti bergolak keras. Tanah yang bergolak itu tiba-tiba naik ke atas, dan terlihat sebuah pusaran seperti ****** beliung di dalamnya. Orang-orang itu kemudian berhenti, dan melihat ke arah pusaran angin itu dengan teliti,
"Bruuurrrr..., sretttt....." suara menderu di sekitar ****** beliung terdengar jelas di telinga mereka. Tanpa berbicara, mereka segera melindungi diri mereka dengan aura dan energi yang mereka miliki. Kesembilan orang itu kemudian berjongkok menghindarkan diri dari pusaran tersebut.
"Ssssshh..., sssh..." suara desis ular terdengar di balik suara angin yang menderu di depan mereka.
"Sepertinya naga terbang akan muncul dari gulungan angin itu.. Hati-hatilah kawan..!" Widayat menoleh kepada mereka untuk memberikan peringatan. Orang-orang itu terdiam, dan seperti yang dikatakan oleh Widayat tidak lama kemudian, dari tanah yang bergolak itu muncul seekor naga yang kemudian mengepakkan sayapnya di atas udara. Dari mulut naga tersebut, keluar api ketika naga itu menjulurkan lidahnya.
Orang-orang itu segera mengeluarkan senjata untuk menyerang naga itu. Tetapi sebagai seorang yang sudah ditetapkan menjadi seorang raja ular, Wisanggeni meminta teman-temannya untuk menyimpan senjata mereka.
"Jangan salah sangka.., naga kecil itu tidak akan menyerang kita jika mereka tidak merasa terganggu. Semakin kita terlihat membahayakan bagi keberadaannya, maka naga itu akan mengirimkan serangan mematikan kepada kita. Bahkan pedang-pedang kalian tidak akan ada manfaatnya bagi mereka." Wisanggeni meminta teman-temannya untuk menyarungkan kembali senjatanya. Tanpa membantah, Niken Kinanthi dan Pangeran Abhiseka langsung menyimpan kembali senjatanya.
Orang-orang yang dibawa Widayat saling berpandangan, tetapi kemudian laki-laki itu meminta teman-temannya untuk mengikuti apa yang dikatakan Wisanggeni. Mereka diam, dan bersembunyi di belakang orang-orang yang dibawa oleh Wisanggeni.
Tidak mereka duga, Wisanggeni berdiri kemudian menatap pada binatang naga yang sedang mengepakkan sayap di udara itu. Naga terbang itu melihat ke mata laki-laki itu untuk beberapa saat, dan tiba-tiba merasa mengenal sesuatu yang menjadi keunikan dari kaum ular. Tidak disangka naga terbang itu terbang merendah, dan menuju ke arah Wisanggeni dan kelompoknya.
************
__ADS_1